
Rekay dan Luna datang kekantor polisi. Rekay dan Luna bertemu langsung dengan kepala polisi. Rekay menceritakan semuanya, bahakan Luna pun menceritakan rencananya. Kepala polisi mendukung rencana Luna.
"Menangkap ikan besar harus menggunakan umpan ikan kecil," ucap kepala polisi tersenyum.
"Anda benar," jawab Rekay.
"Jika ada apa-apa jangan ragu menghubungi kami," imbuh kepala Polisi.
"Tentu, kami harus pergi sekarang, karena waktu kami tidak banyak. Terima kasih untuk kerjasama Anda," ucap Rekay.
"Tidak perlu sungkan, bila perlu Anda bisa membawa beberapa anggota kami, Tuan."
"Tidak untuk sekarang, saya masih harus memastikan lebih dulu keselamatan Papa."
"Baiklah, saya akan terus menunggu kabar Anda, Tuan Hawn."
Luna mendorong Rekay keluar dari ruang kepala polisi. Mereka membawa surat izin untuk menjamin Jafferson keluar.
***
Jenifer mondar-mandir, ditangannya ada sebotol utuh racun yang diminta Rekay. Jenifer ragu apakah harus memberikan Rekay atau menyimpannya.
"Ayo Jeni, pikirkan sesuatu. Berpikirlah, ayo...," gumam Janifer.
Jenifer menggigit ujung ibu jari tangan kanannya. Jenifer memikirkan cara agar racun itu tidak jatuh pada Rekay.
Jenifer melihat jam ditangannya, "40 menit lagi. Bagimana ini," gumam Jenifer panik.
***
Daniel sedang duduk membaca buku. Lana baru saja selesai menjemur pakaian. Lana berjalan lemas kearah dapur, Lana mengambil gelas dan menuang air minum. Lana menghabiskan air minum sekali teguk, dan mengisi lagi gelas kosongnya. Lana kembali meneguk habis air minum di dalam gelas.
Lana meletakan gelas dan mengusap pinggangnya. Daniel dari pagi menyiksanya. Lana tak boleh lengah dan melakukan kesalahan sekecil apapun.
"Pria brengs*k! Aku akan membunuhmu suatu saat nanti, kau membuatku menderita. Ah, pinggangku...," batin Lana mengeluh. Lana berjalan mendekati meja makan, menarik kursi dan duduk. Lana merebahkan kepalanya diatas meja makan.
"Lana, ambilkan jus untukku...," pinta Daniel.
Lana menghela napas panjang, "sial, baru saja aku merasakan istirahat. Monster jahat sudah memerintahku," gumam Lana.
"Ayo cepat, jangan menjadi siput pemalas!" Ejek Daniel.
Lana mengangkat kepalanya, berdiri dari duduknya dan berjalan menuju lemari pendingin. Lana membuka lemari pendingin melibat banyak macam jus didalam kulkas.
"Jus apa yang Anda inginkan, Tuan?" Teriak Lana.
"Berikan aku Jus Lemon. Cepatlah, aku sangat haus."
"Baik, Tuan."
Lana mengambil sebotol jus lemon dan menutup kembali lemari pendingin. Lana berjalan lemas mendekati Daniel yang duduk bersantai di sofa ruang tengah.
"Silakan," ucap Lana memberikan sebotol jus lemon pada Daniel.
"Hm," jawab Daniel menerima botol jus dari Lana.
Daniel manatap Lana sembari membuka penutup botol.
"Bagaimana pekerjaanmu? Sudah selesai?" Tanya Daniel.
"Sudah," jawab Luna kesal.
"Bagus," jawab Daniel.
Daniel meneguk jus lemonnya. Ponselnya di meja berdering, terlihat nama 'Kay' dilayar ponsel.
"Kay?" Batin Lana.
Daniel menatap Lana, " pergilah istirahat," perintah Daniel pada Luna.
"Monster jahat, seenaknya memerintah orang. Menyebalkan," batin Lana mengumpat. Lana langsung pergi ke kamarnya untuk istirahat.
Daniel melihat Lana berjalan menuju kamar, Daniel meletakan jus lemonnya di meja dan mengambil ponselnya. Daniel menerima panggilan dari Rekay.
(Percakapan di telepon)
"Hallo," jawab Daniel.
"Kami akan segera berangkat, kau bergegaslah."
"Iya, aku mengerti. Lokasi tujuanku adalah lokasi yang kau kirimkan, apa Jenifer ingin tempat lain?" Tanya Daniel.
"Lokasi yang sama," jawab Rekay.
"Baiklah, aku berangkat sekarang."
Daniel mengakhiri panggilan dan berdiri dari duduknya. Daniel memasukan ponselnya ke saku celananya dan mengambil jaketnya lalu mengenakan jaketny. Daniel berjalan melangkah menuju kamar Lana.
Tok....
Tok....
Tok....
"Lana...," panggil Daniel.
"Iya," jawab Luna dari dalam kamar.
"Kau jaga rumah baik-baik. Aku sudah pesankan kau makan tadi. Jangan melakukan hal berbahaya, aku akan menggantungmu hidup-hidup jika kau berani macam-macam."
"Oke, oke, pergilah! Jangan terus mengomel, dasar Monster. Aaarrrrgghhh...," teriak Lana kesal.
Daniel mengeryitkan dahi, "Kurang ajar. Berani menyebutku monster? Aku akan beri kau pelajaran nanti, persiapka dirimu menhadapi murka seorang Daniel."
Daniel mendengus kesal, dan langsung pergi meninggalkan kamar Lana.
***
Di restorant....
Rekay dan Luna datang, mereka melihat Jenifer dari jauh. Luna mendorong kursi roda Rekay perlahan-lahan.
"Ingat baik-baik sayang, jangan terlihat panik. Bersikaplah dingin seperti biasanya. Oke?" Bisik Luna mencium kilas pipi Rekay.
"Oke," jawab Rekay.
Luna dan Rekay terus berjalan sampai mereka tiba di meja Jenifer. Luna menarik kursi dan duduk. Jenifer melihat sekeliling mencari Jafferson putranya.
"Siapa yang kau cari, Bibi?" Tanya Rekay.
"Dimana Jeff?" Tanya Jenifer.
Jenifer membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah botol berukuran kecil, berwarna bening. Jenifer meletakan botol kecil itu diatas meja.
"Ini yang kau minta, dimana Jeff?" Tanya Jenifer.
Luna mengamati gerak-gerik Jenifer, "Mencurigakan sekali. Setenang itu menyerahkan bukti kejahatan? Ada yang di sembunyikan Jenifer," batin Luna.
"Jeff ada di...,"
"Tunggu," sela Luna.
Rekay dan Jenifer sama-sama menatap Luna. Luna membuka tasnya dan mengeluarkan sarung tangan. Luna mengenakan sarung tangannya dan mengambil botol kecil yang diserahkan Jenifer.
Luna membuka penutup botol dan mencium aroma dari dalam botol dengan satu lubang hidungnya, mata Luna menutup dahi Luna berkerut.
Rekay kaget, "Luna, apa yang kau lakukan?" Sentak Rekay.
Luna membuka mata dan menatap tajam kearah Jenifer. Luna tersenyum dingin pada Jenifer.
"Kau licik sekali," ucap Luna.
"Apa? Licik apa?" Elak Jenifer
"Berikan," ucap Luna.
"Berikan apa?" Tanya Jenifer berpura-pura.
"Si*l, apakah Luna tahu?" Batin Jenifer."
Luna berdiri dari duduknya dan menggebrak meja.
Braaaakkkkkkk...
"Aku tidak akan berikan kesempatan kau bertemu Jeff. Kau menipu kami, ini hanya air biasa. Bukan racun!" Jelas Luna terang-terangan.
"A-aku tidak berbohong, itu sungguh racunnya. Aku tidak menipu," bantah Jenifer menutupi kesalahannya.
"Baiklah, jika itu jawawabnmu. Ucapkan selamat tinggal pada putra kesayanganmu," jawab Luna dengan sikap tenang.
Rekay terdiam, mencerna maksud ucapan istrinya.
"Apa yang kau lakukan Jenifer, kau mencoba menipuku?" Tanya Rekay.
"Tidak, aku tidak menipumu."
"Kau bisa mengelabuhi banyak orang. Tetapi kau tidak akan bisa mengelabuhiku. Penciumanku sangatlah tajam," ucap Luna.
"Kaulah wanita licik itu, Luna. Bukan aku, kalian lah pembohongnya bukan aku. Aku sudah memberikan apa yang kalian inginkan, kalian sekarang ingin apa lagi?" Jelas Jenifer berakting.
"Kau tahu, doker tidak hanya bisa menyembuhkan orang. Sebagai dokter membunuh orang juga bukan hal sulit. Cara kami lebih seru, cukup dengan menyuntikkan cairan yang berbahaya kedalam tubuh. Selanjutnya, seperti yang kau pikirkan. Putra kesayanganmu akan terlelap dan tertidur, selamanya."
Luna sengaja menggertak Jenifer. Mendengar ucapan Luna Jenifer menjadi cemas dan panik.
--- ---
Hallo semua..
Terimakasih sudah mau berkunjung dan membaca novel saya..
Jangan pernah bosan menunggu update selanjutanya ya..
Jangan lupa like,☆☆☆☆☆ dan isi kolom komentar..
Jangan lupa berikan vote juga ya..
Kunjungi juga di novel saya yang lain. Dengan judul,
•Lelaki Bayaran Amelia (Season 1&2 End)
•Pelukan Hangat Paman Tampan (End)
•Pangeran Es Jatuh Cinta (End)
(Season ke 2 dari Pelukan Hangat Paman Tampan)
•Pangeran Vampir (End)
•Pangeran Vampir 2 (SEASON 2) (End)
•Vampir "Sang Abadi" (End)
•Cinta Lama Yang Datang Kembali (End)
•Mommy And Daddy (CLYDK 2) (End)
•Darren & Karren (Perjalanan Cinta) CLYDK SEASON KE 3
•The Hit Man In Love
•Jatuh Cinta Pada Tetangga
•Suami Pengganti (End)
•Menjadi Istri Simpanan
•Dendam Permaisuri Kepada Kaisar
Jangan lupa like, ☆☆☆☆☆ dan isi kolom komentar.. vote juga dong..
Terimakasih..
Untuk pembaca yang ingin join grup FB/WA silakan..
Untuk yang ingin follow ig saya juga silahkan..
ig: dea_anggie
Line id: dea_anggie
Fb: dea anggie
Grup FB: Lelaki Bayaran Amelia
❤❤❤❤❤
Bye bye..
Salam hangat,
"Dea Anggie"