
"Dari tadi aku perhatikan menguap terus, Neng, gak bisa tidur tadi malam? Pasti karena tuan dan nyonya bertengkar hebat tadi malam, ya?" Tegur Komar yang masuk ke dalam dapur, seperti biasa mengambil kopi dan juga sarapan pagi, lalu akan dibawa ke posnya.
"Bang Komar dengar juga?" Tanya Rara basa basi, tanpa berniat peduli apa yang terjadi pada kedua manusia dewasa itu.
"Dengar 'lah. Suara ibu menggelegar begitu," jawab Komar, mengambil beberapa roti untuk dibawanya ke pos. "Ada masalah apa sih, Neng?"
Rara hanya menggeleng pelan. Dia benar-benar gak tahu. Rara hanya mendengar suara Tamara yang menggelegar, setelahnya segera menutup telinga dengan bantal.
Sarapan sudah ditata di atas meja, hanya tinggal menunggu Ken turun, karena Tamara tidak pernah bangun sepagi ini, apalagi untuk sarapan.
Rara akan berbalik ke dapur, kala mendengar suara langkah kaki mendekat. Spontan dia menoleh, dan mendapati Tamara yang berjalan ke arahnya sembari tersenyum. Wajahnya tampak cerah, berseri penuh kebahagiaan. "Pagi, Ra," sapanya tersenyum ke arah Rara, lalu menarik kursi untuk tempat duduk.
Pemandangan ini tentu saja sangat langka. Tidak biasanya Tamara turun. Rara bahkan sampai terpelongo melihat ke arah wanita itu. Sudah mandi, bahkan... keramas!
"Nona mau sarapan?" Guna mengurangi rasa gugupnya, Rara melempar pertanyaan retorik.
"Iya dong, aku kan mau temani Ken sarapan. Begitukan tugas istri!" jawabnya mengambil roti, lalu mengoles dengan selai dan meletakkan di atas piring. Rara tebak itu semua ingin Ken.
Tidak lama, Ken juga turun. Sama halnya dengan Tamara, rambut pria itu juga basah. Sekilas dia melirik Rara, tapi ingat akan janjinya pada gadis itu, Ken buru-buru mengalihkan pandangannya.
"Ini, Sayang. Aku udah siapkan buat kamu." Segera Tamara menyodorkan untuk sang suami.
Beda dengan Rara, dia tidak perlu lagi curi-curi pandang, langsung melotot melihat ke arah rambut mereka berdua. Awalnya pada wajah Tamara dan berakhir terpaku pada rambut Ken. Walau belum pernah menikah, dia tahu kalau suami istri itu pasti baru melakukan aktivitas di ranjang.
"CK! Mana yang katanya udah gak cinta lagi? Dasar penipu," batin Rara masih terus melotot ke wajah Ken yang kini sibuk menikmati sarapan paginya. "Eh, tapi kok aku jadi julid ya? Itu kan urusan mereka, sah-sah saja secara mereka suami istri, tapi kok aku kesal, ya?"
"Loh udah siap sarapannya, Sayang?" Tamara yang sejak tadi melihat ponselnya, kini menoleh ke arah Ken yang sudah bangkit. Pria itu hanya mengangguk, tanpa mengeluarkan sepatah katapun berlalu.
Tamara segera menjalankan aktingnya sebagai istri yang baik. Mengekori langkah suaminya ke luar.
Rara menatap kepergian kedua orang itu. Entah mengapa, ada denyut sakit di dadanya, dan tanpa memegang dadanya.
***
"Ada kabar apa? Mengapa dadakan minta ketemuan?" tanya Rara mengempaskan tubuhnya di depan Munaroh.
"Ijah hamil!" Celetuk Markonah cepat. Terlihat hanya Rara yang terbelalak. Menatap lurus ke arah Ijah.
Tidak perlu bertanya, hal itu tentu saja musibah bagi gadis itu. Ijah belum menikah, dan sekarang sedang hamil, bisa ditebak 'kan alur cerita ini?
"Sama siapa, Jah? Kamu kan belum punya pacar setahu kami," ujar Rara masih memfokuskan lensa matanya ke arah Ijah. Gadis lembut, yang selalu tulus pada semua orang, paling polos diantara mereka semua, sekaligus paling muda dari mereka. Jangan lupa, ibadahnya juga paling sempurna dari mereka semua.
"Ra, dia hamil sama anak majikannya!" Kali ini Munaroh yang memberi jawaban. Wati hanya bisa diam, mencoba menenangkan Ijah yang kini mulai terisak.
"Bukan, Ra. Jadi, selama ini Ijah gak pernah cerita sama kita kalau selama ini dia ada affair dengan anak majikannya," sambar Munaroh.
"Jadi, bisa dibilang ini skandal dengan pelayan, dong?" Markonah mencoba mencairkan suasana dengan sedikit menggoda Ijah.
Rara mengamati wajah Ijah. Sedih, dan sedikit ada penyesalan, tapi kini dia sudah berhenti menangis. "Aku minta maaf, kalau selama ini gak cerita sama kalian," ucapnya menatap satu persatu sahabatnya itu.
Perkataan Ijah seolah ikut menyentil Rara. Dia juga punya rahasia yang tidak dia bagi dengan teman-temannya itu. Disimpan sangat rapat.
"Ra, kok jadi melamun?" tanya Wati menyentuh lengan Rara.
"Hah? Oh, sorry, aku... Aku lagi mengingat, apa kompor udah aku matikan atau belum ya. Tapi udah kayaknya," jawabnya mencari alibi. Dia belum siap berbagi cerita dengan mereka. "Jadi, gimana, Jah?"
"Iya benar. Kamu udah ngomong sama Rangga?" susul Markonah mengikuti pertanyaan Rara.
Rara mengagumi wajah lembut Ijah. Dia tidak tergolong wanita cantik, tapi wajahnya manis dan begitu teduh. Rara yakin, kalau sebenarnya Khodijah memang pacaran dengan anak majikannya, jadi bukan hubungan paksaan.
"Udah," jawab Ijah pelan.
"Jadi, apa jawabannya?" desak Munaroh penasaran.
Ijah semakin menundukkan kepalanya. Mau jawab apa? Hingga saat ini Rangga belum bisa lagi dihubungi. Dia sedang KKN di Malang. Kabar mengenai kehamilannya hanya di sampaikan lewat pesan.
"Dasar brengsek! Dia cuma mau enaknya aja? Gak mau tanggung jawab? Ayo, rame-rame kita serbu aja rumah majikan mu itu!" Seru Markonah penuh amarah.
"Iya, benar. Bila perlu kita bawa wartawan!" tambah Munaroh yang diangguk Wati. Rara jadi bingung harus berkata apa.
"Jangan, aku gak mau mas Rangga kena masalah sama orang tuanya," sanggah Ijah.
"Kamu kok masih belain dia, padahal udah dibuat susah kayak gini!" Markonah jadi marah. Dia kesal pada keputusan Ijah. Dia tahu hati gadis itu sangat baik, bahkan cenderung bodoh, bisa dikadali oleh siapapun.
"Bukan begitu, Mar. Aku... Aku sayang sama mas Rangga. Aku gak dipaksa sama dia. Aku yang khilaf, mau melakukan dosa itu. Aku sangat takut, aku sadar dosaku sungguh besar. Namun, aku gak akan sanggup membuat mas Rangga kena masalah dengan keluarganya."
"Jadi, kalau dia gak mau tanggung jawab, bagaimana?" Desak Markonah. Kini semua orang memandang pada Ijah, menunggu jawab gadis itu.
"Biar aku pulang kampung aja, membesarkan anak ini seorang diri."
Jawaban Ijah membungkam mulut keempat pelayan lainnya. Tidak mungkin diantara mereka berani menyarankan untuk menggugurkan kandungan Ijah. Rara sempat berpikir, bagaimana kalau dia yang ada pada posisi Ijah. One night stand nya dengan Ken waktu itu membuatnya hamil? Dia tentu tidak ingin dipojokkan oleh siapapun, terlebih yang dianggapnya teman, begitu pun saat ini perasaan Ijah.
"Aku setuju dengan keputusanmu, Jah!"