Scandal With Maid

Scandal With Maid
Lamaran Dadakan



Ken boleh punya pangkat tinggi, harta melimpah, dan punya banyak anak buah, tapi di depan Sari, dia merasa kikuk dan gugup. Pasalnya banyak pertanyaan yang diajukan Sari padanya saat pria itu datang melamar Rara.


Mendengar pembicaraan mereka, Rara yang mengintip dari balik gorden yang dijadikan pintu antara ruang depan dengan dapur hanya bisa menahan tawa dengan menutup mulutnya.


"Saya akan membahagiakan Rara, mencintainya sepanjang hidupku, Mbak," ucap Ken dengan nada suara tercekat.


"Kami ini hanya orang miskin tuan. Aku hanya takut kalau adikku dipermainkan," ucap Sari melirik ke arah gorden yang terus bergerak, dia tahu kalau adiknya itu sedang menguping di sana.


"Saya gak memandang hal itu, dan jujur tidak peduli sama sekali. Saya mencintai Rara tulus, Mbak, dan berharap dapat restu dari Mbak untuk menikahi Rara," ucap Ken lantang, mencoba menutupi kegugupannya.


"Ra, kamu keluar 'lah," panggil Sari yang membuat Ken ikut memutar lehernya ke arah pandangan Sari. Tidak lama Rara keluar sambil cengar-cengir melihat ke arah Ken yang membuat pria itu geleng-geleng.


Rara mengambil tempat di samping Sari, melirik sekali ke arah Ken, menyembunyikan senyum gelinya.


"Kau sudah mendengar semuanya, sekarang, Mbak tanya pendapat kamu," tukas Sari menoleh pada Rara yang kedatangan adu pandang dengan Ken.


"Hah? Apa?" tanya Rara gelagapan, sedikit malu pada Sari yang yang terus mengamatinya.


"Tuan Ken datang untuk melamarmu. Jawaban kamu gimana?"


"Aku... Aku... kalau habis selesai kuliah aja gimana?"


"Hah? Kelamaan lah, Sayang," sambar Ken spontan.


Bola mata Rara membulat dan pipinya merona mendengar ucapan Ken yang memanggilnya sayang di depan kakaknya.


"Apa?" delik Ken tanpa merasa canggung sedikitpun.


Rasanya ingin sekali mencubit pinggang pria itu kuat-kuat, tapi itu tidak mungkin, Rara hanya bisa menunduk kembali.


"Maaf, tuan, kalau aku terserah Rara aja. Kalau menurut dia sebaiknya pernikahan itu setelah...,"


"Maaf, bukan bermaksud memaksa, tapi pernikahan itu tetap harus dilakukan bulan bulan dari sekarang," jawab Ken tegas.


"Hah? Bulan depan?" pekik Rara kaget. Okelah dia meminta untuk menikah sehabis lulus kuliah yang artinya tiga tahun lagi, dan mungkin akan berat bagi Ken, tapi gak juga harus bulan depan.


"Dasar tuan muda arogan, mana yang katanya gak memaksa. Kalau gak sabar nunggu tiga tahun lagi, seenggaknya tahun depan, bulan malah bulan depan!" umpat Rara dalam hati.


Ken sudah pamit pulang. Sejak itu pula Rara jadi muram. Bulan depan hanya tinggal hitungan hari, apa yang bisa disiapkan dalam kurun waktu beberapa hari lagi?


Rara bukan tidak tahu diri, bukan mengharapkan akan mengadakan pesta pernikahan yang luar biasa mewah, tidak. Dia hanya ingin yang sederhana, tapi terorganisir dengan baik, tapi kalau punya waktu hanya sebulan, persiapan apa yang bisa dikejar? Setidaknya dia ingin pernikahan ini sangat berkesan buatnya, berharap ini adalah pernikahan pertama da terakhirnya.


***


"Dari mana, Ken?" tanya Susanti melihat Ken yang melintasi ruang tamu. Ken kembali mundur, lalu berjalan ke arah ruang keluarga tempat kedua orang tuanya duduk.


"Dari rumah Rara, ngelamar dia sama pada kakak nya, Bu," jawab Ken santai, sedikit pun tidak melihat perubahan wajah Susanti yang kaget. Anaknya sudah melangkah sejauh itu tanpa menanyakan pendapat mereka.


"Kamu kesana? Gak ngomong dulu sama orang tuamu? Main lamar anak orang? Kamu kira Rara itu kucing, gak pakai adat?" sambar Susanti geleng-geleng melihat Ken, sementara Damian hanya tersenyum. Akhirnya rumah mereka ramai lagi. Itu yang dirindukan oleh Damian.


Setelah Ken menikah dengan Tamara, putranya itu seolah pergi meninggalkan mereka, jauh tak terjangkau. Tinggallah Damian dan Susanti yang merasa kesepian di rumah sebesar itu. Bukan keinginannya untuk memiliki anak hanya satu, tapi mungkin itu lah rezeki yang diberikan yang kuasa padanya.


"Biar saja, Bu. Kalau itu yang bisa buat Ken bahagia. Lagi pula surat cerainya akan segera keluar, statusnya sudah jelas, jadi dia bisa mengambil keputusan apapun," jawab Damian yang mendapat acungan jempol dari Ken dengan wajah gembira.


"Kalian ini ayah dan anak sama saja. Wanita itu ingin dimengerti. Rara pasti ingin lamarannya dilakukan dengan suasana formal, dan juga sakral," lanjut Susanti yang menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi lalu melipat tangan di dada.


Dia sadar akan sulit menang kalau ayah dan anak itu sudah bersatu melawannya.


"Tapi, Ken, ada yang ingin ayah minta padamu. Ayah dan Ibu sudah sangat tua, dan kau hanya anak tunggal. Ayah mohon setelah kalian menikah nanti, tinggal'lah di sini bersama kami," ucap Damian dengan sorot mata berharap.


Susanti mengangkat wajahnya. Perkataan suaminya itu sangat mewakili perasaan hatinya. Dia juga ingin mengajukan permintaan itu. Dia ingin dekat dengan mantu dan juga cucunya, tapi takut kalau permintaannya itu justru membebani Rara dan Ken nantinya.


Ken menatap lekat ayah dan ibu. Ada rasa bersalah, selama ini ternyata dia sudah mengabaikan orang tuanya. Padahal jarak rumahnya dengan rumah orang tua tidak lah jauh, hanya saja kesibukan dan juga waktu untuk melayani Tamara membuatnya lupa pada orang tua.


"Aku gak bisa menjanjikan hal itu Ayah, Ibu. Bagaimana pun aku juga harus memperhatikan keinginan dan kebahagiaan istriku," ucap Ken yang langsung mendapat tatapan kecewa dari kedua orang tuanya.


Pasangan Adiaksa tidak pernah memaksakan kehendak pada anak mereka. Ken diberi kebebasan untuk mengambil keputusan, hal itu sudah berlalu sejak dulu, dan akan selamanya begitu. Kalau memang menantunya kelak tidak suka tinggal bersama mereka, ya mereka harus terima.


"Tapi, kalau Rara setuju, kami pasti akan tinggal di sini," lanjut Ken.


"Ibu yang akan membujuk Rara," sambar Susanti penuh semangat.


"Jangan, Bu. Biarkan Ken yang bicara. Gak boleh ikut campur urusan rumah tangga mereka," potong Damian yang akhirnya membuat Susanti kehilangan semangat.


***


Karena Ken sudah mengumumkan pernikahannya akan dilangsungkan bulan depan, keesokan harinya Susanti sudah sangat sibuk mengurus semua pernak-pernik dan segala yang dibutuhkan untuk acara itu.


Gaun pengantin juga sudah dipesan pada desainer ternama dan dapat dipastikan Rara pasti akan terlihat sangat cantik.


"Bu, apa gak terlalu mahal untuk gaun pengantinnya?" ucap Rara mengalihkan pandangannya dari nota pembayaran ke wajah Susanti.


Wanita paruh baya itu tersenyum. Dia membelai punggung tangan Rara. "Semuanya ini pantas untuk mu," ucap Susanti lembut.


Rara menatap wajah cantik yang tak legam ditelan usia itu. Betapa beruntungnya dia memiliki calon mertua seperti Susanti dan juga Damian yang sangat baik.


"Aku gak tahu perbuatan baik mana yang udah pernah aku lakukan dimasa lalu hingga mendapatkan ibu mertua sebaik Ibu," ucap Rara dengan mata berkaca-kaca.


"Dasar bodoh!" ucap Susanti memeluk Rara dengan sayang. Dulu saat berdekatan dengan Tamara, dia tidak merasakan hal seperti ini.


"Nyonya, maksudku, Ibu," ralat Rara cepat, tidak ingin mendapatkan pelototan dari Susanti. "Terima kasih banyak," ucapnya setelah melerai pelukan mereka.


"Sampai kapan kalian akan berlomba saling menangis?" hardik Ken yang baru tiba dan mendapati ruangan itu tampak sendu akibat kesedihan kedua wanita yang sangat dia sayangi itu.


Keduanya menoleh ke arah Ken, lalu tersenyum malu. "Kau tidak akan mengerti perasaan wanita. Sudah, segera kau temui Kevin, agar bisa membuat ukuran pakaian mu," tukas Susanti menarik sudut bibirnya.


Ken tidak membantah, dia mencari pria yang disebutkan ibu tadi. Dia terlalu bahagia untuk menolak apapun yang sebenarnya sangat tidak dia sukai, terlebih urusan begini.


"Kau harus lebih sabar menghadapi Ken. Walau wataknya keras, dia penyayang dan juga mudah tersentuh. Kau hanya perlu memberinya perhatian. Apa lagi nanti hanya ada kalian berdua," ucap Susanti memandangi putranya yang sibuk dengan meteran yang diletakkan Kevin di tubuhnya.


"Berdua? Apakah sehabis menikah, kami gak bisa tinggal di rumah Ibu saja?" tanya Rara penuh harap.