
Jenifer berbincang dengan Calvin di ruang kerja Calvin. Membahas pernikahan Kay, Jenifer mencoba merayu Calvin untuk menyetujui pilihannya.
"Sayang, kau sibuk bukan?" Tanya Jenifer pada Calvin.
"Ya, ada apa?" Tanya Calvin.
"Ini mengenai pernikahan Kay, bolehkah aku yang mencarikan pasangan untuk Kay? Maksudku, aku ingin membantu meringankan bebanmu. Kau sudah sibuk dengan urusan kantor, aku.. aku.. aku hanya ingin membantu saja." Jenifer merangkul Calvin, mencoba mengambil hati Calvin.
"Jika itu kemauanmu maka lakukan. Bukankah Kay sudah mengiyakan dan menerima perjodohan. Kau saja yang mengurusnya," jawab Calvin.
Jenifer tersenyum, menciun pipi Calvin. "Terima kasih sayang, kau yang terbaik. Aku mencintaimu." Ucap Jenifer.
"Dan tentu saja mencintai uang juga hartamu." Imbuh Jenifer dalam hati, Jenifer merasa sangat puas dan senang.
Calvin masih belum menyadari jika selama ini dia sudah menikahi wanita rubah. Jenifer tidak benar-benar mencintai Calvin, Jenifer hanya mencintai harta kekayaan Calvin.
Jenifer selalu berpura-pura baik dan polos di depan Calvin. Merasa lebah dan tidak berdaya, membuat Calvin berpihak sepenuhnya padanya. Jenifer hanya mementingkan diri sendiri dan Jeff, anak tunggalnya.
"Baiklah, aku akan pergi berbelanja kebutuhan dapur. Kau sibuklah dulu," Jenifer pergi meninggalkan Calvin.
Jenifer keluar dari ruangan Calvin. Jenifer pergi ke kamarnya untuk mengambil tas nya. Jenifer hendak pergi berbelanja kebutuhan dapur ke supermarket.
-----
Di supermarket..
Jenifer berbekeliling mmebawa troli berlanjaan. Tidak disangka bertemu dengan teman lama yang juga berbelanja. Jenifer dan temannya saling menyapa.
"Cindy.." sapa Jenifer.
"Jeni, oh.. aku sungguh sangat merindukanmu teman." Jawab Cindy, memeluk Jenifer. "Bagaimana kabarmu? Kau baik-baik saja? Cindy melepas pelukan, menatap Jenifer.
"Seperti yang kau lihat, bukankah ini lebih dari baik?" Jawab Jenifer.
"Wah-wah hidupmu sekarang jauh lebih baik Jen, aku iri padamu." Kata Cindy.
"Bukankah kau juga beruntung bisa menikahi suamimu itu, hah??" Jenifer menggoda Cindy.
"Sudah-sudah jangan membahas hal itu lagi, ayo kita duduk dan minum kopi setelah ber belanja." Ajak Cindy.
30 menit kemudian..
Setelah berbelanja, Jenifer dan Cindy duduk di sebuah cafe yang masih ada di sekitar supermarket. Mereka minum kopi bersama dan berbincang.
"Cindy, kau punya pilihan seorang wanita tidak?" Tanya Jenifer.
"Wanita? Untuk apa?" Cindy kembali bertanya.
"Untuk dinikahkan dengan anak tiriku." Jawab Jenifer datar.
"Ahh, kenapa kau tidak mencari dari kalangan pembisnis besar? Bukan kah orang-orang kaya selalu melakukannya?" Jawab Cindy memberikan saran.
"Aku ingin mencarikan wanita yang spesial untuknya, kau tau kan dia lumpuh, aku ingin mencari wanita yang beruntung. Tidak peduli bagaimana keluarganya yang terpenting aku ingin melihat Kay bahagia. Jawab Jenifer tersenyum palsu.
"Bagaimana seorang yang cacat bisa naik ke atas ranjang bersama istrinya. Haha.." guman Jenifer sembari tertawa jahat dalam hati.
"Jika kau tidak keberatan aku punya dua keponakan perempuan, mereka kembar." Cindy menunjukan foto Lana dan Luna pada Jenifer. "Ini Luna, dia seorang dokter. Dia wanita yang pintar dan sangat rajin, ramah dan baik, seperti bibinya ini. Dan ini adalah Lana, anak ini sangat nakal dan susah di atur. Selalu merepotkan kakakku dan kakak iparku, dia suka bergaul dengan berandalan dan suka menghabiskan waktu di club malam." Cindy menjelaskan pada Jenifer.
Jenifer tersenyum pada Cindy, "ajak aku bertemu kakak dan kakak iparmu. Aku berminat menjodohkan anak tiriku dengan salah satu keponakanmu." Ucap Jenifer merasa senang.
Cindy tersenyum senang, "sungguh? Aku senang mendengarnya Jen.." ucap Cindy.
Cindy tidak menyadari jika temannya Jenifer begitu licik. Jenifer juga tidak bisa berkata jujur jika dirinya sangat membenci anak tirinya. Dan ingin mempermalukan anak tirinya di depan umum.
"Kirim foto keponakanmu padaku, biarkan putraku yang memilih mana yang akan dinikahinya." Ucap Jenifer beralasan. Jenifer tidak ingin niat buruknya ketahuan.
Cindy mengangguk, "oke.. tunggu aku akan kirim keduanya." Cindy lalu mengirim foto Lana dan Luna, "ingat-ingat yang mengenakan kaos dan celana jeans adalah Lana, sedangkan yang mengenakan gaun adalah Luna." Cindy kembali menjelaskan.
Jenifer kembali tersenyum, "oke.. kabari aku waktu pertemuannya. Aku harap secepatnya, lebih cepat akan lebih baik." Jawab Jenifer.
Jenifer merasa beruntung, langkah awal menghancurkan Kay sudah dimulai. Jenifer sudah tidak sabar ingin memulai permainanya.
-----
Rekay sedang ada di ruang kerjanya. Kay membaca laporan medisnya dengan seksama.
Bibir Kay tersenyum tipis, senyumnya seakan mengejek dirinya sendiri. "Seandainya saja mama juga masih bisa di selamatkan." Kay merasa sedih. "Bagaimana bisa hanya aku yang bertahan? Bagaimana bisa.." keluh Kay, air matanya menetes mengenang mama yang sangat di rindukannya.
Dibalik ketegaran dan kegigihannya bertahan selama ini. Kay menyimpan berjuta kesedihan dan kerinduan. Kay tidak pernah menunjukan rasa sedihnya pada siapa pun, selalu memndap kepedihannya seorang diri.
Saat itu Kay meminta kepada Nicky untuk tidak mengganggunya di ruang kerja. Melaranh siapa pun masuk tanpa ijin dari Kay. Nicky mengerti, jika sampai Kay mengeluarkan suara seperti itu berarti Kay sedang dalam suasana hati yang tidak baik.
Nicky berjaga di ruang tengah, Nicky bertemu dengan bibi Mao. Bibi Mao menghampiri Nicky dan bertanya.
"Apakah terjadi sesuatu pada tuan?" Tanya bibi Mao.
"Seperti biasa bi, kami baru saja dari rumah besar. Sepertinya nyonya akan memberikan tekanan pada tuan kita." Jawab Nicky.
"Kasian sekali tuan muda, sejak kecil selalu di perlakukan buruk oleh nyonya. Namun tidak pernah sekalipun mengadu pada tuan. Bahkan tuan Jeff juga mengikuti jejak nyonya." Bibi Mao angkat suara.
"Kita bisa apa bi? Kita hanya bisa duduk diam dan mendoakan saja. Aku tidak akan mungkin bisa bertahan jika menjadi tuan, aku lebih memilih mengakhiri hidupku." Ucap Nicky membandingkan.
"Jagan bicaramu, jangan sampai di dengar oleh tuan." Bibi Mao menasihati Nicky.
Nicky menutup mulutnya rapat dan mengangguk. Bibi Mao menghela nafas dan beranjak pergi meninggalkan Nicky yang masih setia duduk di dampingi secangkir kopi di atas meja.
-----
Hari semakin sore, seperti biasa sepulang bekerja Luna datang ke toko kue favoritnya. Toko kue yang biasa di datanginya.
Luna membuka pintu dan berjalan mendekati lemari kaca. Mata cantik Luna melirik, mencari kue yang akan di lahapnya malam ini.
"Hmm.. sepertinya semua terlihat lezat. Aku bingung memilih yang mana."guman Luna.
Luna akhirnya memberi beberapa cake dan lalu membayar tagilan belanja. Luna bergegas pergi setelah menerima cake ditangannya.
Luna berjalan kaki perlahan menyusuri jalan. Wajahnya berseri, mulutnya berguman lirih menirukan lirik lagu yang di dengarnya melalui earphone.
Thank you..
Bye-bye..
------------