New World New Body And High Dream

New World New Body And High Dream
Kawan pertama



Bagian 1


Kami mengikuti asisten pribadi kakekku ketempat kuda… nama dia sebenarnya siapa sih? Gak enak rasanya memikirkan sesuatu tapi aku tidak tahu nama orang itu, seperti ada yang kurang.


"A."


Sial aku memanggil dia apa? Paman? Atau apa?.


*Asisten melihat Gera yang kebingungan*


"Anda kenapa tuan Gera? Apakah ada masalah?" Ucap asisten tersebut.


"Ah tidak ada, hanya saja namamu siapa? Dan aku harus memanggilmu apa?"


"Hump hump, memang ya ras Bangsawan dan Niksmi sangat berbeda, apalagi dari sifat mereka."


"Apa yang kamu katakan tadi? Maaf aku tidak menyimaknya."


"Oh tidak ada tuan Gera, saya tidak mengatakan apapun… saya tidak memberi tahu nama saya bukan karena saya sombong melainkan karena saya tidak mempunyai nama."


"Hah, apa maksud kamu tidak memiliki nama?"


"Tuan bisa menanyakannya nanti kepada nyonya Vima, kita dulu adalah kawan masa kecil."


"Baiklah…... eee!!! Kawan masa kecil?!"


"Kenapa anda terkejut? Apakah nyonya Vima belum pernah memberitahu tuan Gera tentang diriku?"


"B-belum pernah sama sekali."


"Ouh itu membuat hati saya sakit mendengarnya."


"Hei, hentikan itu! Lagi pula untuk apa aku memberitahu tuan Gera tentang dirimu?" Ucap Vima.


"Kau benar-benar jahat nyonya, sudah banyak hatiku yang kau sakiti dan ini sudah yang ke ratusan kalinya."


"Hei! Hentikan itu!"


Wajah Vima memerah, dia kenapa? Tapi melihat tingkah mereka… hahahaha mereka seperti anak kecil saat bertengkar saja.


*5 menit kemudian*


"Sepertinya hanya sampai disini, saya mengantarkan kalian."


"Hm, memang ada apa?"


"Yaa, saya hanya mengantarkan kalian sampai di tempat kuda, dan sekarang kalian sudah sampai."


Mana kudanya, aku tidak melihat kuda sama sekali.


"Kamu berbohong ya? Mana kudanya aku tidak melihat apa-apa."


"Hah, tuan majulah sedikit, di belokan itu ada kudanya."


"Ooo, begitu."


"Yasudah, saya akan pergi ada urusan penting yang menunggu saya."


"Um baiklah."


"Oya jangan lupa menanyakannya ke nyonya Vima ya, jika dia tidak mau paksa saja dia."


"hahaha baiklah, terima kasih."


Huh, dia adalah tipe orang yang sangat misterius dan juga keren? Mungkin aku berpikir begitu jika aku adalah seorang perempuan.


"Yasudah, ayo Vima kita maju."


"Baiklah tuan."


Aku pun maju kedepan dan melihat belokan yang dikatakan asisten itu, saat aku dan Vima berbelok terlihat seekor kuda berwarna coklat dengan gerobak mewah di belakangnya.


Wow cantik dan bersih sekali kuda ini! Dan gerobaknya sangat mewah, woah.


"Silahkan masuk tuan dan nyonya."


Um, apakah dia supirnya?.


"Ayo tuan kita masuk."


Kami pun masuk kedalam gerobak itu. Waw ini benar-benar mewah! Apakah ini cocok untukku? Ini seperti desain orang Bangsawan banget, hah, sepertinya ini tidak level untukku.


Aku merasa seperti orang yang baru mengenal dan melihat teknologi modern saja, ingat wahai diriku, asal usul kita itu berada di dunia yang serba modern!.


Walau aku mengatakan itu, aku tetap saja bersifat seperti orang norak.


Tanpa aku sadari kuda sudah berjalan sejak dari tadi.


Wah, indahnya pemandangan di malam hari lampu-lampu rumah menerangi jalanan, ini seperti suasana di dunia lamaku saja….


…… sampai kapan rasa nostalgia ini bertahan? Aku jadi teringat pulang malam-malam dengan ibuku saat aku berumur 5 tahun.


Saat itu sedang malam hari, kami baru saja pulang dari taman.


"Ibu aku kedinginan."


"Sabar ya nak keretanya bentar lagi sampai."


"Tapi disini dingin sekali bu."


Ibu tampak sangat panik disitu, karena aku waktu kecil menderita penyakit Hipotiroidisme yang lumayan berat.


"Sabar nak bentar lagi keretanya datang."


"B-b-bu."


"Maaf nak maafin mama nak andai saja mama tidak egois dan tetap dirumah, kamu tidak akan merasakan kedinginan seperti ini."


Disitu ibu memelukku dengan erat, dia berusaha semaksimal mungkin agar aku tidak kedinginan.


Sebenarnya ibu tidak perlu meminta maaf kepadaku, akulah yang memaksa ibu untuk ketaman.


Ibu semoga kamu tenang disana, maaf jika aku belum bisa menyusul kamu.


Dari tadi, aku hanya berbicara sendirian saja, oya Lisa mana tumben aku tidak mendengar suaranya.


"Vima."


"Iya tuan."


"Lisa mana? Aku tidak mendengar suaranya dari tadi, biasanya kan dia paling banyak bersuara."


"Hm, Lisa sedang tidur di pangkuan saya tuan." Ucap Vima sambil tersenyum.


"Haha dia seperti bayi saja Vima."


"Anda benar tuan dia adalah bayi kecil saya."


"Ummm."


Aku kangen dengan kedua orang tuaku, dimanjain oleh mereka aku kangen sekali dengan itu.


*Vima memperhatikan raut wajah Gera*


"Tuan."


"Apa Vima?"


Vima seketika memelukku dan dia berkata, "tuan boleh saja menganggap saya sebagai orang tua tuan, karena saya sudah menganggap tuan seperti anak saya sendiri."


"Vima…."


"Iya tuan?"


"Terima kasih."


Aku tertidur di pangkuan Vima, di hatiku seperti ada rasa aman dan kasih sayang darinya.


Bagian 2


Aku terbangun dari tidurku.


Aaaa haaah.


Aku melihat keluar untuk melihat sudah sampai dimana, walaupun percuma juga karena aku tidak tahu ini dimana.


Tapi saat aku menggosok-gosok mataku….


Tunggu... ini pasar? Wah ini pasar malam!.


Aku melihat orang-orang berjualan buah-buahan, sayuran, peralatan rumah, dan lain-lain.


Woah memang ada acara apa hari ini?.


Saat aku lagi asik-asiknya melihat keluar, aku tak sengaja melihat seorang anak laki-laki sedang dikejar oleh orang dewasa.


Apa yang diperbuat anak itu sampai dikejar-kejar oleh orang dewasa?.


Pria dewasa itu memukuli anak itu.


"Berhenti! Hentikan kuda ini!"


Kuda pun berhenti.


Aku berlari ke arah anak laki-laki itu.


"Hey, kamu hentikan itu!"


"Haa, Siapa kau dasar bocah? apakah kamu ada hubungannya dengan anak ini?"


"Saya kawannya, memang apa yang dia perbuat? Sampai kau memukulnya?"


"Cih, jika punya kawan urus kawan kamu itu! Dia baru saja mencuri daganganku."


"Aku tidak mencurinya! Aku hanya meminjamnya, jika aku sudah punya uang aku akan membayarnya." Ucap anak laki-laki itu.


"Kau tidak akan pernah membayarnya! Kamu lihat penampilan kamu sendiri, seperti orang yang akan mati besok!"


"Jaga ucapanmu itu!" Ucap anak laki-laki.


"Hentikan kalian berdua!"


"Pak memang berapa harga dagangan yang dia ambil?"


"Heh kau yakin ingin membayarnya? Dari penampilanmu saja seperti tidak punya uang."


Aku dengan emosi memuncak seketika memberikan orang itu koin emas.


Dia terkejut dan ingin berkata, aku pun langsung memotong perkataannya.


"Ambil saja kembaliannya."


"Terima kasih, maaf sudah menuduhmu."


Pria itu pun pergi, aku langsung mendekati anak laki-laki itu.


"Hei, nama kamu siapa?"


"T-t-terima kasih."


"Haha sama-sama."


"N-n-namaku Aelfric Carina."


"Wah nama yang bagus, oya usia kamu berapa?"


"10 tahun."


Ek, dia bahkan lebih tua dari aku.


"Oya Aelfric kenapa kamu mencuri dagangan paman itu?"


"Sudah aku bilang aku tidak mencurinya!"


"Haha iya iya, jadi kenapa?"


Tunggu, dia ras Bangsawan! Kenapa ras Bangsawan bisa ditindas?.


"Aku mengambil itu untuk diberikan ke keluargaku, mereka belum makan dari 3 hari."


"Hmm yaudah, sini ikut aku."


"K-k-kemana?"


"Ikut saja."


Aku mengajak Aelfric untuk berbelanja membeli makanan untuk dia dan keluarganya.


Selama aku di dunia ini aku tidak pernah berbelanja, mungkin 1 koin emas di dunia ini bisa berbelanja sepuasnya, yosh aku masih memiliki 5 koin emas akan aku traktir dia.


"Hei Aelfric."


"I-i-iya, um?"


"Oya aku lupa, aku Gera Ursa salam kenal ya Aelfric."


"I-i-iya! S-s-s-salam kenal."


"Oya kamu bisa berbelanja sepuasnya Aelfric aku yang akan membayarnya."


"K-k-kamu serius Gera!"


"Iya."


"*-*-*-terima kasih, Gera!"


"Haha santai saja."


Aku pun mengikuti dia kemana dia mau pergi.


Pertama kami pergi ke dagangan yang menjual bahan baku makanan.


Kedua kami pergi ke dagangan yang menjual buah-buahan.


Ketiga kami pergi ke dagangan yang menjual makanan cepat saji.


*1 jam berlalu*


Haaah, capeknya berjalan ke dagangan satu per satu, tapi yang anehnya sudah berbelanja sebanyak ini, koin yang berkurang hanya 1, hei, setinggi apa harga koin emas di dunia ini?.


"Gera, terima kasih banyak ya!!"


"Sudah ku bilang tidak apa-apa kan."


"Haha, kamu adalah kawan pertamaku Gera."


Loh heh? Sudah dianggap kawan saja, dan baguslah jika dia tak takut lagi berbicara denganku.


"…."


"Kenapa kamu diam Aelfric?"


"Kamu ras Niksmi Gera?"


Ah sial pasti dia merasa jijik padaku, padahal sudah dianggap kawan juga.


"Ternyata mereka semua salah."


"Heh?"


"Ternyata ras Niksmi tidak sejelek dan seburuk yang mereka katakan."


"Apa maksud kamu Aelfric?"


"Ya kamu tahulah…."


"Tuan Gera!! Ayo kita berangkat lagi."


Aduh Vima sudah memanggil.


"Hei kamu dipanggil itu."


"Iya aku tahu!"


Hmm, apa yang harus aku lakukan? Oya!.


"Aelfric ini sebagai hadiah perpisahan kita."


Aku memberikan semua sisa koin emas kepada Aelfric, tanpa berpikir pun aku tahu sekarang dia sangat membutuhkan itu.


"Gera ini beneran?"


"Iya."


"*-*-*-terima kasih, Gera"


Dia menangis.


"Hei jangan menangis kita pasti akan ketemu lagi."


"Kamu adalah orang yang sangat baik Gera, terima kasih terima kasih terima kasih!"


"Sama-sama, ya sudah kalau begitu aku pergi dulu ya."


"Hati-hati dijalan kawan."


"Hahaha harusnya aku yang bilang seperti itu."


...****************...


Note: Koin emas yang Gera punya adalah pemberian dari orang tua Gera, bisa dibaca di episode lalu.