
Rekay mengajak Luna pergi jalan-jalan. Rekay merasa malu dengan keadaanya yang selalu merepotkan Luna untuk mendorong kursi rodanya.
"Luna, biarkan Nicky yang mendorong." Kata Rekay.
"Tidak apa, Nicky sudah sering melakukannya. Kali ini biarakan aku yang melayanimu." Jawab Luna.
Rekay memalingkan wajah menatap Nicky, Nicky hanya tersenyum lalu memalingkan wajah seakan tidak menghiraukan Rekay.
Rekay mengajak Luna ke Boutique. Rekay ingin membelikan Luna beberapa gaun dan pakaian. Di Boutique ramai pengunjung, beberapa mata menatap Rekay dan bergosip.
"Lihat pria itu, apa itu istrinya?"
"Sepertinya,"
"Kasian sekali, dia punya suami yang lumpuh."
"Jika aku jadi dia, aku akan menikah lagi. Masa mudaku tidak akan aku sia-siakan."
Mendengar itu Luna merasa kesal. Luna tau pasti Rekay merasa sedih dan sakit hati.
"Nicky, jaga tuanmu dulu. Aku ada urusan." Kata Luna.
"Luna, kau ingin kemana?" Tanya Rekay.
"Ingin apa? Lihatlah apa yang bisa aku lakukan untuk membela suamiku." Jawab Luna.
Luna mendekat dan mendatangi beberapa orang wanita yang bergosip. Luna tersenyum cantik menatap mereka, mereka membalas senyuman Luna dengan canggung.
"Nona, ada apa?" Tanya seorang wanita dihadapan Luna.
"Tidak, maaf aku hanya ingin mengambil gaun itu." Kata Luna menunjuk sebuah gaun di belakang wanita-wanita itu berdiri.
Lune mendekat dan mengambil gaun itu. "Jangan suka membicarakan hal yang tidak kalian ketahui. Jangan sampai perkataan kalian menyinggung perasaan orang lain. Jika kalian ada di posisi seperti orang yang kalian gosipkan, apakah kalian tidak merasa sakit hati?" Luna berbicara dengan nada suara lembut.
Luna tersenyum, lalu pergi. Wanita-wanita itu hanya diam menunduk. Merasa di permalukan oleh Luna.
Luna kembali mendekat pada Rekay, Luna menatap Rekay. "Jangan dengar apa kata mereka, kau tau apa yang harus kau lakukan? Kau harus percaya pada hatimu." Luna meletakan tanganya di dada Rekay.
Rekay tersenyum, "aku baik-baik saja Luna. Jangan khawatirkan aku, aku sudah biasa mendengar hal-hal buruk seperti itu." Jawab Rekay.
"Jadikan cemooh orang-orang menjadi kekuatan untuk kau bangkit Kay. Aku ada di sisimu, aku akan mendukungmu." Luna menyemangati Rekay.
"Terima kasih, Luna." Kata Rekay.
Rekay senang Luna memberinya semangat. Selain Nicky sekarang bertambah satu orang lagi yang mendukungnya secara penuh.
"Ayo, aku akan pilihkan pakaian untukmu." Kata Luna.
Luna berjalan, Rekay mengikuti Luna di bantu Nicky yang mendorong kursi rodanya.
Pelayan Boutique melayani Luna dengan ramah. Luna memilih beberapa kemeja dan jas untuk Rekay.
"Kay cobalah." Kata Luna.
Rekay menggeleng, "aku akan beli semua yang kau pilih. Apa kau sudah selesai dengan pilihan pakaianku nyonya Hawn? Jika sudah biarkan aku yang melayanimu sekarang." Jawab Rekay.
Luna mengerutkan dahi menatap Rekay. Rekay menatap Nicky. Luna bingung apa yang di maksud Rekay.
Nicky mempersilahkan beberapa pelayan, pelayan datang dan membawa pilihan gaun untuk Luna.
"Cobalah, aku ingin lihat gaun pilihanku yang kau pakai." Kata Rekay.
Luna mengangguk, "baik. Aku akan coba dari gaun yang berwarna biru." Jawab Luna menatap pelayan yang membawa baju ganti.
Pelayan toko yang membawa gaun berwarna biru mendekati Luna, memberikan gaun ditangannya pada Luna. Luna menerima dan masuk kedalam ruang ganti yang sudah tersedia.
Beberapa saat kemudian Luna membuka pintu dan keluar. Luna menatap Rekay, Rekay tersenyum.
"Cantik." Puji Rekay.
Luna merasa malu, Luna pun mencoba gaun-gaun yang lain sampai selesai.
20 menit berlalu, akhirnya semua selesai di coba. Luna keluar dari ruang ganti memberikan gaun terakhir yang di pakainya pada pelayan.
"Bungkus semuanya." Kata Rekay.
"Baik tuan." Jawab pelayan. Pelayan pergi untuk mengemas pakaian Luna dan Rekay.
Luna mendekati Rekay, "kau beli semuanya? Beli 1 saja. Jangan menghamburkan uang, Kay!" Luna menatap Kay.
"Kenapa? Aku ingin membeli semuanya untukmu. Kau adalah nyonya Hawn, aku tidak kekurangan uang Luna." Kata Rekay menjelaskan.
"Ya aku tau kau tidak kekurangan uang. Tapi gaun itu hanya terpakai saat kita menghadiri pesta atau acara saja, membeli 1 atau 2 juga sudah cukup." Luna masih kembali memberikan alasannya.
"Nyonya Hawn, kau begitu merepotkan. Suamimu kaya, apa yang dimiliki suamimu adalah milikmu! Jangan berfikir untuk memerintahku, aku ingin beli ya beli." Kata Rekay.
Luna menghela napas panjang, "hufffftt.. baiklah Tuan Hawn, terserah kau saja. Ayo cepat aku ingin beli ice cream." Luna akhirnya menyerah, tidak mampu melawan Rekay.
Luna berjalan menjauh dari Rekay dan Nicky. "Tuan, anda baik-baik saja?" Tanya Nicky.
"Tetapi tuan, bisakah anda tahan melihat Ice cream?" Tanya Nicky lagi.
Rekay mengehela napasnya. "ya.. aku harus bisa tahan." Jawab Rekay.
Nicky mendorong kursi roda Rekay mendekati Luna.
-----
Luna dan Rekay masuk ke gerai ice cream. Luna meminta Rekay untuk menunggu selagi Luna memilih ice cream. Rekay menutup mata dan mengepalkan tangan, teringat akan masa lalu yang menyakitkan hatinya. Dadanya terasa penuh sesak.
Tidak beberapa lama Luna kembali, membawa nampan berisi mangkuk ice cream rasa vanilla dan strawberry lengkap dengan toping buah strawbery dan saus cokelat.
Luna duduk, Luna menatap Rekay. "Kau suka ice cream tidak?" Tanya Luna.
Rekay menggeleng, "tidak." Jawab Rekay singkat.
"Sayang sekali, kau tau. Jika aku stres aku akan makan cake atau ice cream, itu akan menenagkan pikiranku." Kata Luna.
"Makanlah ice mu, nanti meleleh." Kata Rekay.
Luna menyendok ice cream rasa strawberry dan menyodorkan ke mukut Rekay. "Cobalah sedikit saja." Kata Luna.
Rekay menatap Luna. Luna tersenyum seakan membujuk Rekay untuk makan ice creamnya. Nicky mendekat, hendak bicara namun Rekay menghalangi. Rekay membuka mulut dan memakan ice cream yang di suguhkan Luna. Rekay tidak menyukai ice cream lagi semenjak ditinggal oleh mamanya. Karena itu Rekay tidak pernah makan ice cream.
"Tuan.." panggil Nicky.
Rekay menggeleng, "tidak apa Nick." Kata Rekay.
Luna bingung, menatap Nicky lalu menatap Rekay. "Ada apa? Apa ada sesuatu?" Tanya Luna.
"Tidak ada, cepat habiskan ice mu. Aku ada urusan sebentar, aku harus menghubungi seseorang. Aku akan menunggu di mobil. Nicky akan mengantarku dan kembali menemanimu disini. Nicky, ayo.." Rekay menyerah, rasa ice cream itu manis namun bagai Rekay sangat pahit. Mata Rekay sudah panas dan pedih.
Luna diam, tidak mnejawab. Hanya mengangguk, Luna tidak mengerti kenapa Rekay berubah sikap karena melihat ice cream. Luna makan ice creamnya menatap kepergian Rekay dan Nicky.
Diluar, Nicky membantu Rekay masuk dalam mobil. Nivky melipat kursi roda Nicky dan memasukan di dalam mobil. Nicky mengambil botol air berisi air minum, Nicky membuka tutup botol memberikan pada Rekay.
"Tuan silahkan," kata Rekay.
Rekay menerima botol air dan meminum airnya dalam sekali teguk. "Kembalilah ke dalam, jaga Luna baik-baik." Perintah Rekay.
"Tapi tuan?" Nicky menatap Rekay, Rekay menatap tajam. Nicky mengangguk, Nicky menutup pintu mobil dan pergi masuk ke gerai ice cream. Rekay menunduk, air matanya jatuh. Rekay teringat mamanya.
(Kilas balik)
Kala itu dia pergi dengan mamaya berbelanja. Rekay di belikan ice cream oleh mamanya. Dalam perjalanan pulang Rekay makan ice crema itu dengan senang.
"Kay, bagaimana rasa ice nya? Manis dan enak bukan?" Mama Rekay bertanya.
Rekay mengangguk, "enak ma, mama mau? Kay akan menyuapi mama." Kata Rekay.
Mama Rekay mengangguk, mendekat dan membuka mulut. Rekat bersemangat dan menyuapkan ice cream pada mamanya.
"Terima kasih sayang, kau adalah putra terbaik mama. Mama sayang padamu, Kay." Kata mama Rekay.
"Rekay juga sayang mama. Sangat sayang, mama ayo beli ice cream lagi besok." Ajak Rekay.
"Ya.. besok kita akan beli lagi." Jawab mama Rekay.
Saat itu Rekay tidak menyangka jika hari itu adalah hari terakhir dirinya bersama mamanya. Hari itu dalam perjalanan pulang, mobil yang di tumpangi Rekay dan mamanya mengalami kecelakaan.
(Kilas balik berakhir)
-----
Luna duduk dengan Nicky, Luna meminta Nicky duduk karena tidak ingin diperhatikan oleh orang-orang sekitar.
"Nicky, ada apa? Apa Kay baik-baik saja?" Tanya Luna.
"Tidak baik nyonya, hanya saja tuan pandai menyimpan rasa. Jadi tidak akan terlihat." Jawab Nicky.
"Maksudmu?" Luna bertanya lagi.
"Sebenarnya tuan tidak lagi menyukai ice cream setelah kejadian buruk yang menimpanya. Tuan tidak lagi makan ice cream saat usia 10 tahun, dan baru makan setelah anda memintanya." Kata Nicky.
Luna terkejut, "benarkah? Oh aku tidak tau, dia pasti terkejut." Kata Luna.
"Oh tidak, apa Kay akan marah? Apa dia akan memukulku, atau mengurungku? Bagaimana ini? Aku harus lakukan sesuatu." Guman Luna dalam hatinya.
"Nicky, ayo kita kembali. Aku sudah selesai." Kata Luna, berdiri dari duduknya dan lansgung keluar dari gerai ice cream.
Luna tidak mengerti apa yang di maksud Nicky dengan kejadian buruk. Kejadian buruk yang bagaimana dan seperti apa. Luna berfikir kejadian buruk itu pasti sangat menyakitkan bagi Rekay.
Thank you..
Bye-bye..
-------------