Scandal With Maid

Scandal With Maid
Akhir Kisah



"Udah dong, Ken, lo udah kebanyakan minum. Lo kalau mau mampus jangan di depan gue dong. Ntar gue ditanya ini itu sama penyidik!" ucap Dikta menarik gelas dari genggaman Ken, tapi Ken yang kini menganggap kalau cairan dalam gelas itu adalah napasnya, menarik lagi dari tangan Dikta, dan segera menuntaskannya, memasukkan ke dalam mulutnya dalam satu kali tenggak.


Setelah berita kehamilan Tamara, Ken tidak pernah pulang tepat waktu lagi, tidak pernah pulang sebelum singgah di bar ini. Bersyukur memiliki teman setia seperti Dikta, yang selalu ada menemaninya.


Dia hancur, hidupnya gersang, alih-alih gembira memikirkan sebentar lagi dia akan memiliki bayi, dia akan menjadi ayah. Padahal dulu, hal itu selalu menjadi mimpi terindah dan harapan yang dia panjatkan dalam doa-doanya. Lantas, kenapa sekarang jadi berbeda?


Pagi setelah kejadian itu, Ken menghubungi Rara, mengatakan kalau dia sudah menunggu di warung bakso langganan mereka. Tentu saja Rara segera menolak pertemuan itu. Wanita itu merasa tidak ada lagi yang perlu mereka bicarakan lagi, tapi karena berulang kali Ken mengirim pesan dan terus menghubungi nya, Rara tidak punya pilihan selain datang ke sana.


Saat dia sudah masuk, Ken sudah ada di salah satu meja dengan posisi menjorok ke dalam, sepi, tidak ada pengunjung selain mereka. Mungkin karena ini sudah lewat jam makan siang.


"Kau sudah makan?" tanya Ken menatap sendu pada Rara.


"Sudah. Apa yang ingin kau bicarakan? Aku tidak punya banyak waktu. Banyak hal yang harus aku urus," jawab Rara tidak mau mengangkat wajahnya.


"Kita bicara di tempat lain aja. Biar leluasa," ucap Ken bangkit berdiri dari duduknya.


Bagi Ken, kalimat itu tidak berarti khusus, dia meminta untuk berganti tempat karena ingin bicara lebih nyaman, bisa menggenggam tangan Rara, bahkan merangkul gadis itu untuk menenangkannya.


Namun, bagi Rara, artinya berbeda. Mereka memilih tempat lain, karena hubungan mereka tidak layak ketahui orang lain. Semua karena skandal diantara mereka.


Rara malas mendebat, dia ikuti langkah Ken menuju mobil. Ken membawanya ke danau buatan, tempat yang juga pernah mereka kunjungi sebelumnya.


"Ra, aku gak tahu harus berkata apa lagi. Aku tahu saat ini pasti hatimu hancur dan kau berhak untuk membenciku, tapi aku bersumpah, Ra, aku tidak menyangka kalau hal ini akan terjadi," ucap Ken setelah mereka berdua duduk di bangku yang ada di taman itu.


"Tidak ada hal yang aneh. Kau sudah memiliki istri, tentu saja ada kemungkinan kalau istrimu akan hamil dan kau akan memiliki anak. Aku ucapkan selamat untukmu, untuk kalian berdua," jawab Rara mencoba tersenyum walau hatinya menangis.


Mendengar penuturan Rara, hati Ken semakin hancur. Dia tahu ucapan itu juga mewakili kehancuran hati Rara, ketidak terimaan atas apa yang terjadi.


"Ra, tapi aku gak bisa kehilanganmu. Aku gak bisa berpisah dengan mu. Kasih tahu aku, Ra, apa yang harus aku lakukan?" pinta Ken, menggenggam tangan Rara dengan erat, lalu meletakkan telapak tangan Rara di dadanya. "Rasakan debar jantungku yang hanya berdetak untukmu."


Rasanya terdengar seperti menggombal. Rara ingin tertawa rasanya. Disaat Ken bersumpah bahwa hatinya hanya milik gadis itu, kenyataan yang didapati justru istrinya sedang hamil saat ini. Apakah Ken termasuk jenis pria yang tidak bisa dipercaya? Kalau memang di hatinya ada untuk Rara, lantas mengapa Tamara bisa hamil? Bukankah seseorang tidak akan melakukannya dengan wanita yang dia sukai?


Rara tidak bisa memikirkannya lagi. Dia menyerah. Hati pikiran dan juga tubuhnya tidak tahan lagi menopang dan bertahan dengan badai yang begitu besar. Dia juga menyadari bahwa hubungan mereka tidak akan pernah ada ujungnya. Jadi, untuk apa diperjuangkan? Untuk apa diteruskan, lebih baik berhenti di tempat.


"Lantas, bagaimana dengan hatiku? Apakah tidak ada yang perduli dengan perasaanku? Aku bersumpah, aku hanya mencintaimu!"


"Kau tidak akan bisa mengatakan hal itu lagi ketika melihat wajah anakmu saat lahir nanti. Sudahlah, kita akhiri sampai di sini saja!" ucap Rara dengan pelan, seolah tenaganya habis hanya untuk mengatakan keputusan itu.


"Aku nggak mau! Aku nggak bisa, aku nggak bisa berpisah denganmu!"


"Kau jangan egois. Aku juga berhak mendapatkan kebahagiaanku dengan orang lain. Ini adalah pertemuan dan pembicaraan kita yang terakhir. Aku tidak ingin membahas apapun lagi denganmu. Setelah ini kau hanya majikanku dan aku adalah pelayan di rumahmu, tidak lebih dari itu!" ucapkan Rara menutup pembicaraan mereka.


Menyakitkan sekali harus melepaskan orang yang dicintai. Ken berpikir, dengan membenamkan dirinya dalam lautan minuman itu, bisa membuatnya lupa rasa sakit itu.


"Gue harus apa, Dik? Gue pengen mati rasanya. Setiap gue menutup mata, yang terbayang wajah sedih Rara!" jawabnya dengan nada merintih, dia pun kesakitan hanya saja sebagai lelaki dan juga orang yang bertanggung jawab atas semua penderitaan Rara, dia harus tegar.


Dikta hanya bisa menghela napas panjang. Dia sudah tahu ceritanya. Ini 'lah yang menjadi alasan mereka bertemu, karena Ken merasa butuh seseorang untuk melepas unek-unek dan beban di hatinya.


Dikta kasihan melihat nasib Ken, walau nasib rumah tangganya sendiri juga tidak bisa dibilang baik. Istrinya sudah dua Minggu minggat dari rumah, kembali ke rumah orang tuanya, hanya karena alasan tidak bisa jauh dari orang tua. Alasan klise yang menurut Dikta hanya dikarang oleh Fani untuk tetap bisa satu kota dan berdekatan dengan mantannya yang sekaligus tetangganya.


"Mau gimana lagi, Bro. Lo laki, harus bertanggung jawab. Kalau tadi bayi itu gak ada, gue dukung lo sama Rara kalau memang hanya gadis itu yang bisa buat lo bahagia. Namun, kenyataan saat ini di perut istri lo ada calon anak, lo. Dia gak bersalah, Ken."


"Jadi, gue harus apa?" Tanya Ken dengan suara nge-gas. Hatinya panas karena memikirkan masalah ini. Dia ingin bertanggung jawab pada Rara, tapi benar kata Dikta, dia juga harus bertanggung jawab pada anaknya.


"Yang bisa lo lakukan cuma satu, lupakan Rara, dan coba kembali benahi rumah tangga lo sama Tamara. Ingat, Lo dulu sangat mencintai dia, coba ingat kembali perasaan itu, agar Lo bisa kembali merasakan cinta yang sudah hampir pupus itu kembali," ucap Dikta menepuk punggung Ken.


Semua yang Dikta ucapkan berputar dalam pikiran Ken. Benarkah tidak ada lagi kemungkinan dirinya bersama Rara? Apakah kisah mereka memang harus berakhir?


Kenapa baru membayangkannya saja hati Ken sudah terasa sakit?


***


"Siapa, Tam?" tanya Rani, temannya sesama artis. Matanya yang tajam terus saja mengamati Rara yang berdiri tidak jauh dari tempat Tamara duduk.


"Lihat aja penampilannya yang udik, siapa lagi kalau bukan pelayanku," jawab Tamara yang masih dapat di dengar Rara dengan jelas.