Oh My Husband

Oh My Husband
Oh My Husband Ep-07



3 hari kemudian..


Jenifer menghubungi Louis, memastikan jawaban Louis dan Merry akan tawarannya.


(Perbincangan di telepon)


"Bagaimana keputusanmu tuan Zack?" Tanya Jenifer dengan nada suara datar.


"Mh, kami menerima penawaran anda nyonya. Memang sejak awal kami ingin mencarikan pendamping untuk Lana. Boleh kami bertemu dengan putra anda? Ah.. maksud saya, bisakah kita mengadakan pertemuan terlebih dahulu sebelum acara pernikahan?" Tanya Louis ragu-ragu.


"Maaf tuan Zack, putraku sangat pemalu. Karena dia tidak terbiasa dengan orang-orang asing." Jawab Jenifer.


"Ah.. begitu, baiklah jika anda mengatakan demikian. Saya akan sampaikan berita ini pada Lana nanti. Terima kasih nyonya." Ucap Louis.


"Kau pasti akan mendapatkan keuntungan tuan Zack. Aku akan mengirim dana suntikan untuk perusahaanmu." Jenifer sudah menyiapkan dana untuk diberikan pada Louis.


"Terima kasih nyonya," jawab Louis.


Jenifer memutus panggilan, merasa senang. Semua sudah di aturnya dengan baik dan rapih, dan cela sedikit pun.


-----


Louis memanggil Lana untuk bicara. Lana yang baru bangun dari tidur panjangnya, keluar dari kamar untuk menemui Louis.


"Ada apa pa?" Tanya Lana, Lana menguap masih setengah sadar.


"Duduklah, papa ingin bicara sesuatu padamu." Kata Louis, Louis duduk bersandar di sofa.


"Lana, duduklah sayang." Pinta Merry.


Dengan malas Lana duduk dihadapan Louis dan Merry. Rambut Lana masih acak-acakan, pakaian yang lusuh masih melekat di tubuh Lana.


"Ada apa papa, mama? Lana masih mengantuk." Lana merengek, merasa tidur nyenyaknya terganggu.


"Runahlah sikap mu yang seperti ini Lana. Sebagai seorang wanita dewasa tidak kah kau merasa malu? Jam berapa ini kau baru bangun? Selalu melewatkan sarapan, jarang masuk kerja. Apakah ini didikan papa dan mama?" Louis menekan kata-katanya.


Lana terkejut, menyipitkan mata. " papa, langsung pada inti permasalahan saja. Ada apa? Jangan membahas keseharianku." Jawab Lana seenak mulutnya.


"Lana, jaga sikapmu!" Merry menggunakan nada tinggi.


"Mama jangan membentak ku, biarkan papa bicara. Aku lelah papa terus mengomeliku." Lana memajukan bibirnya seakan mengejek.


"Anak ini, kau benar-benar membuat papa kesal Lana. Kau berteman dengan berandalan sampai akhirnya menjadi seorang berandal juga, hah?" Mata Louis menatap tajam.


"Aku bukan berandal!" Lana membantah perkataan Louis.


Louis menahan diri agar tidak marah. Louis menghela nafas panjang. "Siapkan dirimu baik-baik. Papa dan mama sudah sepakat akan menikahkanmu dengan seseorang. Jaga sikapmu yang seperti seorang berandal itu, jangan permalukan papa dan mama." Kata Louis yang langsung berdiri dan pergi begitu saja.


Lana kaget mendengar ucapan Louis. Lana menatap merry dan meminta Merry menjelaskan. "Ma, apa maksud papa? Siapa yang menikah, aku?" Lana menujuk diri sendiri.


"Lana, mama dan papa sudah lalukan yang terbaik. Inilah keputusan kami, kau tidak bisa menolak." Jawab Merry.


"Kenapa aku? Kenapa bukan Luna?" Jawab Lana.


"Karena keluarga pihak pria menginkanmu dari pada Luna. Mereka memilihmu, mereka sudah menentukan pilihan." Jawab Merry.


Lana tercengang, "siapa? Siapa calon suamiku?" Tanya Lana.


"Tuan muda keluarga Hawn." Jawab Merry.


"Keluarga Hawn?" Guman Lana.


"Aku tidak ingin menikahinya, aku hanya mencintai James. Aku harus menemui James di apartemennya." Ucap Lana dalam hati.


Lana berdiri dan berlari masuk dalam kamarnya. Lana segera mandi dan bersiap-siap. Lana berencana pergi menemui kekasihnya dan menceritakan semuanya pada kekasihnya.


-----


Lana sudah berada di apartemen James. Lana menceritakan semua pada James, Lana menangis, tidak ingin di nikahkan paksa oleh orang tuanya.


James memeluk Lana, "jangan menangis sayang. Aku tidak akan membiarkanmu menikahi pria lain selain aku. Kau hanya akan menikah denganku, dengan James March. Kau mengerti?" James menenangkan hati Lana.


Lana memeluk erat James, air matanta terus berlinang. Lana sungguh tidak ingin berpisah dari James. "Aku harus apa James? Aku tidak bisa melawan orang tuaku." Lana terisak.


"Tenanglah, aku akan pikirkan cara agar kau tetap bersamaku. Aku akan membawamu bersamaku Lana, aku mohon jangan menangis lagi. Oke?" Bujuk James, James menjadi panik. Ada rasa takut kehilangan yang timbul dalam hati James.


Lana melepas pelukan menatap James, "kau mencintaiku kan? Kau sungguh-sungguh mencintaiku kan James?" Lana bertanya pada James.


James menyeka air mata Lana, "apa yang kau tanyakan sayang? Tentu saja aku mencintaimu. Aku sangat, sangat, sangat mencintaimu." Pernyataan James membuat Lana sedikit tenang, Lana kembali memeluk James.


"Bantu aku James, bantu aku membatalkan pernikahan itu." Ucap Lana lirih seakan berbisik.


"Aku mengerti Lana, aku pasti akan membantumu. Berikan aku waktu berfikir, aku akan memikirkan cara agar kau tidak terlibat pernikahan paksa itu." James mulai geram, James mengusap-usap punggung Lana.


Dekat bersama James, Lana merasa nyaman. Lana juga merasa aman. Bagi Lana, James adalah segalanya. Begitu juga James yang hanya mencintai Lana seorang. James akan berjuang demi bersama dengan Lana selamanya.


Lana melepas pelukan, James mencium lembut kening Lana.


"Kau sudah makan?" Tanya James.


Lana menggeleng, "belum.. aku langsung kesini setelah mendengar apa yang dikatakan papa dan mamaku." Jawab Lana.


"Tunggu aku mandi dan bersiap, kita akan cari makan diluar." Jawab James.


Lana mengangguk, "oke.." Lana tersenyum cantik.


James berjalan masuk dalam kamar mandi, Lana duduk di tepi ranjang milik James. Lana masih memikirkan tentang pernikan itu, Lana menggeleng-gelengkan kepala perlahan.


"Tidak, tidak.. jangan pikirkan itu terus Lana. Pikirkan sesuatu, pikirakan bagaiman caramu menghindari pernikahan ini. Aku Lana, tidak akan pernah mau di paksa menikahi pria asing yang tidak aku kenal, keluarga Hawn? Bukankah itu keluarga yang miaterius itu? Untuk apa mereka tertarik denganku? Aneh sekali, ini pasti rencana mama dan papa yang sengaja meminta mereka memilihku sebagai calon pengantin!" Lana berguman sendiri, merasa kesal dan jengkel.


Lana menunggu James selesai mandi, James pun selesai, keluar dari kamar mandi. James berjalan mendekati lemari pakaian dan berganti pakaian. Lana tersenyum, dimatanya James adalah pria tampan dan yang paling keren.


Lana mendpatkan sebuah ide, "sayang.. aku ada ide." Ucap Lana senang.


"Ide apa? Katakan." James masih berganti pakaian.


"Aku akan membawamu pada mama dan papa, aku akan mengatakan pada mereka jika aku hanya akan menikah denganmu. Bukan dengan tuan muda misterius itu." Lana menjelaskan ide yang terlintas di kepalanya.


"Hmm, boleh juga. Bagaimana pun, keluargaku juga bukan keluarga biasa. Apapa dan mamamu pasti mau menerimaku. Dan.. siapa tuan muda misterius yang kau maksud sayang?" James mendekat, duduk di samping Lana.


"Kau mengenal kelaurga Hawn? Mama mengatakan aku akan menikahi tuan muda keluarga Hawn." Jawab Lana.


James mengernyitkan dahi nya mencoba mengingat, tiba-tiba teringat sesiatu. Dalam ingatan James, tuan muda keluarga Hawn adalah Jafferson. Jafferson adalah pria muda yang suka bermain wanita dan berfoya-foya. James pernah sekali bertemu, di sebuah pertemuan ulang tahun temannya. Jafferson memperkenalkan diri dengan menyebut nama keluarga Hawn.


Lana menatap James, menekan hidung James. "Hei, apa yang kau pikirkan, huh?" Lana penasaran dengan apa yang dipikirkan James.


James tersenyum, mencium hidung Lana. "Tidak ada, aku hanya memikirkan idemu sayang." James meraba wajah Lana.


James mencium bibir Lana, Lana tidak menolak, membalas ciuman James.


James kembali memikirkan, keluarga Hawn adalah keluarga kaya raya. Keluarganya memang tidak sebanding, namun James tidak rela jika Lana harus menikahi pria hidung belang seperti Jafferson. James tidak mengelak jika dirinya juga bukan pria baik, namun James tidak pernah berpaling dari Lana. James tidak pernah bermain wanita, menyentuh wanita lain selain Lana.


Ciuman berakhir, James mengecup kembali kening Lana. Dan mengajak Lana pergi untuk mencari makanan. Lana mengiyakan, melupakan sejenak masalah penikahan paksanya. Lana ingin menghabiskan waktu bersama James, Lana ingin pikirannya hanya dipenuhi oleh James, bukan dipenuhi hal-hal yang membuat hatinya kesal.


Thank you..


Bye-bye..


------------