
2 bulan kemudian..
Waktu berlalu begitu cepat, tidak terasa 2 bulan sudah usia pernikahan Rekay dan Luna. Rekay dan Luna semakin dekat dan akrab, meski terkadang mereka masih suka malu-malu dan canggung.
Malam itu Luna tidak bisa tidur. Luna keluar dari kamarnya dan pergi ke kamar Rekay. Luna mengetuk pintu lalu membuka pintu kamar Rekay, Luna mengintip.
"Masuk Luna, jangan mengintip." Kata Rekay dari dalam.
Luna tertawa kecil, sepertinya Rekay sudah hafal dengan gerakannya dan kebiasaannya. Luna masuk dan menutup pintu kamar, Luna berjalan mendekati Rekay yang sedang membaca buku.
Luna naik ke atas tempat tidur, masuk dalam selimut dan duduk di samping Rekay.
"Kau tidak tidur? Ada apa?" Tanya Rekay.
"Hmm, itu.. boleh aku tidur disini?" Tanya Luna.
"Boleh, tidurlah ini sudah malam." Jawab Rekay.
"Hmm.. paman memang paling mengerti. Oke aku akan tidur, selamat malam paman." Luna menata bantal dan berbaring, Luna memejamkan mata dan tertidur.
Luna akan selalu datang ke kamar Rekay. Luna selalu bercerita mengenai pekerjaannya, terkadang Luna mendengar Rekay bercerita sampai tertidur. Tidak jarang juga Luna mengendap masuk dan tidur disaat Rekay terlelap tidur.
Rekay menggelengkan kepala menatap Luna. Rekay sudah terbiasa, mulai memahami sikap dan sifat Luna perlahan. Rekay masih membaca buku, merasa belum mengantuk.
30 menit kemudian..
Rekay menutup bukunya, meletakan di atas meja. Rekay menatap Luna, membenahi selimut Luna. Rekay menata bantalnya dan berbaring di samping Luna. Rekay memejamkan mata dan terlelap tidur di sisi Luna.
-----
Keesokan harinya, matahari sudah muncul dan memancarkan sinarnya. Luna perlahan membuka mata, seperti biasa jika tidur bersama Rekay, Luna akan mendapati pemandangan indah setiap paginya.
Luna menatap wajah Rekay lekat, mataya tidak berkedip melihat wajah tampan Rekay. Luna tersenyum, perlahan mulai menyukai kebiasaanya ini. Luna menyentuh hidung Rekay, Rekay mengerutkan dahi merasakan sentuhan Luna. Rekay membuka mata perlahan, menatap Luna.
"Selamat pagi,"sapa Rekay.
"Pagi," jawan Luna penuh semangat.
Rekay tersenyum, mencium kening Luna dan mendekap Luna. " tidurmu nyenyak?" Tanya Rekay.
Luna mengangguk, "hmm sangat nyenyak." Jawab Luna.
Luna melepas pelukan menatap Rekay. "Kau tidak ada kegiatan?" Tanya Luna pada Rekay.
"Tidak ada, kenapa? Ingin mengajakku berkencan?" Rekay mulai menggoda Luna.
Luna mencubit pelan pipi Rekay. "Seperti biasa aku akan mengajakmu jalan-jalan ke taman." Kata Luna.
Luna ingin bangun untuk kembali ke kamarnya, namun niatannya terhenti. Rekay menariknya dan memeluknya erat.
"Sebentar saja, aku ingin memelukmu." Rekay seakan memohon.
Luna tersenyum, membalas pelukan Rekay erat. "Mmm, peluklah aku sepuasmu." Jawab Luna.
Puas memeluk, Rekay perlahan merenggangkan pelukan. Pelukan terlepas, Rekay dan Luna saling memandang satu sama lain.
Rekay mendekat dan mencium Luna, ciuman Rekay begitu hangat dan lembut. Luna menutup matanya perlahan, jantung Luna berdebar saat itu. Luna merasakan hal yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
-----
Jenifer, Calvin dan Jeff sarapan bersama. Suasana tenang sampai Calvin membuka suara.
"Kau sudah menghubungi Kay, sayang? Kirim hadiahku secepatnya pada Kay dan Luna." Ucap Calvin.
Jenifer mengangguk, "iya, nanti aku akan kirim." Kata Jenifer.
Calvin menyudahi sarapannya, berdiri dan berjalan ke arah ruang kerjanya. Jeff menunggu Calvin masuk dalam ruangan kerja, Jeff ingin bertanya sesuatu pada mamanya.
"Ma, hadiah apa yang papa berikan?" Tanya Jeff ingin tahu.
"Entah, belum mama lihat. Ada apa?" Tanya Jenifer.
"Ma, apa Kay itu bisa kembali normal? Apa orang lumpuh bisa melakukannya?" Tanya Jeff.
"Untuk apa kau bertanya seperti itu huh? Pikirkan untuk memilih calon istri yang kau suka, wanita-wanita pilihan mama adalah wanita cantik dan berkelas." Jenifer ingin Jeff segera menikah.
"Tidak mau, aku hanya ingin 1 wanita saja. Aku ingin Luna, Luna! Tidak ada wanita lain yang aku sukai selain Luna." Jawab Jeff.
Jenifer mengepalkan tangan diatas meja, "bodoh, Luna saja yanga kau pikirkan! Mama sudah katakan, lupakan dia. Dia hanya gadis rendahan, tidak cocok untuk kita yang terpandang ini." Jenifer menasihati Jeff.
Jenifer tidak bernafsu makan lagi, menggebrak meja makan.
Braaaakk..
"Sial, Jeff sudah mulai tidak patuh padaku." Gerutu Jenifer.
Jenifer berdiri dan berjalan kembali ke kamarnya. Jenifer ingin tahu, hadiah apa yang di berikan Calvin untuk Rekay dan Luna.
-----
Di taman.
Luna dan Rekay berjalan-jalan. Luna mendorong Rekay di kursi roda, menemani Rekay dan menghabiskan waktu bersama.
"Kau lelah? Ingin minum air?" Tanya Luna.
Luna mengambil botol air, membuka tutupnya dan memberikannya pada Rekay. Rekay menerima, meneguk air dalam botol. Setelah selesai Rekay memberikan botol ditangannya kembali pada Luna. Luna menerima dan kembali menutup botol.
Luna duduk dikursi, di hadapan Rekay. Menikmati pemandangan sekitar, meski terkadang harus bertatapan dengan pandangan mata orang-orang yang melihatnya aneh.
"Kay, kau merasa tidak nyaman?" Luna ingin memastikan keadaan Kay.
"Ada apa? Apa kau khawatir? Aku baik-baik saja Luna." Jawab Rekay tersenyum tampan ke arah Luna.
Luna mendekatkan wajahnya dan tersenyum. Luna manatap wajah Rekay lekat, "kau harus lebih sering tersenyum paman. Kau tau, kau sangat tampan jika tersenyum. Jika kau tersenyum, kau bisa menjadi 5 tahun lebih muda." Luna menggoda Rekay.
"Jangan bermulut manis, jangan membuatku ingin mencicipi rasa manis dari bibirmu itu." Rekay menggoda balik Luna.
Wajah Luna memerah, Luna menutup mulutnya dengan tangan. Rekay tertawa, "haha.. kenapa? Kau takut aku melakukannya hm?" Goda Rekay lagi.
Luna berdiri, Luna cepat-cepat mendorong kursi roda Rekay. "Kau jangan banyak bicara lagi. Paman kau jangan mesum seperti itu." Kata Luna. Rekay hanya menanggapi dengan kekehan kecil.
Luna tersenyum tipis merasa senang. "Ini tidak buruk, meski baru 2 bulan bersama, aku tau kau orang yang baik Kay. Kau tidak pernah bersikap kasar atau membentakku, kau peduli, perhatian, selalu menjadi tempat curahan isi hatiku saat aku bosan dan jenuh. Tanpa mengeluh kau selalu mendukungku, menghiburku. Aku senang bisa mengenalmu, dekat denganmu, menjadi istrimu. Ijinkan aku membalas semuanya, aku akan berusaha menjadi yang terbaik untukmu" Luna berbicara di dalam hati.
Ponsel Rekay berdering, Rekay mendapatkan panggilam dari nicky. Luna menghentikan langkahnya dan menepikan kursi roda Rekay.
(Percakapan di telepon)
"Hallo, tuan." Panggil Nicky.
"Ya Nick, ada apa?" Tanya Rekay.
"Tuan, saya baru saja mendapat panggilan dari nyonya besar. Anda dan nona di undang untuk datang, nyonya besar ingin memberikan hadiah pada anda. Hadiah pemberian tuan besar." Nicky menjelaskan.
"Hadiah apa? Tidak ada yang berulang tahun." Jawab Rekay.
"Hadiah pernikahan tuan. Apakah anda berkenan? Jika tidak saya akan langsung sampaikan." Nicky kembali bertanya.
Rekay memalingkan wajah menatap Luna, Luna menatap Rekay dan bertanya. "Ada apa?" Tanya Luna.
"Jenifer meminta kita datang, papa menitipkan hadiah padanya untuk di berikan pada kita. Bagaimana menurutmu? Apakah kita harus datang? Kita terima atau kita tolak?" Tanya Rekay pada Luna.
Luna berfikir sejenak, "kita baru saja menikah, dia akan berfikir jelek mengenaimu jika menolak. Lebih baik kita terima, kita ikuti saja permainannya, kita pastikan dulu dia memang punya maksud jahat atau tidak. Kita hanya perlu waspada dan berjaga -jaga saja. Bukan begitu paman?" Jawab Luna.
Rekay tersenyum, "istriku pandai juga. Sayang sekali untuk Jenifer tidak perlu pembuktian. Apa yang di berikannya sudah pasti ada sesuatu, kali ini aku juga tidak tahu apa yang sudah dia rencanakan." Guman Rekay dalam hatinya.
Rekay menghela nafas, "ayo kita lakukan seperti yang kau katakan istriku, kau sungguh manis." Puji Rekay.
"Nick, katakan pada Jenifer. Aku dan Luna akan datang sebelum jam makan siang, kami tidak ada waktu di luar jam itu." Rekay mengakhiri panggilan dari Nicky.
Luna mengintip Rakay, "kau baik-baik saja?" Tanya Luna.
"Hmh, baik.. ayo pulang, kita mandi dan bersiap. Kita akan menghadapi orang yang tidak biasa Luna, saat disana jika tidak perlu bicara jangan banyak bicara. 1 hal lagi, jika Jeff ada di rumah alihkan pandanganmu, tatap saja aku jika kau tidak tau harus menatap siapa. Aku tidak suka istriku dilirik, atau melirik pria lain selain suaminya sendiri. Kau mengerti?" Rekay memberi peringatan keras.
Luna mengangguk, "aku mengerti, jangan khawatir. Aku sudah katakan padamu bukan, aku bukan wanita gampangan seperti wanita diluaran sana. Aku sudah menikah denganmu Kay, nyonya muda Hawn hanya milik tuan muda Hawn seorang." Luna mencium lembut pipi Rekay. Luna ingin membuat Rekay tenang.
Rekay puas dengan jawaban Luna. Rekay senang, Luna begitu tegas dan berani mengakui jika dirinya adalah nyonya muda Hawn, jantung Rekay berdebar saat Luna mengatakan itu, jantungnya juga sudah ingin melompat keluar sesaat setelah Luna mencium lembut pipinya.
Luna tahu Rekay tersipu, Luna tidak ingin membuat Rekay malu lagi. Luna kembali mendorong kursi roda Rekay, Luna dan Rekay mengakhiri kegiatan di taman dan pulang ke rumah.
Thank you..
Bye-bye..
------------