Scandal With Maid

Scandal With Maid
Jaga Jarak



"Mbak, senang akhirnya Mbak bisa pulang," ucap Rara, memeluk erat kakaknya itu. Bahagia karena sudah bisa bersama kembali dengan Sari. Tangis itu sekaligus bentuk pelepasan kesesakan di hatinya.


Hidupnya yang berat kini kembali terasa berat seolah cobaan itu tidak ada habisnya.


"Makasih banyak, Ra. Ini semua berkat bantuanmu. Mbak berhutang banyak sama mu," jawab Sari masih dengan mata berkaca-kaca.


"Sekali lagi terima kasih banyak, Pak Bill. Saya tidak akan melupakan kebaikan hati bapak." Kali ini Sari berusaha tidak menangis lagi kala mengucap kalimat itu pada Bill, tepat di depan kantor polisi.


"Sama-sama. Apa kalian yakin tidak mau saya antar pulang?" tawar Bill sekali lagi, dan lagi-lagi keduanya serentak menggeleng sembari tersenyum.


Setelah Bill pergi, keduanya pun melanjutkan langkahnya. Sari melirik ke arah kantor polisi itu untuk terakhir kali, berdoa dalam hati tidak akan mau menginjakkan kaki di tempat itu, dan semoga segala malapetaka dijauhkan dari nya dan keluarganya.


Dua hari sebelum menjemput Sari, Rara sudah mengontrak satu rumah petak, di samping rumah Bude.


Awalnya, wanita yang membeli rumah mereka menawarkan kembali pada mereka untuk tinggal di sana, menyewakan dengan harga murah, tapi dengan tegas Rara menolak. Dia tidak ingin mengenang kejadian pahit di rumah itu terlebih karena dia tidak suka pada wanita jahat itu yang sudah tega mengusir mereka.


"Maaf ya, Ra. Mbak udah banyak merepotkan mu," ucap Sari merasa malu. Seharusnya sebagai anak sulung, dia berkewajiban melindungi serta menjaga Rara, nyatanya justru dia hanya bisa menyusahkan gadis itu saja.


"Mbak ngomong apa sih, aku gak suka!" Seru Rara menoleh pada Sari, lalu kembali keduanya saling peluk.


"Mama sudah pulang?" pekik Miko berlari menghambur ke pelukan Sari. Selama ini, anak itu hanya tahu kalau ibunya sedang pergi bekerja di tempat yang jauh, dan akan pulang kalau pekerjaannya sudah selesai.


"Miko, mama sangat merindukanmu, Nak. Maaf 'kan Mama yang lama pergi, tinggalkan Miko sama Bunda," ucap Sari kembali meneteskan air mata saat memeluk anaknya itu. Dia bersyukur memiliki anak sebaik dan separuh Miko. Dia sangat dewasa lebih dari umurnya. Selalu mengerti dengan keadaan mereka saat ini.


"Mama gak akan pergi lagi 'kan?" Tanya Miko melerai pelukan mereka. Dia bukan tidak nyaman tinggal bersama Rara, hanya saja berada di dekat ibu kandung pasti lebih bahagia.


***


Rara melangkah dengan malas, dan kini tanpa dia sadari perjalanan dari simpang depan komplek perumahan yang memakan waktu 15 menit sudah berhasil dia tempuh. Dia sudah berdiri di depan gerbang rumah majikannya.


Hufffh.... Rara menghembuskan napas berat. Dia ingin sekali tidak kembali, tapi rasanya itu hal mustahil. Tidak mungkin dia berhenti bekerja, sementara Sari juga belum mendapatkan pekerjaan. Kalau mereka berdua menganggur, lalu bagaimana mereka bisa bertahan hidup?


"Kok gak masuk?" Suara Komar mengagetkan Rara. Dia berbalik dan mendapati Komar ada tepat di belakangnya.


"Pak Komar dari mana?"


"Biasa, Neng," jawabnya menunjukkan sebungkus rokok yang baru saja dia beli dari warung di luar gerbang komplek.


"Kok sepi, Pak? Pada kemana?" tanya Rara ikut melangkah masuk beriringan dengan Komar.


"Tuan Ken pergi ke rumah mertuanya. Menjemput nyonya. Katanya nyonya sakit, dan sekarang ada di rumah orang tuanya," terang Komar yang mungkin mendapatkan penjelasan dari Ken sebelum pergi.


Rara menarik napas lagi. Rasanya lega. Setidaknya untuk beberapa saat dia tidak perlu bertemu dengan Ken dulu.


Gadis itu memilih duduk di tepi ranjang, menenangkan debar jantungnya dulu. Dia harus memikirkan akan bersikap bagaimana di depan Ken dan juga Tamara.


Dia tidak bisa bersikap seolah tidak terjadi apa-apa diantara mereka, kan?


Ada dorongan untuk mengambil seprei itu, digenggam dan diletakkan di atas pahanya. Menunduk menatap bekas darah yang masih terlihat jelas di seprei biru langit itu. Tanpa sadar air matanya turun, membasahi seprei itu.


"Ra, kamu masih perawan? Apa yang sudah aku lakukan?" pekik Ken berupa bisikan di atas bibir Rara. Menatap lekat wajah gadis yang ada di bawah tubuhnya itu. Namun, lagi-lagi miliknya yang masih menyatu dengan Rara menarik akal sehatnya, dan lebih menuruti keinginan badaniahnya.


Ken melesat, mempercepat gerakannya hingga menggapai puncaknya. Lalu setelahnya penyesalan dan rasa bersalah itu muncul kembali.


Terlebih saat dia sempat menangkap air mata Rara. Dengan langkah terseok, gadis itu bangkit memunguti pakaiannya dan masuk ke dalam kamar mandi.


Ada mungkin hampir 20 menit dia berada di dalam sana. Mencoba menenangkan hati dan pikirannya. Ingin sekali menjerit, tapi urung dia lakukan. Ini saja dia tidak berani untuk keluar dari kamar tanpa terlebih dulu memakai pakaiannya. Takut kalau saat keluar dari kamar ini, dia tengah jalan saat melintasi ruangan dia bertemu dengan Komar yang mengambil air di dapur, atau paling ngeri berpapasan dengan Tamara yang bisa saja pulang pagi, seperti yang sudah biasa dia lakukan.


"Kenapa gak bilang kalau kamu masih perawan, Ra?" tanya Ken lembut setelah Rara keluar dari kamar mandi. Ken hanya memakai boxernya, dan kaos putih. Rara hanya diam, menunduk, ogah untuk menjawab.


Apa gunanya dia bilang kalau perawan atau tidak, toh, yang menguasainya tadi adalah Ken yang sedang mabuk, yang tidak akan mengindahkan apapun permohonannya.


Sedihnya, Rara melakukan hal itu bukan dengan seseorang yang mencintainya!


"Kenapa bisa, Ra? Kalau kamu masih perawan, lantas Miko anak siapa? Dia bukan anak kamu?" Sosor Ken, tidak puas sebelum Rara menjawab pertanyaan.


Sebenarnya saat ini Ken sudah mengutuki dirinya karena sudah bersikap menjadi pria brengsek malam ini terhadap Rara.


"Sudah 'lah, Tuan. Kita lupakan saja apa yang terjadi malam ini. Aku gak mau mengingatkannya. Aku sangat merasa bersalah pada Nona Tamara," jawabnya masih berdiri di tengah ruangan. Dia sudah bersiap untuk melangkah keluar dari kamar itu.


"Ra, tapi aku gak bisa melupakannya. Kita berdua adalah orang dewasa, aku sudah melakukan hal itu, dan aku akan bertanggungjawab atas apa yang sudah aku perbuat," jawab Ken mengikis jarak diantara mereka. Namun, Rara yang masih marah dalam hatinya, tidak ingin disentuh oleh Ken lagi, jadi memilih mengangguk hormat, lalu membuka pintu kamar dan pergi dari sana.


Ken sadar dia sudah menghancurkan perasaan Rara, dan dia tahu gadis itu butuh waktu untuk menenangkan dirinya, jadi Ken memutuskan untuk tidak mengejar Rara. Membiarkan gadis itu mengambil waktu selama yang dia butuhkan untuk kemudian siap berbicara dengannya.


Sisa malam itu dihabiskan Rara dengan menangis. Nasibnya sungguh tragis. Apa yang terjadi padanya tidak bisa juga disebut pemerkosaan, karena jelas-jelas dia tidak berusaha untuk melepaskan diri dari Ken.


"Biar 'lah itu menjadi bayaran atas pertolonganku untuk mengeluarkan Mbak Sari. Mulai saat ini, tidak akan ada lagi hutang budi, seperti pada awal aku katakan padanya!" pekik Rara dalam hati, menyudahi tangisnya dan mencoba untuk beristirahat diantara rasa sakit yang membelenggu setiap sendi tubuhnya, terlebih bagian inti dirinya.


Kembali terdengar helaan napas panjang dari Rara. Gadis itu menyudahi lamunan panjangnya tentang kejadian malam itu. Dia bangkit lalu membawa seprei itu untuk dicuci sebelum Tamara pulang ke rumah.


Sisa hari itu dia mengerjakan semua pekerjaan rumah. Berharap nanti kalau pemilik rumah sudah pulang, dia tidak perlu menghadap, berpura-pura mati saja di dalam kamar. Malah, jauh dalam lubuk hatinya, dia berharap suami istri itu tidak usah pulang. Namun, kenyataan berbanding terbalik.


"Neng Rara, tuan dan nyonya sudah pulang, dan minta kamu bantu Nyonya Tamara keluar dari mobil," panggil Komar yang sudah muncul di depan pintu kamarnya.


*


*


*


Mampir gais