Oh My Husband

Oh My Husband
Oh My Husband Ep-15



Rekay melihat dan menyapa Luna. "Luna, kau sudah pulang?" Tanya Rekay.


Luna tersenyum menghampiri Rekay. "Ya.." jawab Luna.


"Kenalkan dia temanku, dia juga dokterku. Daniel Kwok, Daniel.. dia Luna istriku." Rekay memperkenalkan Daniel dan Luna.


"Aku mengenalnya Kay, Dokter Kwok adalah direktur rumah sakit tempatku bekerja." Jawab Luna.


"Istrimu benar Kay, kami sudah saling mengenal sebelumnya. Hai Luna, senang bertemu kau kembali." Sapa Daniel.


Luna hanya tersenyum, Rekay menatap Luna. "Masuklah, dan mandi. Baru bicara lagi." Kata Rekay pada Luna.


"Ya, aku masuk dulu." Kata Luna.


Luna menatap Daniel sekilas. Masih enggan untuk bicara karena sikap Daniel yang masih dianggap Luna kurang menyenangkan.


Luna berjalan ke dapur dan memanggil bibi Mao. Bibi Mao mendekati Luna.


"Ya nyonya, ada apa?" Tanya bibi Mao.


Luna memberikan bungkusan berisi cake. "Tolong buka dan sajikan pada Kay juga temannya. Aku ingin mandi bi, tolong juga hangatkan susu untukku." Kata Luna dengan nada lembut diiringi senyuman.


Bibi Mao menerima tas berisi cake, "baik nyonya." Jawab bibi Mao.


Luna berjalan pergi ke kamarnya untuk mandi.


10 menit kemudian..


Luna keluar kamar dan berjalan menuju dapur. Luna memakai dress selutut berwarna kuning, dengan rambut di ikat ekor kuda. Luna berdiri di meja makan dan meneguk susunya.


Luna menatap ke arah Rekay dan Daniel. Mereka berdua sibuk bicara, sepertinya bicara hal serius.


Luna penasaran ingin tahu, Luna meletakan gelas susunya, berjalan mendekati Rekay dan Daniel yang sedang berbincang di ruang tengah.


Luna melihat cake di meja, Luna menghampiri Rekay. "Kau tidak ingin mencoba cake nya? Ini enak." Kata Luna.


"Itu manis," jawab Rekay.


"Tidak Kay, ini tidak seberapa manis. Cobalah.." kata Luna menyodorkan cake strawberry ke mulut Rekay.


Rekay menatap Luna, Luna menatap Rekay. Rekay membuka mulut dan menggigit cake strawberry di tangan Luna. Rekay mengunyahnya perlahan, matanya melebar merasakan kenikmatan cake itu.


"Enak.." kata Rekay.


Luna tersenyum, "sudah aku bilang. Ini enak, aku tau kau tidak suka manis. Dan kau menyukai strawberry." Sahut Luna.


Rekay terkejut mendengar ucapan Luna. Daniel merasa canggung, mengambil gelas jusnya dan meminumnya.


"Kau tidak menyapa atasanmu?" Tanya Rekay lagi.


"Kita sering bertemu, kita berjumpa dimana-mana. Diruang pertemuan, di ruang operasi juga kita sering bertemu." Jawab Luna.


"Oh.." Rekay hanya ber oh ria.


Nicky datang mendekat, Nicky berbisik.


"Ah oke. Daniel, aku dapat panggilan penting. Kau bicaralah dengan Luna, aku akan segera kembali." Kata Rekay.


"Ya, selesaikan pekerjaanmu Kay." Jawab Daniel.


Rekay pergi di dorong Nicky menuju ruang kerjanya.


Di ruang tengah hanya tersisa Daniel dan Luna. Suasana menjadi canggung, mereka saling diam.


"Luna maaf," kata Daniel.


"Untuk apa?" Tanya Luna.


"Untuk sikapku yang tadi, aku terlalu kasar padamu. Maafkan aku, aku tidak akan mengusikmu lagi Luna. Aku berjanji." Kata Daniel.


"Hmmh, itu benar. Aku dan Kay sudah saling mengenal lama sejak kami kecil." Jawab Daniel.


"Oh, pantas saja kalian terlihat akrab." Luna tersenyum tipis.


"Jujur aku lega, Kay lebih baik dibanting Jeff. Kau pasti mengenal Jeff bukan? Itu saudara tiri Kay." Kata Daniel.


"Ya aku mengenalnya. Uh.. dia pria tidak tahu malu." Luna mendengus.


"Apa dia mencoba melukaimu?" Tanya Daniel penasaran.


"Bukan melukaiku, tapi dia mendekatiku di depan saudaranya sendiri dan mengatakan hal-hal memalukan. Aku sangat kesal saat dia mengatai Kay! Bagaimana bisa saudara seperti itu, seperti orang asing saja." Luna kembali mengeluh.


"Jaga jarakmu dengannya Luna. Dia berbahaya! Asal kau tau dia sudah terkenal sebagai pecandu alkohol dan pecinta wanita. Jaga dirimu, kau harus bisa menjadi wanita yang lebih kuat lagi. Oke?" Daniel memberi peringatan dan semangat.


"Terima kasih Dan. Maaf jika sikapku tadi kasar dan kurang sopan padamu! Aku lakukan itu karena aku tidak ingin menyakiti hati siapapun. Baik itu kau atau Kay, aku sudah menikah sekarang. Jadi bagiku, menjaga kehormatan dan martabat suamiku lebih dari segalanya. Kau mengerti maksudku kan?" Luna memberi penjelasan.


Daniel kaget, "ohh.. apakah aku tidak salah dengar? Luna ini, sungguh luar biasa. Hmm.. sayang sekali aku kalah cepat." Guman Daniel dalam hatinya.


"Dan.. Daniel.. Daniel.." Luna mencoba memanggil Daniel yang melamun.


Daniel tersentak, "ahh iya Luna? Maaf.." Daniel menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Aku memikirkan kata-katamu. Aku salut padamu Luna. Kau berani dan tegas, kau mau belajar menjalankan tugasmu sebagai istri dengan baik." Daniel memuji Luna.


"Bukan kah semua wanita seperti itu Dan? Mereka akan sibuk dengn keluarga dan mengurus rumah setelah menikah. Beruntung Kay mengizinkan ku tetap pergi bekerja. Jika tidak, aku pasti akan sangat bosan dan tertekan. Aku sudah mendapatkan keinginanku, aku juga harus bisa membuat Kay senang dan puas dengan pelayananku kan?" Kata Luna tersenyum cantik.


"Istri idaman, Kay sangat beruntung menikah denganmu Luna." Kata Daniel


Percakapan Luna dan Daniel di dengar oleh Rekay dari balik pintu ruang kerjanya yang tidak jauh dari ruang tengah. Rekay merasa senang juga gelisah, Rekay tidak menyangka jika Luna akan mengatakan hal seperti itu di hadapan Daniel.


Nicky mendekat lalu berbisik. "Apakah anda terkesan tuan? Masih ingin menguji nyonya lagi?" Nicky menggoda Rekay.


Rekay tersenyum tipis. "Kau terus menerus menggodaku. Apakah kau sudah bosan bersamaku? Ingin aku kirim ke rumah papa huh?" Rekay sedikit kesal.


Nicky terkejut, secepat kilat menggeleng. "Tidak tuan, maafkan saya." Kata Nicky.


Rekay tertawa dalam hati, sejujurnya Rekay hanya menggertak Nicky saja. Nicky sungguh ketakutan dan tidak ingin pergi dari sisinya. Rekay tersenyum, melihat ekspresi wajah dari Nicky pada saat menggeleng.


"Ehemh," Rekay berdehem.


"Ayo keluar Nick." Ajak Rekay.


Nicky mendorong Rekay keluar dari ruang kerja. Rekay kembali menemui Daniel dan Luna. Tidak lama berbincang, Daniel berpamitan untuk pulang. Rekay dan Luna mengantar Daniel sampai depan rumah.


-----


Malam hari


Luna dan Rekay makan malam bersama. Tidak ada suara, hanya ada suara gesekan sendok garpu dengan piring. Luna merasa canggung saat ingin bicara dengan Kay.


Sampai makan malam selesai, mereka masih diam dan tidak bersuara. Sampai pada akhirnya Rekay bertanya hal yang mengejutkan.


"Luna, kapan kau libur bekerja?" Tanya Rekay.


Luna melebarkan mata, Apa libur? Oh.. besok aku libur. Ada apa Kay?" Tanya Luna.


"Ayo jalan-jalan." Ajak Rekay.


Luna mengangguk perlahan. "Jika kau tidak sibuk, ayo! Aku senang kau mengajakku Jalan-jalan." Jawab Luna.


Rekay tidak bicara, Rekay bergegas pergi meninggalan meja makan, kembali ke kamarnya untuk beristirahat.


Luna merasa aneh dengan sikap Rekay, setelah mengajak pergi lalu pergi begitu saja tanpa bicara apa-apa. Luna juga pergi meninggalkan meja makan, untuk kembali ke kamarnya dan beristirahat.


Thank you..


Bye-bye..


------------