Oh My Husband

Oh My Husband
Oh My Husband Ep-13



Keesokan harinya


Hari pertama di mulai, Luna bangun lebih pagi dan menemui pelayan di rumah Kay. Di dapur ada bibi Mao, bibi Mao kaget saat melihat nyonya rumahnya sudah bangun dan pergi kedapur.


"Nyonya, anda perlu sesuatu? Saya akan siapkan. Tolong jangan kotori tangan anda, saya tidak ingin tuan muda marah." Bibi Mao terlihat panik.


Luna tersenyum, memegang tangan bibi Mao. "Bibi, jangan panik. Aku sudah biasa memasak dan membantu mamaku saat aku libur bekerja. Bibi tolong bantu aku, aku ingin masak untuk Kay. Katakan apa saja yang Kay suka dan tidak sukai, aku akan mengingatnya." Dengan suara lembut Luna bicara pada bibi Mao.


"Nyonya.." bibi Mao tersentuh, mendengar ucapan Luna yang lembut dan sikap Luna yang ramah.


"Oh, siapa nama bibi? Aku Luna." Sapa Luna yang kembali tersenyum.


"Anda bisa memanggil saya bibi Mao. Saya senang sekali rumah ini memmiliki nyonya rumah seramah anda nyonya. Maafkan jika sikap tuan terkadang menyakitkan. Tuan kami sangat sensitif, anda pasti mengerti maksud saya." Kata bibi Mao.


Luna mengangguk, "aku mengerti bibi. Ayo kita membuat sarapan, mulai dari sekarang aku akan siapakan sarapan untuk Kay. Juga makan malam, untuk makan siang aku tidak bisa, karena aku harus pergi bekerja." Kata Luna.


"Tidak masalah nyonya, saat siang tuan jarang ada di rumah. Tuan akan ada di rumah saat sore hari atau malam hari. Mari saya bantu anda, tuan muda tidak bisa makan makanan laut, seafood atau ikan laut membuat tuan alergi. Tuan muda suka makan daging, tuan muda juga menyukai terlur dan sup jagung. Jika sarapan tuan biasanya hanya minum susu dan makan roti isi selai, atau roti isi." Bibi Mao menjelaskan.


"Ah.. begitu," Luna mengangguk. "Lalu? Apa selain susu, apa lagi yang Kay sukai?" Tanya Luna lagi.


"Air lemon, juga teh hijau." Jawab bibi Mao.


"Untuk rasa, Kay bisa makan, makanan pedas? Dan ya, apa buah kesukaan Kay?" Luna bertanya lagi.


"Untuk rasa tuan menyukai semua rasa kecuali rasa manis, seperti rasa madu, atau cake. Untuk buah tuan menyukai buah strawberry dan buah anggur." Jawab bibi Mao lagi. Luna mengangkat kepala mencoba mengingat semuanya.


"Bibi Mao terima kasih, jika aku melakukan kesalahan aku kekeliruan tolong bantu aku mengingat ya. Aku akan berusaha dengan baik." Ucap Luna.


Bibi Mao tersenyum, "baik nyonya." Jawabnya ramah.


Luna memakai apron, mengikat rambutnya ekor kuda. Luna mencuci tangan, Luna membuka lemari pendingin mencari bahan yang akan di gunakan untuk membuat roti isi.


Bibi Mao membantu, Luna tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Luna bersemangat, Luna harus berhasil membuat makanan yang lezat dan disukai oleh Kay.


Lama bergelut di dapur, akhirnya Luna berhasil mennyiapkan roti isi spesial untuk Kay, Luna juga menghangatkan susu untuk Kay.


"Wah nyonya, roti isi pasti lezat." Bibi Mao memuji.


"Ini untuk Kay, dan ini untuk bibi. Karena bibi sudah membantuku." Luna mimilah roti isi untuk Kay dan untuk bibi Mao. "Aku akan mandi dan bersiap bi, bibi tolong bantu aku bersihkan dapur yan peralatan masak yang kotor ya." Luna melepas apron, dan berjalan cepat ke kamarnya.


-----


Luna selesai mandi dan berganti pakaian. Seperti biasa Luna mengenakan celana panjang berbahan kain dan kemeja, hari itu Luna menggunakan kemeja berwarna pink cerah.


Luna siap bekerja, Luna keluar dari kamar. Luna berjalan kemeja makan, meletakan tasnya dan menyapa Kay.


"Hai, selamat pagi." Sapa Luna.


"Pagi, kau duduklah dan makan." Jawab Kay.


"Ah iya, tuan.. kau sudah memakan roti isi buatanku?" Tanya Agnes.


Kay tersedak, Kay terbatuk-batuk. "Uhukk.. uhukk.."


Luna panik segera menyodorkan gelas berisi air minum dan menepuk punggung Kay pelan. Kay meminum air minum di gelas dan meletakan kembali ke meja.


"Tarik napas perlahan, dan hembuskan perlahan." Kata Luna.


Kay mengikuti instruksi Luna, mengambil napas dan menghembuskan perlahan-lahan. Keadaanya sudah lebih baik, Luna menghela nafas panjang.


"Lain kali hati-hati saat makan. Kunyah makananmu dengan benar." Ucap Luna, menarik kursi dan duduk.


Luna meminum susu dalam gelas, Luna mengambil roti dan mengoles selai strawberry di rotinya. Luna menekuk rotinya dan memakannya. Kay terus menatap Luna, merasa heran.


"Jadi roti isi yang kumakan buatanya? Tidak heran rasanya berbeda, jauh lebih lezat dibandingkan roti isi buatan bibi Mao. Wanita ini juga bisa memasak? Menarik. Ah.. aku hampir lupa, aku mendengar Lana mencintai uang, apakah Luna seperti Lana? Aku tidak sabar mengujinya." Kay berguman dalam hati.


Kay melihat Luna selesai makan dan sudah menghabiskan susu. Luna berdiri dari tempat duduknya dan berpamitan pada Kay.


"Aku akan pergi bekerja, aku akan pulang sore nanti. Sampai jumpa.." celoteh Luna tersenyum manis.


"Hmm, pergilah.. supir akan mengantarmu." Kata Kay.


Luna menggeleng, "tidak perlu, aku bisa naik bus. Aku sudah biasa naik kendaraan umum, aku bukan nona muda yang manja tuan Hawn. Terima kasih untuk tawaranmu." Luna membawa tasnya dan pergi meninggalkan Kay.


Kay kaget, terdiam di meja makan. Nicky masuk ke dalam rumah dan mendekati Kay.


"Tuan, nyonya.." Nicky menghentikan ucapannya.


"Biarkan saja, dia ingin naik bus. Nicky, kau selidiki bagaimana keseharian Luna selama ini." Kay penasaran pada sosok Luna.


Kay masih begitu penasaran pada Luna. Jika posisi Luna adalah wanita asing maka akan langsung mengiyakan tawaran Kay dengan senang hati. Luna justru menolak, dan mengatakan jika dirinya bukan nona muda yang manja.


-----


Rumah sakit


Daniel datang ke ruangan kerja Luna. Daniel mengetuk pintu ruang kerja Luna.


Tok..


Tok..


Tok..


Daniel membuka pintu perlahan dan mengintip. "Luna.. boleh aku masuk?" Daniel melihat Luna sedang duduk menatap komputer.


Luna menatap kearah Daniel, "ya.. ada apa? Masuklah." Luna mempersilahkan Daniel masuk.


Daniel masuk dan menutup pintu, berjalan mendekati Luna. "Luna, kau ambil cuti kemarin?" Tanya Daniel.


"Ya.. sedang ada urusan." Jawab Luna.


"Oh, kau sakit? Kau baik-baik saja?" Tanya Daniel, duduk di hadapan Luna.


"Aku baik-baik saja Daniel, katakan ada apa? Kau sedang santai?" Tanya Luna.


"Ya, aku sedang kosong. Kau juga kosong? Ayo kita jalan-jalan." Ajak Daniel.


"Jalan-jalan?" Luna menatap Daniel.


"Hmm, jalan-jalan sore nanti. Aku ingin mengajakmu menonton film." Daniel tersenyum.


Luna kaget, "maaf Daniel, aku tidak bisa." Jawab Luna.


"Kenapa? Ada masalah?" Tanya Daniel.


Luna menghela nafas panjang, "bagaimna ini? Haruskah aku bicara dengan Daniel soal pernikahanku?" Kata Luna dalam hati.


Daniel melihat Luna melamun. "Luna, kau baik-baik saja." Tanya Daniel khawatir.


"Daniel, aku ingin bicara sesuatu padamu. Kau lebih baik menjaga jarak denganku Dan, aku sudah menikah." Kata Luna.


"Apa? Kau sudah menikah?" Tanya Daniel.


"Dengan siapa dan kapan?" Tanya Daniel.


"Kemaren, dengan seseorang yang berasal dari keluarga Hawn." Luna berdiri, dan merapikan dokumen di mejanya.


Daniel terdiam, "keluarga Hawn? Rekay atau Jafferson?" Tanya Daniel.


"Kau kenal mereka?" Tanya Luna.


Daniel gugup, "ahh.. tidak.. maksudku.." Daniel tiba-tiba diam.


"Aku ada urusan, aku akan menemui perawat jaga. Kau bisa kembali ke ruanganmu, jangan berlama-lama di sini. Aku tidak ingin perawat dan dokter-dokter lain berfikir buruk tentang kita." Kata Luna.


Luna mengambil ponselnya yang ada di atas meja, dan memasukan di saku. Luna berjalan keluar dari ruangan, tangannya ditahan oleh Daniel. Luna menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Daniel.


"Siapa yang menikah denganmu, kau tidak menjawab?" Tanya Daniel lagi,


"Kau jangan memaksaku Daniel. Jika kau kenal mereka, tanyalah sendiri. Siapa pria yang menikah denganku. Maaf Daniel, aku harus pergi sekarang." Luna melapaskan tangannya.


Luna berjalan, membuka pintu dan keluar dari ruangannya. Luna kembali menutup pintu dan melangkah jauh, Luna menghindari Daniel. Luna tidak ingin memberi harapan pada Daniel, terlebih dirinya sudah menikah.


Luna tidak ingin membuat hati Daniel terluka lebih dalam lagi. Luna mengerti pasti Daniel sakit hati, karena sebelumnya Luna pernah dua kali menolak cinta Daniel. Dan sekarang justru Luna memberitahu Daniel mengenai pernikahannya.


Bagi Luna, Kay adalah suaminya. Baik, buruk, suka, tidak suka Luna harus bisa menerima Kay. Mau tidak mau harus berusaha dengan baik menjalani kehidupan pernikahan yang seperti di jalani pasangan-pasangan pada umumnya. Luna sudah bertekad melepaskan semua masa kehidupan masa lalunya, mulai menjalani masa depannya. Luna membuka hati dan pikirannya menerima pernikahannya dengan Kay.


"Biarkan semua berjalan seperti air yang mengalir. Mungkin inilah yang terbaik, Kay memang bukan lelaki sempurna. Aku harus berjuang, Luna.. Semangat!" Kata Luna dalam hatinya. Luna menyemangati dirinya sendiri.


Thank you..


Bye-bye..


------------