New World New Body And High Dream

New World New Body And High Dream
Nyanyian yang memiliki makna



*5 menit kemudian*


"Jadi bagaimana rasanya setelah menangis Vima?"


"Hati saya sudah mulai tenang, terimakasih tuan."


"Sama-sama, baguslah kalau begitu Vima."


Dari cerita Vima tadi aku jadi memiliki beberapa pertanyaan.


"Vima aku ada beberapa pertanyaan, apakah kamu mau menjawabnya?"


"Sebagai tanda terima kasih, akan saya jawab semua pertanyaan tuan."


Baiklah, yang sangat aku penasaran adalah kenapa petinggi Borealis ingin membawa diriku ke tempat keluarga Ursa dengan selamat?.


"Vima kenapa petinggi Borealis ingin diriku ini sampai ke tempat keluarga Ursa dengan selamat?"


"Dari yang saya dengar, karena itu langsung perintah dari ayah saya tuan."


"Eek, kakekku? Tapi kenapa? Apakah kamu memberitahukan kepadanya bahwa kita akan pergi ke kota?"


"Iya tuan saya mengirimkan surat kepada ayah saya 3 hari sebelum kita berangkat dari desa."


"Kenapa?"


"Itu karena ayah saya ingin sekali melihat anda tuan, tapi karena adanya konflik antara ayah saya dengan ayah tuan, itu membuatnya tidak pernah melihat tuan."


"Maksud kamu, kamu kasihan melihat kakekku yang sangat ingin bertemu denganku?"


"Iya tuan."


"... Aku malah menjadi takut Vima."


"Kenapa tuan?"


"Kamu tahukan Vima, hanya aku saja yang berbeda diantara mereka, aku sangat takut bagaimana jika aku tersingkir oleh mereka?"


"Apakah tuan lupa?"


"Hah, tentang apa Vima?"


"Jika saya sudah berjanji bahwa saya akan melindungi tuan bukan?"


"Hahaha, aku melupakan itu Vima, tapi terima kasih Vima sudah mau melindungi diriku ini."


"Sama-sama tuan."


"Oya Vima, bukannya dari desa ke kota itu 14 hari ya? Terus kenapa suami kamu bisa sampai dalam 3 hari?"


"Saya dengar dari dirinya, dia sudah ada di desa, sudah 1 tahun ini."


"Eeh, 1 tahun? Ngapain dia di desa Vima?"


"Dia adalah tentara pribadi keluarga Borealis dan pada saat itu dia diperintahkan untuk memantau aktivitas kita."


"Untuk apa Vima?"


(Di dunia ini ternyata masih ada stalker juga).


"Karena ayah saya penasaran apa yang sebenarnya terjadi, karena saya sudah 2 tahun tidak pulang, saya berjanji akan pulang sekitar 3 bulan kepada ayah saya."


"Kenapa kamu tidak mengirim surat kepada ayah kamu Vima?"


"Itu karena saya lupa tuan."


Eeee, bisa-bisanya dia lupa, hadeh.


[Mengirim surat itu memakai burung yang khusus atau pedagang dan surat akan sampai jika kita menggunakan burung, itu sekitar sehari]


"Vima."


"Ya tuan?"


"Apa yang Lisa lakukan pada saat aku tertusuk dan mati suri?"


"Pada saat tuan tertusuk Lisa hanya bisa terdiam kaget, mau gimana juga Lisa masihlah anak kecil yang berumur 7 tahun tuan, tapi sehari berlalu Lisa tiba-tiba saja berkata kepada saya, 'ma kak Gera belum mati dia hanya tertidur saja' mulai sejak itu Lisa terus menemani tuan."


Lisa bagaimanapun, jika orang sudah tidak bangun-bangun selama berhari-hari mustahil jika orang itu sedang tidur, hah, namanya juga anak kecil.


"Aku sangat bersyukur memiliki adik sepertinya Vima, aku sudah menganggap dia sebagai keluarga utamaku."


Hah, tidak seburuk yang orang katakan, banyak sekali aku mendengar orang-orang mengeluh soal adiknya, tapi sekarang aku sudah tahu, bahwa mereka hanya abang-abang yang alay.


Hm? Kenapa wajah Vima terkejut seperti itu?.


"Vima kamu kenapa?"


"Eh, tidak ada tuan, tapi saran saya jangan katakan itu di depan Lisa."


"Kenapa?"


"Sebaiknya jangan katakan tuan."


Emangnya kenapa? Apakah perkataanku salah?.


"Terimakasih tuan."


"Ya sama-sama."


Aku ada pertanyaan terakhir, tapi ini sangat sensitif baginya, …….. biarkan saja lah, mungkin dia yang akan memilihnya.


Aku melihat Vima sedang mengambil bahan-bahan untuk membuat api unggun.


Aku ingin belajar cara membuat api unggun, apa aku minta tolong kepada Vima untuk mengajari diriku.


"Vima aku sangat penasaran cara membuat api unggun itu gimana, kamu mau mengajariku tidak?"


"Saya mau mengajari anda tuan, sini biar saya kasih tahu cara-caranya."


Aku menuruti semua perkataan Vima satu persatu.


"Kita akan memulai dari awal tuan, pertama tuan harus menggali tanahnya terlebih dahulu."


"......... Seperti ini Vima?"


"Iya tuan, abis itu tuan buat pembatasnya dengan batu melingkari lubangnya."


"Ok, tu, wa, ga, pat, harus melingkar ... Sudah."


"Nah lanjut, tuan tumpukkan ranting-ranting kering itu di dalam lubang itu, ranting-ranting disini memang sangat bagus untuk membuat api unggun tuan, karena mudah terbakar dan tahan lama."


"Segini cukup Vima?"


"Sudah cukup tuan."


"Sekarang apa Vima?"


"Ini adalah langkah terakhir tuan, yaitu menghidupkan api menggunakan batu dan baja, biar saya kasih tahu kepada tuan cara menggunakannya, ini sebenarnya hanya perlu digesekin saja antara batu dan bajanya, tapi kita harus menggunakan tenaga kita dengan kuat tuan."


"Coba kamu contohkan Vima."


Vima pun menggesekan batu dan baja itu hingga percikan api mulai keluar, tak lama Vima menggesekan 2 benda itu tiba-tiba kayunya mulai terbakar, dari yang awalnya hanya satu ranting yang terbakar mulai menyebar ke semua rantingnya.


"Whoa! Ini sangatlah indah dan menyenangkan Vima!"


"Saya senang jika anda menyukainya tuan, ayah tuan dulu mengajari saya cara membuat api unggun seperti ini."


"Haha, ini seperti takdir saja Vima."


"Takdir ..., anda benar tuan, ini seperti sebuah takdir."


"Oya Vima kamu pernah bernyanyi?"


"Bernyanyi? Jika tidak salah sudah 5 tahun terakhir saya tidak bernyanyi tuan."


"Maka cobalah kembali Vima, suasana begini sangat enak untuk bernyanyi, biasanya jika ada api unggun tidak luput dengan nyanyian loh."


"Saya tidak pernah mendengar tradisi seperti itu tuan."


Sial aku keceplosan.


"Tapi tidak apa-apa, saya akan bernyanyi karena terakhir kali saya bernyanyi itu pada saat Lisa masih berumur 2 tahun."


"Wah, terima kasih Vima."


"Sama-sama tuan."


Vima mulai bernyanyi dengan irama yang rendah, tenang, dan indah.


Baru sekali ini aku melihat ada manusia di dunia ini yang bernyanyi, suara nya sangat membuat hatiku tenang, ini seperti diriku dinyanyikan lagu tidur oleh ibuku pada saat aku masih berumur 3 tahun.


Vima terus bernyanyi hingga dia selesai, pada saat dia selesai bernyanyi dia berkata kepadaku.


"Tuan apakah anda tahu arti dari nyanyian saya ini?"


"Apa itu Vima?"


"Nyanyian ini memiliki arti yaitu, bangun kembali hatimu dengan orang baru yang paling dekat dengan kamu, anak, kawan, orang lain, siapapun jika hatimu hancur bangunlah kembali dari nol."


"Itu sangat mencengangkan Vima, terlalu banyak makna-makna di situ dan terdapat sebuah pesan yang mendalam."


"Saya kagum pada anda tuan, anda bisa tahu jika disitu banyak makna dan pesan yang mendalam, dan juga lagu ini biasanya saya nyanyikan pada saat menyusui Lisa ...... Lisa adalah harapan saya yang terakhir tuan."


"Harapan terakhir?"


"Saya tidak akan menjelaskannya tuan, tapi intinya Lisa adalah yang paling spesial untuk saya."


"Hm, begitu ya Vima, aku tidak akan memaksa kamu kok."


*30 menit kemudian*


"Tuan ini sudah larut, lebih baik kita tidur karena kita akan melanjutkan perjalanan pagi-pagi."


"Baiklah Vima."


Aku kembali ke tempat tidurku, sebelum tidur aku berfikir di benakku, sudah banyak hal-hal aneh yang terjadi akhir-akhir ini dan aku tidak tahu harus ngapain, aku biarkan saja kah? Atau aku seriusin, pada akhirnya yang kupikirkan hanyalah, ikuti alurnya sajalah.