Oh My Husband

Oh My Husband
Oh My Husband Ep-10



Jenifer menerima bunga dan catatan dari Kay. Jenifer meremat catatan kertas dari Kay, Jenifer merasa kesal.


"Anak ini, lama-lama seperti ibunya saja! Menyebalkan sekali." Dalam hati Jenifer.


Jenifer meminta pelayan rumahnya untuk memasukan bunga mawar putih pemberian Kay dalam vas bunga. Dan meletakannya di meja dapur.


Jenifer pergi masuk ke kamarnya, tidak ingin memusingkan hal-hal yang tidak penting.


-----


Kay berkunjung ke pemakaman mamanya. Kay mengirim banyak bunga mawar putih untuk mamanya.


Nicky meletakan berdiri di belakang Kay, Kay meletalan setangkai bunga mawar putih yang di pegangnya, di atas batu nisan mamanya.


"Ma, Kay merindukan mama. Kay akan mencari pelakunya ma. Kay tidak akan mengampuni orang yang sudah membuat mama seperti ini. Kay akan menguak semuanya suatu hari nanti." Kay bicara dalam hati, Kay menatap foto mamanya yang ada di batu nisan.


Kay menunduk, manahan diri agar tidak menangis."Nicky, ayo pulang." Kay mengajak Nicky untuk kembali.


"Baik tuan," Nicky mendorong kursi roda Kay. Tangan Kay mengepal, dadanya terasa sesak.


Kay sudah sampai di mobilnya, Kay di bantu Nicky berpindah dari kursi roda untuk masuk dalam mobil. Nicky melipat kursi roda Kay dan memasukan juga kedalam mobil. Setelah itu Nicky masuk dalam mobil dan mengemudikan mobil untuk kembali pulang.


Didalam mobil, Nicky bercerita. Berceritq mengenai Lana yang memiliki saudara kembar. Namun Kay tidak terlalu memperhatikan, karena Kay tidak tertarik pada cerita Nicky.


Kay hanya mendengarkan saja tanpa bersuara. "Lalu? Kau ingin aku bagaimana? Sudah aku katakan, kau tidak perlu mencari tahu mengenai wanita itu." Jawab Kay dingin


"Maaf tuan, saya hanya penasaran saja. Saya tidak akan birakan orang-orang jahat mendekati anda." Nicky mengkhawatirkan Kay.


Kay tersentuh mendengar ucapan Nicky, "terima kasih Nick." Ucap Kay.


"Jangan seperti itu tuan, saya sudah berjanji untuk mengabdikan hidup saya pada anda, anda adalah tuan terbaik yang pernah ada. Saya akan berusaha dengan baik, menjaga dan melindungi anda sampai anda benar-benar bisa bangkit sendiri. Saya akan terus mendukunh anda tuan." Nicky dengan bangga mengatakan isi hatinya.


Kay tersenyum, "kau selalu menjadi orang kepercayaanku Nick, aku sangat bersyukur ada kau yang selalu mau membantu ku. Jangan sungkan jika kau inginkan sesuatu, katakan saja." Jawab Kay.


"Ya tuan," Jawab Nicky senang.


-----


Sepulang dari rumah sakit, Luna mencari keberadaan Lana. Luna datang ke beberapa tempat yang sering di kunjungi oleh Lana. Luna tidak kunjung menemukan Lana, Luna merasa kecewa.


Hari sudah malam, Luna berhenti ditaman dan dusuk. Luna menghela nafas panjang, mengeluh memandangi sekitar.


"Kemana kau Lana? Aku sudah mencari ke tempat yang biasa kau kunjungi, hanya tinggal 1 tempat tersisa. Tetapi.. haruskah aku datang?" Luna menunduk, mencengkram kedua lututnya dengan dua tangannya.


Tempat yang di maksud Luna adalah club malam yang biasa di datangi Lana dan James. Luna merasa ragu, Luna tidak pernah sekalipun pergi ke tempat hiburan malam seperti club dan sejenisnya. Ada rasa takut, canggung dan enggan untuk datang.


Luna mengeluarkan ponselnya, mencoba menghubungi Lana. Namun nomor Lana tidak Aktif, sepertinya Lana mematikan ponselnya. Luna bingung harus mencari Lana kemana lagi. Luna merasa sedih, merasa kehilangan, belum lagi saat Luna melihat raut wajah mamanya yang terlihat sangat khwatir.


Luna berdiri dari tempat duduknya, kembali berjalan menyusuri taman. Luna melangkahkan kaki untuk kembali pulang ke rumah. Kakinya sudah pegal, terus berjalan dan berlarian dari satu tempat ke tempat lain untuk mencari Lana.


-----


Pukul 21.00 malam, Luna sampai di rumah. Luna masuk dengan langkah lemas.


Merry melihat Luna dan menegur Luna. "Luna, kau baru pulang?" Merry mendekati Luna.


Luna mengangguk, "ya ma.. apakah sudah ada kabar dari Lana?" Tanya Luna.


Merry menggeleng, "belum ada.. kau sudah makan?" Tanya Merry.


Luna ingat, dirinya bahkan lupa untuk makan malam demi mencari Lana, saudari kembarnya. Bagaimana lagi, Lana lebih penting dari pada makanan. Luna ingin segera menemukan Lana.


Luna menggeleng, "aku belum makan ma, aku juga tidak ingin makan. Aku akan hangatkan susu nanti setelah mandi. Mama istirahatlah, ini sudah malam." Luna tersenyum.


"Hmm, mandilah. Biar mama yang hangatkan susu untukmu dan mengantar susumu ke kamar. Mama akan tidur setelahnya." Jawab Merry.


"Terima kasih ma," Luna berjalan meninggalkan Merry. Luna melangkah menuju kamarnya.


-----


Merry mengantar susu ke kamar Luna. Merry mengetuk pintu lalu membuka pintu kamar Luna. Merry masuk, melangkah perlahan mendekati meja. Merry meletakan susu di meja.


Kleekkk..


Pintu kamar mandi terbuka, Luna keluar dan melihat Merry.


"Mama.." sapa Luna.


"Sayang, minumlah susumu selagi hangat." Kata Merry tersenyum.


"Mama, sebenarnya ada apa? Apakah papa bertengkar dengan Lana?" Luna bertanya karena penasaran.


"Kurang lebih seperti itu, kemaren Lana dan kekasihnya datang. Kekasih Lana mengatakan hal yang membuat papamu marah dan mengusirnya. Lana di minta kembali ke kamar, entahlah.. apakah keputusan kami benar atau salah. Sejujurnya papa dan mama hanya ingin Lana menjadi wanita yang baik." Keluh Merry.


Luna merangkul Merry, "mama maaf.. aku terlampau sibuk sampai mengabaikan papa dan mama juga Lana. Maafkan Luna ma.. mama lebih baik tidur, aku akan coba menghubungi Lana lagi setelah ini." Luna mencoba menghibur mamanya Merry.


"Hmmh, kau juga tidurlah. Kau pasti sangat lelah karena bekerja setiap hari. Mama akan keluar, selamat malam sayang, tidurlah yang nyeyak." Merry mencium kening Luna dan beranjak pergi meninggalkan Luna seorang diri.


Luna menatap kepergian mamanya, matanya beralih menatap ponselnya yang ada di atas meja. Luna meraih ponselnya dan mencoba menghubungi Lana. Lagi-lagi gagal, ponsel Lana tidak bisa di hubungi.


"Lana, kenapa kau seperti ini? Kau membuatku cemas dan khawatir. Apa kau baik-baik saja?" Luna terus memikirkan Lana.


Sepanjang malam Luna berusaha menghubungi Lana, namun tidak berhasil. Luna keluar dari kamarnya dan masuk dalam kamar Lana. Luna duduk di tepi tempat tidur Lana, tangan Luna meraba selimut Lana.


Luna mengambil bingkai foto yang ada di meja Lana. Luna meraba foto Lana, "sekali saja, hubungi aku Lana. Jangan membuat kami cemas." Luna mengeluh.


Luna mulai mengantuk, Luna berbaring diatas tempat tidur Lana, memeluk bantal Lana. Luna memejamkan matanya dan terlelap tidur.


-----


Keesokan harinya


Jenifer sudah tidak sabar, menghubungi Louis kembali. Louis mengatakan jika Lana tidak kembali. Louis bahkan sudah mencari dan melapor pada polisi.


Jenifer kesal, memutus panggilannya drngan terburu-buru. Jenifer melempar ponselnya di atas tempat tidur, dia mondar mandir mengumpati Lana.


"Sialan, wanita ja**ng tidak bisakah menunggu hah? Bagaimana ini, bagaimana?" Guman Jenifer gelisah.


"Ada apa ma?" Jeff masuk secara tiba-tiba tanpa mengetuk pintu kamar Jenifer.


"Jeff, ada apa kau kesini? Tanya Jenifer.


"Hm, aku kebetulan lewat. Ingin menyapa mama, aku melihat mama kesal dan mondar-mandir." Jawab Jeff.


Jenifer menghela nafas, "bagaimana ini Jeff, wanita itu pergi, sepertinya dia melarikan diri. Lalu mama harus apa?" Jenifer memijat dahinya lembut merasa bingung.


"Mama tenang, jangan kesal. Mama akan bertambah tua dan jelek nanti. Mama duduk dan atur nafas mama, oke?" Jeff membujuk Jenifer agar tidak emosi.


Jenifer duduk di tepi tempat tidur, "kau bagaimana di kantor?" Tanya Jenifer.


"Putramu ini tidak akan mengecewakan ma, mama tidak perlu cemas. Aku akan selalu menjadi anak kesayangan mama dan papa." Jeff tersenyum.


"Teruslah membuat hati si tua itu bahagaia Jeff, kita harus bisa menguasainya. Jangan sampai si tua memberikan hartanya pada Kay sampah itu. Kau jangan mau kalah, kau harus selalu lebih unggul dari Kay! Jangan membuat usaha mamamu sia-sia Jeff. Mama sudah banyak berkorban demi mencapai titik ini." Jenifer menatap Jeff


"Aku mengerti ma, aku pasti akan mendapatkan semuanya. Semuanya yang Kay miliki." Jawab Jeff.


Jenifer tersenyum, mengusap kepala Jeff perlahan. "Bagus! Kau memang yang terbaik Jeff." Jenifer memuji Jeff.


Thank you..


Bye-bye..


------------