
James panik, tidak tahu harus apa. James membuka pintu mobil dan melihat keadaan wanita yang menangis di depannya. James mencoba menenangkan wanita itu.
"Nona, maafkan aku jika uacapanku salah. Aku mohon jangan menangis. Bicaralah padaku, agar aku tahu apa masalahmu."
Wanita itu meyeka air matanya, wanita itu terisak. Dia menatap James, James melihat wanita dihadapannya begitu sedih. Seperti memendam sesuatu yang sangat sulit untuk di utarakan.
"Kau bisa mengemudi?" Tanya James.
Wanita itu menggeleng, " aku tak bisa mengemudi. Kau lihat ini...," dia menjulurkan tangan dan terlihat tangannya gemetar.
James menghela napas, "pindahlah ke mobilku. Aku akan minta supir pengganti membawa mobilmu."
Wanita itu mengangguk, menurut apa kata James. James perlahan membantu wanita itu keluar dari dalam mobil dan berpindah masuk dalam mobilnya. Jemes mengambil ponsel di mobilnya, menghubungi nomor supir pengganti yang biasa dia panggil untuk menggantikannya mengemudi saat perjalanan dinas keluar kota. Supir pengganti mengiyakan, kebetulan sekali posisinya tidak jauh dari lokasi James berada saat ini. Supir itu mengatakan jika tidak lama dia akan segera datang. James mengiyakan dan mengakhiri panggilan.
"Pas sekali, supir panggilan yang biasa aku panggil ada di sekitar sini. Sekarang kau ingin kemana? Dimana rumahmu, Nona?" Tanya James.
Wanita itu menggeleng, "aku tidak tahu ingin kemana, aku tidak ingin pulang ke rumah."
James bingung, James menggaruk kepalanya yang tidak gatal. James menatap wanita di sampingnya.
"Maaf Nona. Jika kau tidak tau tujuanmu, aku harus antar kau kemana?" Tanya James.
"Kemana saja," jawab wanita itu lemas.
"Kemana saja?" Ulang James, James bingung.
Tidak lama supir panggilan datang. James menurunkan kaca mobilnya dan mengeluarkan kepalanya sebagian.
"Leo, kau bawa mobil itu mengikutiku."
"Baik Tuan," jawab supir itu.
Leo si supir langsung masuk dalam mobil. James menaikan kembali kaca mobilnya dan mengemudikan mobilnya. Leo si supir mengikuti James.
"Begini, aku harus segera pulang karena aku harus memeriksa sebuah laporan penting. Setelah itu aku akan mengantarmu kembali ke rumahmu, oke?" Tawar James.
Wanita itu menganggukkan kepalanya pelan, tidak mengeluarkan kata apa-apa. James merasa bingung, bagaimana bisa bertemu wanita aneh seperti wanita yang ada di sampingnya saat ini.
Setelah menempuh sekitar 1 jam perjalanan, akhirnya James sampai di rumahnya. Mobil James masuk ke halaman dan berhenti, James turun dari dalam mobil. James melihat Leo si supir panggilan memarkirkan mobil dan keluar dari dalam mobil dengan membawa sebuah tas. Leo berjalan menghampiri James.
"Anda pindah?" Tanya Leo.
"Ya, aku baru pindah kesini. Terima kasih. Ini upahmu," James memberikan sejumlah uang untuk diberikan kepada Leo.
Leo menerima, "terima kasih Tuan. Ini barang yang ada di dalam mobil, saya mendengar ponsel terus berdering."
James menerima tas dan kunci mobil wanita asing itu. Setelah menerima bayarannya Leo pun pergi. James berjalan ke sisi lain mobilnya. James membuka pintu mobil perlahan, wanita asing itu tertidur.
James menepuk bahu wanita itu berusaha membangunkan. Wanita itu tidak bergerak, James meghela napas panjang. James pun membopong wanita itu keluar dari dalam mobilnya. Dan menutup pintu mobilnya dengan kakinya. James melangkah masuk dalam rumahnya. James menekan sandi pintu utama rumahnya dan membuka gagang pintu dengan sikunya. Pintu rumahnya terbuka, James masuk, membawa wanita yang dibopongnya masuk dalam kamar tamu.
James membaringkan wanita itu ketempat tidur dan menyelimuti wanita itu. James meletakan tas wanita itu di sampingnya. James keluar dari kamar itu. Dia berlari kecil menghampiri mobilnya, mengeluarkan tas kerja dan beberapa berkas dokumen dari dal mobil.
James kembali masuk dalam rumah dan langsung keruang kerja. James segera memeriksa sebuah berkas dokumen. Dengan cermat James memeriksa berkas laporan ditangannya.
--
Jenifer memikirkan sesutu, pikirannya melayang-layang entah kemana. Malam itu Jenifer tidak bisa tidur. Jenifer terus menerus mengubah posisi tidurnya, matanya terus terbuka.
Pada akhirnya Jenifer bangun dan duduk. Jenifer mengambil ponselnya dan menghubungi Kakaknya. Panggilannya tersambung, dan tidak disangka-sangka di terima oleh suami kakaknya.
(Percakapan di telepon)
"Hallo," suara serak seorang pria.
Jenifer meleberkan mata, berniat mengakhiri panggilan. Saat jarinya ingin menekan layar ponsel, suara dari seberang telepon menegur Jenifer.
"Jangan matikan panggilanmu. Kau tidak ingin bicara denganku, Jeni?" Tanyanya.
Jenifer terdiam sesaat, "dimana Kakakku?" Tanya Jenifer dingin.
"Sudah tidur, ada hal apa?"
"Tidak ada, katakan pada Kakakku, besok aku akan temui Mama."
"Baiklah, aku akan sampaikan padanya nanti. Kau baik? Kapan kau datang?"
"Mario..., ah maaf, maksudku Kakak Ipar. Tolong jangan terlalu akrab denganku."
"Kenapa? Kita dulu begitu dekat, meski aku tidak memiliki rasa padamu. Aku akan menganggapmu sebagai adikku sendiri. Aku memang tidak bisa menyayangi dan mencintaimu sebagai pasangan, tetapi aku bisa mengasihimu sebagai Kakak, Jeni. Jika ada apa-apa bicaralah! Jangan pergi begitu saja. Kita bisa selesaikan semuanya baik-baik."
"Lupakan, semua sudah terjadi. Apa yang sudah berlalu, tidak bisa terulang kembali."
"Andai kau tidak pergi saat itu, aku pasti akan menikahimu. Meski aky tidak mencintaimu, kau tau orangtuaku menuntut ku mempunyai anak. Sedangkan Kakakmu tidak bisa mengandung."
"Apa? Maksdumu? Bukankah kalian punya Thomas dan Thalia?" Tanya Jenifer.
"Mereka bukan Anak kandung kami. Mereka adalah Kakak beradik yang kami adopsi dari panti asuhan."
"Apa?" Bagai tersambar pertir, pernyataan Mario mengejutkan Jenifer.
Jenifer terdiam, mencerna semua pernyataan Mario. Jenifer tidak menyangka jika akhirnya ajan seperti ini.
"Kau terlalu terburu-buru mengambil keputusan. Kau memilih pergi dengab Robberto."
"Cukup!" Sentak Jenifer.
"Kenapa? Apa kau merasa menyesal sekarang?" Tanya Mario.
"Semua sudha berlalu. Tidak ada yang perlu disesali. Meski kau menceritakan semuanya, tidak akan berpengaruh padaku. Sudah larut malam, sebaiknya kau tidur. Jangan lupa sampaikan pesanku pada Kakakku."
"Aku mengerti, selamat tidur Jeni."
Jenifer segera mengakhiri panggilannya. Jenifer tidak menyangka jika Thomas dan Thalia bukanlah Anak kandung Kakaknya dan Kakak Iparnya. Jenifer mengambil napas dalam lalu menghembusakan perlahan. Jenifer menutup matanya kilas, merasa sedih, kesal, kecewa dan menyesal.
Jika pada akhirnya seperti ini, mungkin lebih baik dia tidak gegabah pergi bersama mantan suami brengs*knya. Dan menjadi orang jahat, menyingkirkan Nyonya Boss nya sendiri. Jenifer mengatur napasnya perlahan, mengepalkan dua tangannya dipangkuannya.
"Tidak, tidak ada kata penyesalan. Aku sudah melangkah sejauh ini. Bagaimana pun aku tidak akan berhenti di tengah jalan. Tidak ada penyesalan, tidak ada! Tidak ada, Jeni! Lupakan semua dan ayo kembali fokus pada rencana."
Jenifer berguman sendiri, mencoba untuk menguatkan keyakinannya. Jenifer kembali berbaring. Jenifer berusaha untuk tidak memikirkan hal-hal dimasa lalu itu. Baginya saat ini adalah rencana masa depannya.
Jenifer menutup matanya perlahan, Jenifer ingin terlelap tidur dan melupakan semuanya.
--
Keesokan harinya....
Catharina terjaga dari tidurnya. Catharina kaget, melihat sekeliling ruang sebuah kamar.
"Dimana aku?" Ucap Catharina bangun. Catharina mengatur napas dan mencoba mengingat kejadian semalam.
Tok....
Tok....
Tok....
"Nona, kau sudah bangun? Bangunlah dan basuh mukamu. Aku sudah buatkan sarapan untukmu."
Pintu kamar terbuka, Catharina melihat sekitar. Catharina kagum, rumah yang dilihatnya begitu rapi dan bersih.
"Nona, kemarilah."
Suara James dari jauh mengalihkan perhatian Catharina. Catharina tidak menjawab, berjalan perlahan menghampiri James yang sudah duduk dan menikmati sarapan.
Catharina menarik kursi dan duduk, masih melihat sekeliling. Catharina menatap James.
"Kau siapa?" Tanya Catharina.
"Aku James, kau?" Tanya balik James.
"Aku Catharina."
"Oh. Makanlah Cat, aku tidak tau kau makan apa jika sarapan. Aku hanya bisa membuat ini untuk sarapan karena bahan makanan belum aku beli."
Catharina melihat meja makan, Catharina tersenyum cantik. Dia kagum, seorang pria bisa mandiri memasak makanan sendiri. Dibandingkan Thomas yang malas dan menyebalkan, James lebih baik.
Catharian memakan roti isi buatan James. Catharina menggigit dan menguyahnya perlahan.
"Kau sendiri, James? Tidak ada kekasih atau istrimu?" Tany Catharina.
James terdiam sesaat, "aku baru bercerai dengan istriku."
"Oh, maaf. Aku tidak tahu itu."
"Tidak apa. Kau sendiri bagaimana? Apa yang terjadi padamu semalam? Apa kau tidak tahu jika itu berbahaya?" Tanya James.
"Bagaimana lagi, aku kesal. Aku jengkel dan marah. Suamiku berselingkuh tidak hanya dengan 1 wanita. Bahkan setelah aku mengusir wanitanya yang lain, dia masih saja bermain dengan yang satu lagi. Susah payah aku bekerja, dia menghabisakan uangku untuk wanita lain. Aku tidak tahan dan akhirnya pergi semalam. Saat di jalan aku tiba-tiba saja hilang fokus dan aku putuskan untuk menghentikan mobilku."
"Lalu, dimana suamimu dan selingkuhannya?" Tanya James.
"Aku mengunci mereka di dalam kamar."
"Apa?" James terkejut.
"Karena kesal aku mengunci mereka di saat mereka bersenang-senang. Itu adalah hukuman kecil, setelah ini akan ada hukuman besar."
James kaget, Catharina sampai bertindak demikian. James melanjutkan makannya, begitu juga Catharina.
"Apa rencanamu?" Tanya James.
"Aku ingin bercerai. Kau punya seseorang yang bisa menangani ini? Waktu luangku tidak banyak, aku hanya senggang 1 bulan ini. Bulan depan aku harus ke luar negeri untuk syuting film."
"Kau artis?" Tanya James.
Catharina mengangguk, "ya."
"Jika kau sudah putuskan seperti itu, aku tidak akan bicara apa-apa lagi. Memang tidak mudah memutuskan hubungan, terlebih jika kita sudah saling lama mengenal. Terlebih kita sangat mencintai pasangan kita. Tetapi lebih baik melepas. Aku akan kenalakan kau pada temanku nanti, dia punya Kakak seorang pengacara. Perceraianku juga di urus olehnya."
"Wah, kau baik sekali James. Terima kasih banyak. Aku akan membalas kebaikanmu ini di masa depan."
"Tidak perlu, anggap saja ini bantuan dari teman. Nasib kita sama, aku pun di selingkuhi istriku kala itu. Jadi kita merasakan sakit yang sama. Kita adalah teman seperjuangan, bukan?" Jawab James.
Catharina tersenyum, dikala hatinya sakit James masih bisa tersenyum dan menghiburnya. James juga berusaha untuk memberi semangat dan mendukung Catharina, karena dirinya tau rasa dari sebuah pengkhianatan.
----- ----- ----- ----- -----
Hallo semua..
Terimakasih sudah mau berkunjung dan membaca novel saya..
Jangan pernah bosan menunggu update selanjutanya ya..
Jangan lupa like,☆☆☆☆☆ dan isi kolom komentar..
Jangan lupa berikan vote juga ya..
Kunjungi juga di novel saya yang lain. Dengan judul,
•Lelaki Bayaran Amelia (Season 1&2 End)
•Pelukan Hangat Paman Tampan (End)
•Pangeran Es Jatuh Cinta (End)
(Season ke 2 dari Pelukan Hangat Paman Tampan)
•Pangeran Vampir (End)
•Pangeran Vampir 2 (SEASON 2) (End)
•Vampir "Sang Abadi" (End)
•Cinta Lama Yang Datang Kembali (End)
•Mommy And Daddy (CLYDK 2) (End)
•Darren & Karren (Perjalanan Cinta) CLYDK SEASON KE 3
•The Hit Man In Love
•Jatuh Cinta Pada Tetangga
•Suami Pengganti
•Menjadi Istri Simpanan
•Dendam Permaisuri Kepada Kaisar
Jangan lupa like, ☆☆☆☆☆ dan isi kolom komentar.. vote juga dong..
Terimakasih..
Untuk pembaca yang ingin join grup FB/WA silahkan..
Untuk yang ingin follow ig saya juga silahkan..
ig: dea_anggie
Line id: dea_anggie
Fb: dea anggie
Grup FB: Lelaki Bayaran Amelia
❤❤❤❤❤
Bye bye..
Salam hangat,
"Dea Anggie"