
Hari pernikahan tiba, Luna sudah siap dengan menggenakan gaun pernikahannya. Merry tersenyum, memegang erat tangan Luna.
"Tersenyumlah sayang, ini adalah hari pernikahanmu." Merry memberi semangat.
"Iya ma, terima kasih." Jawab Luna. Luna tersenyum menatap Merry.
Merry memeluk Luna. "Maafkan mama Luna, maafkan mama.. mama akan selalu mendoakanmu agar kau bahagia." Merry terisak.
"Mama, jangan menangis. Luna baik-baik saja. Luna pasti bisa menjalani ini." Luna mencoba menegarkan diri sendiri.
Louis datang, "Luna.. kau sudah siap? Semua orang sudah menunggu." Kata Louis.
Luna melepas pelukan menyeka air mata Merry. Luna menatap Louis, "aku siap.." Jawab Luna.
Merry merapikan gaun Luna, menutup wajah Luna dengan penutup kepala. Luna merangkul lengan Louis. Louis dan Luna berjalan keluar dari ruangan menuju Altar pernikahan.
Jenifer mengadakan pernikahan Kay dan Luna di sebuah taman di dekat villa. Juga akan menyelenggarakan pesta di tempat yang sama, Jenifer mengundang banyak tamu dan orang-orang penting.
Jenifer sengaja ingin menunjukan kepada semua orang jika Kay hanyalah putra keluarga Hawn yang tidak bisa apa-apa. Dibanding Kay, Jeff lebih bisa diandalkan, Jenifer berniat memperkenalkan Jeff pada rekan bisnis Calvin.
-----
Louis dan Luna berjalan mendekati Altar. Luna terkejut, melihat seseorang yang rapih memakai stelan jas yang duduk di kursi roda.
Luna menghela nafas panjang. "Mungkinkah Lana sudah tau dari awal jika dirinya akan dinikahkan oleh pria yang seperti ini?" Luna bertanya-tanya dalam hatinya.
Langkah kaki tidak bisa dihentikan lagi, Luois dan Luna semakin dekat dengan altar. Luna menjadi gugup, keringat dingin mulai keluar.
Langkah kaki terhenti, Luna berdiri tepat di samping pria asing yang sebentar lagi akan menjadi suaminya itu. Louis melepaskan tangan dan pergi meninggalkan Luna.
Luna menunduk, menutup matanya perlahan lalu membuka matanya kembali. Nasi sudah menjadi bubur, Luna tidak bisa menolak ataupun menghindar. Satu-satunya pilihan adalah terus malajutkan proses pernikahan sampai selesai. Luna berdoa, Luna ingin kelak suaminya mau menerima dengan sepenuh hati. Luna tidak ingin di siksa dan diperlakukan kasar seperti wanita-wanita lainnya.
Pemberkatan pernikahan di lakukan, Luna dan Kay mengikat janji suci pernikahan. Kay menggenakan cincin pernikahan di jari manis tangan kanan Luna. Begitu juga Luna mengenakan cincin pernikahan di jari manis tangan kanan Kay.
Kini Kay dan Luna sudah resmi menjadi pasangan suami istri. Kay membuka penutup kepala Luna, Luna sedikit menunduk, Kay dan Luna saling menatap dalam. Kay tersenyum tipis, mencium kilas bibir Luna.
Plok..
Plok..
Plok..
Suara tepuk tangan dari semua tamu yang hadir, semua tamu mengucapkan selamat kepada Kay dan Luna. Kay dan Luna memasang senyuman menerima ucapan selamat dari semua tamu.
-----
Jeff terlihat kesal, Jenifer menegur Jeff yang tiba-tiba pergi menghilang.
"Jeff, ada apa?" Tanya Jenifer.
"Mama, aku sudah katakan. Aku ingin Luna menjadi istriku! Bukankah mama memilih Lana, kenapa menjadi Luna?" Tanya Jeff kesal.
"Sayang dengarkan mama. Mama terpaksa, Lana melarikan diri bersama kekasihnya. Sedangkan pernikahan tidak bisa di batalkan, mama sudah menyiapkak semuanya. Mama dan papamu akan merasa malu jika sampai pernikahan Kay batal. Jangan pikirkan Luna, mama akan carikan wanita yang cantik dan berkelas untukmu, oke?" Jenifer membujuk Jeff.
"Tidak ma, aku hanya inginkan Luna! Tidak ingin wanita manapun." Jawab Jeff, Jeff bersikeras menginginkan Luna sebagai wanitanya.
Jenifer merasa kesal, putranya sudah berani membantah kata-katanya. "Terserah saja, kepala mama sakit karenamu Jeff! Mama rasa kau butuh ruang untuk berfikir, Luna bukan wanita yang cocok untukmu. Dia hanya seorang dokter dan juga dari kelas rendahan." Jenifer pergi meninggalkan Jeff.
Jeff menatap kepergian Jenifer mamanya. "Maaf ma.. dari awal melihat fotonya, aku mencintainya. Hatiku sudah ingin memilikinya." Dalam hati Jeff.
Jeff pergi ingin memberi ucapan selamat pada Luna dan saudara tirinya, Kay. Jeff mempunyai niat jahat, Jeff ingin merayu Luna. Menjadikan Luna kekasih gelapnya.
Jeff melihat Luna berdiri di sisi Kay, Luna tersenyum sangat cantik, membuat Jeff semakin terpikat. Jeff mendekat dan menyapa.
"Selamat Kay, Luna.. semoga pernikahan kalian selalu bahagia."
"Terima kasih," jawab Luna.
"Terima kasih Jafferson." Jawab Kay dingin.
Jeff mengacuhkan Kay, menatap Luna. "Hai, saudara iparku yang cantik. Selamat datang di keluarga Hawn. Aku Jafferson Hawn, semang bertemu denganmu." Jeff memperkenalkan diri.
"Bagus Jeff! Kau bahkan terang-terangan menggoda istriku huh? Aku tidak akan biarkan kau merebut istriku." Kay bicara dalam hati, merasa kesal.
Saat Kay ingin menarik tangan Luna, Luna sudah lebih dulu menjauh dan menghindari Jeff. Luna berada dekat pada Kay, sekaan menunjukan pada Jeff jika Luna lebih memihak suaminya Kay.
Kay tersenyum tipis, "manarik! Wanita ini ternyata tau batasannya." Dalam hati Kay, Kay merasa senang.
"Ya, senang berkenalan denganku Jafferson. Tolong, jaga sikapmu! Aku adalah istri saudaramu." Kata Luna.
Jeff terkejut, melebarkan mata. Merasa kesal dengan apa yang Luna katakan. Seakan harga dirinya di rendahkan.
Kay juga terkejut, tidak menyangka jika Luna akan mengatakan itu. Kay menatap Jeff.
"Jika sudah selesai makan pergilah pada mamamu, jangan membuatnya terus berjalan mencarimu." Kata Kay.
Jeff sangat kesal, Jeff mwndekat dan berbisik di telinga Kay.
"Kau boleh bangga Luna memihakmu. Ayo kita bertaruh, sampai mana Luna akan bertahan dengan pria cacat sepertimu huh? Dan satu hal lagi, jika kau tidak bisa memuaskan Luna di ranjang. Biar aku yang memuaskannnya." Jeff tersenyum jahat.
Kay marah, mencengkram krah kemeja Jeff. "Tutup mulutmu! Jangan berani-berani kau menggoda istriku Jeff, aku akan membunuhmu!" Kay menatap tajam.
Luna panik, sepertinya hal buruk akan terjadi. Sebelum hal buruk terjadi Luna memisahkan Kay dan Jeff. Luna melapaska tangan Kay yang mencengkram krah kemeja Jeff.
"Ayo kita pergi, jangan hiraukan dia." Luna mendorong kursi roda Kay menjauhi Jeff.
Kay mengtaur nafasnya, menarik nafas dan menghembuskan nafas perlahan. Lana berhenti di sebuah meja, Luna memberikan segelas jus pada Kay. Kay menerima dan meminum jus pemberian Luna.
"Maaf jika aku bertanya, apakah dia sungguh saudaramu? Kenapa bersikap seperti itu?" Tanya Luna.
"Dia hanya anak mama tiriku. Kau jangan dekat-dekat dengannya. Bukan karena aku cemburu, aku hanya tidak ingin anggota keluargaku terluka. Kau sudah menikah denganku, dan kau sudah menjadi anggota keluargaku." Kata Kay. Kay memperingatakan Luna agar menjauhi Jeff.
Luna mengangguk, "aku mengerti, aku tidak akan membuatmu malu dan khawatir tuan muda Hawn." Jawab Luna.
Kay senang dengan jawaban Luna. Setelah tenang Kay dan Luna kembali menyambut para tamu, Kay dan Luna disibukkan sampai sore.
-----
Karena Luna sudah menikah dengan Kay dan menjadi nyonya Hawn, maka Kay membawa Luna pulang ke rumahnya.
Kay meminta pelayan menyiapkan satu kamar kosong untuk Luna. Luna senang, sejujurnya Luna masih belum siap jika harus tidur bersama dengan Kay. Luna menggucapkan terima kasih pada Kay.
"Terima kasih," kata Luna.
"Untuk apa?" Tanya Kay.
"Karena kau menyediakan kamar untukku, jujur saja tuan Hawn, aku masih belum siap menerim pernikahan ini. Maafkan aku jika ucapanku terdengar kasar, aku tidak ingin menyembunyikan apapun padamu. Aku sadar aku sudah menikah denganmu sekarang, biarakan aku melakukannya dengan perlahan. Aku akan belajar menjadi istri yang baik dan belajar memahamimu." Luna menjelaskan pada Kay.
"Tidak masalah Luna. Aku tidak akan memperlakukanmu dengan buruk, katakan saja jika kau puny keinginan." Jawab Kay.
"Hmm, sebenarnya aku ada 1 permintaan. Aku berharap kau mau mengabulkan permintaanku." Jawab Luna ragu-ragu.
"Apa itu? Katakan." Kay penasaran.
"Maaf jika kau tersinggung, tapi.. boleh aku kembali bekerja? Aku berjanji aku tidak akan melalaikan tugasku sebagai istrimu. Aku berjanji tidak akan mmebuatmu dalam kesulitan, aku tidak bisa meninggalkan pasien-pasienku." Luna menunduk, berharap keinginanya di kabulakan.
Kay terkejut, bukan harta dan uang yang diminta Luna melainkan ijin agar Luna bisa kembali bekerja. Kay tidak mengira jika Luna lebih memilih lelah berkerja dibanding duduk manis sebagai nyonya muda Hawn.
"Baiklah, kau bisa pergi bekerja. Aku ingin kau menepati semua janjimu, Luna." Jawab Kay.
Luna senang mendengar jawaban Kay, Luna mengangkat kepala, "terima kasih Kay, aku akan menepati janji-janjiku." Luna tersenyum cantik.
Luna sangat senang, dengan begini dirinya tidak terlalu tertekan dengan pernikahannya yang entah akan berakhir seperti apa nantinya. Luna hanya berharap dirinya tidak akan pernah menyulitkan Kay, dan menyusahkn Kay. Luna juga akan berusaha keras menjadi istri yang baik untuk Kay.
Thank you..
Bye-bye..
------------