
Beberapa hari kemudian....
Luna duduk di meja makan, sarapan bersama Rekay. Seperti biasa, Luna melalukan kewajibannya sebagai seorang istri. Dia mengoles roti dengan selai untuk Rekay.
"makanlah," ucap Luna tersenyum manis.
"Terima kasih sayang," jawab Rekay.
"Terima kasih juga, kau akhirnya memberiku ijin pergi ke rumah sakit. Aku senang," jelas Luna.
"Kerjalah dengan hati-hati. Jangan sampai kau dan bayi kita ada apa-apa. Kau mengerti?" Tegas Rekay.
Luna berdiri dari duduknya, Luna merangkul Rekay dari belakang. Luna mencium leher Rekay.
"Aku mencintaimu. Paman," bisik Luna ditelinga Rekay.
Luna mendaratkan dagunya di bahu Rekay. Luna begitu senang saat itu.
"Kau juga makan, jangan terus merangkulku."
"Aku ingin seperti ini," ucap Luna.
Rekay terdiam, menggigit roti dan mengunyahnya perlahan. Rekay merasakan sesuatu yang mengganjal di hatinya.
"Apa ini, kenapa perasaanku tidak enak. Aku merasa akan terjadi sesuatu," batin Rekay.
Nicky masuk kedalam rumah dan berjalan mendekati meja makan.
"Maaf mengganggu, Tuan, Nyonya."
Luna melepas rangkulan dan menatap Nicky, "hai Nicky. Duduklah dan makan."
"Terima kasih, Nyonya. Saya hanya ingin mengingatkan Tuan jika kita harus bergegas untuk berangkat."
"Oh," jawab Luna ber-oh ria.
"Tunggu di mobil. Aku akan segera menyusul," jawab Rekay.
"Baik, Tuan."
Nicky langsung pergi, Rekay menghabiskan roti selainya dengan lahap. Dan meneguk susu hangatnya.
"Kau, akan pulang kan?" Tanya Luna.
Rekay menatap Luna, "tentu saja. Jika tidak pulang aku pasti akan mengajakmu. Maaf hari ini tidak bisa mengantarmu, sayang. Berhati-hatilah, dan jangan memikirkan pria lain selain aku."
"Tidak masalah, ada supir yang mengantarku. Kau juga hati-hati di jalam ya. Hubungi aku jika kau sudah sampai. Aku akan menunggu kau kembali pulang."
Luna dan Rekay berpisah jalan. Luna berangkat ke Rumah Sakit, dan Rekay berangkat utnuk perjalanan bisnis keluar kota.
--
Di perjalanan, Rekay begitu gelisah. Rekay terus merasa khawatir dan cemas tanpa sebab.
"Semakin aku jauh dari Luna, semakin aku merasakan sakit di dadaku. Apa in, mengapa bisa seperti ini?" Batin Rekay.
Rekay mengirim pesan pada Luna.
"Sayang, kau hati-hati ya. Aku akan selalu merindukanmu."
Luna membalas pesan Rekay.
"Kau juga hati-hati, Suamiku. Aku akan selalu memikirkanmu."
Rekay membalas pesan Luna.
"Aku mencintaimu, sangat cinta."
Luna membalas pesan Rekay.
"Aku juga sangat mencintaimu, muaaaacchh."
Rekay tersenyum membaca pesan Luna. Rekay membuka galery fotonya dan memandangi foto-foto Luna. Rekay mengusap layar ponselnya, mengusap wajah Luna.
"Hanya kau yang aku cintai, Luna. Tidak akan ada wanita lain selain kau," batin Rekay.
Rekay memasukan kembali ponselnya ke saku jasnya. Rekay menatap jalan, mobil yang di tumpanginya sudah melaju jauh dari rumahnya.
"Kita tidak ada hal lain selain kunjungan ini kan, Nick?" Tanya Rekay.
"Tidak ada, Tuan. Kita hanya melakukan kunjungan kerja saja. Lalu kita bisa kembali."
"Bagus, tolak semua ajakan makan atau pertemuan di luar kunjungan kerja. Aku ingin segera kembali pulang setelah selesai acara ini. Kau mnegerti?" Tegas Rekay.
"Saya mengerti tuan," jawab Nicky.
Rekay berusaha tenang walau sebenarnya tidak tenang. Hatinya masih saja gelisah. Pikirannya tidak bisa lepas dari Luna. Hanya Luna dan Luna yang di pikirkan oleh Rekay.
--
Jenifer mengajak Jafferson bertemu dengan Lana. Jafferson kaget, pada awalnya Jafferson menerka jika Lana adalah Luna. Setelah di jelaskan oleh Jenifer, barulah Jafferson mengerti.
"Jika Mama tidak jelaskan, aku sudah pasti salah mengenali."
"Mama juga seperti kau pada awalnya. Tetapi Mama baru sadar jika yang Mama temui Lana bukan Luna. Karena Lana tidak langsung mengenali Mama saat bertemu. Dia terlihat bingung."
"Sungguh sangat mirip," tutur Jafferson.
"Aku dan Luna, kami adalah kembar indentik. Tentu wajah kami sangat mirip. Banyak orang salah mengenali kami. Orag tua kamilah yang sangat memahami kami. Meski dengan menutup mata, Papa dan Mamaku tahu siapa Lana dan siapa Luna."
"Bagus, kau cepatlah kerjakan tugasmu. Aku sudah tidak sabar menyambut wanitaku," ucap Jafferson.
"Kau sungguh menggilai, Luna?" Tanya Lana.
"Ya. Aku suka, sanagt suka. Aku bahkan sudah gila karenanya."
"Apa Luna juga menyukaimu? Asal kau tau, Luna adalah wanita yang berbeda. Jika dia tidak menyukai seseorang, dia akan menajaga jarak dan menghindar. Luna bukan wanita yang hanya akan diam jika kau perlakukan tidak baik. Berbeda denganku, meski aku tidak suka. Demi uang akau akan lakukan."
"Kau jal*ng, sudah pasti kau seperti itu. Aku tidak peduli meski Luna tidak suka padaku. Apa pun cara akan aku lalukan demi mendapatkan Luna. Karena aku sudah menaruh hati pada Luna."
"Kau benar, aku memang jal*ng. Apa pun aku lakukan demi uang. Demi mendapatkan kesenangan dan status yang tinggi."
"Hentikan perdebatan kalian! Sekarang kita fokus saja untuk menjalankan rencana kita. Jef, bagaimana denganmu. Kau sudah dapat informasi apa dari orangmu?" Tanya Jenifer.
"Orangku belum menghubungiku, Ma. Aku belum dapat kabar apa-apa."
Ponsel Jafferson berdering, panggilan dari seorang pesuruhnya. Jafferson menerima panggilan dari orangnya itu.
(Percakapan di telepon)
"Hallo," jawab Jafferson.
"Tuan, orang itu sudah pergi. Istrinya juga. Kami mengikuti istrinya, pergi ke Rumah Sakit. Selanjutnya kami harus apa?"
"Mereka tidak pergi bersama?" Tanya Jafferson.
"Tidak tuan, mereka menggunakan mobil berdeda. Dan pergi ke arah yang berlawanan. Apa yang selanjutnya kami lakukan?" Tanyanya pada Jafferson.
"Baik tuan," jawabnya.
Jafferson menutup panggilannya. Jafferson menatap Jenifer.
"Rekay sudah pergi, Luna juga pergi ke Rumah sakit. Mereka berpisah jalan, dan tidak bersama."
"Sepertinya benar apa yang Papaku katakan. Rekay dalam perjalanan bisnis ke luar kota. Maka dari itu dia berpisah jalan dengan Luna. Ini kesempatan bagus, kita dapatkan Luna dan menukar posisi Luna dengan Lana."
"Caranya?" Sela Jafferson.
"Mudah saja. Aku akan mengajaknya makan siang dan bicara. Aku akan gunakan Calvin sebagai alasan. Selanjutnya..., lihat apa yang akan terjadi nanti."
Jafferson masih tidak mengerti maksud ucapan Jenifer. Begitu juga Lana. Jenifer rencanakan rencana Jahatnya untuk menjebak Luna.
--
Luna duduk bersantai di ruangannya. Luna selesai memeriksa semua pasiennya hari ini.
Ponsel Luna berdering, panggilan dari Calvin. Luna memandangi layar ponselnya sesaat. Lalu menerima panggilan dari Calvin.
(Percakapan di telepon)
"Hallo, Pa?" Sapa Luna.
"Hallo, sayang. Kau sibuk?" Tanya Calvin.
"Tidak sibuk, Pa. Luna baru selesai berkeliling. Ada apa, Pa?" Tanya Luna penasaran.
"Kau ada acara bersama, Kay? Jika kau tidak sibuk ayo makan siang bersama Papa. Papa hanya ingin lebih dekat dengan menantu Papa."
"Kay sedang keluar kota, Pa. Malam baru akan kembali. Baiklah, aku tidak akan menolak permintaan Papa. Papa kirimkan alamat pada Luna."
"Iya, Papa akan kirim. Sampai jumpa, sayang."
"Iya, Papa."
Calvin memutus panggilan. Calvin yang sudah memesan tempat, langsung mengirim lokasi tempat makan siang pada Luna. Luna tersenyum senang, Luna berpikir jika dia harus bersikap baik kepada Papa mertuanya. Demi nama baik Rekay.
--
Jenifer memasang senyum palsunya menatap Calvin. Jenifer bermanja pada Calvin.
"Bagaimana? Apakah Luna setuju?" Tanya Jenifer.
Calvin mengangguk, "ya..., dia setuju. Kau diam-diam perhatian juga pada Luna."
Jenifer melebarkan senyumannya, "jika bukan karena rencanaku. Aku tak mau repot," batin Jenifer.
"Tentu saja harus perhatian. Dia adalah menantu keluarga Hawn. Rekay sudah aku anggap seperti putraku sendiri, aku juga harus bersikap baik pada menantuku, bukan?" Jelas Jenifer.
Calvin tidak sadar jika dia hanya di manfaatkan oleh Jenifer. Jenifer mengajak Calvin makan siang bersama. Jenifer mengatakan pada Calvin jika Jenifer ingin makan bersama Kay dan Luna. Jenifer mengeluh karena Luna dan Kay lama tidak datang.
Mendengar ucapan Jenifer, Calvin langsung menghubungi Nicky. Meminta Kay datang untuk makan siang. Namun Nicky mengatakan jika Kay sibuk. Tidak bisa datang untuk makan siang. Calvin menerka mungkin saja Kay sibuk dengan Luna. Calvin pun menghubungi Luna dan bertanya, Calvin mengutarakan maksud dan tujuannya telepon. Ternyata Kay sedang perjalanan bisnis keluar kota. Hanya Luna yang akan datang untuk makan siang bersama Calvin.
Mendengar kabar Luna setuju, Jenifer merasa senang. Jenifer bergegas pergi bersama Calvin menuju restorant yang sudah di pesannya.
----- ----- ----- ----- -----
Hallo semua..
Terimakasih sudah mau berkunjung dan membaca novel saya..
Jangan pernah bosan menunggu update selanjutanya ya..
Jangan lupa like,☆☆☆☆☆ dan isi kolom komentar..
Jangan lupa berikan vote juga ya..
Kunjungi juga di novel saya yang lain. Dengan judul,
•Lelaki Bayaran Amelia (Season 1&2 End)
•Pelukan Hangat Paman Tampan (End)
•Pangeran Es Jatuh Cinta (End)
(Season ke 2 dari Pelukan Hangat Paman Tampan)
•Pangeran Vampir (End)
•Pangeran Vampir 2 (SEASON 2) (End)
•Vampir "Sang Abadi" (End)
•Cinta Lama Yang Datang Kembali (End)
•Mommy And Daddy (CLYDK 2) (End)
•Darren & Karren (Perjalanan Cinta) CLYDK SEASON KE 3
•The Hit Man In Love
•Jatuh Cinta Pada Tetangga
•Suami Pengganti
•Menjadi Istri Simpanan
•Dendam Permaisuri Kepada Kaisar
Jangan lupa like, ☆☆☆☆☆ dan isi kolom komentar.. vote juga dong..
Terimakasih..
Untuk pembaca yang ingin join grup FB/WA silahkan..
Untuk yang ingin follow ig saya juga silahkan..
ig: dea_anggie
Line id: dea_anggie
Fb: dea anggie
Grup FB: Lelaki Bayaran Amelia
❤❤❤❤❤
Bye bye..
Salam hangat,
"Dea Anggie"