Oh My Husband

Oh My Husband
Oh My Husband Ep-57



Rekay membantu Luna berdiri, Ponsel Rekay berdering. Rekay mengambil ponselnya dan melihat Bibi Mao menghubunginya. Rekay mengernyitkan dahi, perasaannya mulai tidak tenang.


"Siapa?" Tanya Luna.


"Bibi Mao," jawab Rekay.


"Kenapa diam, terimalah."


Rekay menghela napas berat, menerima panggilan dari Bibi Mao.


(Percakapan di telepon)


"Hallo," jawab Rekay lirih.


"Tuan...," seru Bibi Mao yang terisak.


"Bibi Mao, ada apa? Bibi menangis?" Tanya Rekay. Membuat Luna dan Nicky bertanya-tanya dan penasaran.


"Tuan, Tuan besar, beliau di Rumah Sakit."


"Apa?" Ucap Rekay kaget.


"Benar Tuan, Bibi dengar Tuan besar dalam keadaan kritis."


Jemari Rekay mengepal, mulut Rekay terkunci rapat. Rekay terdiam dengan menahan segala rasa yang menumpuk.


"Hallo, Tuan muda?" Panggil Bibi Mao.


"Kirim lokasinya padaku Bi, aku segera datang."


"Baik Tuan," jawab Bibi Mao yang langsung menutup panggilannya.


Tidak lama setelah itu Rekay menerima pesan dari Bibi Mao tempat di mana Calvin di larikan. Rekay mencengkram kuat ponselnya, Rekay berusaha tenang.


"Tuan...," sapa Nicky yang merasa ada aura membunuh dari Tuannya.


Rekay melempar ponselnya kearah Nicky, "Ayo pergi!" Ucap Rekay dingin.


Dengan sigap Nicky menangkap ponsel Tuannya, "Baik Tuan," jawab Nicky.


Luna menatap Rekay, "Sayang..., apa ada sesuatu yang terjadi?" Tanya Luna.


"Nanti aku jelaskan di mobil, kita harua ke rumah sakit sekarang."


Luna mengangguk, "Oke."


Rekay kembali duduk di kursi rodanya, "Sayang, biar Nicky membantumu."


"Aku tidak apa," jawab Luna. Luna manatap Nicky, "Nick biar aku saja yang mendorong kursi roda suamiku. Kau tolong buka pintu."


"Baik Nyonya," jawab Nicky yang langsung berjalan cepat membuka pintu ruangan.


Luna mendorong kursi roda Rekay, melangkah dengan langkah perlahan dan hati-hati. Nicky berada di belakang Rekay dan Luna, menjaga jikaulau yerjadi seauatu.


"Nick, kirim pesan pada Daniel. Katakan jika hasil penelitian keluar, langsung minta dia segera menghubungiku."


"Ya, Tuan. Saya segera laksanakan," jawab Nicky yang langsung mengirim pesan untuk Daniel dari ponselnya. Dengan gerakan tangan cepat Nicky mengetik pesan.


Rekay, Luna dan Nicky keluar dari gedung laboratorium. Nicky berlari ke parkiran mendekati mobil, sementara Luna dan Nicky menunggu di lobby.


Nicky membuka pintu mobil dan masuk, tidak beberapa lama mobil bergerak perlahan melaju mendekati Lobby dan berhenti disana. Nicky membuka pintu mobil dan keluar dari mobil menghampiri Luna dan Rekay. Nicky membantu memapah Rekay masuk dalam mobil, disusul oleh Luna. Nicky pun kembali ke tempatnya, yaitu bangku kemudi.


Mobil kembali bergerak melaju perlahan meninggalkan gedung laboratorium menuju rumah sakit.


Rekay sedang dalam suasana hati yang buruk. Hatinya sedih, kesal dan khawatir. Perasaaanya tidak tenang karena kabar yang mengejutkan itu.


Luna terus menatap Rekay, Luna ikut sedih melihat suaminta yang hanya diam namun jemarinya terus mengepal erat. Luna menyandarkan kepalanya ke bahu Rekay. Luna menggapai tangan Rekay yang mengepal dan mengusapnya. Rekay tersadar dari pikirannya dia ingat jika masih ada Luna di sisinya.


Rekay menatap Luna, merangkul Luna dan mencium puncak kepala Luna.


"Papa sedang kritis di rumah sakit," ucap Rekay pelan.


"Apa?" Seru Luna melebarkan mata dan langsung menatap Rekay.


Nicky yang mengemudi juga kaget, "jadi karena itu ke Rumah Sakit. Mengapa tiba-tiba Tuan besar jatuh sakit?" Batin Nicky bertanya-tanya.


"Apa ini, kenapa terjadi. Jangan-jangan ini efek dari racun itu? Jika benar..., Jenifer aku ingin sekali memmncekikmu jika kau membuat suamiku menderita" batin Luna geram kepada Jenifer.


Luna meraba wajah Rekay, mengusap lembuta pipi Rekay. Luna tidak bersura, namun perlakuannya menunjukan jika Luna begitu mengerti akan perasaan Rekay. Luna mencoba memberikan dukungan dan semangat, menguatkan hati Rekay.


***


Rumah Sakit....


Dokter keluar dari ruangan. Jenifer dan Jafferson menghampiri Dokter dan bertanya mengenai keadaan Jenifer.


"Apakah dia meninggal? Semoga saja aku menerima kabar baik," batin Jenifer tersenyum.


Melihat Dokter di hadapannya, Jenifer menunjukan aktingnya yang luar biasa. Jenifer mengeluarkan air mata dan terisak.


"Bagaimana keadaan suami saya, Dok?" Tanya Jenifer.


"Dok, Papa baik-baik saja kan?" Tanya Jafferson.


"Maaf, Nyonya dan Tuan. Tuan Hawn tidak tertolong. Kami sudah berusaha, namun sangat di sayangkan, usaha kami tidak mebuahkan hasil."


"Apa?" Seru Jefferson kaget.


"Akhirnya," batin Jenifer senang.


"Dokter, bagaimana bisa?" Lirih Jenifer dengan air mata yang berlinang.


Dokter pun pergi meninggalkan Jenifer dan Jafferson. Jafferson bingung, mengapa ini terjadi tiba-tiba. Jafferson melihat mamanya menyeka air mata dan terluhat tenang. Jafferson merasa curiga pada Mamanya.


"Ma, apa yang Mama lakukan pada Papa?" Tanya Jafferson berbisik


"Papa? Dia bukan Papamu!" Jawab Jenifer berbisik.


"Mama...," panggil Jafferson, "Katakan, apa yang Mama lakukan?" Desak Jafferson.


"Mama pada akhirnya meberikan racun itu," jawab Jenifer santai.


"Apa? Racun itu?" Ulang Jafferson kaget, "Mama kenapa Mama seperti ini? Racun itu apa? Bukan racun yang aku berikan?" Tanya Jafferson.


Jenifer menggeleng, "Bukan. Racun yang kau berikan hanya akan membuatnya pusing mual, tidak akan cepat membubuhnya. Jangan banyak bicara. Beraktinglah sedih seperti Mama," perintah Jenifer.


"Tapi...," ucap Jafferson.


"Tidak ada tapi, jangan meanjadi lemah!" Sentak Jenifer melebarkan matanya menatap Jafferson.


"Baiklah," jawab Jafferson.


Jafferson melebarkan mata, "Mama benar. Kita akan kuasai semuanya," jawab Jafferson.


Tiba-tiba Rekay, Luna dan Nicky datang. Jenifer memasang mimik sedih, begitu juga Jafferson.


"Dimana Papaku?" Tanya Rekay.


Jenifer dan Jafferson diam tidak menjawab, mereka hanya diam saja seakan tidak peduli pada Jafferson.


"Kalian tidak punya telinga? Dimana Pa...," kata-kata Rekay terkunci sesaat setelah pintu ruangan terbuka.


Terlihat perawat menghampiri Jenifer dan Jafferson, "Nyonya, Tuan, silakan mengurus biaya administrasinya. Kami akan mengurus prosesnya untuk selanjutnya mendiang Tuan Hawn bisa di bawa pulang dan dimakamkan."


"Baik," jawab Jenifer.


"Aku akan urus, Mama tetaplah disini."


Jenifer mengangguk, Jafferson langsung pergi meninggalkan Jenifer dan perawat. Mendengar ucapan perawat Rekay kaget. Rekay melebarkan matanya, tidak hanya Rekay yang kaget namun Luna dan Nicky juga kaget.


"Pap...," batin Rekay memanggil, "tidak mungkin, Papa baik-baik saja kan? Papa tidak mungkin pergi meninggalkanku kan?" Batin Rekay sedih.


Luna mendekati Nicky, "Nick, cari tahu apa yang terjadi."


"Baik Nyonya," jawab Nicky yang langsung pergi mencari informasi.


Perawat pergi meninggalkan Jenifer, Jenifer kembali duduk menunggu Jafferson kembali. Rekay mendorong kursi rodanya mendekati Jenifer. Rekay menatap tajam kearah Jenifer.


"Kau mengingkari janji," ucap Rekay.


"Aku? Ingkar janji? Hhh, kali ini bukan salahku Papamu tiada. Saat aku kembali Papamu sudah tergeletak di lantai," jawab Jenifer.


"Wanita jahat!" Sambung Rekay mulai emosi.


"Ya, aku memang jahat! Lalu kau bisa apa? Kau hanya sampah. Lihatlah..., kau bahkan tidak bisa berdiri kokoh diatas dua kakimu sendiri. Bagaimana bisa kau melindungi keluargamu? Kau tidak berguna," ejek Jenifer.


Rekay mencengkram kuat pahanya. Rekay menahan diri agar tidak terpancing. Luna mengusap bahu Rekay, tanda Rekay harus meradakan amarah.


"Kau akan menerima akibatnya, jangan mengira kau bisa lolos dengan mudah. Penipu!" Sambung Luna yang berdiri di belakang Rekay.


"Kau juga, kau dan saudarimu sama saja. Sama-sama ******," ejek Jenifer lagi.


"Tutup mulutmu Jenifer! Jangan sampai aku murka, kau sungguh dalam masalah kali ini. Jangan hina istriku dengam sebutan ******, kaulah yang ******. Kau ****** dan perebut suami orang!" Sentak Rekay.


Jenifer melebarkan mata, Jenifer kesal mengayunkan tangan hendak menampar Rekay. Sebelum tangan Jenifer menyentuh wajah Rekay, Luna sudah lebih dulu mencengkram tangan Jenifer.


Luna menghempas tangan Jenifer dan menampar Jenifer.


Plakkkkkk....


"Ini tamparan karena pernghinaanmu padaku," geram Luna.


Jenifer melebarkan mata, memegang wajahnya yang di tampar Luna. Jenifer menatap Luna dengan tatapan mata penuh kebencian.


--- --- ---


Hallo semua..


Terimakasih sudah mau berkunjung dan membaca novel saya..


Jangan pernah bosan menunggu update selanjutanya ya..


Jangan lupa like,☆☆☆☆☆ dan isi kolom komentar..


Jangan lupa berikan vote juga ya..


Kunjungi juga di novel saya yang lain. Dengan judul,


•Lelaki Bayaran Amelia (Season 1&2 End)


•Pelukan Hangat Paman Tampan (End)


•Pangeran Es Jatuh Cinta (End)


(Season ke 2 dari Pelukan Hangat Paman Tampan)


•Pangeran Vampir (End)


•Pangeran Vampir 2 (SEASON 2) (End)


•Vampir "Sang Abadi" (End)


•Cinta Lama Yang Datang Kembali (End)


•Mommy And Daddy (CLYDK 2) (End)


•Darren & Karren (Perjalanan Cinta) CLYDK SEASON KE 3


•The Hit Man In Love


•Jatuh Cinta Pada Tetangga


•Suami Pengganti (End)


•Menjadi Istri Simpanan


•Dendam Permaisuri Kepada Kaisar


Jangan lupa like, ☆☆☆☆☆ dan isi kolom komentar.. vote juga dong..


Terimakasih..


Untuk pembaca yang ingin join grup FB/WA silakan..


Untuk yang ingin follow ig saya juga silahkan..


ig: dea_anggie


Line id: dea_anggie


Fb: dea anggie


Grup FB: Lelaki Bayaran Amelia


❤❤❤❤❤


Bye bye..


Salam hangat,


"Dea Anggie"