
Bagian 1
Sudah 1 jam sejak kedatangan Vima? Mm, rasa nya tidak sopan jika aku memanggil orang yang lebih tua dengan namanya saja, walaupun dia yang menyuruhnya, baiklah aku akan memanggil nya bibi Vima.
Ahem.
Sudah 1 jam sejak kedatangan bibi Vima, aku tidak tahu kalau dia adalah adik dari ibuku, soalnya dari warna rambutnya yang berwarna coklat, dan saat aku memperhatikan tangan kirinya, tidak ada sama sekali tanda N, sudah jelas bukan bahwa dia adalah ras Bangsawan!.
"Tuan Gera, ini hidangan makan malam nya sudah siap."
"Mm, ya."
"Lisa kesini makan malam sudah siap."
"Ok mama!"
Tidak peduli dengan ras Bangsawan! Jika tubuh nya yang mantap begini dan boing-boing nya berukuran cup E, aku pasti suka! Apakah semua perempuan ras Bangsawan memiliki tubuh seperti ini? Muehehe.
"Hei! Kenapa kamu melihat tubuh mama dengan tatapan mesum begitu!"
"Ek, ee, tidak! Memang siapa yang melihat tubuh ibumu, aku …, aku, aaakuuu…."
*Melihat bibi Vima menaruh hidangan makan malam*
"Aku hanya melihat masakan ibumu yang menggoda, itu terlihat sangat enak!"
"Oh begitu."
Fuuh, apa-apaan anak itu mata dia sangatlah tajam, aku harus hati-hati darinya.
Pada akhirnya kami memakan hidangan makan malam kami, dan hanya ada suasana sunyi yang ada di dalam rumah itu.
Ah, aku sangat benci dengan suasana seperti ini, aku akan mencoba mengubah suasana dengan bertanya kepada bibi.
"Bibi Vima kamu sebenarnya siapa? Dan apa hubungan kamu dengan ibuku?"
"..."
"Hehe?"
"..."
Dia hanya terdiam.
Yap, dia hanya terdiam.
Aaa! Sial! Bukannya mengubah suasana menjadi lebih baik, aku malah membuat suasana menjadi sangat canggung begini, dan tambah memperburuknya.
Eh, dia seperti ingin membuka mulutnya.
"Tuan…."
Ya, ya, apa yang ingin kamu katakan?.
"Tuan, saya mohon jangan pernah memanggil saya bibi lagi!"
Eeeeh, jawaban yang sangat berbeda dari pertanyaanku, tapi kenapa dia tidak ingin dipanggil bibi?.
"Kenapa begitu? Kamu kan lebih tua dari aku."
"Tuan!"
Eh, kenapa dia marah apakah kata-kataku salah?.
"Tuan! Walaupun saya lebih tua dari pada tuan, tapi umur saya adalah 26 tahun, dan saya belum sangat tua untuk di panggil bibi!"
"Baiklah-baiklah, aku tidak akan memanggil kamu bibi, tapi jangan memanggilku tuan ok, bukankah itu impas?"
Woah, dia ternyata sangat sensitif dengan sebutan seperti itu.
"Maaf, saya tidak bisa melakukannya."
"Kenapa?"
"Karena saya sangat menghormati keluarga tuan."
"Aaa, baiklah kalau kamu masih memaksa memanggilku tuan! Jadi, kamu sebenarnya siapa? Dan apa hubungan kamu dengan ibuku?"
"Hahaha, kamu sangat bodoh!"
Cih, ini loli ngeselin amat!.
"Lisa! Mana sopan santun kamu!"
"Maaf ma."
"Maafkan tingkah anak saya tuan Gera."
"Um, ya tidak apa-apa."
Hmm? Gimana rasanya kena marah oleh mama mu?.
"Saya adalah adik dari ayah tuan, tuan Edward, dan juga adik ipar dari ibu tuan, kak Skaila."
"Saya sangat mengagumi tuan Edward dari sejak kecil, di keluarga Ursa dialah orang paling disegani dan juga paling bijak, dia juga sering menolong saya jika dalam kesusahan."
"Karena itulah, saya sangat mengagumi dan menghormati tuan Edward lebih dari apapun, oya, ini adalah anak saya Lisa Ursa, berumur 5 tahun, dan anak saya satu-satunya, walaupun saya sangat keras kepadanya, tapi di hati saya, saya sangat mencintainya dan juga menyayanginya."
"Ini cukup aneh bagiku, kamu adalah adik kandung dari ayah ku bukan?"
"Iya."
"Terus kenapa kamu memanggilnya tuan?! Kenapa kamu tidak memanggilnya abang atau kakak?"
"Karena saya sangat menghormatinya."
"Yaaa, tapi itu terdengar aneh tau!"
"Pft."
"Kenapa, kenapa kamu ketawa? apakah ada yang lucu?"
"Maafkan saya, melihat wajah dan sifat tuan, itu membuat saya teringat kepada ayah tuan, sifat keras kepala itu benar-benar mirip sekali dengan ayah tuan."
"Kamu mengatakan jika aku keras kepala, tapi kamu sendiri tidak sadar diri."
"Maaf, tapi tuan benar-benar mirip dengan ayah tuan, dulu saat saya berumur 9 tahun, saya memanggil ayah tuan dengan sebutan tuan, tapi dia merasa sangat jengkel dan marah, tuan Edward memaksa saya untuk jangan memanggil nya tuan, 'hei Vima jangan memanggilku tuan! Rasanya sangat memalukan, kamu tahu!' Tapi saya tetap memanggilnya tuan."
"Berulang kali tuan Edward menegur saya untuk tidak memanggilnya tuan, bahkan sampai sekarang."
Apa-apaan keluarga ini? Apakah keluarga Ursa adalah gerombolan orang-orang yang keras kepala semua?.
"Ya, kamu tahu bukan gara-gara keras kepala kami ini, suatu insiden menimpa ayahku."
"Saya sudah mengetahuinya, dari surat yang dikirim ibu tuan."
"Begitukah, maaf kan aku, jika saja aku menuruti perkataan ayah, pasti kejadian ini tidak akan terjadi, kamu boleh saja marah kepada ku."
"Saya tidak marah, tapi saya merasa sangat sedih mendengar ayah tuan terkena musibah, tapi yang bisa kita lakukan sekarang adalah berdoa agar ayah tuan cepat sembuh."
"Ya kamu benar Vima."
Kami melanjutkan makan malam sambil berbincang.
"Mama, aku ngantuk."
"Iya Lisa, a, maaf tuan kamar untuk kami ada dimana ya?"
Eh, aku lupa jika kamar di rumah ini hanya ada dua, apa yang harus aku lakukan? ..... Oya!.
"Vima, akan aku antarkan kamu ke kamar, sini ikuti aku."
"Baiklah tuan, untuk piring-piring ini akan saya bersihkan nanti."
"Baiklah."
"Lisa ayo kita ke kamar."
"Iya mama."
Aku mengantar mereka ke dalam kamar.
Hah, hari sudah larut dan sangat dingin, aku sangat kedinginan disini.
Ya, betul, aku tidur di loteng, sedangkan Vima dan Lisa tidur di kamarku, aku tidak mau tidur di kamar orang tua ku, karena aku merasa tidak sopan.
Hah, aku tidak bisa tidur, mending aku menggambar ..., sial! Buku gambar ku tertinggal di kamarku, gimana ini, jika Vima melihat isi di dalam buku itu.
Aaah! Tamatlah riwayatku.
*30 menit kemudian*
Ini di lotengkan? Perasaan ku di loteng terdapat banyak buku, hmm dimana ya ….... Nah ini dia, rak buku tua yang hanya terdapat 10 buku saja! Aku tidak tahu kenapa hanya ada 10 buku saja di rumah ini, apakah ayah dan ibu malas membaca? Kalo untuk ayah sih mungkin, kalo ibu um, kayaknya enggak sih.
Ok 10 buku, 2 nya sudah pernah kubaca, tinggal 8 buku, yang mana dulu ya, yang akan kubaca?.
Aku mencari-cari judul buku yang bagus untuk aku baca, hmm, yang mana ya? Ini kayaknya menarik.
<< Perjalanan Kaisar >>
Sebuah cerita dongeng sangat cocok bukan, untuk malam hari begini, apalagi ini menceritakan perjalanan seseorang.
Aku pun membaca buku tersebut, setelah menyelesaikan buku tersebut aku lanjut ke buku-buku lain, hingga aku tertidur.
Buku-buku yang ku baca:
<< Legenda Seorang Pria >>
<< Pahlawan Naga >>
Bagian 2
Keesokan harinya, di pagi hari.
"Vima aku akan bermain di luar, kamu jaga rumah ya."
"Tunggu tuan Gera."
"Um? Ada apa?"
"Saya mohon ajak anak saya 'Lisa' untuk mengenalkannya tentang desa ini."
"Ya, tidak apa-apa."
"Terimakasih tuan, Lisa Kesini!"
"Iya mama … Ada apa mama?"
"Sana ikut tuan Gera bermain di luar, biar kamu bisa tau tentang desa ini."
"Gak! Aku gak mau mama, orang itu, aku tidak suka dengannya!"
"Lisa!! Mana sopan santun mu!!"
"Anu, Vima tidak usah marah-marah dengannya."
Padahal aku cuma mau pergi dengan tenang, kenapa malah ada pertengkaran di pagi hari sih … oh, sepertinya Lisa, dia seperti ingin menangis, "kenapa? Kenapa mama marah padaku, memang apa salahku? Apakah karena aku tidak sopan padanya, mama marah padaku? Kenapa mama sangat menghormatinya, emang apa yang spesial darinya? Aku benci dia dan mama!!!" Lisa lari dari rumah.
"Lisa!"
"Ee, Vima kamu seharusnya jangan terlalu keras terhadap Lisa, umur dia baru 5 tahun bukan."
"Maafkan saya tuan, tapi Lisa emang selalu keras kepala saat di bilangin."
"Ya, mau gimana lagi bukan, keluarga kita adalah keluarga yang keras kepala semua."
"Maafkan saya."
"Tidak apa-apa kok Vima, yang lebih penting sekarang adalah mencari Lisa bukan?"
"Iya anda benar tuan, saya akan bantu mencarinya."
"Biarkan aku saja yang mencarinya, kamu belum tahu jalanan di desa ini kan?"
"Um, ya, ini pertama kalinya saya kesini, Jika begitu, mohon bantuan nya tuan."
"Tenang, aku akan segera menemukannya."
Aku pergi dari rumah untuk mencari Lisa.
Hah, padahal aku keluar pagi-pagi untuk berduduk santai dibawah pohon, eh, kenapa rencana ku malah belok begini, sekarang tujuan ku malah mencari loli berumur 5 tahun yang entah kenapa lari dari rumah, dimana aku harus mencarinya?.
Aku mencari Lisa, dari rumah penduduk desa, persawahan, menanyakan nya kepada warga desa, dan tempat-tempat lain.
Ah, hari sudah siang, dimana sih dia? Sudah kutanyakan ke penduduk desa, tapi tidak ada yang mengetahuinya, aku khawatir jika dia lari ke arah hutan, kata ibu di hutan terdapat banyak hewan buas dan perangkap hewan.
(Bahkan diriku saja belum pernah kesana).
Em …, um …, pergi gak ya? ……. Sudah jelas bukan! Aku harus pergi mengeceknya di hutan, udah sok keren di depan Vima juga, masak pulangnya dengan tangan kosong.
Aku pergi mengeceknya di dalam hutan dengan rasa ketakutan yang menyelimuti ku, sial, hutan macam apa ini?! Padahal di siang hari, tapi tidak ada cahaya matahari sedikit pun di hutan ini, ini serasa di malam hari!.
Beberapa menit berlalu.
Aku terus mencarinya, bahkan meneriaki nama nya, "Lisa, Lisa dimana kamu!" tapi tidak ada jawaban.
Aku capek, sudah berjam-jam aku mencarinya tapi tidak ketemu juga.
"Dasar kau menjengkelkan!"
Hah suara bocah? Ini bukan suara perempuan melainkan laki-laki! Apa yang mereka lakukan di hutan ini? Eeeh, aku mengatakan mereka padahal diriku juga bocah yang sedang di dalam hutan, tapi aku coba samperin kali.
Aku jalan ke sumber suara tersebut dan sampailah aku di sebuah area yang kosong, dan terdapat rumput-rumput yang dikelilingi oleh pepohonan, aku bersembunyi di balik salah satu pohon itu. Di situ aku melihat 4 bocah laki-laki, yang sedang mengelilingi seorang bocah? Apakah 4 bocah itu adalah seorang pembully dan yang dikelilingi itu adalah korban?.
Jika iya, mending aku pergi dari sini, itu sangat mengingatkanku pada trauma masa lalu ku, maafkan aku wahai sang korban.
Aku sangat membenci pembully, dan sangat ingin menolong orang-orang yang menjadi korban bully, tapi aku ini sangatlah lemah, dan juga rasa trauma di diriku masih saja menyelimutiku, dan satu hal lagi, aku tidak mau menjadi korban bully lagi!!.
"apa salahku?"
Ek, itu bukannya suara Lisa kan? Bukan kan? Bu-bukan kan?.
"Mama tolong aku!"
Eeeee, itu suara Lisa.
"Mama."
Ya, ya, kata mama adalah ciri khas dari Lisa ……. Aaaaa!! Lisa!! Kenapa kamu sampai berurusan dengan pembully Lisa!!! Emang apa yang telah kamu perbuat!!.
"Heh, kau bilang, apa salahmu? Salah kau adalah bahwa diri kau itu adalah ras Bangsawan!! Kami sangat tidak menyukai ras Bangsawan di sini!!!"
"Iya betul!"
"Hah? Emang kenapa jika aku ras Bangsawan? Apakah aku berbuat salah kepada kalian?"
Cih, penindasan ras, jika kalian membenci ras Bangsawan, kenapa kalian tidak membenci ayah dan ibuku dan juga diriku ha?!! Cih, dasar badut.
"Berhentilah berbicara dasar ras Bangsawan!!"
Dia melontarkan tinjunya ke arah Lisa, aku dengan sigap berlari ke arah Lisa dan membelakanginya, untuk melindunginya dari tinju anak itu.
Aku terkena tinjunya dan terjatuh.
"S-s-si-siapa kau!"
"Siapa aku? Hei, berani sekali kamu melontarkan tangan kotormu itu kepada adik ku ya."
"A-a-adik mu? Kau bukannya ras Niksmi kan? Kenapa kau menganggap dia adik mu?"
"Hah!!"
"Iii!!"
"Jika sekali lagi kalian melontarkan tangan kotor kalian ke adikku, maka habislah kalian!!"
"Iiiii!!! Ibuuuuu!!!"
…… Fiuh, lari juga mereka …... Hiiii, sumpah yang tadi itu membuatku ketakutan, kaki ku bergetar, untung saja mereka tidak melihat kakiku.
Bruk.
Lisa memelukku dari belakang.
Eh, Lisa apa yang kamu lakukan? … Lisa?.
"Terimakasih."
"Ek, apa yang kamu katakan Lisa?"
"Terimakasih, terimakasih, terimakasih!"
Kenapa dia menangis?.
"Kenapa berterima kasih pada ku?"
"Kamu bodoh ya? Bagaimana jika kamu tidak menemukanku, pasti aku akan di apa-apain oleh mereka."
"Bukankah itu sudah wajar? Itulah kegunaan seorang kakak, untuk melindungi adiknya jika dalam bahaya"
"Apakah aku masih pantas untuk disebut adikmu, setelah aku mengatakan jika aku membencimu?"
"Lisa, duduk sebentar, dan hilangkan air mata kamu, ada sesuatu yang ingin aku katakan kepada kamu."
"Ya"
Kami duduk sebentar di hutan itu dan berbincang sebentar.
"Lisa, dengarkan ini, seorang adik pantas membenci kakaknya mungkin karena kakak nya tidak berguna, tapi seorang kakak tidak akan pernah membenci adiknya, karena mereka tahu jika mereka lebih tua dan tahu yang mana benar dan salah, apalagi seorang kakak diciptakan bukan untuk membenci adiknya, tapi untuk melindungi adiknya … jadi kamu sudah paham kan Lisa?"
"Iya aku sudah paham kak Gera"
Wah, tadi dia mengatakan kakak kan?.
"Tapi…."
"Tunggu Lisa, di jalan aja kita lanjutkan ceritanya, kita harus keluar dulu dari hutan ini."
"Iya kak."
Whoa Beneran, dia memanggilku kak, suara nya sangat lembut.
"Aduh."
"Kamu tidak apa-apa Lisa? Aduh, kenapa kaki kamu bisa luka?"
"Tadi saat aku di kejar, aku terpeleset di sini."
"Yaudah biar aku gendong kamu."
"Terimakasih kasih kak."
Aku menggendong Lisa sampai kerumah. setelah kami keluar dari hutan lisa mulai berbicara lagi padaku.
"Kak aku mau melanjutkan kata-kata ku tadi."
"Boleh, apa itu?"
"Kamu sebenarnya bukanlah kakak yang tidak berguna, dan aku sebenarnya tidak membenci kamu kak, tapi aku mengatakan itu karena mama selalu saja menyuruhku untuk sopan terhadap keluarga paman Edward, dan mama terlalu terobsesi kepada tuan Edward dan keluarganya, karena itulah aku selalu memandang rendah kamu, dan mengatakan kalau aku tidak menyukaimu, karena mama lebih memilih kamu daripada aku."
"Lisa, walaupun mama kamu memang seperti itu, tapi ingat dia tetap mama kamu, dia lebih menyayangi kamu daripada aku, tidak ada seorang induk yang rasa cintanya melebihi anaknya."
"Kamu hebat kak Gera, kata-kata kamu sangat bisa memotivasi orang lain."
"Iyakah? Hahaha."
"Iya, hehe."
*40 menit kemudian*
"Hei Lisa kita hampir sampai."
"Um, ee, iya kah kak?"
"Iya, apakah kamu ketiduran?"
"Iya, maafkan aku kak."
"Tidak apa-apa ...... Lisa, itu mama kamu kayaknya lagi mencari kita, sepertinya dia sangat khawatir."
"Mana?"
"Itu"
"Mama!!!"
Vima menyadari kedatangan kita, lalu dia berlari ke arah aku dan Lisa, dia seketika memeluk Lisa dan mengatakan "maaf, maafkan mama Lisa, gara-gara mama kurang peduli kepada kamu, kamu jadi melarikan diri, maafkan mama."
"Ma-ma, mama aku juga meminta maaf mama, aku dengan bodohnya melarikan diri begitu saja tanpa berfikir panjang terlebih dahulu."
"Umm, tidak apa-apa Lisa."
"Kak Gera, terimakasih banyak ya hihi."
"Ya, sama-sama."
"Tuan Gera, saya berhutang budi kepada anda."
"Tidak usah berhutang budi denganku Vima, aku ikhlas melakukan ini."
Ternyata tindakanku ini sangat bisa mengubah sesuatu, aku sangat senang melihat orang-orang bisa bersatu lagi, apakah aku bisa melakukan ini lagi? Pasti bisa lah! Jika aku berani maka aku bisa merubah apapun.