Oh My Husband

Oh My Husband
Oh My Husband Ep-32



Luna terjaga dari tidurnya, Luna merasakan tubuhnya lemas tidak bertenaga. Luna melihat sekeliling, di sofa Dia melihat Rekay duduk membaca buku.


"Kay," sapa Luna, perlahan bangun dari tidurnya. Luna duduk bersandar di bantal.


Rekay memalingkan wajah, meletakan buku di meja. Rekay berjalan mendekati Luna di tempat tidur. Rekay duduk di tepi tempat tidur, meraba wajah Luna.


"Kau sudah bangun? Apa terasa lelah?" Tanya Rekay dengan suara lembut.


Luna mengangguk, menyandarkan kepalanya ke dada Rekay. Rekay mengusap kepala bekalang Luna, mengusap punggung Luna juga.


"Maaf, membuatmu seperti ini. Aku akan siapakan air untuk kau mandi. Aku akan membantumu mandi."


Luna mengangguk, "Hm..., ini lebih menyakitkan dari saat kita bulan madu. Kau begitu bernafsu, Kay. Untung saja Istrimu wanita yang kuat, jika tidak pasti akan langsung pingsan."


Rekay tersenyum, "aku sungguh minta maaf sayang. Suamimu ini benar-benar tidak bisa menahan diri. Kau begitu menggemaskan."


Luna menatap Rekay, "menggemaskan? Dibagaian mana aku menggemaskan?" Tanya Luna.


Rekay berpikir, "hmmm..., dimana ya?" Rekay memutar bola mata dan mengerutkan dahinya.


Luna tersenyum, mendekat dan mencium pipi Rekay. Luna memeluk Rekay.


"Kau harus membelikan aku cake dan ice cream sebagai ganti rugi. Aku ingin makan makanan manis. Setuju?"


"Setuju, apa pun yang kau minta. Akan aku berikan. Lepaskan pelukanmu, aku akan siapkan air hangat untukmu mandi."


Luna menggeleng, "tidak mau, mau masih ingin memelukmu. Aku ingin memelukmu," kata Luna mengusapkan hidungnya keleher Rekay.


"Sayang, jangan menyesal jika aku memakanmu lagi. Kau menggodaku lagi, lagi dan lagi," ucap Rekay menahan diri.


Luna tersenyum, sejujurnya Luna memang sengaja menggoda Rekay. Rekay tahu Luna sudah terlalu lelah menghadapinya. Rekay tidak ingin membuat Luna kelalahan lagi.


Luna melepas pelukan, Rekay mengecup kening Luna dengan lembut.


"Tunggulah, aku akan siapkan air mandimu."


Luna mengangguk, Rekay berdiri dan berjalan menuju kamar mandi.


Luna tersenyum senang, hidupnya terasa indah.


--


Luna dan Rekay pergi ke toko kue. Luna melihat banyak cake, dan kue. Air liurnya sekaan ingin menetes melihat kue yang lucu dan berwarna-warni.


Rekay tersenyum, Rekay menarik tangan Luna agar mendekat padanya. Rekay mengusap kepala Luna. Rekay mendekat dan berbisik di telinga Luna.


"Jangan meneteskan air liurmu sayang. Banyak orang disini."


Luna menatap Rekay, "kau menggodaku?" Tanya Luna.


Rekay menggeleng, "tidak. Hanya mengingatkan saja. Kau selalu terpana melihat semua cake ini."


"Kau mau rasa apa? Strawberry saja? Tidak mau rasa lainnya?" Tanya Luna.


"Pilihlah rasa yang kau sukai. Aku akan mencobanya nanti. Oke?" Jawab Rekay.


Luna mengangguk, Luna memanggil pelayan dan mulai memesan. Luna meminta pelayan mengantar ke mejanya. Luna mendorong kursi roda Rekay mencari tempat duduk. Luna duduk dan menunggu pesanannya. Luna menatap Rekay.


"Sayang," panggil Luna.


"Ya?" Jawab Rekay, menatap Luna.


"Kau tidak ingin memberitahu berita baik mengenai kesembuhanmu pada Daniel, Nicky dan Bibi Mao?" Tanya Luna dengan suara berbisik.


"Daniel sudah tau, ingat saat aku menemanimu bekerja? Aku pada akhirnya memberitahunya. Bagaimana pun Daniel adalah Dokter yang selama ini merawatku. Untuk Nicky dan Bibi Mao, aku berencana hari ini akan memberitahu mereka. Aku akan memeberi kejutan pada mereka."


"Ayo kita buat perayaan kecil untuk ini. Aku akan beli beberapa kue dan cake untuk merayakan kesembuhanmu."


"Kau atur saja, kalian orang terdekatku. Aku pasti akan berbagi kebahagiaan."


"Kita harus mengundang Daniel juga. Bagaimana menurutmu?" Luna mengutarakan pendapatnya.


"Aku setuju-setuju saja."


Luna mengeluarkan ponselnya dari dalam tas, Luna melihat ponselnya. Ada beberapa pesan masuk. Luna melihat pesan masuk, ada pesan dari Daniel.


Pesan dari Daniel


"Luna, selamat."


Luna mengerutkan dahi, menunjukan isi pesan Daniel pada Rekay. Rekay membaca dan mengusap kepalanya.


"Dia menyebalkan sekali," kata Daniel


"Kau mengatakan sesuatu? Mengapa dia mengucapkan selamat? Untuk apa?" Tanya Luna.


"Tadi aku memintakan izin libur untukmu. Aku mengatakan kau terlalu lelah. Dia berpikir hal-hal kotor itu. Aku kesal dibuatnya," jawab Rekay menjelaskan.


Luna kaget, "apa? Dasar Daniel ini."


Luna mengulurkan tangan, "berikan ponselmu. Aku akan hubungui Daniel dengan ponselmu.


Rekay mengeluarkan ponselnya dari saku celananya dan memberikan pada Luna. Luna melihat ponsel Rekay, ada foto pernikahan mereka dilayar ponsel Rekay.


"Gambar kita sama," ucap Luna.


"Apa?" Tanya Rekay.


Luna menunjukan gambar di ponsel nya, "ini, foto pernikahan kita."


Rekay tersenyum, "aku suka ekspresi wajahmu. Kau tersenyum sangat cantik."


"Baiklah, aku akan hubungi Dokter aneh satu ini."


Luna menekan nomor Daniel di ponsel Rekay. Luna melakukan panggilan. Terdengar nada sudah tersambung, tidak lama nada sambung berubah menjadi suara Daniel.


(Percakapan di telepon)


"Hallo, ada apa Kay? Kau ingin meminta izin lagi? Besok kau masih ingin bertempur?" Ucap Daniel seenaknya.


Luna menaikan alisnya, "apa maksidmu Daniel?" Tanya Luna.


"Oh, Luna?"


"Hm, kau menggoda suamiku? Apa yang kau pikirkan Dokter Kwok?"


"Maaf-maaf, aku hanya bicara asal. Dimana Kay? Kenapa kau menghubungiku?"


"Kami sedang kelaur dan makan kue. Aku dan Rekay mengundangmu makan malam dirumah, kau ada waktu?"


"Tentu saja. Aku pasti akan datang. Sampaikan pada Rekay juga."


"Baiklah, sampai jumpa nanti malam. Bye...."


"Bye...."


Luna mengakhiri panggilan, mengembalikan ponsel Rekay.


"Masukan saja kedalam tasmu."


"Oke," jawab Luna.


Luna memasukan ponselnya juga ponsel Rekay kedalam tas. Luna melihat pelayan datang membawa pesanan mereka. Pelayan menyajikan pesanan Luna diatas meja lalu pergi.


"Wah...."


Luna menyendok cake lalu menyuapkan pada Rekay, "cobalah ini."


Rekay membuka mulut, lalu melahapnya. Rekay menguyah dan tersenyum menatap Luna.


Rekay mengangguk, "enak, manis rasanya tidak sebanding dengan manis senyummu."


"Manis selali, ucapanmu semanis madu, Kay."


"Makanlah, aku cukup melihatmu saja."


"Tidak, kau juga harus makan. Kita makan bersama-sama."


Luna menyendok dan melahap, setelah itu dia menyendok dan menyuapkan pada Rekay. Sesaat kemudian mereka saling memegang sendok dan saling menyuapi. Mereka saling melempar senyuman dan tertawa bersama.


--


Malam harinya....


Luna dan Rekay mengumpulkan Daniel, Nicky dan Bibi Mao. Rekay ingin memberikan kejutan.


"Ada apa meminta kami berkumpul, Kay?" Tanya Daniel.


"Kay ingin memberi sesuatu hal yang penting pada kalian. Ini juga merupakan kabar baik. Ingat ini adalah rahasia kita, aku harap kalian tidak membocorkan apa yang akan kalian lihat kepada siapapun. Oke?" Luna memberikan penjelasannya.


Daniel mengangguk, "oke."


Nicky menjawab, "Baik, Nyonya."


Bibi Mao mengangguk, "iya, Nyonya."


Luna menatap Rekay, "sayang...."


Luna duduk, semu mata menatap Rekay. Rekay mengmbil napas dalam, lalu menghembuskan perlahan. Rekay perlahan berdiri dari kursi rodanya dan berjalan.


Nicky dan Bibi Mao kaget, mereka terkejut dengan apa yang di lihatnya.


"Sejujurnya aku sudah sembuh, aku bisa berdiri, berjalan dan berlari."


"Tuan...," panggil Bibi Mao. Bibi Mao berdiri dari duduknya dan berjalan menghampiri Rekay.


"Tuan Muda, Anda bisa berjalan kembali?" Tanya Bibi Mao menangis. Bibi Mao merasa senang dan terharu.


Rekay memeluk Bibi Mao, "ya Bi. Aku sudah sembuh. Terima kasih sudah menjagaku selama lebih dari 20 tahun ini."


"Oh Tuhan, terima kasih. Bibi senang Tuan, Bibi selalu berdoa untuk hari ini. Tuhan telah mengabulkannya."


Rekay melepas pelukan, "setelah kepergian Mama. Hanya Bibi Mao orang yang baik dan peduli padaku. Bahkan Bibi rela berbohong demi membelaku. Bibi Mao..., maafkan aku baru menyampaikan hal baik ini. Mengapa aku merahasiakan ini, Bibi pasti tau alasannya, bukan?"


Bibi Mao mengangguk, "ya Tuan Muda. Anda tidak perlu khawatir, saya akan merahasiakan hal ini."


"Terima kasih bibi," ucap Rekay.


"Baiklah, saya akan siapkan makan malam. Anda harus makan banyak."


Rekay tersenyum dan mengangguk. Bibi Mao bergegas menuju dapur untuk menyiapkan makan malam.


Rekay menatap Nicky, "kau tak bicara apa-apa Nick?" Tanya Rekay.


Nicky diam, Luna Rekay lalu menatap Nicky. Tidak ingin mengganggu Rekay dan Nicky, Luna pun mengajak Daniel pergi menghidup angin malam.


"Hm, Daniel. Mau temani aku ke belakang rumah?" Ajak Luna menatap Daniel.


Daniel masih bingung namun mengiyakan ajakan Luna, "oke, kalian bicara dulu. Aku dan Luna akan berjalan-jalan sebentar."


"Sayang, aku pergi dengan Daniel.


"Oke, Daniel tolong jaga Istriku."


"Baiklah Tuan Hawn. Jangan khawatir soal itu."


Daniel dan Luna pergi ke belakang rumah. Rekay berjalan dan duduk di samping Nicky. Nicky merasa senang dan juga sedih, perasaannya campur aduk.


---------- ---------- ----------


Hallo semua..


Terimakasih sudah mau berkunjung dan membaca novel saya..


Jangan pernah bosan menunggu update selanjutanya ya..


Jangan lupa like,☆☆☆☆☆ dan isi kolom komentar..


Jangan lupa berikan vote juga ya..


Kunjungi juga di novel saya yang lain. Dengan judul,


•Lelaki Bayaran Amelia (Season 1&2 End)


•Pelukan Hangat Paman Tampan (End)


•Pangeran Es Jatuh Cinta (End)


(Season ke 2 dari Pelukan Hangat Paman Tampan)


•Pangeran Vampir (End)


•Pangeran Vampir 2 (SEASON 2) (End)


•Vampir "Sang Abadi" (End)


•Cinta Lama Yang Datang Kembali (End)


•Mommy And Daddy (CLYDK 2) (End)


•Darren & Karren (Perjalanan Cinta) CLYDK SEASON KE 3


•The Hit Man In Love


•Jatuh Cinta Pada Tetangga


•Suami Pengganti


•Menjadi Istri Simpanan


•Dendam Permaisuri Kepada Kaisar


Jangan lupa like, ☆☆☆☆☆ dan isi kolom komentar.. vote juga dong..


Terimakasih..


Untuk pembaca yang ingin join grup FB/WA silahkan..


Untuk yang ingin follow ig saya juga silahkan..


ig: dea_anggie


Line id: dea_anggie


Fb: dea anggie


Grup FB: Lelaki Bayaran Amelia


❤❤❤❤❤


Bye bye..


Salam hangat,


"Dea Anggie"