
Pagi harinya, Daniel bangun dan turun ke bawah. Daniel melihat Lana belum bangun padahal jam sudah menunjukan pukul 06.00 pagi waktu setempat.
"Wanita ini, pemalas sekali."
Deniel langsung menggetuk pintu kamar Lana. Daniel merasa kesal, Lana tak kunjung keluar dari kamar.
"Lana, cepat keluar! Lana...," teriak Daniel.
Didalam kamar, Lana masih tertidur. Lana kaget dan terjaga saat mendengar Daniel berteriak. Lana ingat jika dia sekarang hanya menumpang di rumah Daniel.
"Ah, aku bangun kesiangan. Apa dia akan marah?" Gumam Lana.
Tok....
Tok....
Tok....
"Lana cepat bangun, jangan jadi pemalas!" Teriak Daniel lagi.
Lana bergegas turun dari tempat tidur dan langsung berlari menghampiri pintu kamarnya. Lana membuka pintu kamar, kaget melihat Daniel dengan wajah menyeramkan sudah berdiri di depan pintu kamarnya.
"Kau tau, jam berapa ini?" Tanya Daniel.
Lana menggeleng, "tidak. Jam berapa sekarang?" Tanya Lana menatap Daniel.
Daniel menunjuk jam dinding yang tergantung di dinding ruang tengah. Daniel menatap Lana tajam, seakan ingin membasmi Lana.
"Kau lihat jam berapa?" Tanya Daniel lagi.
Lana mengangguk, "ya, aku lihat. Sekarang pukul 06.05" jawab Lana.
"Lalu?" Tanya Daniel kesal.
"Lalu?" Ulang Lana.
Daniel melebarkan mata, "kau sangat bod*h Lana. Aku sudah katakan, aku tidak menampungmu dengan cuma-cuma. Kau harus bekerja, kerja, kerja! Ahhh, aku bisa gila jika kau tinggal disini. Bagaimana bisa kau hanya diam, jika pagi kau harus bekerja menyiapkan sarapan dan mulai membersihkan rumah. Siang hari kau bs istirahat, saat jam makan siang. Sore hari mulai bekerja lagi. Catat ini baik-baik," tegas Daniel pada Lana.
"Maaf, aku belum terbiasa. Aku masih perlu belajar."
"Itu karena kau malas dan tidak ada niatan. Aku tidak peduli apa alasanmu, sekarang cepat bersih-bersih. Jika kau tidak mau maka pergilah," tegas Daniel.
"Tidak, aku tidak mau pergi. Iya, aku akan bekerja. Aku akan berkerja, Tuan. Jangan mengusirku," pinta Lana memohon.
"Di mulai dari mengelap meja" perintah Daniel.
"Iya, Tuan."
Lana bergegas keluar dari kamar dan menuju dapur. Lanamembawa kain lap untuk membersihkan meja. Lana mulai bekerja, bukannya bekerja dengan baik. Lana justru membuat kesal Daniel, dia membersihkan meja dengan asal.
"Kau sungguh tak bisa bekerja Lana? Ini hal yang mudah, paling mudah. Bahkan anak-anak pun bisa lakukan."
"Apa caraku salah? Aku tidak pernah bekerja seperti ini."
Daniel merebut paksa lap yang dipegang Lana, Daniel mentap Lana tajam
"Perhatikan, baik-baik apa yang aku contohkan. Aku hanya akan melakukannya sekali, jadi ingat setiap gerakan yang aku lakukan. Kau paham? Jika kau seperti ini, jadi asisten rumah tangga pun kau tidak di terima."
"Iya, aku akan perhatikan. Jangan terus mengomel dan memarahiku," protes Lana.
"Wah, kau kesal aku marah? Kau ingin pergi? Silakan saja, aku akan bukakan pintu untukmu sekarang juga. Aku tidak keberatan," ucap Daniel dengan suara dingin.
Lana kaget, "aku bergurau. Jangan terlalu serius Tuan. Maafkan aku," jawab Lana menundukan kepala berulang-ulang.
"Ahh, menyebalkan sekali pria ini. Dia terus mengancam ingin mengusirku. Aku sungguh kesal," batin Lana menggerutu.
"Siapa kau memprotes ucapanku. Aku membantumu saja sudah keberuntungan. Jujur saja, jika bukan karena Luna aku tidak akan mau membantumu. Wajahmu yang sama membuatku ingat akan Luna, namun sikap dan ucapanmu sangat bertolak belakang dengan Luna. Jika kau masih merasa kesal aku memerintahku, mengomel dan memarahimu. Pergilah, pintu rumahku terbuka lebar."
"Maafkan aku, jangan usir aku. Aku mohon," jawab Lana memohon pada Daniel.
"Ini peringatan terakhir, aku tidak bermain-main dengan ucapanku. Jika kau bersikap baik, aku bisa bersikap lebih baik. Jika kau bersikap buruk, aku bisa lakukan hal lebih buruk darimu. Aku bahkan bisa membuatmu lumpuh dan tidak bisa bicara seumur hidupmu! Obat bisa mnejadi racun, racun bisa menjadi penawar. Jangan pernah lupa ucapanku ini," gertak Daniel. Daniel bicara dengan nada suara dingin, seketika membuat Lana membeku.
Lana diam terpaku, tubuhnya sekaan membeku. Lana merasa takut, ucapan Daniel sungguh membuatnya membayangkan hal-hal mengerikan. Lana tidak mau semua yang di bayangkan terjadi padanya.
"Huh, di gertak begitu saja sudah ketakutan. Wanita ini benar-benar b*doh!" Batin Daniel mengejek Lana.
Daniel memberi contoh pada Lana, setelah selesai Lana mencoba dan berhasil melakukan dengan baik meski dengan tangan gemetar mengelap meja. Lana begitu takut saat Daniel melihatnya. Tatapan mata Daniel sangat mengerikan, seperti bom waktu yang bisa meledak dan membunuhnya kapan saja.
***
Rekay bangun lebih awal, dia menyiapkan sarapan untuk Luna. Rekay membawa sarapan ke kamar. Dikamar, Rekay melihat Luna masih tertidur lelap.
Rekay duduk di tepi tempat tidur, di samping Luna. Rekay mengusap kepala dan membelai lembut wajah Luna. Rekay mengecup kening hidung dan bibur Luna dengan lembut.
Luna terjaga, saat bibir Rekay mencium bibirnya. Tangan Luna langsung bergelayut pada Rekay. Luna mengalungkan tangannya ke leher Rekay. Luna membalas ciuman Rekay, Luna membuka matanya dan tersenyum cantik. Tidak lama, Rekay melepas ciumannya. Rekay mencium pipi Luna dan hidung Luna berkali-kali.
Luna memeluk Rekay, "aku merindukammu, Kay."
Rekay mengeratkan pelukan, "aku juga sangat merindukanmu, Luna. Sangat rindu," jawab Rekay mengusap kepala Luna.
"Aku takut, bagaimana jika aku tidak bisa bertemu denganmu lagi. Aku tidak ingin berpisah darimu, aku ingin terus bersamamu, Kay."
Rekay melepas pelukan. Rekay menatap Luna, Luna menatap Rekay. Mereka saling bertatapan mata dalam. Rekay mengusap wajah Luna, Rekay mencium kening Luna lama. Kecupan Rekay begitu lembut dan hangat membuat Luna nyaman. Rekay mengusap perut Luna. Mendekatkan telinganya ke perut Luna.
"Hai sayang, kau sedang apa? Terima kasih sudah menjaga Mami untuk Papi. Papi menyayangimu," ucap Rekay mencium perut Luna.
Luna mengusap kepala Rekay, saat Rekay sibuk bicara dengan bayinya yang masih ada di perutnya. Luna senang akhirnya bisa kembali bertemu Rekay, bisa memeluk Rekay.
Rekay menyingkap piama Luna, menciumi perut Luna. Luna tertawa karena geli, Luna meminta Rekay menghentikannya.
"Berhenti, Kay. Itu geli," ucap Luna.
Rekay tersenyum. Bukannya menghentikan aksinya, Rekay justru bertindak lebih berani. Tangan Rekay menyusuri lebih dalam.
"Kay," panggil Luna.
"Hm," jawab Rekay.
"Apa yang kau lakukan? Ini masih pagi. Singkirkan tanganmu, aku lapar ingin makan."
"Aku juga lapar," jawab Rekay.
Rekay menggoda Luna. Rekay membuat Luna seperti cacing kepanasan yang menggeliat. Luna merasa kesal, nemun menyukai setiap sentuhan Rekay. Rekay mendekat pada Luna. Rekay mengecup kening dan kedua kelopak mata. Rekay mencium juga pipi kiri-kanan, hidung, dagu dan bibir Luna. Rekay melakukan serangannya, dalam sekejap mata Rekay berhasil mengusai Luna. Luna yang terus menahan, berbalik menyerang Rekay. Luna tidak mau kalah dari Rekay. Luna menggoda Rekay dengan sentuhan-sentuhannya. Luna tersenyum melihat Rekay menikmati permainannya. Pagi indah pun berlangsung.
----- ----- ----- ----- -----
Hallo semua..
Terimakasih sudah mau berkunjung dan membaca novel saya..
Jangan pernah bosan menunggu update selanjutanya ya..
Jangan lupa like,☆☆☆☆☆ dan isi kolom komentar..
Jangan lupa berikan vote juga ya..
Kunjungi juga di novel saya yang lain. Dengan judul,
•Lelaki Bayaran Amelia (Season 1&2 End)
•Pelukan Hangat Paman Tampan (End)
•Pangeran Es Jatuh Cinta (End)
(Season ke 2 dari Pelukan Hangat Paman Tampan)
•Pangeran Vampir (End)
•Pangeran Vampir 2 (SEASON 2) (End)
•Vampir "Sang Abadi" (End)
•Cinta Lama Yang Datang Kembali (End)
•Mommy And Daddy (CLYDK 2) (End)
•Darren & Karren (Perjalanan Cinta) CLYDK SEASON KE 3
•The Hit Man In Love
•Jatuh Cinta Pada Tetangga
•Suami Pengganti (End)
•Menjadi Istri Simpanan
•Dendam Permaisuri Kepada Kaisar
Jangan lupa like, ☆☆☆☆☆ dan isi kolom komentar.. vote juga dong..
Terimakasih..
Untuk pembaca yang ingin join grup FB/WA silahkan..
Untuk yang ingin follow ig saya juga silahkan..
ig: dea_anggie
Line id: dea_anggie
Fb: dea anggie
Grup FB: Lelaki Bayaran Amelia
❤❤❤❤❤
Bye bye..
Salam hangat,
"Dea Anggie"