
Jenifer geram mendengar Jafferson di tangkap dan akan di hukum. Jenifer bergerak cepat untuk mencelakai Calvin.
"Awalnya aku ingin Papamu bisa hidup lebih lama, kay. Namun, sekarang kau juga yang mendesakku untuk segera mengakhiri hidup Papamu. Jangan salahkan aku," batin Jenifer.
Jenifer keluar dari kamar tidurnya dan menuju dapur. Di dapur tidak ada siapa pun, hanya dirinya seorang. Jenifer mengambil gelas dan menuang air dalam gelas sampai penuh. Setelah itu dia mengeluarkan sesuatu dari saku balik ban pinggang roknya.
Jenifer menggenggam sebuah botol kecil dan tersenyum jahat menatap botol kecil itu.
"Selamat tinggal suamiku tersayang. Jika kau harus membalas dendam, pergi dan hantuilah putra kesayanganmu, Kay. Dialah orang yang membuatku menjadi seperti ini, aku hanya mempertahankan hakku. Terima kasih karena kau begitu bodoh sudah menikahiku," batin Jenifer.
Jenifer kembali melihat sekeliling. Dia berharap tidak ada yang melihat aksinya saat itu. Jenifer membuka penutup botol kecil yang di pegangnya, dan menuang isi dalam botol kecil itu ke gelas yang berisi air. Jenifer menuang semua isi dalam botol kecil tersebut. Jenifer menyembunyikan lagi botol kecil ke ban pinggang roknya. Jenifer mengambil sendok teh dan mengaduk-aduk air dalam gelas. Warna cairan dalam botol kecil itu bening, sehingga saat tercampur air tidak akan terlihat ada perbedaan. Jenifer mencuci sendok teh yang baru saja di pakainya.
Jenifer mengambil nampan, meletakan gelas berisi air putih dan membawanya ke meja makan. Di meja makan, Jenifer membuat roti selai untuk Calvin. Setelah selesai, Jenifer meletakan piring berisi roti selai, juga segelas susu hangat di sisi gelas berisi air putih yang ada di nampan. Jenifer bergegas membawa nampan menuju ruang kerja Calvin.
Tok....
Tok....
Jenifer mengetuk pintu ruangan.
Klekkkk....
Jenifer membuka pintu dan masuk, lalu menutup kembali pintu ruangan.
Jenifer berjalan mendekati Calvin yang sibuk membaca berkas dokumen di meja kerjanya.
"Sayang, aku bawakan susu hangat dan roti selai untukmu. Maafkan aku, aku tidak mengajari Jeff berprilaku baik," lirih Jenifer berucap.
"Duduklah, ayo kita bicara. Aku ada hal penting yang ingin aku sampaikan," ucap Calvin.
Calvin berdiri dari duduknya dan berjalan menuju sofa. Jenifer mwngikuti Calvin, masih membawa nampan di kedua tangannya.
Calvin duduk, Jenifer meletakan nampan di hadapan Calvin dan duduk diterpisah dari Calvin. Jenifer duduk dengan tenang, menantikan apa yang ingin disampaikan pada padanya.
"Ada apa, sayang?" Tanya Jenifer.
"Kau sungguh tidak terlibat kan?" Tanya Calvin.
Jenifer melebarkan mata, "apa maksudmu, sayang? Aku tidak mengerti. Terlibat apa?" Elak Jenifer berpura-pura terkejut.
"Jafferson sudah membuat malu, bagaimana bisa dia mengingini iparnya sendiri?" Gumam Calvin.
"Kau percaya Jeff seperti itu? Aku ragu ada seseorang yang menjebaknya."
"Apa maksud ucapanmu?" Tanya Calvin.
"Setahuku Lana adalah wanita yang gila akan kedudukan, dia mau melakukan apa saja untuk mendapatkan uang dan kemewahan. Aku bersyukur saat Lana pergi dan Rekay akhirnya menikahi Luna. Namun apakah kau berpikir, jika Lana akan melepaskan kesempatan dengan mudah? Maksudku, siapa yang tahu kehidupannya saat melarikan diri. Mungkin dia dicampakkan atau dia kurang puas, tahu jika Luna menjadi Nyonya Muda Hawn lalu dia berinisiatif menukar posisi? Dia pun pada akhirnya memanfaatkan sisi lemah Jeff. Bisa saja kan?" Jelas Jenifer dengan penuh keyakinan.
Jenifer memutar keadaan, seolah Lanalah yang bersalah disini. Jenifer mencuci pikiran Calvin dengan karangan ceritanya.
"Sayang, kau jangan percaya satu pihal saja. Kau tau kan, aku tidak tahu jika Lana adalah wanita seperti itu, temanku tidak bicara apa-apa. Orang tua Lana dan Luna juga. Saat itu Rekay memang memilih Lana, namun Lana kabur dengan kekasih gelapnya. Membuat Luna harus menggantikan Lana, sekarang Lana datang dan ingin merusak pernikahan Kay juga Luna. Semua bisa dilakukannya demi uang. Izinkan aku menjamin Jeff," mohon Jenifer.
"Bicaralah dulu dengan Luna dan Kay. Hanya Kay, yang bisa menjamin Jeff bebas."
"Hm, tentu saja. Aku tahu itu, oleha karena itu aku memberimu dosis racun lebih kali ini. Agar aku bisa mengancam Kay," batin Jenifer tersenyum licik.
"Baiklah, aku akan bersiap dan pergi menemui Kay juga Luna. Makanlah dulu roti selai ini dan minum susumu."
Calvin mengambil roti selai dan menggigit roti selai. Calvin meletakan kembali roti selai ke piring dan mengangkat gelas berisi air putih. Betapa senangnya hati Jenifer saat melihat Calvin meneguk habis air dalam gelas.
"Sayang, kenapa kau hanya makan sedikit?" Tanya Jenifer.
"Aku akan makan nanti," jawab Calvin.
"Berikan padaku gelas kosong itu. Aku akam bawa ke dapur," pinta Jenifer mengulurkan tangan.
Calvin tanpa ragu memberikan gelas kosong ditangannya pada Jenifer.
Jenifer berdiri dan tersenyum pada Calvin.
"Jangan lupa makan roti dan habiskan susumu, aku akan mandi dan bersiap pergi menemui Kay juga Luna."
"Hmm, pergilah."
Jenifer melangkah pergi meninggalkan Calvin seorang diri diruang kerja. Jenifer kelaur dari ruang kerja, bergegas menuju dapur dan lekas mencuci gelas kosong yang dipegangnya. Selesai mencuci gelas, Jenifer segera pergi ke kamarnya.
***
Luna dan Rekay berada dalam satu selimut yang sama. Ponsel Rekay berdering, Rekay yang masih sibuk menggoda Luna tidak menghiraukan panggilan di ponselnya.
Rekay mendekat dan memeluk Luna, "sayang..., ponselmu.
"Biarkan saja," jawab Rekay.
Tangan Rekay mengusap punggung dan menjalar ke bahu Luna. Rekay mendekat ingin mencium Luna, Namun Luna menahan bibir Rekay dengan tangannya.
"Lihat dulu siapa, siapa yang tahu itu penting."
Luna tersenyum, "Paman nakal," gumam Luna yang lalu mencium bibir Rekay kilas.
Rekay tersenyum, mencium kening Luna. Rekay bangun dan duduk bersandar, dia menggapai ponselnya dan melihat layar ponselnya. Rekay kaget, melihat nama 'Jenifer' dilayar ponselnya.
"Jenifer...," gumam Rekay.
Luna kaget mendenagr gumaman Rekay, Luna menatap Rekay dan melihat Rekay mengernyitkan dahi.
"Siapa? Bibi Jahat itu?" Tanya Luna.
"Ya, ada angin apa langsung menghubungku. Biasanya dia hanya akan menghubungi Nicky," jawab Rekay.
Luna diam merasa ada yang tidak beres. Luna mengaitkan dengan kejadian Jafferson yang di tangkap polisi. Belum sampai Luna mengutarakam isi pikirannya, Jenifer kembali menghubungi Rekay.
***** ***** *****
Hallo semua..
Terima kasih sudah mau berkunjung dan membaca novel saya..
Jangan pernah bosan menunggu update selanjutanya ya..
Jangan lupa like,☆☆☆☆☆ dan isi kolom komentar..
Jangan lupa berikan vote juga ya..
Kunjungi juga di novel saya yang lain. Dengan judul,
•Lelaki Bayaran Amelia (Season 1&2 End)
•Pelukan Hangat Paman Tampan (End)
•Pangeran Es Jatuh Cinta (End)
(Season ke 2 dari Pelukan Hangat Paman Tampan)
•Pangeran Vampir (End)
•Pangeran Vampir 2 (SEASON 2) (End)
•Vampir "Sang Abadi" (End)
•Cinta Lama Yang Datang Kembali (End)
•Mommy And Daddy (CLYDK 2) (End)
•Darren & Karren (Perjalanan Cinta) CLYDK SEASON KE 3
•The Hit Man In Love
•Jatuh Cinta Pada Tetangga
•Suami Pengganti (End)
•Oh My Husband
•Menjadi Istri Simpanan
•Dendam Permaisuri Kepada Kaisar
Jangan lupa like, ☆☆☆☆☆ dan isi kolom komentar.. vote juga dong..
Terima kasih..
Untuk pembaca yang ingin join grup FB/WA silakan..
Untuk yang ingin follow ig saya juga silahkan..
ig: dea_anggie
Line id: dea_anggie
Fb: dea anggie
Grup FB: Lelaki Bayaran Amelia
❤❤❤❤❤
Bye bye..
Salam hangat,
"Dea Anggie"