Oh My Husband

Oh My Husband
Oh My Husband Ep-20



Rekay memutuskan untuk pergi. Demi menyenangkan hati Calvin juga karena kesal mengingat kata-kata Jafferson yang membut telinganya panas.


Rekay dan Luna berangkat sesuai jadwal keberangkatan. Sehari sebelumnya Luna juga sudah minta ijin kepada Daniel untuk cuti.


Daniel mengerti dan memberikan ijinnya. Tentu saja sebelumnya Rekay sudah memberitahu Daniel, agar istrinya di ijinkan mengambil libur.


(Kilas balik)


(Percakapan Daniel dan Rekay di telepon)


"Hallo," Daniel menerima panggilan dari Rekay.


"Hai, Daniel kau sibuk?" Tanya Rekay.


"Tidak Kay, katakan ada apa?" Daniel kembali bertanya.


"Jika Luna meminta izin libur, tolong beri izin. Kami akan pergi untuk berbulan madu. Papaku sudah menyiapkan semuanya untuk kami. Aku harap kau mau mengerti, dan maaf aku harus marepotkanmu." Kata Rekay menjelaskan.


"Wow, akhirnya kalian berbulan madu. Oke, pergilah bersenang-senang. Jangan khawatir, aku akan berikan izin pada Luna nanti. Jangan lupa untuk terus melatih gerakan kakimu, jangan ragu jika ingin berdiri. Kau pasti bisa Kay." Daniel memeberikan semangatnya pada Rekay.


"Hmhhh, terima kasih Dan. Kau jaga dirimu baik-baik. Hubungi aku lewat email jika kau butuh apa-apa atau ada sesuatu yang penting." Ucap Rekay.


"Oke, aku tutup panggilanmu Kay. Aku masih mempelajari sebuah berkas dokumen milik pasien. Pastikan keadaanmu baik, dan jangan sampai cidera. Sampai jumpa, selamat bersenang-senang teman." Kata Daniel.


"Oke, lanjutkan. Terima kasih untuk waktumu Daniel." Jawab Rekay. Daniel menutup panggilan Rekay sesaat setelah mendengar jawaban Rekay.


(Kilas balik berakhir)


-----


Rekay dan Luna sampai di hotel tempatnya menginap. Rekay duduk di kursi rodanya menatap keluar dari jendela kamar hotelnya.


"Apa yang kau lihat?" Tanya Luna, jalan mendekati Rekay dan berdiri di samping Rekay.


"Lihatlah, langit begitu cerah sore ini. Sepertinya cuaca sedang bagus, kau ingin pergi jalan-jalan?" Tanya Rekay.


"Kau bosan ya? Baiklah ayo kita pergi." Luna mengiyakan permintaan Rekay. Luna tahu pasti Rekay bosan berada di dalam kamar.


Luna mendorong kursi roda Rekay keluar dari kamar. "Kau ingin kemana?" Tanya Luna.


"Terserah kau ingin kemana, asal tidak merepotknmu." Jawab Rekay.


"Merepotkan apa? Kau suamiku, aku istrimu. Tidak ada yang merepotkan dan direpotkan disini. Jangan bicara hal itu lagi, ayolah paman kita sedang liburan saat ini. Jadi yang harus kita lakukan adalah menikmati liburan. Oke?" Luna merasa Rekay terlalu khawatir dan berfikir jauh. Luna tidak pernah keberatan dan mau belajar menerima Rekay apa adanya.


"Terima kasih Luna, kau sungguh istri yang baik dan pengertian." Kata Rekay tersipu dengan jawaban Luna.


Luna tersenyum, menghentikan langkah dan kursi roda Rekay. Luna mencondongkan badannya ke depan sehingga wajahnya sampai ke sisi wajah Rekay.


"Paman, terima kasih kembali untuk semua yang kau berikan padaku. Maafkan aku jika ada kata-kataku yang menyinggungmu tanpa sengaja. Aku menyayangimu paman." Ucap Luna merangkul Rekay.


Rekay memegang tangan Luna yang merangkulnya. "Kau seperti ini tidak malu?" Tanya Rekay yang melihat kiri kanan, seakan takut di lihat orang lain.


Luna menggeleng, "kenapa malu, suamiku bukan seorang kriminal sampai aku harus kehilangan muka bukan? Aku tidak peduli dengan omongan dan cemooh orang paman. Yang terpenting bagiku adalah bahagia bersamamu. Jangan berfikir hal-hal aneh dan buruk lagi. Aku, Luna Zack berjanji akan tetap setia padamu." Luna berbisik lembut di telinga Rekay.


Kata-kata Luna menjawab keraguan hati Rekay. Luna memang tidak pernah mengeluh atau protes dengan keadaan Rekay. Justru sebaliknya, Luna sangat perhatian dan peduli pada Rekay. Selalu ingin tahu segalanya mengenai Rekay, karena bagi Luna, tidak ada hal yang boleh terlewatakan jika itu mengenai Rekay.


Sebelumnya, Luna bahkan rajin mengingatkan jadwal pemeriksaan pada Rekay. Meski kadang Rekay tidak ingin membahas masalah kesehatannya.


Luna mau mengerti dan mencoba menahan diri untuk tidak jauh bertanya. Luna tidak ingin Rekay mengalami trauma dan mengingat kembali kejadian buruk di masa lalu, Luna tidak ingin Rekay menjadi stres dan terbebani. Luna senantiasa menunggu, menunggu, dan menunggu. Menunggu Rekay bercerita dengan sendirinya, sehingga Rekay tidak merasa terpaksa.


-----


Rekay dan Luna berjalan-jalan di taman. Lokasi taman tidak begitu jauh dari hotel, Luna dengan semangat mendorong dan bercerita banyak hal pada Rekay.


"Luna," panggil Rekay.


"Ya, ada apa?" jawab Luna.


"Bunga apa yang kau sukai?" Tanya Rekay.


"Mawar putih." Jawab Luna.


Rekay terdiam sesaat, lalu tersenyum. "Apa alasannya?" Tanya Rekay lagi.


Luna berfikir, "emhh, apa ya.. itu karena aku suka warna putih. Aku suka mawar meski berduri tetapi terlihat cantik dan menarik. Sejujurnya aku menyukai kebun mawar di rumah, aku pernah memetik beberapa dan membawanya masuk ke rumah tanpa izin darimu. Kau tidak marah kan?" Tanya Luna.


Berbicara mengenai bunga mawar, Luna ingat pernah memetik mawar tanpa izin dari Rekay dan membawa mawar itu masuk dalam rumah.


Rekay tertawa, "kau sangat lucu Luna. Kau berpikir aku marah?" Rekay menggelengkan kepalanya perlahan. "Aku tidak masalah dengan itu. Kau adalah istriku, nyonya rumah di rumahku. Tentu saja apa yang aku miliki adalah milikmu, kebun mawarku juga milikmu. Aku senang istriku suka bunga mawar, sama seperti mamaku." Rekay menjawab dan menjelaskan.


Luna dan Rekay berhenti. Luna duduk di bangku yang ada di bawah pohon rindang. Luna duduk berdampingan dengan Rekay.


Luna menghela napasnya perlahan, menatap sekeliling. "Hufffhh, taman ini saat malam pasti indah." Celetuk Luna yang masih menatap sekeliling.


"Kau ingin datang lagi nanti malam?" Rekay bertanya, matanya menatap Luna.


Luna tersenyum, menatap Rekay. "Tidak perlu, malam hari pasti udara sangat dingin di luar. Kita harus jaga kesehatan agar tidak jatuh sakit." Ucap Luna.


Luna menatap Rekay yang diam, tangan Luna meraba wajah Rekay. "Ada apa? Kau sakit? Merasa tidak enak?" Tanya Luna cemas.


Rekay memegang tangan Luna yang meraba wajahnya. "Aku baik-baik saja, kau tidak perlu cemas." Ucap Rekay.


Rekay mencium punggung tangan kanan Luna. Rekay dan Luna saling menatap dan mengembangkan senyuman.


Lama duduk, Luna pun berdiri. "Ayo kita berkeliling sekali lalu kembali. Kau pasti sudah lelah." Ujar Luna sembari mendorong kursi roda Rekay.


Luna berjalan dan mendorong perlahan kursi roda Rekay. Mereka berkeliling taman dan melihat sekitar.


Setelah selesai berkeliling, Luna mendorong kursi roda Rekay untuk kembali ke hotel. Di jalan Luna berpapasan dengan seseorang , Luna menghentikan langkahnya karena merasa tidak asing. Orang yang berpapasan dengan Luna juga menghentikan langkah. Luna dan orang tersebut memalingkan wajah bersama menatap satu sama lain.


Orang yang berpapasan dengan Luna berbalik dan melangkah mendekati Luna. Seseorang itu melepas kacamata hitamnya dan menatap Luna. Luna melebarkan mata, seakan tidak percaya.


"James," panggil Luna.


"Hai, Luna." James menyapa.


James menatap Luna juga Rekay. "Kau disini? Dia siapa?" Tanya James.


"Oh, dia suamiku." Luna memepekenalkan Rekay pada James.


"Sayang dia James, dia.." belum sampai Luna menyelesaikan ucapannya, James memotong kata-kata Luna.


"Hai, aku James. Aku suami Lana, saudara kembar dari Luna." Kata James memperkenalkan diri.


"Oh, hai. Aku Rekay Hawn." Kata Rekay juga memperkenalkan diri.


James dan Rekay saling berjabat tangan dan menatap. James tersenyum tipis, memandangi Rekay dan Luna.


"Dimana Lana?" Tanya Luna ingin tahu.


"Lana.." James memandang sekitar, "ahh itu dia.." James menunjukan ke arah seseorang yang berjalan mendekat.


Seseorang itu sedang menelepon, dan sibuk bicara. Seseorang itu melihat James yang melambai, dengan cepat berjalan kearah James. Tidak jauh tiba-tiba langkahnya terhenti, seseorang itu mengakhiri panggilan. Kaget melihat Luna yang sedang bicara dengan James.


Lana mendekat dan menatap Luna. Langkah kakinya terasa lemas.


"Luna," sapa Lana.


"Lana, kau disini? Jadi kau selama ini melarikan diri disini?" Tanya Luna.


"Oh tidak, kami sedang ada kepentingan. Kami tinggal di Jerman." kata James menjelaskan.


"Kau sehat?" Tanya Luna menatap Lana.


"Ya, sehat. Kau baik-baik saja?" Lana menatap Luna dan Rekay, "dia.. siapa?" Tanya Lana pada Luna.


"Suamiku." Jawab Luna dengan sikap tenang.


"Kau menikahinya? Ahh maksudku.." Lana terdiam tidak bisa bicara.


"Hai Lana, aku Rekay Hawn." Sapa Rekay.


Lana melebarkan mata, "oh.. kau dari keluarga Hawn?" Tanya Lana tidak percaya.


Lana manatap Luna, "kau sungguh-sungguh menikahinya? Kau gila? Kau merusak masa depanmu sendiri Luna. Kau menghancurkan hidupmu, meski dia pria tampan tapi kau bisa melihat bukan? Dia hanya bisa duduk di kursi roda. Apa dia bisa membuatmu bahagia?" Lana mengatai Rekay.


Mendengar kata-kata kasar Lana, Luna merasa tersinggung. Luna mendekat dan menampar Lana.


Plaaaakkk..


Tamparan mendarat di pipi kanan, Luna menampar Lana dengan tangan kirinya.


"Jaga ucapanmu Lana! Tidak kah kau malu? Kau menghilang begitu saja tanpa kabar, dan sekarang kau menjelek- jelekkan suamiku?" Ucap Luna menatap tajam kearah Lana.


Lana mengernyitkan dahinya, memegang pipinya yang baru saja ditampar Luna. "Luna, kau menamparku? Demi pria lumpuh seperti dia?" Bentak Lana.


"Ya, kau mau apa? Jangan membuatku kesal Lana. Cukup sudah kau bertingkah semaumu, tidak kah kau berfikir bagaimana menderitanya keluarga kita huh? Kau membuatku dalam kesulitan, kau.. kau sungguh keterlaluan. Kita saudara dan kau tidak bicara apa-apa padaku, tidak sekalipun. Tetapi aku bersyukur, berkatmu aku bisa menikah dengan Kay. Meski tidak sempurna, Kay adalah pria yang baik dan perhatian. Jangan pernah lagi bicara buruk tentang suamiku. Urus saja suamimu sendiri." Luna menatap tajam kearah James.


Sungguh hati Luna terluka saat itu. Bagaimana tidak, saudara kembarnya sendiri mengatai iparnya dengan begitu kasar. Luna sedih, Luna memikirkan perasaan Rekay. Bagaimana hatinya tidak hancur mendengar cemooh saudara dari istrinya sendiri.


"Luna, kau gila." Kata Lana.


"Terserah kau mau bicara apa, aku akan pergi sekarang." Jawab Luna, yang lansung mendorong kursi roda Rekay pergi.


"Luna.. Luna.." teriak Lana, memanggil. Namun Luna tidak menggubris Lana.


Lana kesal sekali, James berusaha menenangkan Lana. Mengajak Lana pergi dari taman.


Thank you..


Bye-bye..


------------