
Jafferson terjebak dalam permainan yang di mulainya sendiri. Luna lah yang di untungkan disini. Luna diminta Jafferson menyamar menjadi Lana, Jafferson mengatakan hal yang membuat Luna ditahan Louis dirumah. Jafferson tak bisa berkata apa-apa lagi.
Jafferson dan Luna saling bertatapan. Jafferson melebarkan mata terlihat kesal. Luna hanya diam seakan tidak mengerti apa-apa.
"Paman, bisa bicara sebentar dengan Lana?" Tanya Jafferson pada Louis.
"Oh, silahkan. Aku akan tunggu kalian di ruang tamu."
Louis pergi meninggalkan Luna dan Jafferson. Louis mengusap kepala Luna lembut saat pergi. Jafferson mendekati Luna, menatap Luna.
"Bagaimana ini? Aku tidak bisa membawamu bersamaku."
"Itu salahmu, apa yang kau katakan pada Papaku?" Tanya Luna.
"Ah sudahlah, aku akan datang lagi besok. Apa pun alasannya, kau harus ikut aku besok. Aku tidak mau tau," jelas Jafferson.
"Aku akan pikirkan nanti, tidak mudah membujuk Papa dan Mamaku."
"Aku akan pulang sekarang, ingat kata-kataku. Kau mengerti?" Tanya Jafferson ingin menyakinkan.
"Iya, iya aku mengerti. Jangan bicara keras-keras. Aku tidak tuli," keluh Luna.
Jafferson berjalan melewati Luna. Dia ingin berpamitan pada Louis untuk pulang. Luna mengikuti Jafferson, berjalan di belakang Jafferson.
Sesampainya di ruang tamu, Jafferson berpamitan pada Louis. Louis mengiyakan dan kembali mengucapkan terima kasih. Luna bersembunyi di belakang Louis.
Louis membukakan pintu utama rumahnya. Saat pintu terbuka, Jafferson kaget melihat apa yang dilihatnya. Begitu juga Louis dan Luna.
Rekay, Daniel dan seorang polisi sudah ada di depan pintu utama rumah Louis. Daniel menatap Jafferson, dan menunjuk Jafferson.
"Itu dia. Dia yang sudah menculik istri temnaku, dan menukar saudara kembarnya sebagai istri tamanku. Dia pelakunya," tegas Daniel mengungkap kejahatan Jafferson.
"A-apa ini, Kay?" Gagap Jafferson.
"Tangkap dia," kata Kepala polisi itu kepaada bawahannya.
Dua orang mendekati Jafferson dan meringkus Jafferson. Dua polisi itu memborgol tangan Jafferson.
"Tunggu, apa ini? Aku tidak bersalah! Lepaskan aku, lepas!" Teriak Jafferson yang masih bersikeras tidak mengaku salah dan meronta-ronta.
"Jika kau ingin berperang, jangan libatkan orang lain. Lawan aku, Jeff! Kau bisa mengelabuhi dan membodohi orang lain, tidak denganku. Aku bukan orang bodoh sepertimu, Jeff. Kau pikir aku tidak bisa bedakan mana Luna dan Lana? Luna ada disini dan yang di rumahku adalah Lana, bukan begitu?" Jelas Rekay menatap Jafferson dengan tatapan yang mematikan.
Jafferson melebarkan mata, "kau? Sudah tahu?" Tanya Jafferson.
"Dari awala aku sudah tahu, aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk memburumu. Tidak disangka, istriku lihai bermain trik dan mrmbodohimu. Kau tetjabak, Jeff! Tidak akan ada yang bisa membatumu sekarang."
"Brengs*k! Aku tidak akan melepaskanmu, Kay. Hidupmu akan segera berakhir."
"Jangan banyak bicara, Jeff. Pikirkan sendiri nasibku di dalam penjara. Tidak akan ada yang menjaminmu. Kau penjahat besar, menculik dan menipu kau akan mendapat hukuman yang berat. Hidupmu lah yang berakhir," murka Daniel.
"Bawa dia ke kantor," kata kepala polisi kepada dua bawahannya.
Dua polisi itu akhirnya menyeret Jafferson keluar rumah. Jafferson terus meronta dan berteriak, Jafferson mengumpati Rekay dan Daniel.
"Aku akan balas perbuatan kalian. Kalian akan menerima balasanku. Kalian brengs*k! Aku benci kalian semua."
"Ingin rasanya aku menampar mukutnya dengan sepatuku," gumam Daniel.
"Tuan dan Nyonya Hawn, bisakah Anda berdua ikut dengan saya ke kantor polisi? Saya butuh keterangan Anda, mengenai kasus ini."
"Oke, Kami akan ke sana sekarang. Daniel, tolong antar kami."
"Iya," jawab Daniel.
"Pa. Maaf, aku dan Luna harus selesaikan urusan ini lebih dulu. Setelah selesai kami akan kembali dan menjelaskan kepada Papa dan Mama."
"Papa mengerti, pergilah. Selesaikan masalah ini dengan segera, lebih cepat lebih baik."
"Sayang. Ayo," ajak Rekay.
Luna menatap Louis, "Pa, terima kasih sudah membantuku. Tolong sampaikan pada Mama juga, Pa."
"Kau jangan khawatir. Papa akan sampaikan pada Mama nanti. Pergilah," ucap Louis, mengusap wajah dan rambut Luna.
Luna berjalan mendekati Rekay. Rekay, Luna dan Daniel pergi. Mereka akan pergi ke kantor polisi.
***
Di kantor polisi. Jafferson terus berteriak ingin di panggilkan pengacaranya. Beberapa polisi membicarakan Jafferson.
"Apa dia gila?"
"Mungkin saja."
"Dia menculik iparnya dan menipu saudaranya sindiri. Memalukan sekali, jika aku jadi dia aku akan sembunyikan wajahku."
"Jika aku jadi saudaranya, aku tidak akan memaafkannya."
Rekay, Luna dan Daniel dimintai keterangan perihal kejadian. Rekay memberikan kesaksian, begitu juga Luna. Daniel juga memberikan kesaksian selakun orang yang melapor.
1 jam kemudian...
Relay, Luna dan Daniel usai memberikan keterangan, dan pergi meninggalkan gedung kantor polisi.
Di perjalanan, Rekay merangkul dan mendekap Luna. Tak ingin melepas Luna. Luna merebahkan kepalanya ke bahu Rekay. Perlahan tangan Rekay mengusap perut Luna.
"Kau baik-baik saja? Apa Jeff menykitimu?" Tanya Rekay.
Luna menggeleng, "dia tidak menyakitiku. Dan aku baik-baik saja."
"Syukurlah jika kau baik-baik saja sayang, aku sangat khawatir padamu."
"Apa Lana menggodamu?" Tanya Luna.
Rekay mengangguk, "sepertinya dia terpaksa menggoda karena uang. Dia takut aku mencurigainya, tetapi dia melewatkan sesuatu. Dia masih melakukan kebiasaannya dan membuatku kesal. Dia begitu menikmati menggantikanmu, sementara aku menderita jauh darimu."
"Maaf, aku tidak menyangka jika Jenifer merencanakan ini semua. Aku hanya mendapat panggilan dari Papa untuk makan siang. Sungguh pikiranku tidak jauh kesana."
"Rubah betina itu sungguh licik. Demi kebahagiaan putranya dia rela melakukan apa saja. Kita bereskan dulu yang di rumah, besok kita bereskan yang di satu lagi."
"Bagaimana bisa kau bedakan Luna dan Lana, Kay?" Tanya Daniel ingin tahu.
"Kau belum menikah, jika sudah menikah kau pasti akan tahu."
"Aku serius, Kay. Ayolah," desak Daniel.
"Perbedaanya terlalu mencolok. Kau akan tahu nanti sesampainya di rumah."
Luna tersenyum melihat Rekay dan Daniel yang saling melempar tatapan dingin. Rekay dan Daniel saling bergumam.
***
Lana keluar dari kamar tidurnya dan memanggil Bibi Mao.
Bibi Mao datang mendekati Lana dengan langkah tergesa-gesa.
"Ya, Nyonya."
"Hangatkan susu untukku," perintah Lana.
"Baik, Nyonya."
Bibi Mao langsung kedapur untuk menghangatkan susu. Lana duduk di sofa ruang tengah. Lana menyandarkan badannya menikmati empuknya sofa yang dia duduki.
"Dimana si lumpuh itu? Apa dia pergi? Tidak pulang? Bagus sekali jika tidak pulang. Aku akan pergi belanja lagi besok," batin Lana.
Pintu rumah terbuka. Lana mendengar suara langkah kaki.
"Ah, kenapa dia harus pulang? Menyebalkan sekali. Biar saja aku tidak akan menghiraukannya,"batin Lana.
Bibi Mao dari dapur membawa susu. Bibi Mao kaget melihat Rekay, Luna, Daniel, dan Nicky. Luna menggeleng, memberi isyarat jika Bibi Mao harus bersikap normal.
Lana melihat Bibi Mao, "Bi, cepat. Aku haus," sentak Lana.
Bibi Mao mendekat, meletakan gelas berisi susu di atas meja.
Luna menghela napas panjang, berjalan mendekati Lana. Disaat Lana ingin mengambil gelas susu, Luna lebih dulu mengambil gelas susu dan langsung meneguk habis susu dengan sekali minum.
Lana menatap Luna, Lana terkejut melihat Luna. Lana langsung berdiri, berhadapan dengan Luna.
"Luna...," panggil Lana.
"Hai, Lana."
"K-kau? Bukankah kau sudah?" Gagap Lana.
"Sudah apa? Sudah di bawa oleh Jafferson?" Sambung Luna.
Luna mendekati Lana, Lana melangkah mundur. Lana ketakutan, Lana tidak bisa bekata apa-apa lagi.
"Kau sangat menikmati menjadi diriku, Lana. Jika kau ingin posisiku, kenapa kau dulu lari bersama James? Kenapa? Aku tidak pernah inginkan apa pun yang kau punya, kenapa kau lakukan ini?" Cecar Luna.
Lana merasa terpojok, "cukup! Cukup Luna. Ya aku akan akui semuanya. Aku iri padamu, kau menikmati kemewahan disini, sedangkan aku? Aku berpisah dengan James dan menderita di Jerman."
"Itu karena kesalahanmu. Kau berselingkuh dengan Thomas. Kau tidak bisa melempar kesalahanmu apda orang lain Lana. Jangan egois," sela Rekay.
Lana kaget, memalingkan wajah menatap Rekay. Lana tidak bisa berkutik lagi.
"Nicky, bawa dia pergi. Cepat!" Perintah Rekay.
"Baik tuan," jawab Nicky.
Nicky mendekat dan menarik Lana keluar dari rumah. Lana memberontak, mengumpati Luna dan Rekay.
Daniel menghela napas, "kau dan Luna istirahatlah. Aku akan menyusul Nicky."
Daniel pergi menyusul Nicky, yang membawa Lana pergi.
----- ----- ----- ----- -----
Hallo semua..
Terimakasih sudah mau berkunjung dan membaca novel saya..
Jangan pernah bosan menunggu update selanjutanya ya..
Jangan lupa like,☆☆☆☆☆ dan isi kolom komentar..
Jangan lupa berikan vote juga ya..
Kunjungi juga di novel saya yang lain. Dengan judul,
•Lelaki Bayaran Amelia (Season 1&2 End)
•Pelukan Hangat Paman Tampan (End)
•Pangeran Es Jatuh Cinta (End)
(Season ke 2 dari Pelukan Hangat Paman Tampan)
•Pangeran Vampir (End)
•Pangeran Vampir 2 (SEASON 2) (End)
•Vampir "Sang Abadi" (End)
•Cinta Lama Yang Datang Kembali (End)
•Mommy And Daddy (CLYDK 2) (End)
•Darren & Karren (Perjalanan Cinta) CLYDK SEASON KE 3
•The Hit Man In Love
•Jatuh Cinta Pada Tetangga
•Suami Pengganti (End)
•Menjadi Istri Simpanan
•Dendam Permaisuri Kepada Kaisar
Jangan lupa like, ☆☆☆☆☆ dan isi kolom komentar.. vote juga dong..
Terimakasih..
Untuk pembaca yang ingin join grup FB/WA silahkan..
Untuk yang ingin follow ig saya juga silahkan..
ig: dea_anggie
Line id: dea_anggie
Fb: dea anggie
Grup FB: Lelaki Bayaran Amelia
❤❤❤❤❤
Bye bye..
Salam hangat,
"Dea Anggie"