
"Aku dengar majikanmu bertengkar hebat, ya? Bahkan sampai akan bercerai?" Markonah mulai pembicaraan. Dia tampak begitu antusias memulai pertemuan mingguan mereka.
Sontak Rara yang sedang menyedot jus mangga nya mengangkat wajahnya, melihat ke arah sahabatnya itu. Dari mana mereka dapat kabar itu?
"Siapa yang bilang?" selidik Rara penasaran. Perasaan hanya dirinya dan Komar saat itu yang mendengar pertengkaran itu.
"Komar," sahut Markonah singkat. Dugaannya tepat. Siapa lagi coba sumber beritanya.
"Itu gak benar. Mereka baik-baik aja," sahut Rara singkat, lalu kembali berkutat dengan lamunannya. Sebenarnya ingin tidak hadir pada pertemuan ini, tapi dia tidak enak hati dengan teman-temannya. Namun, dari pada harus di rumah, alih-alih jadi ingat kejadian pahit itu, mending dia keluar.
"Masa sih, Komar bohong sama aku?"
"Dia kan selalu ingin ngambil hati mu. Dia tahu kalau kau suka gosip, makanya dia kasih berita apa aja, gak penting benar atau gak," samar Wati terkikik. Markonah hanya memutar bola matanya bentuk protes aja kalimat Wati.
"Tapi ya, ngomong-ngomong soal Tuan Ken, aku tuh benar-benar jatuh cinta sama dia. Tipe pria idaman ku banget," ujar Munaroh dengan suara bergetar, seolah membayangkan sosok Ken saja, dia sudah merasa hor*ni pada tubuhnya. "Aku yakin, senjata laras panjangnya pasti kaliber tinggi yang sekali memuntahkan amunisi langsung jadi."
"Gak mungkin!" Tiba-tiba saja Rara memeluk kaget dan hal itu tentu saja membuat semua mata sahabatnya itu menatap aneh kepadanya.
"Kau kenapa, sih? Buat kaget aja, tau gak? Hampir aja sedotan ini keselek masuk ke dalam kerongkongan," timpal Munaroh.
Rara cuma bisa cengar-cengir, merasa malu akan reaksinya yang berlebihan. Namun, seandainya teman-temannya tahu apa yang sudah terjadi, pasti mereka juga maklum akan reaksi Rara.
Bayangkan saja kalau sampai Rara hamil? Oh tidak! Masalah mengenai insiden malam itu saja belum selesai, jangan sampai perbuatan mereka meninggalkan jejak.
"Sorry, cuma ya menurutku itu gak mungkin. Masa iya sekali berhubungan langsung bisa hamil? Buktinya aja, Non Tamara sampai sekarang gak hamil-hamil, padahal udah tiga tahun menikah," jawab Rara. Buah pemikirannya itu ternyata cukup ampuh untuk menenangkan dirinya. Mampir membuatnya terbang ke langit, saking senangnya. Ya, dia tidak mungkin hamil. Hore!!!
"Dih, kau gak tahu ya? Wajar sih, kau kan pelayan barunya. Semua orang di komplek ini juga udah pada tahu, kalau sampai sekarang mereka belum punya anak, itu karena memang non Tamara yang belum mau. Dia selama ini minum pil anti hamil, kok," terang Munaroh dengan Wijaya puas. Dia bangga bisa memberitahukan informasi itu pada Rara, si anak baru.
Brug!
Kembali Rara terhempas keras ke dasar tanah. Mana tanahnya becek lagi hingga wajahnya terciprat lumpur. Perumpamaan yang sempurna atas keadaannya saat ini.
Mati aku! Gimana kalau aku sampai hamil? Demi Neptunus, jangan sampai aku hamil. Aku masih ingin melanjutkan kuliah. Lagi pula kalau sampai hamil, kasihan anaknya, tumbuh tanpa seorang ayah, nanti juga dikatai oleh lingkungan sebagai anak haram.
Rara berperang dengan batinnya. Kejadiannya masih beberapa hari lalu, jadi tidak mungkin bisa di-cek apakah dia hamil atau tidak.
Ketakutan ketahuan oleh Tamara disertai rasa kesal dan juga perasaan bersalah membuat Rara berusaha untuk tidak bersitatap dengan Ken, terlebih saat mereka bertemu pertama kali sore itu kala keduanya baru pulang dari rumah mertuanya.
"Ra, tolong bantu aku bawa barang-barang ku," pinta Tamara yang dipapah Ken keluar dari mobil mewah mereka. Walau tidak menoleh, Rara tahu saat ini Ken sedang melihat ke arah nya. Dia sangat yakin akan hal itu.
Rara segera mengerjakan permintaan nyonya. Dia melakukannya dengan buru-buru agar bisa kembali ke belakang.
"Ra," suara itu berbisik sembari menangkap pergelangan tangan Rara, dan segera menarik gadis itu ke kamarnya.
"Tuan mau apa? Lepaskan saya," pinta Rara dingin. Berusaha keras untuk bersikap tenang, walau kenyataannya hatinya bergemuruh karena amarah bercampur kesedihan pada pria itu.
"Kita harus bicara. Mengapa kau menghindari ku? Apa kau tahu setelah malam itu aku terus memikirkanmu. Aku merasa bersalah, dan mengutuk diri ku atas perbuatan bejat yang sudah aku lakukan," ucap Ken masih memegang tangan gadis itu. Malah semakin erat.
"Saya sudah bilang, Tuan, tidak ada yang perlu kita bahas lagi. Lupakan semuanya. Saya tidak akan menuntut apapun. Anggap saja itu kesialan bagi saya, sekaligus bayaran untuk jasa Anda yang sudah menolong kakak saya."
"Gak bisa. Aku akan bertanggung jawab, Ra. Aku gak mau dihantui rasa bersalah selama sisa hidupku."
Hati Rara semakin hancur. Pengakuan Ken yang ingin bertanggung jawab hanya karena merasa bersalah, membuat Rara semakin yakin untuk tidak membahas apapun dengan pria itu. Tidak ada gunanya.
"Tapi aku gak bisa. Wajahmu selalu terbayang di pelupuk mataku," sambar Ken menatap tajam wajah Rara.
Pria itu tidak berdusta. Sejak malam itu dia memang selalu memikirkan Rara. Bahkan gilanya, tidak ada hal menarik yang ingin dia pikirkan selain gadis itu, perasaan yang aneh yang belum pernah dia rasakan selama ini.
"Maaf, Tuan. Saya harus bekerja!"
Seolah memiliki insting yang kuat, beruntung Rara keluar dari dalam kamar itu, karena Tamara sudah berada di koridor tengah menuju kamar nya.
"Non... Non Tamara," pekik nya kaget, seolah dia baru saja bertemu makhluk yang menyeramkan. "Anda ada perlu apa mencariku, hingga datang ke kamarku?" tanya Rara sengaja mengeluarkan suara nyaring, agar Ken yang masih ada di kamarnya tahu dan bisa bersembunyi.
"Aku ingin kau ikut ke kamarku. Ada yang ingin aku bicarakan," ucapnya. Hal itu tentu saja membuat Rara sangat ketakutan. Bagaimana tidak, Rara sudah berbuat salah dengan tidur bersama suami Tamara, ketakutan akan ketahuan oleh Tamara membuat Rara tidak tenang.
"Mau bicara denganku?" tanya Rara pelan.
Tamara mengangguk, lalu menarik tangan Rara. "Apa kau melihat Ken? Aku mencarinya sejak tadi, tapi gak ada. Di ruang kerjanya juga dia gak ada," jawab Tamara sembari berjalan.
"Mungkin ada di ruang gym, Non."
***
Hal yang ingin dikatakan oleh Tamara tidak pernah terpikirkan oleh Rara. Sejak kapan mereka punya hubungan dekat, hingga wanita itu bercerita panjang lebar tentang masalah rumah tangga mereka padanya.
"Papa ku sudah bicara dengan Ken, dan mencoba menjelaskan padanya perihal betapa pentingnya pekerjaan ini bagiku. Aku gak mungkin berhenti dari dunia yang sudah membesarkan namaku," terang Tamara memperjelas keadaan di rumah orang tuanya kala Ken datang menjemput.
"Tuan melakukan hal itu mungkin karena dia ingin Anda tidak memiliki waktu untuknya," sahut Rara sedikit kesal. Jujur, dia malas menjadi tempat curhat wanita itu.
"Kau benar. Itu juga alasan Ken. Jadi kami buat kesepakatan, kalau Sabtu dan Minggu, kau gak akan bekerja. Khusus mengurus Ken dan menghabiskan waktu berdua bersamanya," terang Tarama memancarkan kegembiraannya.
Masalahnya kini teratasi. Ken sudah kembali memaafkannya dan sekaligus mengizinkannya untuk tetap bekerja.
"Bagus lah kalau begitu, Nona. Aku berdoa semoga kalian bahagia."
"Terima kasih, Ra. Aku yakin, Ken pasti bahagia kini. Ken itu sangat mencintaiku. Awalnya dia tidak mau datang menemuimu di rumah papa, tapi ketika mendengar aku sakit, dia luluh juga.
"Jadi sebenarnya, Anda gak sakit?" Kening Rara berkerut.
"Tentu saja gak. Itu semua hanya alasan agar Ken mau datang. Sebenarnya, dia gampang sekali memaafkanku. Saat menjemput ku, aku merayunya, memuaskannya di atas ranjang, cukup bagi Ken, melupakan kesalahanku," jawab Tamara bangga.
"Dasar pria brengsek! Katanya memikirkan ku, nyatanya?"
*
*
*
Mampir gais