
Rasa tidak percaya Ken atas ucapan Rara malam itu membawanya ke tempat gadis itu. Siang ini pria tampan itu sudah berada di jurusan Rara, tanpa mengabari sebelumnya. Dia ingin menyelidiki dengan mata kepalanya sendiri.
Begitu Ken melihat Rara berjalan menuju kantin jurusan, Ken mengikuti. Senyumnya terbit sesaat karena tidak mendapati ada pria yang kemarin malam bersamanya dan menyimpulkan bahwa gadis itu sudah berbohong.
Dia pun mulai bergerak, ikut masuk ke dalam kantin yang siang itu dipadati oleh mahasiswa.
Namun, belum sampai ke meja Rara, langkah Ken terhenti, kala melihat gadis itu mencium pipi pria yang disebutkan sebagai kekasih barunya. Ken tertegun, dia berdiri di tempatnya sembari mengamati semua itu.
Hatinya remuk dan sedih tidak terperih. Lima menit berlalu, dia masih berdiri di tempatnya sembari mengamati lurus ke depan, hingga seseorang menubruk punggungnya, yang berhasil membawanya ke alam sadar.
Rara tidak mungkin melihatnya, mereka duduk dengan membelakangi arah Ken. Semua yang dibutuhkan Ken demi meyakinkan hatinya sudah dia dapat. Cukup sudah, dia balik kanan dan dengan hati hancur dia pergi dari sana, terus berjalan tanpa menoleh.
Setelah jarak Ken yang sudah cukup jauh pergi, Rara pun menoleh ke belakang, mengamati punggung Ken yang semakin menjauh. Rara meremat baju dadanya. Sakit.
"Kau mencium pipiku agar dilihatnya?" ucap Er yang ikut melihat ke titik pandangan Rara. Air mata gadis itu mengembang. Sekali saja dia berkedip maka bulir bening itu akan tumpah.
Rara baru turun dari kelas setelah mengikuti mata kuliahnya tadi, dari lantai tiga, tanpa sengaja dia menangkap sosok Ken, dan menyadari kalau pria itu datang ingin membuktikan kedekatannya dengan Er.
Lalu Rara mengambil kesempatan itu untuk memperjelas status mereka. Erlang yang memang sudah menunggunya di kantin membuat rencana Rara berjalan sempurna. Tanpa pikir panjang, Rara segera mengecup pipi Er agar menjadi bukti bagi Ken.
"Ra, kamu baik-baik saja?" bisik Er yang tahu kalau saat ini hati Rara terlalu sedih untuk menjelaskan, tidak mudah harus menyakiti perasaan orang yang dicintai, dan membuatnya balik membenci.
"Aku baik. Er, kita pacaran aja," ucap Rara menatap wajah pria yang kini mengangguk dengan senyum di bibirnya.
***
"Aku belum bisa kasih yang kami minta. Kamu harus lebih bersabar, baru seminggu lalu kami minta 100 juta. Tabungan aku udah ludes! Dan kamu tahu kan, karena bayi sialan ini, aku jadi kehilangan job ku!" salak Tamara melotot pada Jhon. Lagi-lagi pria itu mendesaknya untuk memberikan uang.
"Tapi aku butuh sekarang! Kau tinggal minta sama suami mu yang kaku itu!"
Tamara ingin menjawab, tapi lelah dan sakit kepalanya membuatnya hanya bisa diam. Belakangan ini dia begitu lelah karena mengambil beberapa job yang hanya memberi bayaran kecil, seperti menjadi bintang tamu di acara talk show , itu pun Tamara diundang karena mereka tidak berhasil mengundang Ken.
Ingin mencari info tentang Ken dari dirinya. Biasanya Tamara tidak akan menerima job yang menurutnya murahan seperti itu, tapi demi menyumpal mulut Jhon, akhirnya dia menerimanya juga.
Seminggu penuh dia bolak balik ke beberapa stasiun televisi untuk di wawancara, rasanya tubuhnya begitu remuk.
"Sebaiknya aku pulang dulu. Tadinya aku datang tadi untuk mendapatkan ketenangan dan juga hiburan darimu, tapi yang ada kau membuat kepalaku semakin sakit hingga rasanya mau pecah!" umpat Tamara bangkit, mengambil tas tangannya dan meninggalkan Jhon yang terbelalak karena permintaan nya tidak diberikan oleh Tamara.
"Kau gak bisa pergi begitu saja. Aku sudah janji, Tam sama dealer kalau hari ini akan menyerahkan uangnya!" bentak Jhon mengejar Tamara, menarik kasar tangan wanita itu.
Tamara yang tidak terima diperlakukan seperti itu menyentak tangannya, dan tanpa menjawab kembali meneruskan langkahnya hingga tepat di depan pintu keluar, Jhon kembali menariknya lagi.
"Berikan uangmu!" bentak Jhon lagi.
"Dasar brengsek, pria gak tahu diri, aku gak akan memberikan satu sen pun padamu!" ucap Tamara bangkit dengan mengesampingkan rasa sakit dan menyambar kembali tas tangannya yang belum berhasil dibuka Jhon.
Buru-buru Tamara keluar dari ruangan itu. Dia mengutuk Jhon, dan harus segera pergi dari sana, jangan sampai pria itu mengejarnya. Lift saat itu penuh, hingga Tamara memilih untuk turun dengan tangga saja.
"Kau akan menyesal, dasar wanita murahan! Aku akan memberitahukan pada suamimu kebenarannya!" teriak Jhon yang batal mengejar Tamara.
Keadaan yang tidak stabil dan ditambah amarah di hatinya, membuat Tamara tidak memperhatikan langkahnya, hingga tergelincir dari anak tangga ke lima dan jatuh ke dasar lantai.
"Aduh," rintihnya kesakitan, memegangi perutnya yang terasa keram dan sakit luar biasa. Dia mencoba untuk bangkit, tapi terasa sangat tersiksa lalu kembali jatuh terduduk lagi.
"Mbak kenapa? Mbak terjatuh? Mbak berdarah," rancu satpam yang kebetulan melintas, sementara Tamara tidak dapat mengatakan apapun lagi, semua tampak gelap dan menghitam.
***
"Ken...," gumam Tamara melihat sosok suaminya yang duduk di sisi ranjangnya. Terlihat tatapan sendu di mata pria itu.
"Hey, kau sudah sadar? Bagaimana perasaan mu?" jawab Ken menggenggam tangan Tamara, dan mencium punggung tangan gadis itu. Ken tidak mampu menyembunyikan kesedihannya.
Semua tampak tidak adil bagi hidupnya. Dia kehilangan Rara, dan setelah membulatkan hati untuk tetap bersama Tamara demi anak mereka, anak yang sudah lama diharapkannya, kini bayi kecil itu juga pergi meninggalkannya. Tidak ada yang tersisa bagi Ken untuk menjadi penyemangat hidupnya.
Oke, dia memang tidak mencintai Tamara lagi, tapi dia sangat menyayangi calon bayi mereka. Dia selalu berharap bisa melihat dan membesarkan anaknya. Melihat bayi itu tumbuh.
Ken bahkan hampir setiap malam mengingatkan Tamara untuk meminum susu hamilnya, dan tanpa malas, dia sendiri yang membuatkannya.
"Ken... Kenapa kamu menangis, Sayang? Ada apa?" tanya Tamara dengan suara serak.
Apa yang harus dijawab Ken? Keadaan Tamara sangat lemah kata dokter. Tensi turun dan tekanan darah rendah. Ditambah lagi mendengar berita ini, dia pasti akan semakin down.
"Ken, jawab aku, Sayang. Ada apa?" ulang Tamara semakin takut. Seolah bisa menebak, Tamara memegang perutnya. Hanya menyangkut bayi mereka 'lah yang mampu membuat Ken sesedih ini.
"Bayi... bayiku... Katakan, Ken. Bayiku baik-baik saja, kan? Anak kita masih ada di perutku, kan?" Tamara semakin histeris kala tidak mendapatkan jawaban dari Ken, hanya air mata pria itu yang turun dari sudut matanya, sembari membelai rambut Tamara.
Tindakan Ken sudah lebih dari cukup bagi Tamara sebagai jawaban atas apa yang terjadi. Wajah Tamara memucat. Kartu Asnya sudah hilang.
"Ini tidak mungkin... Ken... aku ingin bayi itu!" teriaknya menggema memenuhi ruangan.