Oh My Husband

Oh My Husband
Oh My Husband Ep-21



Sesampainya di kamar Hotel, Luna masih terlihat kesal. Luna duduk menunduk, Rekay tidak tau apa yang di pikirkan oleh Luna.


Rekay mendekati Luna dan memegang tangan Luna. "Kau baik-baik saja?" Tanya Rekay.


Luna mengangkat kepala menatap Rekay, Luna tersenyum dan mengangguk. "Aku baik-baik saja. Maaf untuk ucapan Lana yang keterlaluan." Kata Luna merasa bersalah.


Rekay mengusap kepala Luna. "Hei, bukan salahmu. Aku tidak merasa tersinggung. Bukankah apa yang dikatakan Lana memang benar?" Ucap Rekay.


"Meski benar apa haknya menguruhiku? Lupakan saja, jangan pikirkan apa yang Lana katakan. Aku ingin mandi dulu, badanku sudah lengket." Kata Luna.


Rekay mengangguk, "ya.. mandilah, agar terasa lebih segar." Jawab Rekay.


Luna berdiri dari duduknya, berjalan menuju kamar mandi untuk mandi. Rekay menatap Luna dari jauh.


10 menit kemudian..


Rekay membuka bajunya untuk berganti pakaian. Pintu kamar mandi terbuka, Luna keluar dengan hanya mengenakan handuk. Luna berniat mengambil pakaian ganti dan berganti pakaian di kamar mandi.


"Kau sudah selesai?" Tanya Rekay yang berada tidak jauh dari pintu kamar mandi.


"Ya sudah, aku lupa membawa pakaian gantiku. Maaf membuatmu melihat ini, jangan melihatku." Kata Luna sedikit malu.


Luna melangkah cepat melewati Rekay, Luna masih belum mengeringkan rambut dan tubuhnya yang basah. Saat melangkah Luna terpeleset dan hampir terjatuh.


Rekay yang berada tidak jauh dari Luna, langsung berdiri dari kursi rodanya dan menolong Luna.


Rekay menahan pinggang Luna dengan tangan kiri, dan memegang tangan Luna dengan tangan kanannya. Rekay dan Luna saling memandang.


Luna kaget melihat Rekay. "Kay, kau bisa berdiri?" Tanya Luna dengan suara lembut.


Rekay yang sadar langsung bingung. Rekay membantu Luna berdiri dengan baik. Rekay melihat kakinya sendiri, Rekay tidak menyangka jika dirinya punya keberanian untuk berdiri.


"Kay, kau sungguh bisa berdiri?" Tanya Luna lagi.


"Ya, sepertinya begitu. Aku tidak tahu Luna, aku bisa berdiri ini, seperti mimpi." Ucap Rekay senang.


"Ahh aku senang." Luna langsung memeluk Rekay tanpa aba-aba.


Rekay kaget, melebarkan mata. Rekay merasakan sesuatu yang basah di dadanya. Luna tidak sadar jika dia masih belum berpakaian, dan hanya mengenakan handuk untuk menutupi tubuhnya.


"Luna, kau melupakan sesuatu. Kau belum memakai pakaianmu." Bisik Rekay malu. Wajah Rekay sudah memerah, Rekay merasa kepanasan.


Luna melebarkan mata kaget, Luna melepaskan pelukannya. Luna melihat diri sendiri, merasa sangat malu. Luna menunduk menghindari tatapan mata Rekay.


Rekay tersenyum tipis, Rekay mendekat dan menadahkan wajah Luna agar menatapnya. Luna dan Rekay kembali saling menatap, Rekay pun langsung mencium bibir Luna. Rekay merangkul pinggang Luna dengan satu tangan mendekat. Satu tangan lagi digunakan Rekay untuk menahan tengkuk leher Luna.


Deg..


Deg..


Deg..


Jantung Luna dan Rekay berdebar kencang.


Luna yang awalnya kaku perlahan menerima dan mulai mengimbangi Rekay. Luna menutup mata, membalas ciuman Rekay, ini ciuman pertama untuknya. Rekay diam dan membiarkan Luna mengambil peran.


Luna melepas ciuman dan membuka mata perlahan. Luna menatap mata Rekay dalam, Rekay tersenyum tampan.


"Ada apa? Apa aku terlihat tampan?" Tanya Rekay membanggakan diri.


"Ya, kau sangat, sangat, sangat tampan. Sampai aku berfikir jika aku bermimpi saat ini." Jawab Luna.


"Oh ayolah, ini bukan mimpi. Aku memang Rekay suamimu." Kata Rekay berbisik.


Tangan Rekay membelai wajah Luna, perlahan turun ke leher dan bahu Luna. Tangan Rekay terus bergerak turun, dan turun. Luna tersenyum menatap Rekay.


"Apa yang kau lakukan hmm?" Tanya Luna seakan memancing Rekay.


"Sudah tahu apa yang aku inginkan, kau masih bertanya lagi? Aku ingin..." Rekay diam, matanya masih lekat menatap Luna.


Luna meraba bahu Rekay dan dada bidang Rekay. "Ingin apa?" Pancing Luna lagi.


"Ingin.. melahapmu.." bisik Rekay, Rekay meniup dan mengigit telinga kiri Luna.


Luna merasa kegelian, jantungnya terus berdegup setiap kali tangan Rekay menyentuh kulitnya. Rekay berusaha menggoda Luna.


"Kay tunggu, aku masih.." kata-kata Luna terputus, Rekay menutup mulut Luna dengan ciumannya.


"Umh.."


Luna mencengkram bahu Rekay kuat. Kali ini Rekay sudah mulai memanas, Rekay membuat Luna melemah.


Luna begitu menikmati setiap sentuhn Rekay. Luna kembali memejamkan mata merasakan ciuman Rekay.


Rekay membopong Luna ke tempat tidur. Rekay kembali mencium Luna, memberikan sentuhan-sentuhan hangatnya. Rekay menarik handuk yang melilit tunuh Luna dengan perlahan. Rekay melepas ciumannya.


Luna membuka mata perlahan menatap Rekay. Rekay mendekat dan berbisik di telinga Luna.


"Bolehkah aku melakukannya?" Tanya Rekay pada Luna.


Rekay tidak ingin egois memaksakan kehendaknya. Rekay akan melakukannya jika Luna berkata iya, dan akan menghentikan jika Luna mengatakan tidak.


Luna tersenyum, wajahnya bersemu merah. Luna mengangguk perlahan.


"Lakukan apa saya yang kau inginkan. Bukankah aku istrimu?" Luna menatap penuh kasih pada Rekay.


Rekay senang mendengar jawaban Luna. "Baiklah, aķu akan bersikap lembut padamu." Jawab Rekay.


Rekay kembali memeberikan kecupan-kecupan ringan pada Luna. Menjelajahi keindahan tubuh Luna, pergulatan keduannya begitu intens, sampai pada akhinya hal indah terjadi.


Rekay dan Luna terjun dalam lautan cinta. Gelora cinta yang menggebu ditambah keinginan yang kuat membuat keduanya dimabuk cinta.


-----


Malam harinya..


Lana dan James bersiap untuk makan malam. Suasana hati Lana masih tidak baik. James terus membujuk istrinya untuk tersenyum.


"Sayang, ayolah.. jangan terus menggerutu seperti itu. Tersenyumlah seperti biasanya." Kata James.


"Aku tidak bisa tersenyum James, kau lihat kan? Luna begitu membela pria itu. Aku hanya kasian padanya, dia saudaraku tapi tidak mau dengar kata-kataku." Jawab Lana kesal.


"Lupakan saja, biarkan Luna dengan pilihannya. Kita akan makan, jangan membuat suasana makan kita menjadi buruk." Kata James menatap Lana.


Lana tersenyum tipis, "maaf sayang.." ucap Lana lembut.


James meraih tangan Lana dan mencium lembut punggung tangan Lana dengan lembut.


Pelayan restorant datang membawakan hidangan makan malam James dan Lana. Pelayan menyajikan hidangan di atas meja, lalu pergi setelahnya.


James dan Lana makan malam bersama. Mereka menikmati hidangan makam malam yang mereka pesan masing-masing.


-----


Luna dan Rekay baru saja selesai makan malam. Mereka sudah kembali ke kamar Hotel mereka menginap.


Luna dan Rekay duduk berdampingan di sofa kamar. Rekay berbaring di pangkuan Luna, Luna mengusap-usap kepala Rekay perlahan.


"Kau kenapa? Makanmu sedikit sekali." Tanya Luna.


"Tidak ingin makan, aku tidak selera." Jawab Rekay.


"Oh, katakan padaku jika ingin makan sesuatu. Aku tidak ingin kau sakit." Kata Luna mencium kening Rekay.


"Apa masih sakit?" Tanya Rekay menatap Luna.


"Apa?" Tanya Luna.


"Itu.. emh, itu.. bagaimana aku menjelaskannya padamu." Rekay tidak bisa bicara.


Luna tertawa kecil, sebenarnya tau maksud dari Rekay. Luna sengaja menggoda Rekay.


"Ya, masih sedikit sakit. Jangan cemas, aku baik-baik saja. Aku senang sekali kau bisa berdiri dan berjalan lagi Kay. Sungguh ini kejutan untukku." Luna tersenyum manis.


"Sebenarnya memang sudah bisa. Daniel memintaku melatih, aku gagal setiap kali melatihnya. Aku tidak bisa berdiri, kakiku terasa lemas kala mengingat kejadian di masa lalu. Rasa percaya diriku seketika sirna, aku ingin menyerah. Entah mengapa saat melihatmu akan jatuh tadi, seperti ada sesuatu yang mendorongku untuk berdiri dan menolongmu. Terima kasih Luna, berkatmu aku punya keberanian untuk berdiri dan berjalan kembali." Kata Rekay.


"Syukurlah, aku ikut senang Kay. Aku senang menjadi orang yang bisa membantumu." Luna mengusap wajah Rekay lembut.


"Luna, bisa kau membantuku?" Rekay mempunyai permohonan pada Luna.


"Apa? Katakan saja." Jawab Luna.


"Berjanjilah kau akan merahasiakan ini. Jangan katakan pada siapapun jika aku bisa berdiri dan berjalan kembali. Walau pada Daniel sekalipun. Apa kau bisa memenuhi permohonanku?" Tanya Rekay, Rekay bangun perlahan-lahan dan duduk di samping Luna.


Luna terdiam sesaat, mencoba mencerna ucapan Rekay. "Aku berjanji, aku tidak akan bicara pada siapapun. Tetapi aku ingin kau memberitahuku, apa alasamu ingin aku merahasiakan kabar baik ini?" Tanya Luna.


"Luna dengar, aku harus melakukan ini jika ingin nyawaku dan papaku selamat. Kau tau Jenifer bukanlah mama kandungku, dia hanya seorang wanita yang menjebak papaku untuk menikahinya. Jafferson adalah putra yang di bawa Jenifer masuk dalam keluarga Hawn. Kau tentu tau tujuan Jenifer sebenarnya bukan? Dia ingin menguasai seluruh kekayaan keluarga Hawn. Aku di usir perlahan dengan permainan kotornya. Jenifer berhasil membujuk papaku dan mengijinkan Jafferson mengelola perusahaan. Jika mereka tau aku bisa berdiri dan berjalan kembali, mereka pasti akan membunuhku untuk memperebutkan harta kekayaan." Rekay menatap Luna seakan memohon.


Luna meraba wajah Rekay, "aku mengerti. Aku akan selalu ada untukmu Kay, biarkan aku melindungimu dari orang-orang jahat yang mengusikmu. Ayo kita hadapi nenek sihir itu bersama-sama. Bagaimana pun kau lah satu-satunya penerus perusahaan Hawn, bukan Jeff! Kita perlu sebuah rencana yang matang untuk melawan mereka." Luna mengajak Rekay bersama-sama melawan orang jahat.


Rekay tersenyum, "beruntungnya aku, memilikimu sayang.." ucap Rekay dengan penuh cinta. "Kemarilah, aku akan memelukmu." Rekay merentangkan dua tangannya bersiap untuk memeluk.


Luna tersenyum, masuk dalam pelukan Rekay. Luna sangat senang, hidupnya seperti penuh warna sekarang.


Thank you..


Bye-bye..


------------