Oh My Husband

Oh My Husband
Oh My Husband Ep-56



Jenifer melebarkan mata, dia menatap Luna. Matanya berkaca-kaca ingin menangis. Jenifer takut jika putra kesayangannya akan ada dalam bahaya.


"Tidak, Jeff tidak boleh celaka. Tidak boleh," batin Jenifer gelisah.


Jenifer pada akhirnya memilih menyerahkan racun. Dia membuka tas nya dan mengeluarkan botol racun miliknya. Jenifer memeberikan racun itu pada Luna.


"Ambil ini, bebaskan Jeff."


Luna menatap Jenifer, Luna membuka tasnya dan mengeluarkan kantung plastik. Luna yang masih memegang sarung tangan langsung menerima dan memasukan racun dalam kantung plastik.


"Dimana Jeff?" Teriak Jenifer.


"Di tempat parkir!" Jawab Luna langsung.


Jenifer berdiri dari duduknya dan langsung bergegas pergi keluar dari restorant. Luna menatap Rekay, Rekay menggelengkan kepalanya perlaha. Luna tersenyum, menggodai suaminya.


"Ada apa? Apakah kau sedang sakit kepala? Ingin aku periksa?" Tanya Luna beruntun.


"Kau membuatku khawatir, lain kali jangan seperti ini lagi, oke?" Ucap Rekay.


"Iya sayang, maafkan aku. Ayo kita pergi, Daniel dan Nicky pasti sudah menunggu kita."


Luna memasukan racun yang ada di kantung plastik kedalam tasnya. Luna mendorong Rekay pergi keluar dari restorant.


***


Di rumah, Calvin baru selesai berganti pakaian. Calvin hendak pergi menemui seseorang. Saat kakinya baru mencapai beberapa langkah keluar dari kamar tidurnya, tiba-tiba saja Calvin jatuh pingsan tidak sadarkan diri.


Seorang pelayan sedang membersihkan meja dan lemari kaca ruang tamu. Pelayan masuk kedalam hendak menambil penyedot debu. Pelayan itu pun bergegas, matanya melebar melihat Tuannya terkapar lemah. Pelayan langsung berteriak memanggil bantuan.


"Tolong...."


"Tolong...."


"Tuan, Anda baik-baik saja? Tuan...," panggil pelayan itu panik.


Jenifer dan Jafferson baru datang, mereka masuk kedalam rumah. Jenifer kaget, melihat pelayan yang sedang cemas di dekat pelayan ada Calvin yang terkapar.


"Kau..., apa yang terjadi?" Sentak Jenifer.


Pelayan menatap Jenifer dan berdiri, "Nyonya..., Tuan, Tuan...," ucap pelayan terisak.


"Kau apakah suamiku, huh?" Kesal Jenifer berakting, "Sayang...," panggil Jenifer mendekati Calvin. Jenifer memeriksa keadaan Calvin.


Jenifer tersenyum, mendapati Calvin tidak bergerak. Jenifer melirik kearah pelayan dan tiba-tiba menjerit histeris. Jenifer mengeluarkan air matanya untuk mengelabuhi pelayan. Melihat mamanya menangis, Jafferson panik san mendekati Jenifer.


"Ada apa Ma? Tanya Jafferson.


"Papamu...," jawab Jeniver lirih.


"Bibi, telepon ambulance. Cepat!" Perintah Jafferson.


"Papa, bangaun Pa. Papa...," Panggil Jafferson.


Pelayan rumah segera menyambar telepon rumah dan menghubungi rumah sakit. Dengan nada suara tergagap pelayan itu bicara pada seseorang di ujung telepon.


***


Di Laboratorium....


Luna dan Daniel langsung meneliti racun pemberian Jenifer. Sedangkan Rekay dan Nicky menunggu di ruangan Rekay.


"Kenapa perasaanku tidak enak. Apakag ada sesuatu?" Batin Rekay menyentuh dadanya. Dadanya tiba-tiba saja terasa sakit seperti tertusuk.


"Tuan, Anda baik-baik saja?" Tanya Nicky yang langsung menghampiri Rekay.


"Ntah lah Nick, dadaku terasa sakit seperti tertusuk."


"Perlukah saya memanggil Nyonya?" Tawar Nicky.


"Tidak perlu. Biarkan dia sibuk dulu, kita jangan mengganggu penelitian mereka. Aku baik-baik saja Nick, jangan cemas."


Diruang penelitian, Luna merasa pusing dan mual. Luna sudah menahan sejak lama, namun kali ini dia tidak mampu lagi menahan. Tubuh Luna lemas, dengan cepat Daniel menahan Luna yang hampir jatuh.


"Luna, kau baik-baik saja?" Tanya Daniel.


"Kepalaku pusing sekali," jawab Luna pelan.


Mengingat kondisi Luna yang sedang hamil, Daniel menghentikan penelitiannya dan membopong Luna keluar dari ruang penelitian. Daniel membawa Luna kedalam ruangan Rekay.


Mengetahui istrinya dibopong Daniel, Rekay panik. Rekay cemas jika terjadi sesuatu pada istri dan bayinya.


"Daniel, ada apa?" Tanya Rekay.


"Aku akan periksa," jawab Daniel.


Daniel membaringkan Luna di sofa. Daniel melepas penutup kepala dan menutup wajah Luna. Daniel memerika denyut nadi Luna, dan memeriksa mata Luna yang tertutup.


Rekay berdiri dari duduknya dan berpindah duduk di samping Luna. Rekay mengusap tangan Luna.


"Apa dia baik-baik saja?" Tanya Rekay lagi setelah melihat Daniel selesai memeriksa Luna.


"Dia baik-baik saja. Hanya terlalu lelah, kau tidak perlu cemas Kay. Biarkan Luna beristirahat beberapa saat," jelas Daniel.


"Bagaimana racunnya?" Tanya Rekay.


"Itu racun langka Kay, entah darimana Jenifer mendapatkannya. Aku belum tahu jenisnya, namun aku bisa pastikan jika itu adalah racun yang berbahaya. Kau harus sabar menunggu, butuh waktu bagiku. Beri aku waktu Kay," pinta Daniel.


"Lakukan yang terbaik Daniel. Apa kau butuh bantuan seseorang? Luna tak akan bisa membantumu," jelas Rekay.


"Tidak perlu, aku hanya ketenangan dan beberapa catatan yang akurat untuk memastikan. Meski butuh waktu, tidak akan memakan waktu lama."


"Terima kasih untuk kepercayaanmu, aku akan kembali ke ruang penelitian. Kau jaga Luna saja disini,"ucap Daniel.


"Kau berhati-hatilah. Jangan sampai terluka."


Daniel mengangguk, Daniel berbalik dan langsung pergi menuju pintu ruangan. Daniel membuka pintu ruangan dan keluar, dia langsung menutup pintu ruangan dan berjalan kembali keruang penelitian.


Didalam ruangan, Rekay menatap Luna. Mengusap wajah dan kening Lana. Rekay menggapai tangan Luna, mengusap dan mencium lembut punggung tangan Luna.


Tidak berselang lama, Luna terjaga. Luna membuka mata dan melihat ada Rekay dihadapannya.


"Kau sudah bangun sayang," ucap Rekay mengambil gelas berisi air minum, "kau bisa bangun? Aku akan bantu kau minum lebih dulu."


Rekay membantu Luna bangun, Rekay menyangga tubuh Luna dengan tubuhnya. Lalu membantu Luna minum. Luna ingin memegang gelas, namun tangan Rekay memegang tangan Luna dan mendekapnya erat.


"Jangan banyak bergerak, biarkan aku yang memegang gelasnya."


Luna menurut, Rekay mendekatkan bibir gelas ke bibir Luna. Lalu membantu Luna untuk minum.


"Merasa lebih baik?" Tanya Rekay dengan suara lembut.


Luna mengangguk, "Ya, aku baik-baik saja. Aku hanya sedikit pusing dan merasa mual."


"Lebih baik kita pulang, kau perlu istirahat."


"Penelitiannya?" Sela Luna ingat akan penelitiannya.


"Daniel bisa tangani itu, kau tidak aku izinkan lagi meneliti. Kau mengerti?" Jawab Rekay.


Melihat Rekay yang bicara serius, membuat Luna tidak bisa menjawab. Luna hanya diam dan menganggukkan kepala perlahan.


--- --- ---


Hallo semua..


Terimakasih sudah mau berkunjung dan membaca novel saya..


Jangan pernah bosan menunggu update selanjutanya ya..


Jangan lupa like,☆☆☆☆☆ dan isi kolom komentar..


Jangan lupa berikan vote juga ya..


Kunjungi juga di novel saya yang lain. Dengan judul,


•Lelaki Bayaran Amelia (Season 1&2 End)


•Pelukan Hangat Paman Tampan (End)


•Pangeran Es Jatuh Cinta (End)


(Season ke 2 dari Pelukan Hangat Paman Tampan)


•Pangeran Vampir (End)


•Pangeran Vampir 2 (SEASON 2) (End)


•Vampir "Sang Abadi" (End)


•Cinta Lama Yang Datang Kembali (End)


•Mommy And Daddy (CLYDK 2) (End)


•Darren & Karren (Perjalanan Cinta) CLYDK SEASON KE 3


•The Hit Man In Love


•Jatuh Cinta Pada Tetangga


•Suami Pengganti (End)


•Menjadi Istri Simpanan


•Dendam Permaisuri Kepada Kaisar


Jangan lupa like, ☆☆☆☆☆ dan isi kolom komentar.. vote juga dong..


Terimakasih..


Untuk pembaca yang ingin join grup FB/WA silakan..


Untuk yang ingin follow ig saya juga silahkan..


ig: dea_anggie


Line id: dea_anggie


Fb: dea anggie


Grup FB: Lelaki Bayaran Amelia


❤❤❤❤❤


Bye bye..


Salam hangat,


"Dea Anggie"