
Ken memilih untuk meninggalkan rumah malam itu. Pertengkaran hebat tidak bisa dielakkan. Tamara bersikeras tidak mau bercerai walau apapun alasannya.
Mulai dari bujukan hingga ancaman sudah dia katakan pada Ken, tapi pria itu tetap bertahan pada keputusannya.
"Aku akan beberkan perselingkuhan mu dengan pelayan sialan itu!" salaknya dengan amarah dan sakit hati yang berubah jadi dendam.
"Aku gak takut sama sekali. Aku akan terima konsekuensinya, lagi pula kau mengenalku. Aku tidak akan peduli pada memikirkan orang lain terhadap ku!" sahut Ken ketus. Pembicara ini sangat membosankan sekaligus menyulut amarahnya.
Dipandanginya wajah Tamara dengan intens. Wanita itu benar-benar tidak tahu diri, menyudutkannya dirinya, dengan mengungkit hubungannya dengan Rara, lalu bagaimana dengan dirinya? Hingga mengandung anak Jhon?
"Bagaimana dengan orang tuamu? Ayah mu baru saja membaik, dan kau ingin membuatnya jatuh sakit lagi dengan berita perceraian kita?"
"Aku akan bicara pada mereka. Yang harus kau lakukan hanya menandatangani surat perceraian itu!"
Tamara bangkit, amarah diwajahnya bahkan bisa membakar siapa saja. "Kau bi*adab!" umpatnya sembari melayangkan satu tamparan keras di pipi Ken.
Tanpa mengatakan apapun, Ken pergi dari sana. Lebih baik mereka tidak tinggal satu atap malam ini.
***
Tempat tujuan Ken adalah rumah orang tuanya. Dia sendiri tidak menyadari kalau berkendara sampai ke sana. Awalnya dia ingin mengajak Dikta minum, tapi karena pria itu juga tengah sibuk mengurus masalah rumah tangganya, maka tidak bisa menemani Ken minum.
"Ken, tumben kamu kemari malam-malam begini," sapa Susanti yang membukakan pintu bagi Ken. "Ada apa? Baru siang tadi kamu ke sini."
"Aku ingin tidur di sini, Bu," jawab Ken masuk melewati ibunya, lalu bergegas naik ke atas menuju kamarnya.
Dinginnya air yang membasahi tubuhnya mampu memberi sedikit kesegaran bagi Ken. Bergegas dikeringkan nya rambut dengan handuk, lalu setelahnya melempar handuk ke atas kursi sebelum dia membaringkan tubuhnya di atas kasur.
Langit-langit kamar menjadi fokusnya, tapi pikirannya melayang pada permasalahan yang dia hadapi.
Dia harus segera keluar dari kemelut rumah tangganya. Tidak ingin berlama-lama lagi terikat pada Tamara, dan tentang ancamannya tadi, dia harus menjaga Rara. Besok dia akan meminta Rick menugaskan orang melindungi Rara.
Rasa ngantuk akhirnya membujuk matanya untuk terpejam. Malam itu Rara datang dalam mimpinya. Tersenyum manis memberinya kekuatan baru.
***
"Nyonya, ada mbak Tamara di depan," ucap Inem mendatangi kamar Susanti. Kepalanya sangat pusing setelah rapat keluarga dadakan yang diminta oleh Ken pagi tadi.
Baru masuk kamar dan berniat untuk beristirahat sejenak, kini sudah ada saja gangguan.
"Katakan untuk menunggu, aku akan turun. Kau buatlah minuman untuk nya," sahut Susanti mendudukkan dirinya.
Susanti sama sekali tidak menyangka bahwa rumah tangga putranya yang selama ini terlihat tidak ada masalah, ternyata sudah hancur lebur. Bukan hanya retak tapi kini sudah tidak berbentuk dan tidak bisa terselamatkan lagi.
Susanti jadi ingat tiga tahun lalu ketika Ken memaksakan keinginannya untuk menikah dengan Tamara. Susanti 'lah orang pertama yang menentang. Nalurinya sebagai ibu mengatakan bahwa Tamara bukanlah istri yang baik untuk Ken, tapi pria itu tetap menuntun keinginannya karena saat itu Ken sangat mencintai Tamara yang merupakan cinta pertamanya.
Namun, ternyata apa yang dikatakan orang benar bahwa ungkapan hati seorang ibu dan doa restunya sangat berpengaruh pada kebahagiaan rumah tangga anaknya.
Kini terjawab sudah keraguan yang dulu sempat timbul di hati Susanti kala menerima Tamara sebagai mantu. Namun, tidak pernah sedikitpun dia menyangka bahwa menantunya itu sanggup berbuat keji dan melakukan penghianatan yang sangat besar terhadap Ken.
Tamara tidak hanya membohongi suaminya dengan mengandung anak pria lain dan mengakui sebagai anaknya, tapi juga mereka berdua sebagai mertuanya.
Susanti masih ingat bagaimana wajah Damian yang begitu kecewa ketika pagi tadi Ken membeberkan semuanya, membuka belang Tamara yang selama ini dia simpan dan dikemas dengan baik.
Padahal saat mendengar berita kehamilan Tamara kala itu, Damian begitu gembira. Semangatnya bertambah, hingga memiliki keinginan untuk sembuh karena ingin bermain bersama cucunya tapi Tuhan menunjukkan kebenaran, membongkar kebohongan Tamara. Seandainya bayi itu masih ada, mungkin selamanya mereka akan dibohongi.
"Ibu," panggil Tamara, berlari moyongsong kedatangan Susanti. Dia menangis sambil memeluk wanita paruh baya itu.
"Sudahlah, kau tidak perlu bersandiwara lagi. Ibu sudah mendengar semuanya dari Ken. Ibu memang menunggu kedatanganmu. Ibu ingin membahas mengenai rumah tangga kalian," jawab Susanti dengan suara bergetar, menyembunyikan kesedihannya yang dibalut amarah untuk Tamara.
Keluarga mereka sangat menjunjung tinggi kehormatan. Sebagai keluarga terpandang, tentu saja Susanti tidak ingin rumah tangga anaknya hancur, menjadi bahan tertawaan bagi para musuh Ken yang tidak senang akan kesuksesannya selama ini.
"Mengapa Ibu mengatakan seperti itu? Aku datang kemari ingin meminta bantuan Ibu. Tolong berikan penjelasan dan juga nasihat untuk Ken agar dia membatalkan niatnya, Bu. Ibu bisa membayangkan bagaimana perasaanku saat ini? Ken ingin menceraikanku," lanjut Tamara masih dengan isak tangisnya.
"Sebaiknya kalian memang berpisah saja, Tamara, tidak ada lagi kecocokan di antara kalian berdua. Sejak awal kau tahu sendiri bahwa Ibu tidak menyetujui pernikahan kalian. Namun, ketika itu Ibu melihat cinta di mata Ken untukmu, tapi apa yang sudah kau lakukan sekarang, membuatnya terluka dan sejujurnya Ibu tidak ingin melihatmu lagi!" jawab Susanti dengan nada dingin.
Pada saat mengetahui mengenai perselingkuhan dan juga kebohongan Tamara, Susanti sudah bersiap untuk mendatangi wanita itu dan memberikan pelajaran padanya. Dia ingin memukul, dan menjambak Tamara dengan tangannya sendiri sebagai bentuk balasan karena dia sudah berani menipu keluarga Adhyaksa yang terhormat, tapi Ken memohon kepada ibunya untuk mengerti posisinya. Tidak ada yang perlu disesali, dia juga harus intropeksi diri. Mungkin dirinya tidak bisa memuaskan dan menjadi suami yang sesuai dengan harapan Tamara hingga wanita itu memilih pria lain.
Mendengar penuturan Ken, akhirnya Susanti mengalah. Apa yang dikatakan putranya benar. Lagi pula saat ini yang terpenting adalah mereka berdua akhirnya berpisah. Bukankah sejak dulu itu yang diinginkan oleh Susanti? Biarlah mereka malu sesaat, dia percaya bahwa Ken akan mendapatkan jodoh yang lebih baik lagi dan mudah-mudahan mereka bisa segera memiliki anak.
"Aku nggak mau, Bu. Aku nggak mau bercerai dengan Ken. Aku mohon, Bu," rengek Tamara berlutut di hadapan Susanti.
Susanti menjauh, dia tidak ingin menerima permohonan mantunya itu. Hatinya sudah tertutup untuk memaafkan Tamara. Baginya tidak ada lagi maaf untuk mantunya itu.
"Ini gak adil Bu, kenapa aku yang dihukum? Kenapa kalian ingin menyingkirkanku, sementara Ken 'lah yang salah. Ken yang sudah berselingkuh dengan seorang pelayan. Apa Ibu tahu bahwa dia sudah tidur dengan Rara pada saat wanita itu bekerja di rumahku, dan aku masih sah jadi istrinya?" Teriak Tamara, tidak peduli kalau kini dia menjadi tontonan para pelayan yang coba ingin tahu.
"Lalu bagaimana dengan perselingkuhan mu dengan pria bernama Jhon? Kau bahkan mengandung anaknya!" jawab Susanti dengan lantang yang berhasil membuat wajah Tamara pias.