Oh My Husband

Oh My Husband
Oh My Husband Ep-11



Karena tidak ada pilihan Jenifer memutuskan Luna lah yang akan menikah dengan Kay.


"Bagaimanapun Luna adalah saudara kembar Lana. Luna adalah wanita yang lebih unggul dari Lana, saat Kay tidak bisa apa-apa, bukankah kelak Luna akan mengeluh pada kami? Dan itu pasti akan membuat Calvin kecewa, lalu membenci Kay. Yah.. untuk apa dipertahankan! Kay lebih baik dibuang." Guman Jenifer dengan senyum licik.


Jenifer kembali menghubungi Louis dan meminta Luna menggantikan Lana. Jenifer tidak ingin ada alasan apapun, mau tidak mau Luna harus menikahi putranya. Jika tidak Jenifer akan mencabut dana investasi dan menghancurkan perusahaan Louis. Setelah menyampaikan keinginanya Jenifer mengakhiri panggilannya.


Jenifer tersenyum puas, "tidak ada yang bisa menghalangi rencanaku. Ini kabar baik, aku akan persiapkan semuanya. Keluarga Hawn harus menunjukan statusnya." Guman Jenifer, pergi dari kamarnya untuk ke dapur.


-----


Louis merasa kesal dan frustasi. Jenifer mengancamnya, jika perusahaannya hancur maka keluarga Zack tidak akan ada harapan lagi. Louis menceritakan masalah ini pada Merry, Merry sangat menyayangkan sikap Jenifer yang menekan keluarganya.


"Lalu kita harus apa sayang? Apa kita akan memaksa Luna juga?" Tanya Merry.


"Entahlah, kepalaku sakit. Aku akan berjalan-jalan sebentar di halaman." Ucap Louis berjalan keluar dari kamarnya.


Merry mengikuti Louis keluar dari kamar, Merry merasa kasian pada Louis. Merry berjalan ke dapur, dan Louis berjalan keluar dari rumah.


Diluar rumah Louis berjalan-jalan menikmati angin malam. Louis memikirkan apa yang dikatakan Jenifer, ucapan Jenifer begitu mengerikan.


Dari jauh Luna melihat papanya berjalan-jalan. Luna berlari dan merangkul lengan Louis.


"Papa.." sapa Luna.


Louis terkejut, "hai sayang.. kau pulang?" Louis mengusap-usap kepala Luna.


Luna tersenyum manis, "papa sedang apa dihalaman? Ayo masuk.." ajak Luna, Luna menggandeng lengan papanya masuk.


Luna dan Louis masuk dalam rumah. Merry yang melihat menghampiri Luna dan Louis.


"Hai ma.." sapa Luna.


"Hai sayang, masuk dan mandilah dulu. Mama siapkan makan malammu." Ucap Merry.


"Mama yang terbaik. Terima kasih mama." Jawab Luna.


Luna senang, langsung pergi ke kamarnya. Louis duduk di sofa ruang tengah bersama Merry.


"Tidak makan? Aku sudah siapkan makan malam." Tanya Merry.


"Nanti saja, kita makan bersama Luna." Jawab Louis.


Ponsel Louis berdering, Louis meraba saku celananya dan terkejut saat melihat nomor asing menghubunginya. Louis menatap Merry, merry mengangguk ingin Louis menerima panggilan itu. Louis akhirnya menerima panggilan.


(Percakapan di telepon)


"Hallo.." jawab Louis.


"Papa.." suara Lana.


Louis terkejut, "Lana.. kau dimana sayang? Kembalilah, papa berjanji tidak akan memaksamu lagi." Kata Louis.


"maafkan Lana pa, Lana pergi dengan James. Lana tinggal di luar negeri sekarang. Lana hanya ingin mengatakan jika Lana baik-baik saja, papa dan mama tidak perlu cemas. Sampaikan salam Lana pada Luna pa.. Lana sayang papa, mama dan Luna." Lana langsung memutus panggilannya.


Tut.. tut.. tut..


Louis merasa kecewa, Luois juga merasa sedih. Bagaimana tidak, Putrinya pergi entah kemana dan hanya mengatakan pergi dengan James dan tinggal di luar negeri.


Merry kaget mendengar Louis memanggil Lana. "Sayang, apa itu Lana? Dimana Lana? Apa yang Lana katakan?" Tanya Merry penasaran.


"Lana pergi bersama James ke kuar negeri." Jawab Louis.


"Apa?" Merry terkejut.


Luna menatap papa dan mamanya yang terlihat gelisah. "Papa, mama, katakan ada masalah apa? Apa ini mengenai Lana?" Luna bertanya.


Louis menghela nafas panjang. "Lana pergi dengan James ke luar negeri. Sedangkan pernikahan sudah di tetapkan, papa harus apa Luna? Bagaimana ini?" Keluh Louis.


"Papa tenang dulu, cerita pelan-pelan." Luna mencoba menenangkan Louis papanya yang terlihat emosi.


Louis mulai bercerita, Louis mengatakan apa yang di sampaikan Jenifer pada Luna. Merry dan Luna diam, hanya mendengarkan. Louis mencoba menjelaskan pada Luna, Louis sebenarnya tidak ingin Luna yang menikah melainkan Lana.


Luna tersenyum, " papa, mama, soal ini Luna akan pikirkan lebih dulu." Jawab Luna.


Louis sudah menduga jawaban Luna begitu juga Merry. Namun Luois tidak ingin memaksa Luna.


"Tidak apa sayang, jangan cemaskan ini. Mungkin sudah waktuny kita untuk pindah ke kota asal kita." Jawab Louis.


"Maksud papa?" Tanya Luna.


"Jenifer mengatakan, jika kau tidak bersedia, makan dana investasi akan dicabut. Jika itu di lakukan maka perusahaan tidak akan bertahan lama. Perusahaan papa mengalami kemundurab akhir-akhir ini sayang. Papa tidak berniat menjualmu atau menjual Lana. Mereka memilih Lana pada awalnya namun karena Lana melarikan diri, mereka ingin kau menggantikan Lana menikahi putra mereka." Louis menjelaskan.


"Oh.." jawab Luna ber oh ria.


Luna berdiri dari duduknya, "mama.. aku lapar, aku ingin makan." Luna mengalihkan topik pembahasan.


Merry menatap Luna, " oh.. iya, ayo kita makan. Sayang, ayo kita makan." Ajak Merry, yang berdiri dan langsung berjalan menuju dapur.


Luna menatap Louis, "papa, ayo kita makan." Ajak Luna.


Louis mengangguk, melupakan sejenak pembahasan yang baru saja di bahas. Luna, Louis dan Merry duduk dan mulai makan.


Luna mengaduk-aduk makananya. Pikirannya tertuju pada pembahasan yang sebelumnya dibahas di ruang tengah. Louis dan Merry saling menantap, merasa tidak enak pada Luna.


"Luna? Jangan pikirakan ucapan papa. Makanlah dan pergi tidur. Oke? Maafkan papa sayang." Ucap Louis.


Luna tersenyum, memakan sedikit makanannya. Luna mengunyah perlahan dan menelan makanannya. Luna hanya makan sedikit, tiba-tiba nafsu makannya menghilang.


Luna berdiri dari duduknya, pamit kepada Louis dan Merry untuk pergi tidur. Dengan langkah cepat Luna kembali ke kamarnya, Luna masih terus memikirkan ucapan Louis.


Luna berfikir sembari mondar-mandir. "Bagaimana ini, aku harus apa? Kasian papa dan mama, jika hal buruk terjadi papa dan mama pasti akan sedih. Sepertinya kali ini aku harus membantu papa dan mama," Luna menghela nafas panjang, "besok aku akan bicara pada papa dan mama, suka tidak suka memang sudah seharuanya seorang anak berkorban demi kebahagiaan orang tuanya. Luna tetaplah semangat." Luna tersenyum paksa, menyemangati diri sendiri.


Luna merasa lelah, Luna berjalan mendekati tempat tidurnya. Luna naik keatas tempat tidurnya dan masuk dalam selimut. Luna berbaring dan memeluk bantal, Luna berulang-ulang mengatur napasnya. Luna merasa jalan hidupnya akan semakin sulit di tempuh. Memikirkan bagaimana nasibnya jika sudah menikah nanti, memikirkan akankah suaminya akan bersikap baik padanya? Atau justru bersikap buruk dan kasar. Luna mencengkram bantal dalam pelukannya, ada rasa gelisah dan takut juga ada rasa khawatir, semua bercampur menjadi satu.


Luna pun perlahan menutup mata dan tertidur.


-----


Keesokan harinya Luna bangun sepeti bisa. Luna mandi dan berganti pakaian, Luna bersiap pergi ke rumah sakit. Luna menikmati sarapan buatan mamanya, di sela-sela sarapannya Luna membuka suara.


"Pa, katakan pada bibi itu. Aku bersedia menikahi putranya. Aku sudah selesai sarapan, papa, mama Luna pergi bekerja lebih dulu." Luna berdiri dari tempat duduk, mencium kilas pipi Louis dan Merry lalu berangkat bekerja.


"Ada apa dengan Luna? Apakah dia baik-baik saja?" Tanya Louis.


Merry menggeleng, "entahlah.. sepertinya tidak baik." Jawab Merry.


Louis dan Merry kembali menyantap sarapan mereka. Louis merasa bersalah kepada Luna, Louis takut jika Luna akan membencinya, seperti Lana.


Thank you..


Bye-bye..


------------