Scandal With Maid

Scandal With Maid
Pindah Kerja



Rara menunggu di luar rumah VIP, tempat tuan Damian terbaring lemah, dengan semua selang terpasang di tubuhnya, sementara Tamara sudah memulai aktingnya menjadi mantu yang sayang mertua, menangis terisak di sisi ranjang sang mertua.


"Sudah, Tam. Jaga kesehatanmu, ingat saat ini kamu lagi mengandung cucu ibu," ucap Bu Susanti, menepuk pelan punggung Tamara.


"Kenapa ayah sampai gak sadarkan diri, Bu?" tanya menghentikan tangisnya. Rara yang mendengar dari luar hanya bisa menggelengkan kepalanya. Hidup Tamara terlalu banyak drama. Sok sedih padahal di dalam mobil saat diperjalanan tadi, dia malah cekikikan telepon dengan temannya.


Meminta maaf karena gak bisa join ke club karena harus mengunjungi mertuanya di rumah sakit.


"Mbak Tamara kapan ya bisa berubah?" batin Rara menghela napas, kembali memainkan ponselnya. Hari ini dia terpaksa gak masuk kuliah, demi menemani majikannya itu ke rumah sakit.


Dari kejauhan satu langkah di koridor mulai mendekat ke arahnya. Spontan, Rara mendongak melihat ke arah langkah itu, dan jantungnya kembali bermasalah.


"Ken..." batinnya masih melihat ke arah Ken. Dia sudah mempersiapkan jawaban atas sapaan Ken nanti, dia yakin pria itu akan menyapanya. Setelah keputusan Rara yang meminta agar menjauhinya, Ken yang benar-benar terluka, serta mendapatkan saran dari kedua temannya, mulai membentengi diri, bersikap dingin terhadap Rara, agar dia bisa dengan mudah melupakan gadis itu.


Saat sudah berada sejengkal dari tempat Rara duduk, Ken tidak berhenti untuk menyapanya seperti dugaan wanita itu. Ken belok, masuk ke dalam ruangan ayahnya.


Aneh, getar di jantung Rara bertambah menjadi rasa sedih dan nyeri. Kenapa dicuekin Ken membuatnya ingin menangis, padahal dia sendiri yang memintanya?


***


Malamnya Rara diminta pulang ke rumah ibunya, menemani wanita itu untuk mengambil pakaian dan perlengkapan yang dibutuhkan oleh Bu Susanti. Ken sudah meminta agar ibunya pulang saja dan dia yang akan menjaga ayahnya di rumah sakit, tapi Bu Susanti menolak, tidak ingin jauh dari belahan jiwanya itu. Begitupun dengan Tamara, meminta wanita itu untuk beristirahat di rumah saja kasihan bayi yang ada dalam kandungannya.


Tamara tentu saja pura-pura menolak, dia ingin tetap tinggal di sana, ikut menjaga mertuanya, karena dia tahu bahwa Ken akan memaksa tetap pulang demi alasan kenyamanan dan kesehatan bayinya.


"Tapi aku ingin menjaga ayah di sini. Kau tahu betul kalau aku sangat menyayangi ayah. Beliau sangat baik padaku," ucap Tamara.


"Apa yang dikatakan suamimu itu benar. Sebaiknya kau pulang agar bisa beristirahat," sambar Susanti, yang akhirnya diangguk Tamara.


***


Rumah keluarga Derago sangat besar dan mewah. Bergaya Eropa, bak seperti Puri di dongeng klasik yang suka di tonton oleh Rara waktu kecil.


"Ayo, masuk, kok malah bengong," tegur Susanti lebih dulu masuk ke dalam rumah.


"Nyonya sudah pulang? Bagaimana keadaan tuan besar?" tanya wanita yang umurnya tidak terlalu jauh dari Susanti.


"Masih belum sadarkan diri. Aku mengutuk orang yang sudah memberikan info tidak jelas itu pada Damian!" umpat Susanti mengambil kursi untuk duduk. Satu lagi pelayan datang memberikan segelas air hangat. Rara hanya diam, hingga mendengar pembicaraan Susanti dan pelayannya.


"Saya yang salah, Nyonya. Harusnya saya menyortir surat itu lebih dulu, sebelum dibawa Inem ke dalam dan diserahkan pada tuan," ucap kepala pelayan dengan papan nama bertuliskan Yuyun di seragamnya.


"Sudah'lah. Kita lupakan sesaat masalah itu. Kita fokus pada kesehatan Damian," sambar Susanti.


Tiga hari dirawat di rumah sakit, akhirnya Tuan Damian sadarkan diri. Setiap hari Tamara datang bersama Rara, dan selama itu, Rara secara tidak langsung ikut mengurus tuan Damian.


"Terima kasih Dokter, kami akan memperhatikan kebutuhan suami saya dan tepat waktu untuk melakukan kontrol setiap bulannya," jawab Susanti sedikit merasa tenang karena suaminya sudah diperbolehkan pulang.


Serangan jantung yang menimpa suaminya kali ini membuat Susanti sangat syok. Setiap malam dia menemani Damian yang belum sadarkan diri. Saat itu 'lah Susanti baru menyadari bahwa sebanyak apapun harta mereka tidak akan berarti jika pasangan, orang yang dia sayangi dan dia kasihi itu pergi untuk selamanya.


Usia mereka memang tidak muda lagi tapi Susanti masih ingin merajut kasih, menjalani hari-hari bersama suaminya sampai nantinya mereka bisa melihat cucu-cucu mereka.


Banyak pelajaran hidup yang Susanti didapatkan selama tiga hari ini. Dia seolah ditampar akan kesombongan dan juga congkak dalam hatinya Selama ini dia memandang rendah orang lain dan selalu menganggap dirinya yang lebih sempurna dari segi apapun.


Sebelum pulang ke rumah, Susanti menghubungi Ken yang sudah berada di kantor karena memang pria itu berangkat kerja dari rumah sakit selama ayahnya dirawat. Tidak sekalipun dia pulang ke rumah, memilih untuk tetap menjaga ayahnya dan berangkat dari sana setiap paginya.


"Hari ini ayah mau pulang. Apa kau ingin datang ke sini atau kita bertemu di rumah saja?" tanya Susanti melalui telepon, tidak ingin mengganggu pekerjaan Ken.


"Aku akan ke rumah sakit sekarang, Bu. Sama-sama kita bawa ayah pulang ke rumah," jawab Ken sebelum menutup teleponnya.


Pernyataan dokter seolah membuat Tamara mendapatkan ide.


"Ibu, dokter mengatakan kalau kita harus menyediakan perawat khusus untuk menjaga ayah, bagaimana kalau Rara aja yang bekerja untuk ayah? Dia telaten, dia pasti bisa merawat Ayah dengan baik," ucap Tamara yang memutuskan untuk melepaskan Rara dari cengkramannya.


Belakangan ini karena kesibukan Tamara mengurus mertuanya membuatnya jarang bertemu Jhon. Pria itu marah karena tidak mendapatkan waktu dari wanita itu. Jhon menyatakan bahwa dia sudah jatuh cinta pada Tamara, bukan sekedar hubungan yang memberikan kepuasan biologis satu dengan yang lainnya, jadi dia menuntut Tamara untuk menyisihkan waktunya lebih banyak lagi dengannya.


Jhon bahkan mengancam bahwa dia akan memberitahukan bahwa bayi yang saat ini ada dalam kandungnya itu adalah anaknya. Tamara tidak punya pilihan lain, dengan menjauhkan Rara dari dirinya dia bisa bebas bersama John, lagi pula itu juga cara terbaik untuk memisahkan Ken dari Rara.


"Loh, nanti kalau Ibu bawa Rara, kamu gimana?" tanya Susanti sedikit merasa aneh, kenapa Tamara justru menyerahkan Rara padanya.


"Aku bisa cari yang lain. Kebetulan ada teman yang menyarankan seorang pelayan. Kita harus mencari pelayan yang bisa dipercaya. Ibu ingatkan kalau keadaaan ayah masih kita rahasiakan, agar tidak berita simpang siur mengenai keadaan ayah. Kalau sampai mereka tahu kalau ayah lagi sakit, pasti saham perusahaan akan anjlok," terang Tamara mencoba mempengaruhi mertuanya.


Susanti diam sesaat. Sedikit banyak yang dikatakan mantunya benar. Dia tidak bisa sembarangan memasukkan pelayan ke rumahnya, jangan sampai ada orang luar yang mengetahui mengenai surat kaleng yang didapat suaminya yang membeberkan informasi mengenai perselingkuhan putra mereka satu-satunya.


"Baik'lah. Ibu akan membawa Rara pulang."


*


*


*


Mampir gais