Oh My Husband

Oh My Husband
Oh My Husband Ep-08



Tidak disangka, James memutuskan pergi menemui kedua orang tua Lana. James ingin meminta ijin pada orang tua Lana untuk menikahi Lana.


Louis dan Merry menentang keinginan James, karena harus menepati janji pada Jenifer.


"Jangan macam-macam Lana. Jangan membuat papa marah!" Louis terlihat kesal.


"Paman.. jangan salahkan Lana. Lana tidak bersalah." Sahut James.


Louis menatap James, "Kau, pergi! Jangan lagi temui Lana. Dan kau Lana, (Louis menatap Lana) kembali ke kamarmu sekarang." Louis memerintah Lana.


Lana mengepalkan dua tangan, Lana menatap James. James menganggukan kepala, Lana merasa kesal dan berlari menuju kamarnya, Lana menangis.


"Pulanglah, ini sudah malam." Ucap Louis.


"Paman, jika ini masalah uang, aku akan berikan. Ijinkan Lana bersamaku.." James menawar pada Louis.


"Apa? Kau pikir aku akan menjual putriku padamu?" Louis menaikan alisnya.


"Bukankah paman juga menjual Lana pada orang kaya lainnya? Kepada keluarga Hawn? Dimana perbedaanya? Paman sama-sama mendapatkan uang bukan?" Jawab James.


Plaaaaaaaakkk...


Karena kesal, Louis menampar James. Perkataan Louis sungguh menyakiti hatinya, Louis marah karena dianggap menjual anak sendiri demi uang.


Tamparan keras mendarat di wajah James. "Kurang ajar, berani sekali mengatakan hal itu padaku. Kau siapa? Mengataiku seperti itu huh? Keluar dari rumahku!" Louis membentak dan mengusir James dari rumahnya.


James pergi dari rumah Louis. Hatinya hancur mendapat pebolakan. James kembali pulang ke apartemennya.


-----


Louis masuk ke dalam kamar Lana. Louis marah basar pada Lana.


"Apa yang kau pikirkan Lana? Kau tidak boleh berhubungan lagi dengan berandalan itu! Dan jangan keluar dari rumah tanpa ijin dari papa. Kau mengerti?" Louis menatap Lana tajam.


"Papa, aku tidak ingin dipaksa menikahi orang yang tidak aku kenal! Aku benci papa!" Teriak Lana.


"Terserah saja, bencilah jika kau ingin membenci papa. Ini semua demi kebaikanmu." Jawab Louis.


Louis keluar dari kamar Lana, menutup pintu kamar Lana. Lana melepar bantal kearah pintu, Lana kesal dan mengobrak-abrik isi kamarnya.


Lana merasa kesal, marah dan kecewa. "Kenapa harus seperti ini? Ini tidak adil, aku benci semua ini, benci.... aahhh!" Lana berteriak, mencengkram selimutnya kuat-kuat.


Hiks..


Hiks..


Hiks..


Lana menangis tersedu. Hatinya sangat sakit. Lana menundukakan kepala memeluk lututnya sendiri.


-----


Louis memijat kepalanya yang sakit. Merry membantu Louis memijat bahu Louis.


"Apa kau tidak terlalu keras pada Lana?" Tanya Merry.


"Terlalu keras? Beruntung aku masih ijinkan dia keluar dari kamar, bagaimana jika aku hanya ijinkan dia berada di dalam kamar? Kau istirahatlah, ini sudah malam." Louis masih dalam suasana hati yang buruk.


"Aku masih ingin menunggu Luna, Luna mengatakan masih dalam perjalanan." Jawab Merry.


"Ahhh.. sakit sekali, aku benar-benar dibuat pusing oleh Lana." Keluh Louis.


"Berbaringlah dan tidur, aku akan keluar dan menunggu Luna pulang. Oke?" Merry membantu Louis berbaring, lalu menarik selimut sampai sebatas leher menutup tubuh Louis.


Merry keluar dari kamar, berjalan menuju ruang tamu untuk menunggu Luna pulang. Merry menatap jam di dinding, jam sudah menujukan pukul 23.30 malam.


"Sudah hampir tengah malam," guman Merry.


Kleeekk..


Pintu utama terbuka, Luna masuk dan kembali menutup pintu. Luna berbalik dan melihat mamanya.


"Hai ma, mama belum tidur?" Tanya Luna menghampiri Merry.


"Hai sayang, kau baru datang? Mama sengaja menunggumu," jawab Merry.


Luna merasa aneh, sepertinya mamanya menyembunyikan sesuatu. "Mama ada apa?" Luna merangkul lengan Merry.


"Duduklah, mama akan ceritakan." Jawab Merry.


Luna mengangguk, Luna dan Merry duduk berdampingan di sofa ruang tamu.


"Lana menolak pernikahan dan membawa seorang pria datang kesini. Membuat papamu marah dan emosi. Kau tau bukan? Mama dan papa hanya ingin yang terbaik untuk Lana." Jelas Merry.


Luna menghela nafas panjang, "pasti berat bagi Lana ma, aku akan mampir ke kamarnya dan melihat ke adaannya. Mama istirahatlah, besok saja kita membahas semuanya. Jika sekarang suasana hati papa dan Lana masih dalam keadaan tidak baik." Jawab Luna.


"Kau benar, masuklah.. mama masih ingin mengambil air minum di dapur." Jawab Merry.


"Ma.. aku ingin tidur lebih lama, bangunkan aku pukul 07.00 pagi jika aku belum bangun. Oke? Selamat malam mama, selamat tidur." Luna berbalik dan kembali melangkahkan kaki.


Merry tersenyum, "pasti sangat melelahkan. Kau memilih jalan yang terjal Luna." Merry bicara dalam hati.


Merry bangun dari duduknya dan berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum.


-----


Kleeekkk..


Luna membuka pintu kamar Lana perlahan. Luna masuk dan menutup pintu, Luna berjalan menghampiri saudari kembarnya yang sudah terlelap tidur.


Luna berdiri di samping tempat tidur, menarik selimut menutupi tubuh Lana sampai leher.


"Aku tau ini sangat berat untukmu Lana. Maafakan aku tidak bisa menolongmu, aku.. aku juga tidak bisa membantah perkataan papa dan mama. Kau tau bukan? Aku tidak seberani kau untuk membantah mereka. Aku harap kau baik-baik saja Lana, maafkan aku tidak bisa menjadi pelindungmu." Keluh Luna menatap Lana.


Luna sedih, merasa bersalah karena tidak bisa membantu saudarinya Lana. Tidak ingin menunjukan kesedihannya, Luna pergi meninggalkan Lana. Luna keluar dari kamar Lana untuk kembali ke kamarnya sendiri.


Luna pergi, Lana membuka mata dan bangun dari tidurnya, Lana duduk bersandar diatas tempat tidurnya. "Bukan salahmu tidak bisa menolongku Luna. Terima kasih kau sudah membantuku selama ini, aku sudah sangat menyusahkanmu, membuatmu dalam kesulitan. Maafkan aku Luna.. aku harap kau selalu baik-baik saja tanpaku." Ucap Lana dalam hatinya.


Lana meraih ponselnya di meja dan menghubungi James.


(Percakapan di telepon)


"Hallo James," suara Lana berbisik.


"Sayang, kau sudah pertimbangkan?" Tanya James.


"Ya, aku akan pergi denganmu. Aku sudah siap, kau dimana?" Tanya Lana.


"Aku di depan rumahmu, aku tidak kemana-mana sejak tadi." Jawab James.


"Uh, oke.. aku akan keluar lewat jendela kamarku. Kau tunggu aku ya.. oke?" Lana memutus panggilannya.


Lana membuka selimut dan turun dari tempat tidur. Lana mengikat rambutnya ekor kuda, Lana menata bantal dan menyelimuti bantal itu. Lana memakai sepatunya, membawa ponsel, tasnya dan keluar dari jendela kamarnya.


Lana dengan berat hati melakukan ini. Lana menatap sekeliling rumahnya sesaat setelah dirinya sudah berada di luar rumah.


"Papa, mama, Luna.. maaf.. aku terpaksa pergi." Lana berlari mencari keberadaan James.


James keluar dari mobil dan menghampiri Lana, "kau baik-baik saja?" Tanya James.


Lana mengangguk, "ayo.. sebelum papa mamaku bangun. Kita harus pergi." Ucap Lana.


James dan Lana berlari kecil menghampiri mobil, masing-masing membuka pintu mobil dan masuk kedalam mobil. Pintu mobil sudah tertutup, James mengemudikan mobil pergi meninggalkan rumah Lana.


Lana menatap rumahnya, menyentuh kaca mobil. Seakan berat untuk pergi, namun jika tidak pergi Lana akan menjalani siksaan. Menikahi pria yang tidak dikenalnya, mebikahi pria yang tidak dicintainya.


-----


Rekay masih terjaga di ruang kerjanya. Nicky menemani Kay, mereka membahas mengenai pernikahan Kay dan seorang wanita misterius pilihan Jenifer.


"Anda baik-baik saja tuan?" Tanya Nicky.


"Humhh, aku baik. Jangan terlalu cemas, bukankah ini hanya sebagian kecil dari rwncana liciknya? Dia menikahkanku dengan wanita yang entah seperti apa. Ahh.. mengesalkan sekali!" Keluh Kay.


"Apakah saya perlu menyelidiki siapa wanita yang akan menikah dengan anda tuan?" Tanya Nicky.


"Tidak perlu, aku sudah tau!" Kay mengeluarkan sebuah dokumen dari lacinya. Dan menunjukan pada Nicky.


"Wanita inilah yang akan aku nikahi, wanita malam yang hobby berfoya-foya. Mencari kesenangan dan tidak tau aturan. Hah! Jenifer sungguh-sungguh ingin mempermalukanku Nick." Kay sedikit kesal.


Nicky membaca dokumen dan menatap Kay, "apakah tuan tidak ingin menolak?" Tanya Nicky, merasa kasian kepada tuannya.


Kay menggeleng, "jika aku berulah, sama saja aku mempermalukan papa. Biarkan saja Jenifer melakukan permainannya. Aku akan ikuti semuanya, dan untuk wanita ini. Aku akan mengurusnya nanti, aku akan membuatnya pergi dari hidupku dengan sukarela." Kay menatap Nicky tajam.


Nicky mengangguk, "saya mengerti tuan. Lebih baik anda beristirahat sekarang." Nicky membantu Kay meringkas dokumen di meja Kay. Nicky mendorong kursi roda keluar dari ruang kerja.


Nicky membawa Kay ke kamarnya, membantu Kay berpindah dari kursi roda ke tempat tidur. Kay berbaring, Nicky membantu menaikan selimut Kay.


"Anda butuh sesuatu tuan?" Tanya Nicky.


Kay menggeleng, "pergilah tidur Nick, terima kasih untuk hari ini." Kay tersenyum tipis.


"Jangan sungkan pada saya tuan, hubungi saya, jika tuan membutuhkan sesuatu." Jawab Nicky.


Kay kembali mengangguk, kali ini tidak ada jawaban. Nicky pergi meninggalkan kamar Kay, Kay menghela nafas panjang. Sejujurnya dadanya terasa sesak. Air mata Kay jatuh berlinang, Kay tidak tahu mengapa air matanya tiba-tiba saja jatuh. Kay merasa sesih, kecewa dan marah namun Kay berupaya menahan semuanya. Tidak ingin membuat papanya kecewa, Kay menyangi papanya seperti Kay menyangi mamanya. Kay sadar, dirinya belum sepenuhnya mampu untuk melindungi papanya.


Tubuh yang masih lemah, keterbatasannya dalam pergerakan membuatnya harus menahan semuanya. Menerima apapun yang diputuskan keluarganya. Kay hanya akan menurut selana Jenifer masih bersikap baik pada Calvin papanya.


Thank you..


Bye-bye..


------------