
Masih dengan hari yang sama tapi di malam hari, kami sudah selesai mengemasi pakaian, dan juga peralatan yang akan kami bawa.
Tapi.
Kenapa di luar malah hujan lebat!! Padahal aku ingin sekali berangkat hari ini!!.
"Tuan mungkin kita undur saja keberangkatan kita beberapa hari lagi."
"Hm? Kenapa harus menunggu beberapa hari lagi? Kenapa tidak besok saja Vima?"
"Itu sebab anak saya Lisa, dia demam tuan."
Iya sih tadi siang juga aku melihat wajah Lisa memerah, sudah kuduga jika dia demam, hah, apa boleh buat aku sebagai kakak nya juga tidak boleh egois, apalagi Lisa dia sudah menolongku.
"Baiklah Vima kita akan berangkat setelah Lisa sudah sehat."
"Terimakasih tuan!"
"Tidak perlu berterima kasih Vima, itu adalah alasan yang wajar bukan? Sangat bodoh jika membawa orang yang lagi sakit di perjalanan yang cukup jauh."
"Anda benar tuan."
"Iya kan hahaha."
Apa aku perlu menjenguk Lisa? Hmm, kayaknya aku memang harus menjenguknya, sekalian menyemangati dia.
"Vima, apakah aku boleh melihat Lisa?"
"Tentu saja tuan, anda boleh melihatnya."
"Terimakasih Vima."
Aku pergi ke kamar Vima, di situ aku melihat Lisa sedang terbaring lemas di kasur, Lisa menyadari kehadiranku dan berkata, "ah, kak Gera apakah kita akan berangkat sekarang, kak?" Kata Lisa dengan lemas.
Aku mendekati Lisa lebih dekat dan mengatakan, "Tidak Lisa berangkatnya akan kita undur," aku berbicara dengan nada yang rendah.
"Kenapa kak? Apakah karena diriku? Jika iya maafkan aku kak Gera, ini salahku tidak bisa menjaga kesehatanku."
"Hei, Lisa jangan menyalahkan dirimu, yang namanya makhluk hidup pasti akan terkena penyakit pada waktunya bahkan tumbuhan sekalipun."
"Um, iya kak."
"Aku kesini hanya ingin melihat keadaan kamu Lisa dan mengatakan, 'cepat sembuh ya!' Yasudah aku keluar ya Lisa, beristirahatlah."
Aku pun beranjak pergi, tapi Lisa dia menarik baju bagian lenganku, "kak, aku ada permintaan, kumohon kepadamu untuk mengabulkannya."
"Eek, apa itu Lisa?"
"Tetaplah disini hingga aku tertidur."
Sebagai kakak yang baik, aku harus menuruti permintaan sang adik.
"Baiklah Lisa, aku akan di sini menemani kamu hingga kamu tertidur."
"Kamu memang kakak yang hebat, terimakasih kak."
"Sama-sama Lisa."
Aku menemani Lisa hingga dia tertidur.
3 hari berlalu.
Lisa dia sudah sembuh dari demamnya, dan kami akan bersiap pergi dari desa, dan sekarang aku sedang berada di dalam rumah, menunggu Vima selesai memasak hidangan makan siang kami.
Vima juga sudah memesan kuda untuk kami, jujur ini pertama kalinya di hidupku, aku pergi ke suatu tempat menggunakan kuda.
"Tuan ini makan siangnya."
"Terimakasih Vima."
"Iya tuan," dia langsung pergi ke kursinya.
"Selamat makan," ucap kami semua.
Kami memakan hidangan makan siang kami seperti biasa.
3 jam berlalu.
Aku masih di dalam rumah, sedangkan Vima menunggu di luar.
"Tuan kudanya sudah sampai!"
"Ah, baiklah Vima, aku akan memanggil Lisa juga, Lisa! Kudanya sudah sampai!"
"Iya kak Gera."
Lisa pun turun dari lantai 2.
Aku melihat Lisa memegang suatu buku, buku apa itu? Aku pun bertanya kepada Lisa "Lisa buku apa yang kamu bawa itu?"
"Ini? Ini adalah buku cerita kak."
"Ooo, buku cerita."
"Yaudah, ayo buruan Lisa mama kamu sudah menunggu di luar."
"Iya kak."
Aku dan Lisa pergi keluar, dan melihat ada gerobak yang lumayan besar yang di atasnya tertutup, dan di depan gerobak itu adalah kudanya.
"Tuan letakkan barang anda di dalam gerobak itu, setelah itu tuan masuk ke dalam gerobaknya, Lisa kamu juga."
"Baiklah Vima."
Kami meletakkan semua barang-barang kami ke dalam gerobak itu, lalu masuk kedalam gerobaknya.
*10 menit kemudian*
Aku, Vima, dan Lisa sudah masuk ke dalam gerobaknya, tak lama kemudian kuda mulai berjalan, itu membuat gerobaknya tertarik.
Aku mulai ketakutan akibat guncangan dari gerobaknya, tapi saat aku melihat mereka berdua sangat santai, bahkan Lisa dia sangat senang, aku pun berusaha untuk menenangkan diriku, dan ikut berbicara kepada Vima dan Lisa.
Hingga kita melewati persawahan, aku melihat Vima melambaikan tangannya kepada penduduk desa, hah? Sejak kapan Vima bisa akrab dengan penduduk desa? Tidak hanya itu, pada saat kita sampai di rumah penduduk desa, warga yang ada disana melambaikan tangannya kepada Vima, ya kebanyakan sih laki-laki, tapi hei, hei, sejak kapan dia bisa akrab begitu dengan penduduk desa?! Yang ku tahu dia hanya ada di rumah, dan aku tidak pernah melihatnya keluar, apa pada saat dia membeli bahan baku makanan? Mungkin saja, karena aku juga sering keluar bermain-main hingga sore.
5 menit berlalu.
Fiuh, ternyata naik kuda tidak semenegangkan itu ya, aku sudah mulai terbiasa.
"Kak Gera!"
"Ya Lisa? Ada apa?"
"Aku ingin melihat tangan kiri kakak, boleh gak?"
"Boleh, tapi untuk apa?"
"Ya lihat-lihat aja."
"Baiklah, ini."
Memang untuk apa dia ingin melihat tangan kiriku?.
"Whoa! Benar-benar ada tanda N nya."
"Ek, kamu baru nyadar Lisa?"
"Iya, aku baru menyadarinya saat kak Gera menjengukku di kamar dan menemaniku hingga aku tertidur, tapi kak Gera malah yang tidur duluan, dan saat kak Gera tidur, itu posisi tangan kiri kakak ada di atas kasur, aku pun memperhatikannya dan terlihat tanda N di tangan kiri kak Gera."
Kamu sangatlah lambat Lisa, jadi selama 2 tahun lebih ini kamu tidak pernah memperhatikan tangan kiriku!.
"Hehe, jadi menurut kamu gimana tanda ini?"
"Sangat bagus kak! Cocok untuk kak Gera."
"Begitukah? Haha terimakasih Lisa."
"Hihi sama-sama kak, oya kakak kan anak dari paman Edward, apakah kakak punya simbol di punggung kakak?"
"Aku tidak mempunyai Lisa, kalo untuk tubuh mungkin aku meniru ibuku."
"Kalo sifat baru ayah tuan kan?" ucap Vima.
"Hahaha, kamu benar Vima."
Aku melihat Lisa dia mengambil buku ceritanya, lalu menghampiriku dan duduk di sebelahku, "kak coba kamu lihat buku ini."
<< Apa Itu Seni? >>
"Gara-gara cerita ini aku jadi sangat termotivasi menjadi seorang seniman."
"Wah, bagus bukan? Memang ceritanya tentang apa Lisa?"
"Seseorang tanpa nama, tanpa karakter, tanpa warna hidup, mencari seni dari dirinya kak, perjalanan kisahnya sangat bagus!"
Eeeeh, serius anak berumur setara atau di bawah dia mengerti tentang cerita seperti ini? Aku yakin sekali cerita ini sangat berat dipahami oleh anak-anak!.
"Kak Gera, aku pernah mengatakan kepada kakak apa cita-citaku, sekarang giliran kakak kasih tahu aku apa cita-cita kakak!"
"Cita-citaku? Cita-citaku tinggi sih Lisa."
"Woh! Apa itu?"
"Tapi aku merasa tak akan bisa menggapainya Lisa."
"Kenapa kak?!"
"Karena aku tidak tahu harus memulainya dari mana dan...."
"Memang apa cita-cita kamu itu?"
"Astronot, aku sangat ingin pergi keluar angkasa."
"Wah! Itu adalah cita-cita yang sangat tinggi kak! Bahkan lebih tinggi dari pada cita-citaku."
"Jangan berkata seperti itu Lisa, semua cita-cita itu sama, semua nya tinggi Lisa, dan semuanya membutuhkan pengorbanan dan usaha untuk mencapainya."
"Um, kamu benar kak, tapi kamu tahu sesuatu kak? Kakak bisa lo menggapai cita-cita kakak, tidak ada kata menyerah kan kak dalam hidup ini? Dan jika kakak bingung memulainya dari mana, maka permulaan menggapai cita-cita itu ada di akademi, di situlah permulaannya kak."
"Hahaha, Kamu sudah bisa menceramahi orang ya Lisa."
"Iya dong, kakak kira hanya kakak doang yang bisa? Hihi."
Punya adik sepertinya, hah, diriku ini sangatlah beruntung sudah di reinkarnasikan, dapat keluarga yang baik hati itu semua sudah sempurna bagiku, dan Lisa, aku berhutang lagi kepadanya.
5 jam berlalu.
"Oya Vima, memang ke kota butuh berapa jam lagi?"
"14 hari lagi tuan."
"Eh?"