
Luna dan Rekay berbaring bersama diatas tempat tidur. Rekay memeluk Luna, Rekay menceritakan alasan mengapa Papanya datang pada Luna. Luna kaget, tidak menyangka jika Jafferson akan melakukan hal gila seperti itu.
"Menyebalkan sekali. Aku kesal pada Jeff," sahut Luna menggerutu.
"Aku tidak ingin menutupi apa-apa lagi padamu. Kau Istriku, Luna. Meski aku bercerita seperti ini, berpura-puralah untuk tetap tidak tahu apa pun. Oke?" Rekay ingin Luna bersikap biasa saja.
Luna mengangguk, "aku mengerti maksudmu. Aku akan berpura-pura tidak tahu."
"Istri terbaik," Rekay mengecup kening Luna dengan lembut, "terima kasih, sayang."
"Tidak perlu berterima kasih. Aku akan selalu mendengar keluh kesahmu, Kay."
Luna meregangkan pelukan, "katakan padaku, kau akan menolong Papa kan?" Tanya Luna penasaran.
"Tentu saja," jawab Rekay.
"Ah, aku lega mendengarnya. Walau bagaimana pun kau adalah Putra tunggalnya. Jangan mengabaikan Papa, oke?" Luna tersenyum cantik, senyum cantik Luna membuat Rekay terpesona.
"Cantik sekali," Rekay memuji Luna.
"Hm, jangan bicara omong kosong. Tutuplah matamu dan kita tidur."
Rekay mendekap Luna. Tangan kekarnya melingakar di pinggang Luna.
"Aku tidak bicara omong kosong, kau memang cantik, Luna."
"Lalu?" Tanya Luna.
"Lalu...," Rekay mengecup kilas bibir Luna, "lalu apa? Aku ingin kau hanya selalu memandangku."
Luna tertawa, "baiklah Tuan Hawn. Mari kita buat kesepakatan mari kita hanya mandang satu sama lain. Yang berarti aku hanya memandangmu, dan kau hanya memandangku. Setuju?" Ucap Luna berpendapat.
"Setuju," jawab Rekay tanpa ragu.
Rekay mencium kening Luna lembut, Rekay mencium hidung, dan bibir Luna.
"Kau harus bisa menjaga dirimu saat kau jauh dariku, Luna. Aku sudah memberikanmu kebebasan, jangan sampai kau membuatku kecewa."
"Aku tidak akan mengecewakanmu, suamiku. Percayalah padaku," jawab Luna dengan penuh keyakinan.
Luna kembali masuk dalam dekapan Rekay. Luna memendamkan wajahnya ke dada bidang Rekay. Rekay mengusap lembut kepala dan punggung Luna. Luna memejamkan mata dan terlelap tidur dalam dekapan Rekay. Begitu juga Rekay yang menutup matanya perlahan, masuk dalam mimpi yang indah.
-----
Di rumah, Jafferson menegak minuman dalam botol yang di pegangnya. Jafferson berdiri memandangi foto Luna yang terpampang jelas di hadapannya.
"Luna, Luna, aku akan mendapatkabmu cepat atau lambat. Aku tidak peduli meski nantinya aku harus membunuh Rekay. Demi mendapatkanmu, apa pun akan aku lakukan."
Tok....
Tok....
Tok....
Suara pintu kamar Jafferson yang diketuk. Pintu terbuka, Jenifer masuk dan berjalan melangkah mendekati Jafferson.
Plakkkk....
Sebuah tamparan keras mendarat di wajah Jafferson. Mmebuat Jafferson seketika itu tersadar dari angannya.
"Mama!" Ucap Jafferson terkejut.
"Apa? Apa kau bodoh? Dimana ot*k mu. Kau membuat Mama dalam kesulitan. Kau bagaimana bisa mengacaukan semuanya? Jeff, jangan hanya bermain-main. Seriuslah!" Jenifer marah besar.
"Mama datang dan langsung menamparku. Apa ini Ma?" Tanya Jafferson kesal.
"Masih bertanya apa? Kau..., kau bagaimana bisa menelan uang perusahaan hah? Kau tidak becus, kau ingin Mama hidup menderita? Dengar Jeff, jika sampai kita kembali miskin seperti dulu, jangan harap Mama mengakuimu sebagai Anak."
"Mama mengancamku, Mama menamparku hanya karena masalah kecil itu?" Jawab Jafferson dengan nada tinggi karena marah.
"Masalah kecil? Jika perusahan Hawn hancur, kita akan kembali miskin! Kau ingin tidak bisa makan dan menjadi pengemis? Huh! Jangan harap masa lalu terulang kembali. Mama sudah cukup menderita hidup bersama Papamu, Jeff. Kali ini Mama ingin kita bahagia. Mama berjuang demi mendapatkan posisi Nyonya Hawn dengan susah payah. Jangan kau hancurkan usaha Mamamu ini, Nak. Apa kau mengerti?" Ucap Jenifer.
Jenifer mengusap wajah Jafferson yang ditamparnya. Jenifer menitihkan air matanya menatap Jafferson.
"Mama kenapa menangis?" Tanya Jafferson panik melihat Jenifer menangis.
Jenifer menyeka air matanya sendiri, "tidak apa sayang, Mama hanya sedih jika harus mengingat kejadian yang dulu. Mama jauh lebih baik hidup bersama Calvin dari pada hidup bersama Papamu. Kau tau kan, Papamu menelantarkan kita dulu. Pergi bersama wanita selingkuhannya. Mama harus bekerja siang malam untukmu. Mama ingin kau tidak kekurangan."
"Mama, maafkan Jeff. Jangan menangis lagi, Ma...," Jafferson memeluk Jenifer.
Jenifer menepuk punggung Jafferson, "Mama sangat sayang padamu Jeff. Siapa yang ingin menjadi orang jahat? Tidak ada! Mama seperti ini karena untuk memeprtahankan posisi mama dan hidup kita. Mama tidak ingin terjerumus dalam kehidupan kelam di masa lalu."
"Jeff mengerti Ma. Maafkan Jeff, Jeff tidak akan mengecewakan Mama lagi. Jeff berjanji," jawab Jeff.
Jenifer melepas pelukan, mencium kening Jeff. Jenifer membelai rambut Jeff.
"Kau ada masalah? Kenapa foto Luna seperti itu?" Tanya Jenifer.
"Ya, Ma. Aku bertemu Luna dan Rekay. Aku kesal, kenapa Luna masih tahan dengan Kay yang cacat itu. Aku lebih sempurna dibandingkan dengannya!" Jafferson mengeluh.
"Kau sungguh-sungguh menaruh hati pada Luna, Jeff?" Tanya Jenifer lagi.
Jeff mengangguk, "ya, Ma. Tidak akan ada wanita yang aku inginkan selain dia. Aku ingin Luna."
"Tahanlah dulu keinginanmu, Putraku. Mama akan cari cara untuk ini. Kita perlu persiapan yang matang. Jangan bertindak gegabah, percayalah kepada Mama. Oke?" Kata Jenifer ingin agar Jafferson percaya padanya.
"Iya Ma. Jeff mengerti."
"Bagus, Mama akan pergi. Kau jangan minum lagi."
Jenifer pergi meninggalkan kamar Jafferson. Jafferson kembali menatap foto Luna. Meraba foto Luna di hadapannya.
"Luna, kau hanya boleh menjadi milikku seorang."
--
Jerman.
Lana dan James bertengkar hebat. Lana kesal karena James memberinya sedikit uang. Lana merasa tidak puas.
"Apa lagi yang kau inginkan, Lana?" Tanya James
"Aku ingin beli perhiasan dan pakaian baru!" Jawab Lana.
"Lana, dengarkan aku. Mobilmu masih baru, belum ada 1 bulan. Aku juga sudah membelikan jam tangan yang kau inginkan. Semuanya sudah aku berikan! Aku bukan pria yang punya kelebihan uang, Lana. Mengertilah! Kau bisa tahan keinginanmu sampai beberapa bulan kedepan."
"Tidak mau, aku ingin sekarang!" Bantah Lana.
"Apa? Kau...," James tidak bisa bicara lagi.
"Jika tidak, aku akan pergi mencari pria kaya lain yang mampu memenuhi keinginanku." Jawab Lana. Lana pergi meninggalkan James keluar dari kamar mereka.
"Lana...."
"Lana..., dengarkan aku dulu," James mengikuti Lana keluar kamar.
James menahan lengan Lana, "jangan tinggalakan aku, aku sangat mencintaimu."
Lana menatap James, "jika kau mencintaiku, beri aku uang. Jangan hanya bisa bicara soal cinta padaku."
James menghela napas panjang, "baik. Aku akan berikan, ini yang terakhir. Kau harus menahan keinginnamu sampai akhir tahun nanti, oke?" James berbicara dengan nada suara lembut.
Lana tersenyum, "terima kasih sayang. Aku berjanji ini yang terakhir."
Lana memeluk James, Lana senang James bersedia memberinya uang. Lana tidak bisa menghilangkan kebiasaan buruknya. Lana selalu menggilai uang. Dulu disaat dirinya masih belum bersama James, Lana akan mencari uang di club malam. Ntah sudah berapa pria yang dikencani Lana demi uang. Lana meminta pada Louis dan Merry, namun mereka tidak memberi karena Lana selalu meminta lebih. Terkadang Lana meminta pada Luna. Dan Luna hanya memberi seadanya.
Lana terus kekurangan uang. Lana sering meggunakan kecantikannya sebagai jerat untuk menjaring mangsanya. Jika ada pria yang mendekat Lana selalu memasang tarif, entah hanya sekedar menemani minum, meraba, memeluk atau menciumnya. Lana tidak pernah lebih dari itu selain dengan James.
James yang sangat menggilai Lana memberikan semua keinginan Lana. James tidak ingin melihat Lana dekat pria lain. Oleh karena itu saat ada kesempatan pergi, James langsung menikahi Lana sebagai istrinya.
James tidak pernah menolak keinginna Lana. Baginya Lana adalah segalanya. James rela memberikan apa saja, asalkan Lana tidak pergi meninggalkannya.
--
"Tidak..., jangan lakukan itu."
"Tidak..."
Luna terjaga dan membangunkan Rekay. Luna tau Rekay sedang bermimpi buruk.
"Kay, bangun. Kay...," Luna menggoyang bahu Rekay.
Rekay kaget, langsung membuka lebar matanya. Rekay bangun dan duduk bersandar, napasnya tersengal. Luna mengambil air minum lalu memberikan pada Rekay.
"Minum dulu, jangan bicara."
Rekay menatap Luna, menuruti perkataan Luna. Rekay meneguk habis air dalam gelas. Rekay memberikan kembali gelas pada Luna. Luna meletakan kembalu gelas pada tempatnya, lalu menatap Rekay. Rekay memejamkan matanya perlahan, tidak lama membuka matanya kembali. Rekay mengatur napasnya dan menyentuh perutnya.
"Ada apa? Perutmu sakit?"
Rekay mengangguk, "ya, sakit...," jawab Rekay melemah.
Luna mendekat membuka semua kancing piama Rekay. Luna ingin melihat apa yang terjadi pada Rekay. Piama Rekay telah terbuka, Rekay menyentuh bekas luka di sisi perut kanannya. Luna perlahan meraba bekas luka Rekay.
"Apa yang terjadi? apa bekas luka ini sakit?" Tanya Luna.
"Aku bermimpi buruk. Mimpi saat aku mendapatkan luka ini. Ini terasa sakit," ucap Rekay.
Luna mengusap luka Rekay dengan lembut, "atur napasmu. Ceritakan padaku, bagaimana bisa kau dapatkan luka ini. Ceritakan dengan detail apa yang kau ingat saat itu. Aku akan dengarkan semuanya."
Luna menatap Rekay dengan penuh kasih. Luna tersenyum manis pada Rekay. Rekay membalas senyuman Luna, merangkul Luna dalam dekapannya. Kepala Luna menempel di dada bidang Rekay. Rekay mulai menceritakan kejadian di masa lalu itu.
(Kilas balik)
Calvin meminta Rekay ke perusahaan. Rekay diantar oleh Nicky pergi ke perusahaan. Calvin dan Jafferson sudah menunggu Rekay di ruangan Calvin.
Mereka membahas beberapa hal berhubungan dengan kerja sama dengan perusahaan dari luar negeri. Pertemuan itu kurang lebih berjalan hampir 1 jam lamanya. Saat Rekay ingin kembali pulang, Jafferson menghadang jalan Rekay.
"Kay, tunggu. Ada hal yang ingin aku sampaikan."
"Ada apa Jeff?" Tanya Rekay menatap tajam pada Jafferson.
"Hm, kau ada waktu? Aku ada pertemuan makan malam bersama Tuan Richard. Itu klien penting kita, Papa ingin aku belajar darimu. Tolong aku," kata Jafferson.
"Baiklah, kau kirim pesan padaku tempat dan waktunya."
"Oke, terima kasih saudarku. Kay," jawab Jafferson menekankan kata-kata 'saudarku'.
Rekay tidak menghiraukan Jafferson dan pergi meninggalkan perusahaab Hawn. Jafferson terlihat senang, kembali ke ruangannya.
Diruangannya, Jafferson menghubungi Jenifer.
(Percakapan di telepon)
"Hallo," jawab Jenifer.
"Hallo, Ma. Aku berhasil membuat Kay mengikuti rencana kita. Untunglah Tuan Richard memberikan waktunya. Sepertinya kita akan beruntung."
"Bagus, Mama akan siapkan semuanya. Mama akan membuat asistennya menjauh darinya lebih dulu. Ingat, jangan sampai Papamu tau kau ingin mencelakai Rekay."
"Tidak ma, aku sudha bicarakan mengenai makan malam dengan tuan Richard ini tadi. Papa mendukungku, Aku memuji-muji kemampuan Rekay. Aku mengatakan ingin belajar lebih dari Rekay. Aku meminta izin mengajak Rekay dan disetujui oleh Papa."
"Kapan waktunya?" Tanya Jenifer.
"2 hari lagi."
"Hm, rencana kita kali ini jangan sampai gagal, Jeff."
"Aku mengerti Ma."
"Mama sibuk, Mama akan memutus panggilanmu."
Jenifer pun mengakhiri panggilannya. Jafferson tersenyum puas, keinginanya menyingkirkan Rekay sudah di depan mata.
---------- ----------
Hallo semua..
Terimakasih sudah mau berkunjung dan membaca novel saya..
Jangan pernah bosan menunggu update selanjutanya ya..
Jangan lupa like,☆☆☆☆☆ dan isi kolom komentar..
Jangan lupa berikan vote juga ya..
Kunjungi juga di novel saya yang lain. Dengan judul,
•Lelaki Bayaran Amelia (Season 1&2 End)
•Pelukan Hangat Paman Tampan (End)
•Pangeran Es Jatuh Cinta (End)
(Season ke 2 dari Pelukan Hangat Paman Tampan)
•Pangeran Vampir (End)
•Pangeran Vampir 2 (SEASON 2) (End)
•Vampir "Sang Abadi" (End)
•Cinta Lama Yang Datang Kembali (End)
•Mommy And Daddy (CLYDK 2) (End)
•Darren & Karren (Perjalanan Cinta) CLYDK SEASON KE 3
•The Hit Man In Love
•Jatuh Cinta Pada Tetangga
•Suami Pengganti
•Menjadi Istri Simpanan
•Dendam Permaisuri Kepada Kaisar
Jangan lupa like, ☆☆☆☆☆ dan isi kolom komentar.. vote juga dong..
Terimakasih..
Untuk pembaca yang ingin join grup FB/WA silahkan..
Untuk yang ingin follow ig saya juga silahkan..
ig: dea_anggie
Line id: dea_anggie
Fb: dea anggie
Grup FB: Lelaki Bayaran Amelia
❤❤❤❤❤
Bye bye..
Salam hangat,
"Dea Anggie"