
Keesokan harinya Louis dan Merry di kejutkan dengan menghilangnya Lana. Merry mencoba menghubungi ponsel Lana namun tidak aktif.
Louis duduk di tepi tempat tidur Lana, "anak ini sungguh keras kepala, aku sudah melarangnya pergi semalam." Louis kecewa dengan sikap Lana.
"Kemana Lana pergi?" Merry bertanya-tanya dalam hatinya.
Louis dan Merry terdiam, mereka tidak saling bicara. Mereka hanyut dalam pikiran mereka masing-masing.
-----
Jenifer tersenyum jahat, Jenifer sudah menetapkan tanggal pernikahan Kay dan Lana, Jenifer juga sudah menyiapkan segala sesuatunya.
"Semua selesai, sekarang hanya tinggal menghubungi keluarga Zack." Jenifer merasa senang.
Jenifer mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Louis. Panggilannya diterima oleh Louis.
(Perbincangan di telepon)
"Hallo nyonya," sapa Louis.
"Hai tuan Zack, bagaimana kabar anda? Aku menghubungi karena ada sesuatu yang ingin di sampaikan. Aku sudah mengatur pernikahan putraku dan Lana." Jenifer menjelaskan.
"Apa?" Louis terkejut.
"Tepat 2 minggu dari sekarang, pernikahan akan di adakan. Hal ini tidak dapat dirubah." Ucap Jenifer.
Louis terdiam, tidak ada suara. Jenifer mengerutkan dahi, "hallo.. tuan Zack anda disana? Hallo.. hallo..?" Jenifer memanggil-manggil.
Panggilan telepon tiba-tiba terputus, Jenifer sedikit kesal. Jenifer kembali menghubungi Louis, belum puas jika belum mendengar jawaban dari Louis.
(Perbincangan di telepon)
"Tuan Zack, ada apa?" Tanya Jenifer.
"Maaf nyonya, apa yang ingin anda sampaikan? Silahkan anda bicara." Jawab Louis.
"Ya, saya mengingatkan kembali jika akan ada acara pernikan Lana dengan putra saya tepat 2 minggu dari hari ini. Apakah Lana ada? Saya ingin bicara." Jenifer mencari Lana.
"Mmh.. itu.. Lana sedang tidak ada di rumah nyonya. Lana sudah pergi, kami tidak tahu Lana pergi kemana." Jawab Louis ragu-ragu.
Jenifer mengerutkan dahinya, "apa? Apa maksud anda tuan Zack? Jangan mencoba mempermainkan saya, dimana Lana?" Jenifer bertanya lagi.
"Nyonya maafkan kami, sejujurnya Lana menolak pernikahan ini dan pergi meninggalkan rumah." Louis merasa tidak enak pada Jenifer.
"Cari dia, saya akan memberi waktu sampai besok! Jika tidak ketemu saya akan membuat perhitingan dengan anda tuan Zack! Anda mengerti maksud saya bukan?" Jenifer memberi peringatan.
"Ba-baik nyonya, saya akak berusaha mencari." Jenifer memutus panggilannya dengan perasaan kesal, Louis merasa bingung.
Jenifer melempar ponselnya ke tempat tidurnya. "Sial! Jika Lana sampai benar-benar pergi, aku tidak bisa menjalankam rencanaku. Aku tidak bisa mempermalukam Kay dan membuanya di benci oleh Calvin. Lana.. kau cari mati hah? Wanita brandal.." keluh Jenifer.
Jenifer menggerutu, memikirkan sesuatu. Jenifer memikirkan cara untuk masalahnya ini, hal ini beresiko besar. Jika sampai gagal, maka Jenifer tidak akan punya kesempatan lagi.
-----
Louis meletakan ponselnya di meja. Merry duduk di sebelah Louis, Merry mengusap punggung Louis.
"Apa kau perlu sesuatu sayang?" Tanya Merry dengan suara lembut.
"Tidak, carilah informasi keberadaan Lana sayang. nyonya Jenifer mengancam kita, kita bisa apa jika sampai Lana tidak di temukan." Louis terlihat stres.
"Aku sudah menghubungi semua temannya, tidak ada yang tau. Bahkan aku sudah menghubungi teman sekolahnya juga, tidak ada yang dibuhungi Lana sejak setengah tahun ini." Jawab Merry.
"Luna, dimana? Apakah dia tidak bekerja hari ini?" Tanya Louis.
Merry menatap jam dinding di kamarnya, jam menunjukan pukul 09.00 pagi. Merry lupa akan pesan Luna, membangunkan Luna pukul 07.00 pagi.
"Aku akan segera kembali, kau akan bersiap ke kantor bukan? Aku lupa bangunkan Luna, astaga.. bagaimana ini?" Merry kebingungan, melangkah keluar kamarnya menuju kamar Luna.
Merry mengetuk pintu kamar Luna,
Tok.
Tok..
Tok..
Klekk.. pintu kamar di buka oleh Merry.
"Luna.." panggil Merry.
Merry masuk dalam kamar, Merry melihat kamar Luna sudah bersih dan rapi. Merry tidak menekukan Luna didalam kamar.
Kleeekk.. pintu kamar mandi terbuka, Luna sudah berpakaian rapi dan siap untul pergi bekerja.
"Mama.." sapa Luna.
"Sayang, maafkan mama tidak membangunkanmu." Merry merasa bersalah.
"Tidak apa ma, aku pergi ke rumah sakit dulu ma, sampai jumpa.." Luna berpamitan.
Luna menatap Merry, "ada apa ma? Mama oke?" Tanya Luna memegang tangan Merry.
"Apa kau melihat Lana? Lana menghubungimu? Atau mengirimmu pesan?" Merry terlihat panik.
Luna menatap dalam mata Merry, "mama ada apa? Jelaskan perlahan, aku tidak mengerti maksud mama. Lana kenapa? Seharusnya dia masih tidur kan? Semalam aku datang ke kamarnya dan masih melihat dia tertidur lelap, aku tidak tega membangunkan, aku langsung kelaur setelah merapikan selimutnya." Penjelasan Luna pada Merry.
"Pagi ini saat mama akan mengantar susu, mama melihat Lana tidak ada di kamarnya. Papa dan mama sudah mencari, menghubungi semua teman-temannya tetapi semuanya tidak ada yang tau dimana Lana. Ponselnya tidak bisa dihubungi." Merry sedih, matanya berkaca-kaca.
"Mama tenanglah, jangan bersedih. Aku akan bantu mencari Lana di tempat biasa Lana datangi. Mungkin Lana sedang ingin sendiri saat ini, apakah ada sesuatu yang terjadi?" Tanya Luna.
Saat Merry ingin menjelaskan, ponsel Luna berdering. Panggilan dari Daniel.
(Perbincangan di telepon)
"Ya Dok," sapa Luna.
"Jangan lupa pagi inu pukul 10.00 Dokter Zack." Ucap Daniel.
"Baik, saya mengerti Dok. Terima kasih sudah mengingatkan. Saya akan segera berangkat ke rumah sakit." Jawab Luna yang langsung mengakhiri panggilan dari Daniel.
Luna memasukan ponselnya dalam tasnya, "mama maaf, Luna ada pertemuan di rumah sakit. Bisa kita lanjutkan pembicaraan kita nanti?" Tanya Luna.
Merry tersenyum dan mengangguk, "tentu saja bisa. Pergilah bekerja, hati-hati di jalam ya." Merry melepas kepergian Luna.
"Bye ma, Luna sayang mama.." Luna mencium pipi Merry dan pergi dari kamarnya.
Luna melangkah cepat berjalan menuju pintu utama, diperjalanan Luna bertemu Louis.
"Kau buru-buru?" Tanya Louis.
"Ya pa, ada pertemuan pukul 10.00 pagi ini, Luna pergi ke rumah sakit dulu pa, bye.." Luna mencium kilas pipi Luois dan berlari kecil meninggalkan Luois.
Merry berjalan mendekatu Luois, "kau sudah siap? Apakah ada yang lain, yang kau perlukan? Tanya Merry.
"Apakah Luna baru bangun? Kenapa berlarian?" Tanya Louis.
"Sepertinya begitu, saat aku masuk kamarnya dia baru saja keluar dari kamae mandi dan terburu-buru berabgkat. Mengatakan ada pertemuan penting." Jawab Merry.
"Hmmh.. begitu. Baiklah, aku akan ke kantor sekarang. Bye sayang.." Louis mencium kening Merry.
Merry tersenyum, "bye.. hati-hati jalan, sayang." Merry tersenyum.
Merry menghela nafas panjang, kembali memikirkan keberadaan Lana. Merry pergi ke kamarnya dan mengambil ponselnya, berupaya menghubungi Lana kembali.
-----
Kay berada di belakang rumahnya, melihat taman belakang rumah. Nicky tiba-tiba datang dengan membawa sebuah Amplop coklat ditangannya.
"Tuan, ada pesan dari nyonya." Ucap Nicky.
"Bukalah dan baca!" Perintah Kay, yang masih menatap kebun mawar di hadapannya.
"Tuan ini.." Nicky terdiam.
Kay memalingkan wajah, menatap Nicky. "Ada apa? Kau diam? Apakah Jenifer kembali berulah?" Tanya Kay.
"Tuan, nyonya menentukan tanggal pernikahn anda, 2 minggu dari sekarang. Dan mengirim foto wanita itu." Jawab Nicky.
Kay tersenyum masam, "letakan itu di meja kerjaku Nicky, jika dia menghubungimu, katakan saja aku setuju dan menerima. Kirim bunga mawar padanya, tulislah pesan terima kasih BIBI." Jawab Kay, Kay merasa kesal. Hanya bisa mengepalkan tangannya dan bersabar.
"Baik tuan, akan segara saya lakukan, apakah anda ingin berkeliling? Saya akan menemani anda." Nicky ingin menghibur Kay.
"Hmm.." suara Kay datar.
Nicky mendorong kursi roda Kay perlahan, berkeliling kebun mawar. Kay menatap bunga mawar yang bermekaran.
"Mama, Kay menanam bunga kesukaan mama, mawar putih. Apakah mama suka? Lihatlah, mawar ini sudah bermekaran ma, Kay akan mengirim mawar putih yang Kay tanam ini untuk mama. Mama pasti menyukainya kan? Mama.. maafkan Kay." Kay bicara dalam hatinya, matanya berkaca-kaca.
Kay mengangkat tangan, Nicky menggentikan kursi roda. Kay menjulurkan tangan memetik setangkai mawar putih. Jari Kay tertusuk duri mawar dan berdarah.
"Tuan, anda baik-baik saja?" Tanya Nicky khawatir.
Kay tersenyum, mencium aroma bunga mawar putih di tangannya. "Aku baik-baik saja Nick. Hanya tertusuk duri dan berdarah, tidak sebanding dengan luka yang ada di dalam hatiku." Jawab Kay.
Nicky merasa sedih, selama ini Kay sangat jarang menceritakan kesedihannya. Jika bercerita pun hanya setengah-setengah, namun Nicky memahami. Tuannya begitu kuat menjalani kerasnya kehidupan.
"Anda benar tuan, luka memang meninggalakan bekas, namun anda salah jika mengatakan rasa sakit tidak akan pernah hilang. Rasa sakit akan mereda jika kita obati, jadi tuan.. tetaplah berjuang dan semangat, saya akan selalu mendukung anda. Adalah inspirasi saya selama ini, saya kagum pada kegigihan anda." Nicky berbicara penuh semangat.
Kay tersenyum lebar memalingkan wajah menatap Nicky. "Hei.. sejak kaapan kau pandai bicara huh?" Kay menggoda Nicky.
Kay dan Nicky melanjutkan berkeliling. Dan kembali ke dalam rumah setelahnya. Kay merasa senang ada Nicky disampingnya yang setia membantunya dalam setiap kesulitan. Kay merasa Nicky adalah penolongnya, tanpa Nicky disisinya, Kay merasa hanya seperti botol kosong.
Thank you..
Bye-bye..
------------