Oh My Husband

Oh My Husband
Oh My Husband Ep-22



Keesokan harinya.


"Hoammm" Luna menguap dan membuka matanya. Bibir indahnya tersenyum lebar, Luna memalingkan wajah menatap Rekay.


Luna mendekat dan mencium kilas bibir Rekay. "Selamat pagi suamiku.." ucap lembut Luna membelai wajah Rekay.


Luna bangun, ingin turun dari tempat tidur. Rekay manahan Luna, menarik tangan Luna hingga Luna jatuh dalam pelukan Rekay.


"Aku mencintaimu.." bisik Rekay di telinga Luna.


Luna tersipu malu, wajahnya merah seperti tomat. Luna hanya bisa memendamkan wajahnya di dada bidang Rekay.


"Kay.." panggil Luna, berusaha melepaskan pelukan Rekay.


"Ya, Ada apa?" Tanya Rekay menatap Luna. Rekay mengusap-usap kepala Luna.


"Boleh kau ceritakan padaku masa kecilmu? Aku ingin tahu apa saja yang terjadi saat kau masih anak-anak." Luna memberanikan diri bicara.


"Oke, dengarkan baik-baik ceritaku." Kata Rekay mendekap Luna dan mengecup kening Luna.


"Masa kecilku dulu tentu saja sangat menyenangkan. Ada papa dan mama yang mencintaiku. Papa dan mamaku orang yang sibuk, mereka bekerja dari pagi hingga sore. Tetapi mereka tidak pernah melupakan aku. Mereka selalu bermain bersamaku saat malam hari, kami bermain dan bersenang-senang, terkadang mama bercerita. Aku selalu merasa senang dan bersyukur, aku merasa beruntung di banding teman-temanku, yang sedikit mendapat perhatian orang tua mereka karena sibuk. Sampai suatu hari, saat aku ikut mama berbelanja. Di hari itu, terjadi kecelakaan. Aku tidak tahu lagi apa yang terjadi setelahnya. Karena pada saat bangun dan membuka mata, aku sudah terbaring di rumah sakit. Dokter dan papa diam saat aku bertanya dimana mama. Aku terus menangis bertanya di mana mamaku, tidak ada yang menjawab dan mereka selalu mengalihkan pembicaraan. Sebulan kemudian aku keluar dari rumah sakit, aku tidak bisa berjalan dan hanya bisa duduk di kursi roda. Dokter mengatakan butuh waktu lama untukku bisa sembuh, dan kemungkinan bisa berjalan lagi juga sulit. Papaku sedih, aku melihatnya minum wine setiap hari, aku masih bertanya dimana mama dan papa masih saja diam. Keesokan harinya, papa mengajakku pergi, kau tau kemana? Papaku mengajakku ke pemakaman. Aku masih diam tidak mengerti, saat aku melihat ada foto mamaku tertanam di sebuah nisan. Jantungku seakan berhenti berdetak, aku telah kehilangan mamaku. Papaku menceritakan jika mamaku sudah meninggal saat akan di bawa ke rumah sakit. Semenjak itu hari buruk terus berlanjut, saat di sekolah aku diejek. Aku di hina dan di caci maki, mereka mengataiku, mereka mengatakan jika aku tidak punya mama dan aku seorang anak yang cacat. Hatiku sakit, namun aku tetap bertahan. Tahun demi tahun berganti, suatu saat papa membawa pulang seorang wanita muda. Wanita itu membawa seorang anak seusiaku. Wanita itu adalah Jenifer, dan putranya Jafferson. Papa mengenalkan Jenifer padaku sebagai istrinya. Aku kesal saat papaku menikah lagi, aku hany bisa diam menahan. Jaffeson masuk ke sekolahku, mulai berulah dan membuat gaduh, selalu mengerjaiku. Jafferson yang aku pikir baik, ternyata prilakunya tidak lebih baik dari teman-temanku yang mengejekku di sekolah. Aku tidak berdaya, bagaimana bisa anak lumpuh sepertiku membalas mereka? Aku hanya bisa belajar dan belajar untuk mencapai puncak. Aku menahan semuanya, aku berharap dengan aku mencapai puncak aku bisa membuat mereka bungkam dimasa depan. Papaku sering pergi melakukan perjalanan bisnis. Jenifer yang menjadi nyonya rumah mulai menujukan tanduknya. Aku pernah tidak di beri makan selama 2 hari, Jenifer juga mengancamku jika aku melapor pada papa, aku akan dimasukan ke panti asuhan. Aku takut, aku tidak ingin berpisah dari papa. Itulah mengapa aku tidak pernah bercerita masalah ini pada papa, dan menuruti permintaan Jenifer. Di depan papa, mereka bersikap baik padaku, di belakang papa aku dibuang seperti sampah. Pelayan rumah di minta untuk tidak melayaniku. Mereka juga di ancam akan di pecat dari pekerjaan jika memanjakanku. Hanya satu pelayan setia melayaniku meski hanya sembunyi-sembunyi. Dia adalah bibi Mao. Waktu berlalu sangat cepat, aku kuliah dan lulus, hasil yang aku dapat sangat memuaskan. Aku mulai memasuki dunia bisnis, aku berusaha keras sampai mencapai titik atas. Jadi, apa yang aku dapat adalah murni kerja kerasku selama kurang lebih 10 tahun." Panjang, lebar Rekay bercerita. Menceritakan masa lalunya pada Luna. Rekay mengumpulkan semua keberaniannya.


Mata Rekay sembab, air matanya terus mengalir. Rekay terisak, beberapa kali tangannya menyeka air matanya sendiri.


Luna merasa sedih, Luna memeluk Rekay. "Menangislah, luapkan semua kesedihanmu sekarang. Aku tahu kau selalu menahan diri untuk tidak menangis. Jangan berpura-pura tegar lagi Kay. Sandarkan kepalamu di bahuku, aku akan merangkulmu. Ada aku sekarang, ada aku yang siap mendengar semua keluh kesahmu." Ucap Luna, menepuk pelan punggung Rekay.


Tubuh Rekay gemetar, penderitaan yang di timbun akhinya longsor. Rekay terus menangis memeluk Luna.


Luna mengusap kepala belakang Rekay. "Kau hebat, kau pria terhebat yang pernah aku temui." Luna mencoba memberi semangat pada Rekay.


-----


Rekay dan Luna pergi untuk berbelanja. Mereka pergi ke sebuah pusat perbelanjaan. Luna dan Rekay bersenang-senang.


"Kay, ayo beli kopi." Ajak Luna.


"Apa pun yang kau inginkan, aku akan berikan." Jawab Kay.


Luna mendorong kursi roda Rekay menuju sebuah cafe yang ada di dalam pusat perbelanjaan.


Luna mencari tempat duduk dan duduk. Luna memanggil pelayan, tidak lama pelayan datang dengan buku menu di tangannya.


"Selamat datang, tuan dan nyonya. Silahkan memilih menunya." Kata palayan meletakan buku menu di hadapan Rekay dan Luna.


"1 Cappucino panas, dan 1 cake strawberry." Pinta Luna pada pelayan.


"Baik nyonya, bagaimana dengan anda tuan?" Tanya pelayan pada Rekay.


"Aku memesan yang sama seperti istriku." Jawab Rekay.


"Baik, 2 cappucino panas dan 2 cake strawberry. Silahkan menunggu." Ucap pelayan, mengambil buku menu dan pergi.


Luna melihat sekeliling. Lalu melihat Rekay yang bermain ponsel.


"Kay.." panggil Luna.


Rekay menatap Luna, "ya.. ada apa sayang?" Jawab Rekay.


"Kau merasa lebih baik setelah jalan-jalan? Apa aku berlebihan mengajakmu berkeliling hari ini?" Tanya Luna lagi.


Rekay tersenyum, "aku baik-baik saja. Terima kasih Luna, berkatmu hatiku tidak sakit lagi. Aku bisa bernapas lega sekarang, semua bebanku sudah aku keluarkan." Rekay memebelai rambut Luna.


"Aku senang kau baik-baik saja. Ayo kita berjuang bersama, saat ini pikirkan hal-hal yang menyenangkan." Luna tersenyum cantik.


Rekay senang, kini disampingnya ada wanita hebat yang memberinya dukungan. Rekay tidak lagi merasa kesepian, ada Luna dalam hidupnya yang akan mengubah seluruh dunianya.


Thank you..


Bye-bye..


------------