
Bagian 1
*Beberapa jam telah berlalu*
*Gera sudah bisa membuka matanya*
Dimana ini…?.
*Gera melihat-lihat ruangan tersebut*
Ini kamar? Mengapa aku bisa ada disini? Seingatku, aku tadi berada di ruangan tamu dengan seseorang….
Aaakh! Kepala dan mataku rasanya sangat sakit!.
*seseorang sedang memperhatikan Gera dari pintu masuk*
Ha? Siapa itu…?.
"Luna?" Ucap Gera.
Apa yang sedang dia lakukan? Mengapa dia mengintipku…?.
!.
Sekarang aku ingat! Terakhir aku berdebat dengan pangeran tapi entah kenapa tiba-tiba kepalaku sangat sakit… dan aku pingsan?.
Ooo, pantesan aku bisa berada di kamar ini.
"Abang, Gera sudah siuman!" Teriak Luna.
Eek, tidak usah berteriak juga kali!.
"Benarkah Luna?!" Ucap sang pangeran.
"Iya, liat aja sendiri!"
*Luna membuka pintu lebar-lebar*
"Itu liat!" Ucap Luna.
*sang pangeran datang ke kamar tersebut*
"Kau sudah sadar, bocah?!"
"Apa yang kau katakan? Jika aku belum sadar terus siapa yang sedang berbicara ini?"
"Hahaha baguslah, aku sempat panik saat kau tiba-tiba kesakitan lalu pingsan."
"Terima kasih sudah mengkhawatirkanku."
"Ya…, ya sudah kau beristirahat saja lagi."
"Um… ya… tunggu, sekarang sudah pukul berapa?"
"Em, sudah pukul 11 siang."
Sial, aku harus pergi dari sini!.
*Gera seketika membuka selimutnya lalu turun dari kasur*
"Hey-hey, kau mau kemana? Sudah aku katakan beristirahat saja bukan?"
"Aku harus pergi dari sini!"
"Untuk apa?"
"Ibuku! Mana mungkin bisa aku meninggalkan ibuku seorang diri dibawah jembatan hingga siang hari!"
"Hei, tenanglah. Bukankah kau sudah tahu bahwa ibumu ada disini?"
"Ha?"
Ibu ada disini? Bagaimana bisa?.
"Tadi saja…"
"Dimana ibuku!"
"Hah… di dapur dia sedang membantu para pelayan."
"Oh… mengapa bisa ibuku ada disini?"
"Jangan banyak bertanya! Nanti kau tanyakan saja pada ibumu. Sekarang kau balik ke kasur dan beristirahatlah!"
"Tidak! Aku baik-baik saja."
"Sungguh?"
"Ya…"
"Aku tidak mempercayai itu.
Beristirahatlah sebentar lagi bocah hingga makan siang tiba, kita akan menyantap makan siang bersama-sama."
"Ibuku juga ikut makan, kan?"
"Tenang saja, ibumu sudah aku anggap sebagai tamuku juga… tapi…"
"Tapi apa?"
"Apakah kau dan dia memiliki hubungan darah?"
"Um, ya."
"Hahaha, pantesan kalian berdua mirip, mirip dari segi keras kepalanya."
Hm... bukankah semua keluarga Ursa keras kepala?.
"Memang apa yang ibuku lakukan?"
"Dia terus memaksa untuk ikut membantu para pelayan, katanya sebagai tanda terima kasihnya."
"Mengapa kau membiarkannya?! Dia belum makan beberapa hari belakangan ini! Dan mengapa kau membiarkan ibuku melakukan tugas seperti itu?!"
*mendengar perkataan dari Gera membuat sang pangeran kebingungan*
"Kau aneh bocah."
"Ha...?"
*sang pangeran langsung memotong perkataan Gera*
"Aku tahu kok ibumu belum makan, tapi tenang saja dia sudah sarapan tadi pas datang kesini."
….
"Oh… terima kasih sekali lagi, pangeran!"
"Tidak usah berterima kasih, itu adalah hal yang biasa bagi seorang pangeran sepertiku. Ya sudah beristirahatlah kamu, nanti aku akan memberitahu ibumu jika kau sudah siuman."
"Ya! Aku akan beristirahat!"
*Gera naik ke atas kasurnya*
"Yuk Luna kita pergi, biarkan Gera beristirahat dengan tenang."
"Hei, perkataanmu tadi mengartikan bahwa aku sudah mati!"
"Abang boleh tidak aku disini?"
*wajah sang pangeran tampak kebingungan lagi*
"Untuk apa Luna?"
*Luna membisikkan sesuatu ke sang pangeran*
"Boleh tidak?" Ucap Luna.
"Begitu ya, boleh kok!"
"Terima kasih abang!"
*Luna memeluk sang pangeran*
Apa yang sedang mereka bicarakan?.
"Kalau begitu aku pergi dulu."
*sang pangeran pergi dari kamar tersebut. Gera melihat ke arah Luna*
Apa yang dia lakukan di situ? Hanya diam saja?.
*Luna mulai mendekat ke arah Gera*
"A-ada apa Luna?"
"..."
"Hm?"
*Gera mencium aroma dari Luna*
Woah, dia sangat wangi! Apakah semua keluarga kerajaan se wangi ini? Aaaa~ aku sangat menyukainya.
Ek, apa yang aku katakan! Maksudku aku sangat menyukai baunya!.
"Gera…"
"Eh, ya, ya ada apa?"
"Aku ingin berbicara denganmu secara 4 mata."
"Um, tentang apa?"
"Maafkan aku sekali lagi! Gara-gara diriku yang kekanakan ini ayahmu jadi tertembak oleh abangku!"
"Tu-tunggu, bukankah kamu sudah meminta maaf? Dan aku sudah memaafkan kamu kan?"
"Memang benar tapi aku ingin meminta maaf denganmu secara 4 mata, Gera."
"Haha, kau sudah melakukannya kan? Kamu sudah meminta maaf kepadaku secara 4 mata sekarang…. Iya aku maafin."
"Terima kasih, Gera! Tapi kenapa ketawa kamu seperti dipaksa begitu?"
"Tidak-tidak, jangan salah paham."
"?"
"Sepertinya aku sudah susah untuk tertawa atau mungkin aku sudah tidak bisa."
Hem, kehilangan sebuah tawa bukanlah hal yang menggangguku!.
*Luna mengucapkan sesuatu*
"Kamu memang benar-benar dirinya."
"Ha? Apa yang kau katakan Luna?"
"Tidak, aku tidak mengatakan apa-apa."
"Benarkah?"
"Iya."
"Baiklah…"
Bagian 2
Sudah beberapa menit berlalu, dan, hah….
Mengapa dia betah sekali disini?! Bahkan dia sampai membawa sebuah kursi kesini!.
"Gera bagaimana kabar orang tuamu sekarang?"
"Eee…"
Tunggu mereka belum tahu jika orang tuaku menghilang? Oh ya, yang tahukan hanya aku, Vima, dan beberapa keluarga Ursa saja.
"Mmm… emm…"
"Kenapa Gera?"
"Mereka menghilang…"
"..."
"Aku tidak bermaksud untuk memanjangkan masalah, tapi mereka menghilang karena ibuku ingin membawa ayahku berobat setelah terkena tembakan, dan ya... hingga sekarang mereka tidak pulang-pulang."
"Begitu ya…"
"Hey, jangan merasa bersalah lagi, aku sudah memaafkanmu kok."
"Iya Gera."
*Gera tersenyum*
"Oh ya, mau melihat barang terakhir yang mereka berikan kepadaku?"
"Boleh."
*Gera melepaskan kalungnya*
"Ini dia barangnya."
"Wah, indah sekali!"
"Iya kan! Kalung ini juga menjadi hadiah pertama dari orang tuaku di ulang tahunku."
"Dimana orang tuamu membelinya?"
"Membeli ya... aku tidak tahu ini dibeli atau dibuat."
*Gera dan Luna terus berbincang. Tanpa sepengetahuan Gera dan Luna, sang pangeran sedang menguping mereka berdua di balik tembok*
...****************...
A-Note: wah parah temboknya gak ada peredam suara.
A-Note: hanya sebuah info saja. Luna itu rambutnya masih pendek karena dia habis memotong rambutnya beberapa bulan yang lalu, lalu sang pangeran adalah orang yang tinggi. Tunggu infonya penting gak sih?.
A-Note: maafkan author para readers A-Note hari ini sangatlah gak jelas dan aneh? Tapi ada alasan mengapa author melakukan itu, author melakukan itu karena author sedang… tunggu ada yang menelpon author sebentar ya …………. Maaf tadi ada yang nelpon…, baik… author melakukan itu karena … aaah, ada yang mengetuk pintu, tunggu ya para readers …. Maaf tadi gojek langganan datang, jadi author melakukan itu karena author sedang … aaaaa! Apa lagi sih! Tunggu ada yang mengetuk pintu lagi……. Maaf para readers tadi gojek langganannya lupa ngasih kembaliannya, memang benar-benar dah ni gojek! Ok balik ke topik utama. Jadi author melakukan itu karena author lagi… haaaah, tunggu ada yang mengetuk pintu ……. Maaf sekali lagi para readers tadi ibu kos minta tagihan bulanannya, hehe. Gak usah basa-basi lagi! Jadi author melakukan itu karena… eh udah 1000 kata. Bye para readers.