Oh My Husband

Oh My Husband
Oh My Husband Ep-46



Malam harinya, Rekay meminta Nicky berhenti di toko bunga saat dalam perjalanan pulang. Rekay meminta Nicky membelikan buket bunga mawar putih untuk Luna.


Rekay menunggu Nicky di dalam mobil. Rekay menatap ponselnya lama, menunggu balasan pesan dari Luna.


"Aneh sekali, dari sore sampai malam Luna tidak membalas pesan. Tidak biasanya dia seperti ini. Dia tidak rindu padaku kah? Ah, apa yang terjadi?" Batin Rekay.


Tidak lama kemudian, Nicky masuk kedalam mobil dan memberikan buket bunga mawar putih pada Rekay.


"Tuan, silahkan...," ucap Nicky, menyerahkan buket bunga.


"Iya," jawab Rekay menerima buket bunga dari Nicky.


"Anda menanam bergitu banyak bunga mawar, kenapa harus membelinya?" Tanya Nicky.


"Kau tau? Tidak semua wanita suka hadiah, Luna ku berbeda dari yang lain. Di bandingkan hadiah dia lebih suka bunga dan kue manis. Aku baru saja dari luar kota, tentu aku harua berikan hadiah istimewa utnuk istriku. Bunga di kebun akan aku petik besok."


"Ah, begitu. Anda sangat sayang pada Nyonya, Tuan. Saya senang melihatnya."


"Jangan hanya melihat, kau juga harua mencari, Nick. Sudah waktunya kau menikah," komentar Rekay.


Nicky tersenyum, "saya mengerti, Tuan."


Rekay memeluk buket bunga mawar putih itu erat. Rekay tersenyum membayangkan senyuman wanitanya itu saat menerima buket bunga dan kue.


"Kau pasti akan langsung menciumku nanti," batin Rekay tersenyum.


Rekay begitu senang, ingin cepat-cepat bertemu Luna. Rekay sudah tidak tahan melepas rindunya, ingin sekali mendekap dan mencium Luna. Memeluk Luna sepanjang malam. Hal-hal indah sudah terlintas dalam benak Rekay.


30 menit kemudian, Rekay sampai di rumahnya. Nicky mengekuarkan kursi roda dan membantu Rekay duduk, berpindah dari dalam mobil ke kursi roda. Nicky menutup pintu mobil, mendorong kursi roda Rekay masuk ke dalam rumah


Di dalam rumah, suasana hening. Rekay merasa aneh, melihat jam di tangannya. Jam masih menunjukan pukul 06.30 malam, waktu setempat. Biasanya Luna masih sibuk memasak, Rekay bisa mendengar suara tawa dan suaranya saat pulang masuk kedalam rumah. Rekay melihat ke arah dapur tidak ada orang.


"Kau bisa mandi dan bersih-bersih Nicky, kita akan makan malam bersama nanti. Aku bisa ke kamarku sendiri."


"Baik tuan," jawab Nicky. Nicky langsung pergi ke arah kamar tamu.


Rekay memangku kue dan buket bunga, dua tangannya memutar kursi rodanya, berjalan mendekati kamarnya. Tangan Rekay memegang gagang pintu dan membuka pintu. Rekay masuk kedalam kamar, dan menutup pintunya perlahan. Rekay kembali memutar kursi rodanya mendekati tempat tidur. Rekay melihat sekeliling, tidak ada siapa-siapa.


Kleekkkk....


Pintu kamar mandi terbuka. Lana keluar dari kamar mandi, terkejut melihat Rekay. Tidak lama bersikap wajar dan menyapa Rekay dengan sikap biasa-biasa saja. Lana menggunakan gaun tidur malam yang terbuka.


"Rekay, kau sudah kembali?" sapa Lana, Lana duduk di tepi tempat tidur.


Rekay yang awalnya ingin berdiri dari kursi rodanya, mengurungkan niatannya. Rekay merasa ada yang aneh dengan sikap istrinya. Rekay memutar kursi rodanya dan mendekati Lana.


"Aku membelikanmu hadiah, sayang. Kau pasti suka," Rekay memberikan buket bunga mawar putih dan sekotak kue manis.


Lana menatap Rekay, "aku tidak suka mawar putih dan kue manis. Jika kau ingin memberiku hadiah belikan sesuatu yang istimewa dan mahal. Kenapa harus bunga dan kue?" Ucap Lana.


Rekay mengerutkan dahi, Rekay masih mencerna perkataan Lana. Rekay masih belum sadar jika yang ada di hadapannya bukan Luna, tetapi Lana.


Rekay mencium aroma berbeda, Rekay mencium aroma parfum, Rekay merasa aneh, setiap berdekatan dengan Luna, jantungngnya akan berdegup kencang. Kali ini jantungnya berdetak normal dan biasa-biasa saja.


"Apa ini, kenapa istriku menjadi seperti ini? Sepertinya ada sesuatu yang tidak benar," batin Rekay.


Lana ingat, jika dia harus bersandiwara. Lana merasa bodoh mengapa memperlakukan Rekay begitu dingin. Lana menerina buket bunga dan kue pemberian Rekay.


"Kau jangan kesal, maaf."


"Siapa juga yang ingin merayumu. Huh, aku tidak suka berdekatan dengan pria lumpuh ini. Tetapi demi uang, aku harus bersandiwara," batin Lana.


"Kau memakai parfum? Lalu pakaianmu?" Tanya Rekay.


"Ah, i-iya...," gagap Lana, "aku baru saja membelinya karena harga diskon."


"Kau sudah makan?" Tanya Rekay.


"Belum, aku menunggu kau pulang dan ingin makan bersamamu."


"Ba...," kata-kata Rekay terputus oleh Lana.


"Rekay, kau cepatlah mandi. Aku akan keluar dan menunggu mu di meja makan."


Lana berdiri dari duduknya, Lana mengenakan kimono tidurnya. Lana berjalan membawa bunga dan kue, cepat-cepat keluar dari kamar. Lana menghindari Rekay, merasa jijik pada Rekay.


Rekay semakin bingung, "kenapa sikapnya aneh? Apa ada masalah? Kenapa menghindariku? Apa salahku?" Batin Rekay bertanya-tanya.


Rekay memutar kursi rodanya masuk dalam kamar mandi. Rekay mengunci pintu kamar mandi. Rekay berdiri, menanggalkan semua pakaiannya dan segera mandi. Rekay masih memikirkan sesuatu, hatinya merasa tidak tenang dan mengganjal.


Rekay bergegas mandi. Setelah mandi Rekay mengambil handuk dan mengeringkan rambut juga badannya. Rekay keluar dari kamar mandi untuk berganti pakaian. Dengan gerakan cepat Rekay berganti pakaian. Entah mengapa Rekay merasa takut jika sampai ketahuan.


Rekay kembali duduk di kursi roda, Rekay melihat banyak tas di sofa. Rekay mendekat untuk melihat apa isi dari tas itu. Rekay mengambil dan membuka isi tas. Matanya melebar, Rekay melihat gaun tidur, dan beberpaa potong pakaian dalam yang minim.


"Apa ini? Sejak kapan seleranya berubah? Apa karena dia hamil?" Batin Rekay.


Rekay memijat pangkal hidungnya lembut. Mencoba berpikir jernih, Rekay memikirkan detail semuanya.


"Tidak mungkin. Jika bukan Luna, makan dia kemungkinan adalah Lana. Ahh, bagaimana bisa Lana ada disini? Lalu dimana Luna? Jangan-jangan sesuatu sudah terjadi, aku harus selidiki detail masalah ini. Aku harus buktikan jika seseorang yang saat ini ada di sisiku adalah Lana. Aku tidak boleh mengungkap jika aku bisa berjalan jika di depan Lana. Juga tidak boleh mengungkapkan kehamilan Luna. Aku harus memberitahu Daniel, Bibi Mao dan Nicky. Ya..., aku yakin dia bukan Luna. Hanya wajah saja yang mirip bukan berarti dia bisa mengelabuhiku. Lana, apa tujuanmu?" Batin Rekay.


Rekay mengepalkan tangan, gelisah memikirkan Luna. Rekay berusaha tenang, mengatur napasnya dalam-dalam.


"Baiklah, Kay. Jika ada yang bermain sandiwara denganmu, maka hal yang harus kau lakukan adalah mengikuti alur permainannya. Lana, aku tidak akan tertipu. Aku pasti bisa buktikan kau bukanlah istriku, Luna. Aku akan bongkar semua kebohonganmu, siapa saja orang yang menyokongmu dari belakang. Jangan salahkan aku, jika aku akan kejam padamu nanti. Kaulah yang memulai semua ini," batin Rekay.


Rekay keluar dari dari kamarnya, ia memutar kursi rodanya menuju meja makan. Dari jauh Nicky melihat dan membantu Rekay.


"Nick, pergi ke ruang kerjaku setelah makan. Dan jangan katakan apa pun di meja makan nanti. Apa kau paham?" Jelas Rekay.


"Pa-paham, Tuan."


Nicky mengernyitkan dahinya. Merasa ada masalah besar. Nicky patuh dan hanya diam tanpa bicara sepatah kata pun.


Rekay melihat makanan yang di makan oleh Lana. Rekay sengaja meminta Lana menyuap makanan padanya. Rekay ingin tahu rasa masakan, karena makanan yang di makan Lana terlihat pedas.


"Sayang, suapi aku makananmu. Aku ingin cicipi."


"Apa lagi ini, pria lumpuh ini sangat menyebalkan. Punya tangan masih ingin di suapi. Jika saja bukan karna uang," batin Lana.


Lana tersenyum penuh kepalsuan. Begitu juga Rekay yang tersenyum memendam amarah.


"Kau begitu menikmati menggantikan posisi Nyonya Hawn, Huh?" Batin Rekay.


Lana menyuap makanan pada Rekay. Rekay melahap makan itu dan mengunyahnya. Rekay melebarkan mata, makanan yang dimakannya sangat pedas.


"Pedas sekali. Hahh...," desah Rekay.


"Kau tidak suka pedas? Ini enak," jawab Lana.


"Kenapa kau makan itu?" Tanya Rekay.


"Karena aku suka."


"Kau suka pedas?" Tanya Rekay memancing.


Lana mengangguk, "suka sekali, hmm...," Lana menjilati ujung jari telunjuk tangan kanannya.


"Kau tidak makan kue yang aku beli? Aku membelinya khusus untukmu."


"Aku tidak suka makan makanan manis Rekay. Maaf, aku tidak akan memakan kue yang kau berikan. Aku sudah berikan pada pelayan tua di dapur tadi."


Lana tidak menyadari jika dia mengatakan hal-hal yang membuatnya dalam masalah.


Dugaan Rekay mulai kuat, wanita yang ada di sampingnya bukanlah Luna. Melainkan Lana. Luna tidak menyukai makanan pedas. Luna lebih suka makan makanan manis dan gurih. Luna mengenal dan akrab dengan Bibi Mao. Luna tidak pernah bebicara kasar, Luna selalu ramah dan sopan dalam berbicara. Itu semua tidak ada pada diri Lana. Lana lebih terlihat angkuh kasar dan sombong.


----- ----- ----- ----- -----


Hallo semua..


Terimakasih sudah mau berkunjung dan membaca novel saya..


Jangan pernah bosan menunggu update selanjutanya ya..


Jangan lupa like,☆☆☆☆☆ dan isi kolom komentar..


Jangan lupa berikan vote juga ya..


Kunjungi juga di novel saya yang lain. Dengan judul,


•Lelaki Bayaran Amelia (Season 1&2 End)


•Pelukan Hangat Paman Tampan (End)


•Pangeran Es Jatuh Cinta (End)


(Season ke 2 dari Pelukan Hangat Paman Tampan)


•Pangeran Vampir (End)


•Pangeran Vampir 2 (SEASON 2) (End)


•Vampir "Sang Abadi" (End)


•Cinta Lama Yang Datang Kembali (End)


•Mommy And Daddy (CLYDK 2) (End)


•Darren & Karren (Perjalanan Cinta) CLYDK SEASON KE 3


•The Hit Man In Love


•Jatuh Cinta Pada Tetangga


•Suami Pengganti


•Menjadi Istri Simpanan


•Dendam Permaisuri Kepada Kaisar


Jangan lupa like, ☆☆☆☆☆ dan isi kolom komentar.. vote juga dong..


Terimakasih..


Untuk pembaca yang ingin join grup FB/WA silahkan..


Untuk yang ingin follow ig saya juga silahkan..


ig: dea_anggie


Line id: dea_anggie


Fb: dea anggie


Grup FB: Lelaki Bayaran Amelia


❤❤❤❤❤


Bye bye..


Salam hangat,


"Dea Anggie"