
Rekay tidur di pangguan Luna. Luna mengelus rambut Rekay lembut. Beberpa kali Rekay meraba dan mencium perut Luna.
"Papi tidak sabar menanti kelahiranmu sayang. Terusalah bertumbuh dan sehat di dalam rahim Mami."
"Sampai kapan aku begini, aku bosan. Aku ingin kembali bekerja. Sayang," keluh Luna pada Rekay.
"Tunggulah, awal bulan depan aku akan ijinkan kau bekerja. Sekarang kau harus banyak istirahat. Kau mengerti?" Jawab Rekay.
"Kau beralih profesi kah? Apa kau sekarang sedang menjadi Dokter?" Komentar Luna mendengar ucapan Rekay.
"Ya, saat ini akulah Dokternya. Jadi kau harus patuh padaku, juga pada ucapanku. Tidak boleh ada penolakan, tidak boleh ada komentar dan keluhan. Aku tidak membuka akses jalan keluar rumah. Kau hanya bisa pergi keluar jika bersamaku. Kali ini aku serius, dan tidak main-main dengan ucapanku."
Luna mengangguk, "aku paham, aku mengerti. Maafkan aku yang keras kepala. Aku tidak akan membuatku kesal dan marah lagi."
Rekay bangun, duduk di samping Luna. Rekay menatap Luna, meraba wajah Luna dengan dua tangannya.
"Kau tau, aku punya firasat buruk beberapa hari ini. Perasaanku hari ini lebih buruk dari kemarin. Entah apa yang akan terjadi kedepannya, kita tidak aka tahu kan? Mungkin firaaatku salah tetapi apa salahnya kita berjaga-jaga. Aku mohon padamu, dengar aku kali ini saja. Kau bisa lakukan apa saja nanti. Aku tidak akan melarangnya, selama kau tau batasanmu."
Luna melebarkan mata, "apa yang terjadi? Apa terjadi sesuatu?" Tanya Luna.
"Entahlah, aku tidak tahu pasti. Yang jelas perasaanku mentakan akan ada hal buruk terjadi. Hal apa dan kapan aku tidak tahu. Benar atau tidaknya aku juga tidak tahu. Aku hanya berharap, kau, bayi kita dan Papa baik-baik saja."
"Kau juga harus baik-baik saja. Jangan lupakan dirimu sendiri. Kau tenangkan diri dulu, apa kau merasa tegang? Katakan padaku, bagaimana perasaanmu sekarang?" Tanya Luna cemas.
Rekay memegang tangan kiri Luna, Rekay mengarahkan tangan kiri Luna kedadanya. Rekay ingin Luna mendengar suara detak jantungnya.
Deg....
Deg....
Deg....
Suara detak jantung Rekay begitu kencang. Luna meraba dada bidang Rekay perlahan. Luna menatap Rekay dan terlihat sedih.
Tidak lama Luna langsung memeluk erat Rekay. Rekay membalas pelukan Luna. Rekay mengecup bahu dan leher Luna. Rekay mengelus kepala dan punggung Luna.
"Kau baik-baik saja kan? Apa kau terluka? Jangan membuatku takut."
Rekay melepas pelukan, mengecup kening Luna lembut dan lama. Luna merasakan kecupan Rekay dikeningnya begitu menenangkan.
"Aku baik-baik saja. Jangan cemas," bisik Rekay di telinga Luna.
Luna tersenyum cantik menatap Rekay. Rekay mebalas senyuman Luna. Meski perasaannya tidak tenang, ada Luna yang selalu memberinya semangat dan dukungan.
--
Malam harinya, Luna mengajak Rekay berkunjung ke rumah Orang Tuannya. Luna ingin melihat keadaan Papa dan Mamanya.
Sesampainya di rumah Orang Tuanya. Luna langsung memeluk Papa dan Mamanya melepas rindu. Luna senang, melihat Papa dan Mamanya baik-baik saja.
Louis dan Merry menyambut Luna dan Rekay. Luna mendorong kursi roda Rekay masuk kedalam rumah. Luna duduk di sofa, berhadapan dengan Louis. Merry menyiapkan makan malam.
Tidak lama duduk, Luna kembali berdiri. Luna berjalan perlahan menuju dapur, ingin membantu Mamanya di dapur.
Luna mendekati Mamanya, "Ma..., apa yang bisa aku bantu?" Tanya Luna.
"Oh, kau tata dulu piring dan makanan yang sudah siap. Kau seharusnya tidak perlu repot, Mama bisa melakukannya sendiri."
"Tidak apa Ma. Aku sudah lama tidak membantu Mama. Aku merindukan ini, rindu Mama, Papa, rindu kita makan bersama dan berbincang."
"Mama juga sangat merindukanmu Luna. Merindukan Lana juga, bagaimana pun kalian adalah Anak-anak Mama."
Luna diam saat Mamanya menyebut nama Lana. Luna tidak ingin menyampaikan kejadian buruk saat Luna bertemu Lana.
"Apa Lana tidak menggubungi Mama dan Papa?" Tanya Luna berdiri di samping Merry.
Merry menggelengkan kepala, "tidak. Setelah waktu itu, dia tidak ada kabar lagi. Ntah apa yang di lakukannya."
"Maafkan Luna Ma, Luna tidak bisa membantu Mama apa-apa. Luna bukan amAnak yang baik. Maaf," Ungkap Luna.
Merauh tangan Luna dan memegang tangan Luna. Merry mengelus kepala Luna. Merry tersenyum pada Luna.
"Jangan bicara seperti itu, Luna. Kau adalah Anak yang baik dna patuh. Terima kasih kau mau membantu Papa dan Mama melewati masa kritis perusahaan. Apa Kay memperlakukan mu dengan baik? Mama melihat cinta di matanya untukmu, saat Kay menatapmu."
"Kay baik Ma, sangat baik. Kay tidak pernah mengekangku, dia selalu peduli dan perhatian padaku. Mama tidak perlu cemas, bagiku menikah dengannya adalah sebuah keberuntungan. Kay bukan pria jahat Ma," Jelas Luna.
"Mama senang kau bahagia sayang. Sudah waktunya kau bahagia, kau sudah cukup menderita saat ini. Jalani hidupmu dengan baik bersama Kay."
Luna tersenyum, Luna kembali membantu Mamanya di dapur. Luna dan Merry sibuk di dapur, menyiapkan makan malam.
Makan malam berlangsung, Luna duduk di samping Kay. Luna melayani Kay, menyiapkan makanan Kay. Luna meletakan makanan didalam piring kedahapan Rekay.
"Terima kasih," Ucap Rekay menatap Luna. Rekay menatap Luna dengan penuh cinta.
"Sama-sama, makan yang banyak. Banyak makanan kesukaanmu."
"Kay, jangan sungkan. Ayo makan," ajak Merry.
"Iya Ma," jawab Rekay.
"Syukurlah Luna baik-baik saja. Sepertinya Luna bahagia dengan pernikahannya. Kay juga terlihat baik pada Luna. Aku harap Kay dan Luna mau menerima satu sama lain," batin Louis.
Louis memandangi Rekay dan Luna seaaat, lalu melanjutkan makannya. Louis, Merry, Luna dan Rekay menikmati hidangan makan malam yang di masak oleh Merry.
Setelah selesai makan malam, Rekay dan Luna berbincang santai dengan Louis dan Merry. Mereka berbincang sampai lupa waktu, tidak terasa waktu sudah mrnunjukan pukul 23.00 malam waktu setempat.
"Menginaplah, ini sudah mau larut."
"Papamu benar, lebih baik kalian menginap. Besok baru pulang."
Luna menatap Rekay, Rekay tersenyum dan menganggukan kepala. Luna membalas anggukan kepala Rekay dan senyuman Rekay.
"Baiklah Pa, Ma, aku akan ajak Rekay ke kamarku untuk istirahat. Papa dan Mama juga harus istirahat. Selamat malam dan selamat istirahat, Papa, Mama."
"Selamat malam, Pa, Ma," ucap Rekay.
"Selamat malam," jawab Louis dan Merry secara bersamaan.
Luna mendorong kursi roda Rekay ke kamarnya. Sesampainya mereka di depan pintu kamar, Luna membuka pintu dan mendorong Rekay masuk kedalam kamar. Luna menutup dan mengunci pintu kamarnya. Luna tidak ingin Papa dan Mamanya tahu jika Rekay sudha bisa berjalan. Luna tetap ingin menjaga rahasia Rekay.
Rekay berdiri dan berjalan melihat kamar Luna. Rekay mengelilingi kamar Luna.
"Sejak dahulu kau mencintai kerapian, kau pekerja keras istriku."
"Ada apa? Kau lelah?" Tanya Rekay.
"Tetap lah seperti ini, aku ingin memelukmu seperti ini. Sebentar saja," jawab Luna.
Rekay menuruti perkataan Luna. Setelah beberapa saat, Rekay melepas tangan Luna yang melingkar di perutnya. Rekay berbalik dan memeluk Luna. Luna mengeratkan pelukannya.
"Terima kasih, Kay. Aku tidak lagi bosan. Aku senang bisa bertemu Papa dan Mama."
"Aku hanya ingin memberimu sedikit kelegaan. Aku tak bisa membawamu ke rumahku, karena ada Jenifer dan Jafferson. Aku hanya akan mencari masalah jika mengajakmu datang kesana. Setelah aku pikirkan, lebih baik aku memberimu ide untuk pulang kerumah Orang Tuanmu bukan?" Jawab Rekay tenang.
"Iya, kau benar. Kau sungguh sempurna bagiku. Kau begitu pengertian Kay," jawab Luna.
Rekay melepas pelukan, meraba bawah Luna. Rekay mengelus rambut Luna. Mata Rekay menatap perut Luna, Rekay berlutut dan memeluk perut Luna. Rekay mengusap perut Luna dan mencium perut Luna. Luna memeluk kepala Rekay yang memeluk perutnya, sesekali Luna mengelus kepala Rekay.
"Sudah malam, ayo bersihkan diri dan tidur."
Rekay berdiri dari telutnya, "iya..., bagaimana jika bersama-sama membersihkan diri?" Ajak Rekay.
"Ide bagus," jawab Luna.
Luna dan Rekay berjalan bersama-sama masuk dalam kamar mandi. Di kamar mandi mereka berdiri berdampingan mengahadap cermin dan menggosok gigi. Mereka menatap cermin dan melihat gerakan mereka masing-masing. Sesekali Rekay dan Luna saling melirik, pandangan mereka bertemu. Mereka pun tertawa. Setelah membersihkan mulut, mereka membasuh muka bersama.
Rekay mengambil handuk kecil dan menyeka wajah Luna. Luna menutup mata saat Rekay menyekanya dengan handuk. Mata Luna kembali terbuka setelah selesai. Luna mengambil handuk dari tangan Rekay, berbalik menyeka wajah Rekay. Setelah selesai, Luna memberikan bonus pada Rekay. Luna mengecup hidung mancung Rekay.
Rekay mengambil handuk dari tangan Luna dan meletakan di keranjang kotor. Rekay membopong Luna keluar dari kamar menuju tempat tidur. Rekay menyelimuti Luna, Rekay pun menyusul naik ke atas tempat tidur. Rekay masuk dalam selimut dan berbaring. Rekay melihat langit-langit kamar Luna.
"Kau suka melihat awan?" Tanya Rekay.
"Ya, aku suka. Aku terkadang ingin menggenggamnya saat mereka membentuk sesuatu yang lucu. Saat kita melihat ke langit, terkadang kita bermain dengan imajinasi kita sendiri. Kita membayangkan bentuk awan dengan apa yang kita pikirkan. Dan itu sangat menyenangkan."
Rekay mengubah posisi tidurnya menghadap Luna. Rekay terus menatap Luna.
"Aku ingin menjadi awan itu. Lihatlah kearahku, dan genggam tanganku setiap saat. Bayangkan saja kau ingin aku jadi seperti apa," ucap Rekay tiba-tiba.
Luna mengubah posisi tidurnya menghadap Rekay. Luna menatap dan meraba wajah Rekay, Luna merapikan rambut Rekay.
"Kau..., segalanya bagiku," Ucap Luna.
Rekay tertegun, Rekay tersenyum setelah memahami ucapan Luna. Rekay menyelipkan tangan kirinya keleher Luna. Rekay menerik perlahan Luna agar dekat dengannya.
Tatapan mata Rekay dan Luna saling bertemu. Mereka saling menatap dalam, Rekay mendekatkan wajahnya dan menggapai bibir Luna dengan bibirnya. Setelah menggapai, Rekay menutup matanya perlahan. Tangan Luna mengusap tengkuk dan rambut Rekay. Luna menutup matanya, merasakan kelembutan dan kehangatan ciuman Rekay. Luna berusaha mengimbangi ciuman Rekay.
----- ----- ----- ----- -----
Hallo semua..
Terimakasih sudah mau berkunjung dan membaca novel saya..
Jangan pernah bosan menunggu update selanjutanya ya..
Jangan lupa like,☆☆☆☆☆ dan isi kolom komentar..
Jangan lupa berikan vote juga ya..
Kunjungi juga di novel saya yang lain. Dengan judul,
•Lelaki Bayaran Amelia (Season 1&2 End)
•Pelukan Hangat Paman Tampan (End)
•Pangeran Es Jatuh Cinta (End)
(Season ke 2 dari Pelukan Hangat Paman Tampan)
•Pangeran Vampir (End)
•Pangeran Vampir 2 (SEASON 2) (End)
•Vampir "Sang Abadi" (End)
•Cinta Lama Yang Datang Kembali (End)
•Mommy And Daddy (CLYDK 2) (End)
•Darren & Karren (Perjalanan Cinta) CLYDK SEASON KE 3
•The Hit Man In Love
•Jatuh Cinta Pada Tetangga
•Suami Pengganti
•Menjadi Istri Simpanan
•Dendam Permaisuri Kepada Kaisar
Jangan lupa like, ☆☆☆☆☆ dan isi kolom komentar.. vote juga dong..
Terimakasih..
Untuk pembaca yang ingin join grup FB/WA silahkan..
Untuk yang ingin follow ig saya juga silahkan..
ig: dea_anggie
Line id: dea_anggie
Fb: dea anggie
Grup FB: Lelaki Bayaran Amelia
❤❤❤❤❤
Bye bye..
Salam hangat,
"Dea Anggie"