Scandal With Maid

Scandal With Maid
Hati Ke Hati



"Kenapa langsung pulang?" Ken menarik pergelangan tangan Rara yang sudah berjalan menuju gerbang setelah hampir lima 10 menit berdebat dengan Pak Dudi. Pria itu bersikeras tetap ingin mengantar Rara ke kampus, walau akhirnya dimenangkan oleh Rara.


"Aku mau ke kampus," ucap Rara menarik tangannya, tapi tetap tidak dilepaskan oleh Ken. Pria itu justru menarik Rara kembali masuk ke kantor.


Pandangan dua gadis di depan front office yang tadi memandang sinis pada Rara, kini terbelalak, kala melihat jelas tangan Ken yang memegang erat tangan Rara. Sampai keduanya menghilang di balik pintu lift, kedua wanita yang ingin tahu itu saling melempar pandang tidak percaya.


"Kau dengar kan, tadi dia bilang pelayannya?"


***


Rara menjatuhkan dirinya ke sofa tepat di depan meja kerja Ken. Pria itu masih berdiri dengan menyandarkan panggulnya di sisi meja sembari menatap Rara.


"Apa?" tanya Rara ketus, melawan tatapan pria itu dengan menarik sudut bibirnya.


"Kenapa langsung pergi?"


"Cuma disuruh ibu buat ngantar bekal itu," jawabnya masih terdengar ketus. Dia jadi ingat bagaimana karyawan Ken menyambutnya tadi.


Sebenarnya Ken sangat menantikan kesempatan ini. Dua hari tidak bicara dengan Rara membuatnya uring-uringan dan berusaha memikirkan cara agar bisa mengajak gadis itu baikan. Beruntung sebelum dia maju, ibunya memberi jalan untuk mereka bisa bicara.


Nanti dia akan berbicara kepada ibunya untuk mengucapkan terima kasih, mungkin dengan membawa kue kesukaannya ataupun seikat bunga.


Ken sadar kalau mereka terus saling berjauhan, dia takut Rara justru benar-benar menutup hati kepadanya, terlebih saat ini ada rival yang mengancam akan merebut Rara.


"Aku ingin makan, perutku sudah lapar," ucap Ken yang mengambil tempat tepat di samping Rara. Dia ingin menyudahi pertikaian ini, dia rindu pada gadis itu ingin sekali memeluknya.


Rara malas berdebat, dia pun segera menyuguhkan makanan itu di atas meja, berusaha untuk tidak terganggu dengan pandangan Ken yang menatapnya dengan lekat.


"Ini udah, ayo makan. Aku pamit mau kuliah," ucap Rara menata makanan di atas meja. Pada akhirnya, gadis itu tidak bisa menyembunyikan sikapnya yang salah tingkah. Dia paling tidak bisa ditatap seintens itu oleh Ken, jantungnya akan berdetak dengan cepat.


"Aku akan makan, tapi kau janji jangan pergi dulu," ucap Ken yang menarik tangan Rara dan meletakkan telapak tangan gadis itu di dadanya. "Rasakan debar jantung ku yang berdetak hanya untukmu. Kembalilah padaku, kita mulai hubungan ini lagi. Kali ini tidak ada yang perlu kita takutkan, tidak ada yang perlu kita sembunyikan karena cinta kita memang suci," ucap Ken menatap lekat wajah gadis itu.


Ken sangat menyadari dirinya begitu tergila-gila pada Rara, bukan karena fisiknya tapi karena kelembutan dan juga ketulusan gadis itu.


Rara tertunduk, bingung harus menjawab apa. Tentu saja hatinya gembira mendengar pernyataan cinta dari Ken lagi. Walaupun tidak menyembunyikan hubungan mereka, tetap saja mereka tidak bisa melenggang dengan tenang. Status Ken masih dipertanyakan, masih jauh dari kata aman, terlebih Tamara belum memberikan jawaban atas gugatan perceraian yang dilayangkan Ke padanya.


"Ra, kamu mau kan, Sayang?" Ken menangkup dagu gadis itu, memaksa mata indah itu untuk menatapnya.


"Bagaimana dengan Non Tamara? Dia belum mau melepasmu, Mas," ucap Rara dengan ada pelan. Ada rasa enggan di dalam sana tapi kalau disembunyikan di dalam hatinya dia juga tersiksa.


"Aku akan segera mengurusnya. Apapun akan aku lakukan asal bisa segera bercerai dengannya," ucap Ken masih memandangi Tamara.


Dahaganya akan rasa gadis itu semakin menggunung kala menatap bibir menggoda milik Rara. Perlahan dia semakin mendekatkan diri pada wajah Rara, hingga gadis itu bisa menyesap aroma wangi maskulin dari hembusan napas Ken.


Rara tahu persekian detik ke depan apa yang akan dia rasakan. Dia sudah melihat gelagat dari mata Ken dan menebak niat pria itu terhadapnya.


Tepat saat bibir pria itu menyentuh bibir lembutnya, mata Rara terpejam menyerahkan seluruh jiwa dan juga hatinya kepada satu-satunya pria yang sangat dia cintai dalam hidupnya. Tidak bisa dipungkiri bahwa Rara merasa sangat nyaman dan terlindungi di dekat pria itu.


Seharusnya mereka sudah bersama sejak lama bersama, hanya karena bertemu dalam keadaan dan juga waktu yang tidak tepat membuat keduanya harus memilih berpisah saat itu.


Ciuman itu semakin memanas, yang awalnya hanya ingin mencicipi dan melepas rindu sekedar mengingat bagaimana rasa bibir Rara, kini semakin tidak tertahankan.


Ciuman yang awalnya sekilas, hanya ingin mencercap, silaturahmi dadakan, kini semakin menuntut lebih dan berubah menjadi pagutan. Umpan yang diberikan oleh Ken ternyata berhasil ditangkap Rara. Gadis itu membalas ciumannya dengan naluri yang dia punya, mengikuti instingnya ingin memberikan kepuasan terhadap pria yang sudah dia pilih ini.


Ken semakin terbakar, tangannya tidak bisa dikondisikan lagi, merambat turun membelai leher jenjang gadis itu lalu mengusap punggungnya. Menempelkan tubuh Rara ke dadanya hingga pagutan itu semakin kuat dan tidak ingin disudahi.


Namun, takdir berkata lain, bunyi ponsel Ken mengakhiri pertunjukan layar yang sudah terkembang, kini harus ditarik lagi.


"Itu, ponselmu bunyi," desis Rara disela bibir Ken. Pria itu masih enggan menyudahi rasa nikmat yang baru saja dia rengkuh. Biar aja, gak penting, mending kita lanjutkan lagi," jawabnya menggigil pelan bibir bawah Ken, menyiram tubuh gadis itu dengan gelora yang membuat tubuh Rara kembali bergetar.


Bunyi yang sempat redup itu kembali lagi, dan kali ini Rara memaksakan untuk menjawabnya.


Ketika melihat nama yang tampil di layar ponselnya, kening Ken tampak berkerut. Nama yang ingin dia lupakan dan tidak ingin ditemui selain membicarakan urusan perceraian.


"Tamara," ucap Ken pada Rara sembari menunjukkan layar ponselnya. Dia tidak ingin menyembunyikan apapun dari Rara. Hari ini dia berkomitmen bahwa hal kecil apapun akan dia bicarakan dengan Rara karena baginya gadis itu adalah bagian terpenting dalam hidupnya.


"Jawab, Mas. Siapa tahu penting," jawab Rara singkat.


Ken akhirnya menjawab dan berbicara dengan Tamara. Rara berusaha untuk bersikap tenang, tidak ingin mencari tahu apa yang mereka bicarakan walaupun hatinya begitu penasaran dan ingin mengetahuinya. Dia bahkan meminta izin kepada Ken untuk memakai toilet yang ada di ruangan itu. Alasan cuci tangan menjadi pilihannya, alih-alih untuk menenangkan debaran jantungnya.


Setelah keluar dari toilet, Rara sudah mendapati Ken selesai bertelepon dan tampak menunggu dirinya. Sepertinya ada yang ingin Ken sampaikan padanya.


"Tamara ingin mengajakku bertemu, dia ingin membahas perceraian," ucap Ken menatap Rara.