
Rekay melihat Lana di ruang tengah. Lana sedang duduk bermalas-malasan membaca majalah.
"Wanita ini, bodoh atau memang sengaja. Tidak tahukah ini jam bekerja? Jika dia pintar dia akan keluar dan berpura-pura ke rumah sakit. Bukannya bersantai membaca majalah. Tidak layak mendapat penghargaan," batin Rekay.
"Tuan, kita jadi pergi?" Tanya Nicky yang ada di belakang kursi roda Rekay.
"Iya," jawab Rekay.
Nicky mendorong kursi roda Rekay. Rekay melewati Lana, Rekay memanggil Lana. Membuat Nicky menghentikan pergerakannya.
"Luna...," panggil Nicky.
Lana diam dan tidak menoleh. Karena memang bukan namanya, Lana tidak menanggapi panggilan Rekay.
Rekay mengulurkan tangan mengambil majalah di tangan Lana. Lana memalingkan wajah menatap Rekay, Lana kaget dan kesal. Wajah Lana sudah terlihat marah, keningnya sudah berkerut. Lana secepat kilat mengubah ekspresi wajahnya dan tersenyum manis pada Rekay.
"Menyebalkan, kenapa harus menggangguku. Jika saja bukan karena kau banyak uang, aku tidak akan sudi tersenyum padamu. Dasar pria lumpuh," batin Lana memaki Rekay.
"Wanita tidak tahu malu, berani menatapku seperti itu? Tunggu dan lihatlah, aku akan membuatmu merasakan buah dari perbuatanmu. Wanita jahat," batin Rekay penuh amarah.
"Rekay, aku ingin apa?" Tanya Lana.
"Kau tidak bekerja?" Tanya Rekay pada Lana.
Lana kaget, "ah..., i-itu a-aku mengambil libur," gagap Lana tersenyum canggung, "aku baru saja meminta libur karena aku merasa lelah. Begitulah," sambung Lana.
Rekay tertawa dalam hati. Sungguh, jika saja Rekay tidak tahan maka detik itu Lana akan di olok oleh Rekay. Rekay hanya diam dan mengikuti permainan Lana.
"Oh, baiklah. Aku akan pergi, kau mau ikut?" Tawar Rekay.
Lana menggelang, "tidak. Aku merasa sedikit sakit kepala. Ingin di rumah saja."
"Oke. Kemarilah, aku ingin menciummu."
Lana menjauh, "tidak untuk sekarang. Aku belum mencuci wajahku," tolak Lana beralasan.
"Hm, sayang sekali. Jika saja kau tau, aku rindu. Sangat rindu," sindir Rekay.
Rekay begitu penuh perasaan mengucapkan kata rindu. Bukan untuk Lana, melainkan untuk Luna. Rekay begitu merindukan istri dan bayi dalam kandungan Luna.
"Aku harus ke kamar, Rekay. Kau pergilah," kata Lana yang langsung berjalan pergi meninggalkan Rekay.
"Suruh orang mengawasi Lana, Nick."
"Baik tuan," jawab Nicky.
Nicky kembali mendorong kursi roda Rekay, mereka pergi kearah depan rumah. Rekay ingin pergi menemui Daniel di rumah sakit.
Sementara itu di kamar, Lana mondar-mandir seperti setrika. Lana memikirkan apa yang harus dia lakukan, untuk menikmati kekayaan Rekay tanpa harus bertatap muka dengan Rekay.
"Aku tidak tahan lagi, aku tidak ingin melihat pria lumpuh itu. Aku tidak akan biarkan dia mengambil keuntungan dariku. Aku bukan wanita sembarangan yang akan bercinta dengan siapa saja."
***
Luna dan Jafferson sampai di rumah Orang Tuan Lana dan Luna. Jafferson melihat sekeliling, menatap Luna.
"Ini rumah lamamu?" Tanya Jafferson.
Luna mengangguk, "ya," jawab Luna.
"Hanya ini satu-satunya jalan aku bisa menghubungi Rekay. Aku harus bisa membuat jarak dengan Jafferson. Jika dia ada di sisiku, aku tidak akan bisa lakukan apa-apa. Semangat Luna," batin Luna menyemangati diri sendiri.
Luna melangkahkan kaki, tangan Luna tahan oleh Jafferson. Luna memalingkan wajah dan menghentikan langkahnya.
"Kau hanya boleh mengaku, jika kau adalah Lana. Kau paham?" Gertak Jafferson, matanya menatap tajam.
Luna tersenyum cantik, "aku paham, jangan menatapku seperti itu. Kau membuatku takut," jelas Luna berbicara manis dan lembut. Berusaha mengambil hati Jafferson.
Seketika Jafferson luluh, Jafferson merenggangkan cengkramannya. Jafferson terpesona oleh senyum cantik dan suara lembut Luna.
Luna kembali berjalan, Luna membuka pintu dan masuk ke dalam rumah. Luna melihat kekiri dan kekanan. Rumah tampak sepi. Jafferson melihat sekeliling, masih terus mengikuti Luna.
Luna mendekati dapur, melihat Mamanya sibuk di dapur. Luna memanggil Mamanya.
"Mama...," panggil Luna.
Luna bejalan mendekati Merry. Merry memalingkan wajah melihat Luna. Luna memberi isyarat, mengedipkan mata berulang-ulang. Luna berharap Mamanya paham dengan apa yang ingin dia utarakan.
Merry mengerti, melihat kearah belakang Luna. Merry melihat seorang pria asing.
"Ada apa dengan Luna? Dimana Rekay? Dan siapa pria asing di belalamg Luna?" Batin Merry penuh tanda tanya.
Luna mendekat dan memeluk Merry, "Ma, tolong aku. Katakan 'Ya' saja," bisik Luna di telinga Merry. Membuat Jafferson tidak curiga.
"Siapa dia?" Tanya Merry, menatap Jafferson.
Luna melepas pelukan, Luna menatap Jafferson. Jafferson mendekat, memperkenalkam diri.
"Hallo Bibi, aku Jafferson. Teman Lana," sapa Jafferson, menatap Luna.
Merry mengerutkan dahi, mencoba mencerna ucapan Jafferson.
"Lana?" Ulang Merry menatap Luna.
Luna tersenyum, "iya Mama, dia temanku."
"Ah, begitu. Luna bersandiwara rupannya. Pria ini bukan pria baik-baik jika seperti itu. Luna ku tidak pernah tersenyum paksa pada orang lain. Ada yang tidak beres disini," batin Merry meyakinkan diri.
"Ayo duduk dulu," ajak Merry mengukuti permainan, "Lana, Mama panggil Papa dulu di dalam. Kau ajaklah Jafferson duduk."
Merry tersenyum, mengedipkan satu matanya pada Luna. Merry langsung pergi kemarnya memanggil Louis.
Luna berpura-pura menghela napas, berusaha menyakinkan Jafferson dengan aktingnya.
"Jika seperti itu, ada masalah besar yang terjadi."
"Kau benar sayang, bagaimana ini? Kita harus membantu Luna, aku merasa Luna tertekan dan sedih. Kau harus ingat, ikuti permainannya. Luna saat ini sedang menyamar menjadi Lana. Kau harus panggil Luna, Lana. Oke?" Tegas Merry.
Louis mengangguk, "aku mengerti. Kau tenang saja. Aku akan panggil Luna masuk ke kamar dan mengurus pria aneh yang kau ceritakan itu. Aku akan mencoba mencari tahu darinya," jawab Louis.
Merry mengangguk, "ya, sayang. Cepatlah...," desak Merry sudah tidak sabar.
Louis berdiri dari duduknya di tepi ranjang. Louis berjalan keluar dari kamarnya.
Diluar kamar, Louis melihat Luna duduk bersama pria asing di sofa. Louis berjalan mendekati sofa, dan menyapa Luna.
"Lana...," panggil Louis.
Luna menatap Louis, "Papa...," panggil Luna balik yang langsung memeluk Louis.
Louis mengeratkan pelukan, "tenangkan dirimu sayang. kau aman disini," bisik Louis lirih, yang lalu mencium rambut Luna.
Luna tersenyum merasa lega, pada akhirnya Mamanya memahami maksudnya.
Louis melepas pelukan, menatap Luna. Louis mengusap kepala Luna lembut.
"Kau masuklah ke dalam kamar, Lana. Mamamu menunggu," ucap Louis sengaja mengeraskan suara.
Luna mengangguk, ini adalah kesempatannya untuk bisa meminta bantuan suaminya.
"Papa, tolong bantu aku temani temanku dulu. Oke?" Luna menatap Jafferson, "aku dipanggil Mama, kau bivcaralah bersama Papaku."
Jafferson tidak sadar jika Luna sudah membodohinya. Dengan tenangnya Jafferson mengangguk, mengiyakan kepergian Luna masuk ke kamar.
Luna tidak buang waktu lagi, segera ia berjalan ke kamar tidur Merry dan Louis. Louis mengajak Jafferson bicara di teras belakang rumah. Sengaja ingin menjauhkan Luna darinya.
----- ----- ----- ----- -----
Hallo semua..
Terimakasih sudah mau berkunjung dan membaca novel saya..
Jangan pernah bosan menunggu update selanjutanya ya..
Jangan lupa like,☆☆☆☆☆ dan isi kolom komentar..
Jangan lupa berikan vote juga ya..
Kunjungi juga di novel saya yang lain. Dengan judul,
•Lelaki Bayaran Amelia (Season 1&2 End)
•Pelukan Hangat Paman Tampan (End)
•Pangeran Es Jatuh Cinta (End)
(Season ke 2 dari Pelukan Hangat Paman Tampan)
•Pangeran Vampir (End)
•Pangeran Vampir 2 (SEASON 2) (End)
•Vampir "Sang Abadi" (End)
•Cinta Lama Yang Datang Kembali (End)
•Mommy And Daddy (CLYDK 2) (End)
•Darren & Karren (Perjalanan Cinta) CLYDK SEASON KE 3
•The Hit Man In Love
•Jatuh Cinta Pada Tetangga
•Suami Pengganti
•Menjadi Istri Simpanan
•Dendam Permaisuri Kepada Kaisar
Jangan lupa like, ☆☆☆☆☆ dan isi kolom komentar.. vote juga dong..
Terimakasih..
Untuk pembaca yang ingin join grup FB/WA silahkan..
Untuk yang ingin follow ig saya juga silahkan..
ig: dea_anggie
Line id: dea_anggie
Fb: dea anggie
Grup FB: Lelaki Bayaran Amelia
❤❤❤❤❤
Bye bye..
Salam hangat,
"Dea Anggie"