Oh My Husband

Oh My Husband
Oh My Husband Ep-17



Selama dalam perjalan pulang, Luna dan Rekay hanya sama-sama diam. Luna tidak ingin membuat Rekay sedih.


Sampai di rumah pun Luna menjadi gelisah, Luna tidak tau harus apa dan bagaimana. Luna keluar kamar dan pergi menemui bibi Mao.


"Bibi Mao, boleh aku bertanya?" Tanya Luna.


"Ya nyonya, ada apa?" Bibi Mao mengiyakan.


"Bibi, apa Kay tidak menyukai es krim? Luna ingin tahu.


Bibi Mao mengerutkan dahinya, "apa maksud anda nyonya. Saya tidak mengerti." Kata bibi Mao.


"Begini bi, aku tadi mengajak Ken ke gerai Ice Cream. Dan tidak lama Kay bersikap aneh, Nicky mengatakan ada kejadian buruk. Kejadian apa bi? Apa hubungan kejadian itu dengan ice cream?" Luna mendesak bibi Mao bicara.


Bibi Mao melebarkan mata, "nyonya.. nyonya maaf, saya bersalah. Saya lupa memberitahu anda jika tuan muda tidak bisa melihat atau memakan ice cream karena sesuatu. Semenjak kecelakaan itu, dan setelah tuan muda pulih dari trauma tuan muda tidak menyukai ice cream lagi sampai detik ini." Jawab bibi Mao.


Luna kaget, "kecelakaan? Oh tidak, bibi aku harus bagaimana? Apa Kay akan marah padaku?" Luna sedikit takut.


"Berikan saja buah Strawberry pada tuan. Mungkin bisa membantu menenangkan hati tuan yang kesal." Kata bibi Mao.


Luna senang bibi Mao mau membantunya. Luna segera membuka kulkas, mengambil buah Strawberry dan mencucinya. Luna meniriskan buah Strawberry yang baru di cucinya lalu memasukannya dalam wadah.


Luna membawa wadah berisi buah Strawberry ke kamar Rekay. Sesampainya didepan pintu kamar Rekay, Luna mengetuk pintu kamar Rekay pelan.


Tok..


Tok..


Tok..


Klekkk..


Luna membuka pintu dan mengintip, Luna masuk dalam kamar dan menutup pintu.


Luna melangkah perlahan mencari Rekay, Luna tidak melihat Rekay di manapun, sesaat kemudian pintu kamar mandi terbuka.


Rekay mendorong kursi rodanya keluar dari kamar mandi. Melihat Rekay, Luna buru-buru meletakan wadah berisi Strawberry di meja dan membantu mendorong kursi roda Rekay, sampai di depan lemari. Luna berdiri dihadapan Rekay.


"Ada apa?" Tanya Rekay.


"Biar aku bantu mengganti pakaianmu. Kau mau pakai kaus atau piama? Atau.." Luna terdiam karena Rekay terus menatapnya.


"Kaus," jawab Rekay.


Luna membuka lemari Rekay, ini pertama kali Luna ada di kamar Rekay dan membuka lemari Rekay. Luna kagum, meski seorang pria baju di dalam lemari Rekay tertata rapi. Luna mengambil kaus dan menutup lemari.


Rekay pindah dari kursi roda ke atas tempat tidur. Luna membantu Rekay, "hati-hati," kata Luna.


Luna terdiam, "kau ingin membantuku atau tidak?" Tanya Rekay.


Luna kaget, " ahh iya, tentu saja aku akan membantu." Jawab Luna.


Rekay membuka tali kimono handuknya, Rekay membuka kimono handuknya di hadapan Luna. Luna sempat kaget, Luna menjadi gugup.


Luna melihat tubuh indah Rekay, Luna melihat sesuatu. Ada bekas luka di perut Rekay.


"Kau pernah terluka?" Tanya Luna yang masih melihat bekas luka.


"Ya, aku pernah di culik dan di tusuk. Ada orang yang menginginkan kematianku." Jawab Rekay.


"Untunglah kau selamat, apa kejadian itu sudah lama?" Tanya Luna.


Rekay mengangguk, "ya.. sekitar 8 tahun lalu. Tepat di usiaku yang ke 25 tahun." Jawab Rekay.


Luna membantu Rekay berganti pakaian. "Wahh, kau seorang paman rupanya. 8 tahun lalu usiaku baru 17 tahun." Kata Luna.


Rekay tersenyum, "jadi bagaimana rasanya menjadi istri paman? Apa aku terlihat seperti paman-paman tua hmm?" Rekay menggoda Luna.


"Bukan seperti itu maksudku. Maafkan aku jika kau tersinggung, aku tidak bermaksud menyinggungmu." Luna takut Rekay tersinggung dengan ucapannya.


"Tidak apa Luna, aku mengerti. Saat ini usiaku 33 tahun. Jika 8 tahun lalu kau masih 17 tahun, saat ini usiamu 25 tahun bukan? Perbedaan umur kita lumayan juga." Sahut Rekay.


"Sebenarnya ada yang ingin aku sampaikan padamu. Aku ingin minta maaf, aku tidak tahu jika kau tidak menyukai ice cream bahkan tidak ingin melihatnya. Aku sungguh minta maaf padamu, maafkan aku." Suara Luna pelan sampai tidak terdengar.


"Hmm, apa yang kau bawa tadi? Strawberry? Suapi aku buah itu. Tapi.. ambilkan dulu celanaku, aku tidak nyaman jika seperti ini." Rekay menunjuk kimono handuk yang melingkari tubuh bagian bawahnya. Rekay mengalihkan pembicaraan Luna mengenai ice cream.


"Kau, ingin pakai celana panjang atau pendek?" Tanya Luna.


"Terserah kau saja, ayo cepat jangan biarkan suamimu menggigil nyonya Hawn." Jawab Rekay.


Luna akhirnya asal mengambil. Luna berjongkok dihadapan Rekay, berniat membantu Rekay. Luna gugup, ini pertama kalinya Luna melihat tubuh pria. Melihat Luna yang gugup, Rekay pun tertawa.


"Haha.. ada apa? Kau gugup hm? Tutup matamu dan berbalik jika malu, aku akan pakai sendiri celanaku." Ucap Rekay.


Luna berdiri, memberikan celana yang dipegangnya pada Rekay. "Maaf.. sepertinya aku butuh lebih banyak persiapan." Jawab Luna.


Rekay menerima celananya, Luna duduk di samping Rekay, memalingkan wajah membelakangi Rekay. Luna merasa tempat tidur bergerak-gerak, Rekay perlahan memakai celananya. Selesai mengenakan celana, Rekay mengubah posisinya menyandar bantal. mencari posisi yang nyaman.


"Sampai kapan kau akan seperti itu?" Tanya Rekay.


"Kau sudah selesai? Tanya Luna.


"Sudah," jawab Rekay.


Luna memalingkan wajah melihat Rekay, benar saja Rekay sudah rapi dan sekarang sudah ada di posisi duduk bersandar bantal.


"Strawberry ku.." kata Rekay.


"Oh, oke." Luna berdiri dari duduknya, berjalan mengambil Strawberry dan kembali ke tempat awal.


Luna naik ke atas tempat tidur, duduk melipat dua kakinya, menghadap Rekay. Luna mengambil buah Strawberry dari dalam wadah dan menyuapnya pada Rekay.


Rekay membuka mulut dan memakan buah Strawberry yang diberikan Luna.


"Kau tau mengapa aku suka Strawberry?" Tanya Rekay.


Luna menggeleng, "apa alasannya?" Tanya Luna.


"Buah Strawberry meski berwarna merah manis, rasanya tidak semanis warnanya, ada rasa masam di dalamnya. Seperti hidupku, terlihat manis di luar tetapi pada kenyataannya tidak semanis yang orang lihat." Jawab Rekay.


"Itulah mengapa, kau perlu mencoba makanan manis. Hhh, jangan menjadi paman yang keras kepala. Aku akan memberika cake manis padamu sesekali nanti." Ucap Luna mengambil dan menyuapkan Strawberry pada Rekay.


"Kenapa kau memanggilku paman Luna, jangan panggil aku paman." Rekay menatap Luna.


"Oke, aku akan memanggilmu suamiku jika kau mau mencoba cake manis besok, bagimana?" Bujuk Luna.


"Aku tidak suka makanan manis, jangan memaksa." Kata Rekay.


"Oh ayolah, makanan manis itu enak dan lezat. Jika tidak mau jangan larang aku memanggilmu paman." Luna menggerutu.


Pipi Luna menggembung, bibirnya maju. Luna merasa kesal, tidak berhasil membujuk Rekay. Melihat ekspresi wajah Luna, Rekay menahan tawa. Luna begitu menggemaskan.


"Wanita ini, sungguh unik!" Kata Rekay dalam hati.


"Baik, baik, aku akan makan cake manis yang kau berikan. Tersenyumlah dan jangan murung seperti itu, oh ya Luna.. boleh aku bertanya sesuatu?" Tanya Rekay.


Luna menatap Rekay lalu mengangguk, "ya.. ingin bertanya apa? Luna penasaran apa yang ingin Rekay tanyakan.


"Apakah kau sungguh tidak tertarik pada harta kekayaan dan status sosial?" Rekay ingin mendengar jawaban Luna.


"Kenapa? Apa kau takut aku menghabiskan uangmu? Haha.." Luna tertawa, "Paman, dengar baik-baik sejujurnya aku menikah denganmu karena terpaksa, aku sangat menyayangi papa dan mamaku. Perusahaan papaku, terancam bangkrut jika aku tidak mau menikahimu, aku tidak mau menjadi anak yang egois. Lana pergi dan tidak ingin menikah denganmu, hanya tersisa aku. Aku tidak tertarik dengan uang dan hartamu, aku bisa menghasilkan uang sendiri dengan bekerja. Jangan cemas, uangmu akan aman." Jawab Luna.


Rekay tertawa, "haha.. masih ada wanita sepertimu di dunia ini Luna. Jika wanita lain mereka akan memanfaatkan kesempatan untuk menggoda dan merayuku, agar mereka menghasilkan uang. Kau unik, aku suka.." ucap Rekay.


Luna mengerutkan dahi, "kau pikir aku wanita apa.. uh, menyebalkan sekali. Oh, bicara soal ini, aku ingin bertanya satu hal padamu. Aku harap kau juga tidak tersinggung dengan pertanyaanku. Kenapa mamamu mengancam papaku? Mengapa dia memaksamu menikah? Bukankah sebelumnya kau di sembunyikan? Hmmmh, maksudku kau tidak pernah menampakakan diri dihadapan umum. Coba jelaskan agar aku mengerti." Luna memberanikan diri bertanya.


Rekay menghela napas, mengambil Strawberry dan memasukan buah Strawberry dalam mulut Luna yang terbuka. Hal itu mengejutkan Luna.


"Kita bahas ini nanti, soal papamu yang diancam dan soal Jenifer. Saat ini bukan waktu yang tepat, aku pasti akan menceritakan semuanya padamu." Kata Rekay.


Luna sedikit kecewa namun berusahan untuk menerima jawaban Rekay. Luna mengangguk, tanda menerima keputusan Rekay. Luna tidak menjawab, karena mulutnya sedang mengunyah buah Strawberry.


Rekay dan Luna menghabisakan waktu bersama sore itu. Rekay mendengar cerita Luna saat Luna menangani pasien-pasiennya di rumah sakit. Mendengar cerita Luna yang lucu, Rekay selalu mengembangkan senyuman. Luna dan Rekay mulai akrab satu sama lain.


Thank you..


Bye-bye..


------------