Scandal With Maid

Scandal With Maid
Melihatmu Berpelukan



"Apa yang membuatmu begitu gembira?" tanya Damian begitu melihat istrinya masuk ke dalam kamar. Damian yang penasaran segera meletakkan buku yang tadi dia baca, dan memperhatikan wajah Susanti yang terus mengembangkan senyum.


"Doa kita dikabulkan Tuhan, Rara mau tinggal bareng kita setelah mereka menikah," pekik Susanti menghempaskan tubuhnya di ranjang.


Damian ikut tersenyum, ikut bahagia mendengar cerita Susanti mengenai keinginan Rara ingin tinggal bersama mereka. Ternyata jika meminta dengan tulus bisa jadi semesta akan mendengarkan dan mengabulkannya.


***


"Ini," ucap Rara memberikan undangan pada Erlang, saat pria itu meminta waktu Rara sebentar sebelum gadis itu pulang.


Perkuliahan sudah bubar sejak 20 menit yang lalu dan kini keduanya duduk di sebuah taman kampus yang jarang dilalui mahasiswa tempat yang nyaman untuk mereka bicara.


"Apa ini, Ra?" tanya Erlang mengamati undangan yang masih berada di tangan gadis itu. Hatinya Kini mulai berlomba dengan rasa penasarannya namun, enggan untuk mengambil dari tangan gadis itu.


Tujuan Erlang mengajak Rara bicara ingin memastikan bahkan kalau bisa memohon pada gadis itu untuk kembali bersama.


Walaupun seribu kali Rara akan tetap dengan jawabannya, menolak perasaan Erlang dan mengatakan bahwa hatinya sudah dimiliki oleh Ken, tapi Erlang masih percaya akan ada keajaiban untuknya.


Namun, setelah gadis itu menunjukkan undangan dengan sampul foto mereka berdua, membuat tubuh Erlang membeku. Kini harapannya pupus sudah, benda itu memperjelas semua jawaban yang ingin dia dapatkan dari Rara.


"Aku berharap kau bisa datang Er, dan terima kasih untuk selama ini karena sudah menjadi teman yang paling baik dan paling mengerti. Aku minta maaf karena tidak bisa memberikan apa yang kau minta. Aku akan lebih berdosa dan merasa bersalah jika tetap memilih berada di sisimu hanya karena merasa kasihan pada dirimu. Kau adalah pria yang paling baik yang pernah aku kenal. Aku percaya suatu hari kau akan mendapatkan seorang gadis yang patut dan layak mendapatkan cintamu," ucap Rara dengan tersenyum namun, matanya berkaca-kaca penuh haru.


Dia begitu beruntung dikelilingi orang-orang baik, terlebih telah dipertemukan dengan Erlang. Pria itu bahkan sangat menghormatinya selama berstatus menjadi pacarnya, Erlang tidak pernah menyentuh Rara.


"Jadi, itu keputusanmu?" ucap Erlang setelah kebisuannya selama beberapa menit. Dengan gemetar, tangannya mengambil undangan itu. Ingin rasanya meremas undangan itu di depan Rara, menunjukkan ketidaksiapannya kehilangan gadis itu untuk selamanya namun, tatapan tulus Rara kepadanya membuatnya tidak berdaya untuk menyakiti gadis itu dengan sikapnya.


"Entah aku bisa atau nggak Ra, untuk melupakanmu, tapi aku hargai keputusanmu. Aku berdoa semoga kau dan juga pilihan hatimu bahagia selalu," ucap Erlang dengan suara bergetar.


Dorongan untuk memeluk pria itu sungguh besar, tapi dia tahu posisinya dan itu tidak mungkin dilakukan terlebih mereka sedang berada di area kampus.


"Aku ingin sekali memelukmu untuk mengucapkan terima kasih dan sebagai salam perpisahan," ucap Erlang menatap sendu wajah Rara.


"Apa yang kalian lakukan?!"


Sontak keduanya melepas pelukan dan bersamaan mengalihkan pandangan ke arah suara itu. Tampak Ken berdiri di sana dengan gagah, memandang tajam kepada mereka berdua.


Cara pria itu menatap mereka, ibarat seorang pria yang telah berhasil memergoki calon istrinya bersama pria lain.


"Mas, kau sudah datang?" Sapa Rara sedikit gugup. Tidak ada yang salah yang dia lakukan. Pelukan itu hanya sekedar salam perpisahan antar sahabat, tidak lebih, tanpa diwarnai perasaan yang pantas untuk dicurigai oleh Ken.


Namun, tetap saja apapun alasannya, pria itu tidak akan pernah mau mendengarkan. Baginya apa yang dilihat matanya itulah kebenaran.


"Jadi, ini yang kalian lakukan di belakangku? mengambil kesempatan untuk berduaan dan berpelukan di tengah siang bolong begini di tempat umum? Apa kalian tidak punya malu?" hardik Ken dengan wajah garang.


Trauma akibat dikhianati oleh Tamara membuatnya tidak mempercayai siapapun yang mendekati Rara, lebih riwayat Erlang pernah menyukai calon istrinya itu.


Dulu juga Tamara pernah memperkenalkan John kepada dirinya ketika mengantarkan wanita itu pulang pada pukul 02.00 pagi. Tamara beralihbi bahwa John dengan baiknya mau mengantarkannya setelah mereka selesai syuting sinetron.


Ken yang begitu percaya kepada Tamara, tidak pernah mencurigai Wanita itu telah berkhianat di belakangnya, tapi apa balasan yang dia dapatkan?


Pada akhir cerita, ternyata John dan Tamara sudah mempecundangi nya, menghancurkan rumah tangga mereka dengan perselingkuhan yang telah dibangun bertahun-tahun lamanya.


Ken tidak akan membiarkan untuk kali kedua dia kecolongan. Terlebih gadis yang satu ini sangat berbeda dari Tamara. Dia sudah menyerahkan seluruh hatinya dan bersumpah akan memiliki gadis itu untuk dirinya sendiri.


"Dengarkan dulu penjelasanku, Mas. Kami hanya bicara," ucap Rara mencoba meredam amarahnya. Sialnya, bukan membantu, Erlang justru diam di tempat tanpa berkeinginan untuk membantu Rara memberi penjelasan pada Ken, guna meredam amarah pria itu.


Yang ada justru Erlang sangat menikmati amarah yang tampak di wajah Ken.


"Setidaknya, biarkan aku menikmati kekhawatiranmu saat ini, Ken. Cukup untuk memuaskan ku, sebagai imbalan karena aku melepaskan Rara untukmu!" batin Erlang tersenyum sinis kepada Ken, yang berhasil membuat amarah pria itu semakin berkobar.


"Hanya bicara? Aku lihat kalian berpelukan! Apa zaman sekarang ini ada cara berbicara selain melalui mulut? Aku melihat kalian berpelukan!" bentak Ken yang tidak mau mendengarkan penjelasan Rara.