New World New Body And High Dream

New World New Body And High Dream
Menuju ke kota



Bagian 1


Saat ini aku sedang tertidur di loteng rumahku ... tunggu ada seseorang yang membisikan sesuatu di telingaku, "XX---XXXX---." hah? Apa yang dia bisikan kepadaku? "--XXXX-XX-." suara nya mulai menghilang, hei tunggu, kamu mau kemana! Tunggu jangan pergi! Hei!!!.


"Aaaa!!! Hah, hah, hah, hah, hah," aku tersentak.


apa-apaan itu? Mimpi? ……. Aku masih ingat dengan suaranya, suara itu adalah suara perempuan, tapi apa yang dia katakan tadi? Dan nada bicaranya, kenapa dia sedih?.


"Tuan Gera sarapan sudah siap."


Apa, sudah pagi ternyata.


"Iya, aku akan segera ke bawah Vima."


Baiklah itu hanya sebuah mimpi, tidak perlu aku memperumitnya.


Aku pun pergi ke bawah, lalu membasuh muka ku dan ikut sarapan. Sudah 5 bulan berlalu sejak ibu pergi, ini sudah sangat lama bukan? Di surat ibu mengatakan akan pergi beberapa minggu atau bulan, tapi ini sudah hampir setengah tahun lo, memang ibu ada urusan lain di kota? Atau ada hal buruk yang terjadi kepada ibu dan ayah? Mungkin aku akan menanyakannya kepada Vima.


"Vima."


"Iya tuan ada apa?"


"Aku ingin menanyakan tentang ibu, kenapa sudah 5 bulan ibu masih belum pulang? Apakah dia ada mengirim surat kepadamu?"


"Maaf tuan, saya juga tidak tahu kenapa ibu tuan masih belum pulang, dan juga ibu tuan tidak ada sama sekali mengirim surat."


"Aku khawatir Vima, aku sangat khawatir kepada ibu dan juga ayahku, aku sangat takut apabila ada satu hal buruk yang terjadi kepada mereka."


"Tuan Gera anda tidak perlu khawatir masih ada saya dan juga Lisa di sini, kita akan menunggu hingga ibu dan ayah tuan pulang, dan kami akan selalu bersama tuan Gera, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan."


"Iya Mama benar, tidak ada yang perlu dikhawatirkan oleh kak Gera."


"Ya kalian benar, kita hanya perlu menunggu mereka pulang saja, tidak ada yang perlu aku khawatirkan."


Untuk apa aku khawatir? Aku percaya pasti ibu dan ayah akan pulang! Yang perlu aku lakukan sekarang adalah menjalani hidup seperti biasa.


"Terimakasih ya Vima dan Lisa, sudah menyemangati aku."


"Ya sama-sama," mereka mengucapkannya dengan serentak.


Aku menjalani hidupku seperti biasa, seperti anak-anak pada umumnya yang tidak memiliki beban hidup, intinya aku hanya bermain saja, pergi keluar rumah bersama Lisa, ke tempat favorit, menggambar atau mengajari Lisa menggambar, lalu tidur sejenak di tempat itu dan pulang.


Terkadang aku menanyakan tentang kota kepada Vima, seperti apa bentuknya, apa saja teknologi di sana.


Berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, aku menjalani hidup seperti itu tanpa beban, tapi itulah kekurangan orang-orang yang menjalani hidupnya tanpa beban, mereka tidak pernah memikirkan sesuatu yang penting, apa yang seharusnya selalu mereka pikirkan, tapi tidak pernah mereka pikirkan, dan itulah yang sedang terjadi kepadaku.


Akibat aku menjalani sebuah kehidupan tanpa beban, aku melupakan sesuatu yang penting, dan tidak menyadari sangat lama.


Bagian 2


2 tahun berlalu, Aku sedang berada di teras.


Aku baru bertanya kepada diriku, apa yang sebenarnya aku lupakan? Aku memikirkannya cukup lama, hingga aku meneteskan air mataku.


Ayah, ibu.


Aku melupakan mereka, akibat aku terlalu asik dengan diriku yang masih kecil dan tidak memperdulikan waktu, dan tidak memikirkan apapun selain kesenangan.


Aku mengatakan kepada diriku sendiri, "bodoh, bodoh, bodoh, ini sudah 2 tahun kenapa kamu tidak memikirkannya, apakah karena dirimu ini lebih suka bermain, daripada memikirkan nasib ke 2 orang tua kamu yang tidak pulang selama 2 tahun lebih?"


Aku sangat khawatir dan sedih karena sudah 2 tahun mereka tidak pulang sama sekali, ini sudah pasti jika mereka terkena suatu hal buruk atau musibah yang besar!.


"Kamu kenapa?"


Hah, itu siapa? Aku melihat kebelakang, ternyata Lisa sedang melihatku dengan tatapan cemas.


"Ah, tidak ada Lisa a-aku, aku hanya…."


"Kamu menangis kak? Kenapa kamu menangis kak Gera?"


"Tidak ada, aku tidak menangis kok Lisa."


"Jangan bohong! Kakak menangis kan!"


"Um … y-ya, aku sedang sedih Lisa."


"Kenapa kamu sedih kak?"


Lisa mendekatiku dan duduk di sebelahku, aku menyadari bahwa dia sudah tambah tinggi, mungkin tingginya hampir sama dengan ku, dan rambutnya sudah panjang.


"Jadi kak, kenapa kamu sedih?"


"Aku ini sangat bodoh Lisa, bisa-bisanya aku selama 2 tahun tidak memikirkan tentang keadaan ayah dan ibuku, yang ku pikirkan hanyalah sebuah kesenangan yang tidak berlaku."


"Tidak, kamu tidaklah bodoh kak, selama 2 tahun ini, gara-gara kamu aku bisa mengenal semua penduduk desa, mengetahui semua tentang desa ini, dan juga aku sudah bisa menggambar."


"Tetap saja bukan? Mana ada seorang anak bisa-bisanya tidak khawatir saat kedua orang tuanya tidak pulang selama 2 tahun lebih."


"Apa maksud kamu Lisa?"


"Maksudku, kakak letakkan kepala kakak di paha ku, kata mama ini bisa menenangkan hati seorang pria."


"Mm, baiklah Lisa."


Aku meletakkan kepalaku di paha Lisa dan Lisa dia mulai mengelus-ngelus kepalaku dan mengatakan, "kak Gera terimakasih ya, berkat kamu aku bisa menggambar, dan berkat kamu aku bisa tahu tujuan hidupku, kata-kata kamu sangatlah memotivasi orang, dan kamu bukanlah orang yang bodoh, melainkan orang yang sangat bijaksana," dia berbicara dengan nada yang halus dan lembut, itu membuat hatiku perlahan membaik.


20 menit berlalu.


Aku masih tidur di pangkuan Lisa.


"Hei, Lisa kenapa kamu sangat ingin menggambar?"


"Kamu tau kak, aku memiliki sebuah cita-cita menjadi seorang pelukis, dan aku bertemu dengan kamu, aku melihat gambar kak Gera yang begitu bagus dan memanjakan mata, padahal hanya memakai 1 warna yaitu tinta hitam saja."


"Gapailah cita-cita kamu yang tinggi itu Lisa, kamu pasti bisa."


Jangan menjadi seperti diriku Lisa, yang hanya bisa berbicara saja dan tidak pernah membuktikannya.


"Siap kak Gera! Aku akan berjanji kepada kamu kak, bahwa aku akan menjadi seorang pelukis hebat dan memamerkannya kepada kakak."


"Semangat yang bagus Lisa, oya kamu sekarang semakin tinggi ya, dan rambut kamu juga sudah panjang, dan juga…," aku melihat wajah Lisa, "kamu jadi semakin cantik Lisa."


"B-b-b-benarkah?"


Wajahnya memerah dia kenapa?.


"Kamu kenapa Lisa?"


"A-a-aku t-tidak k-k-kenapa-napa!"


"Begitukah, Oya mama kamu di mana Lisa?"


"D-d-di dapur kak."


Aku mulai mengangkat kepala ku lalu berdiri.


"Lisa aku mau berbicara kepada mama kamu, jadi kamu tunggu disini ya, dan terimakasih banyak ya, sudah menenangkan hatiku."


"I-i-iya kak."


Kenapa sih dia dari tadi berbicara gugup begitu? Tapi gak apa-apa, aku akan mengelus kepalanya sebagai tanda terimakasih.


Aku pun mengelus kepalanya, tapi dia hanya diam, dan wajahnya tambah memerah, mungkin dia demam.


Lalu aku masuk kedalam rumah dan melihat Vima sedang memasak.


"Vima aku ingin berbicara kepada kamu."


"Oh tuan, tunggu sebentar ...... saya sudah selesai, jadi anda ingin bicara apa tuan?"


"Aku ingin pergi ke kota!"


"Maksud tuan?"


"Ya, aku ingin pergi ke kota, memang ada yang salah?"


"Gak ada tuan, tapi saya sudah sangat sering mengajak tuan ke kota untuk mencari ibu dan ayah tuan, tapi tuan selalu tidak mau."


"Maksud kamu apa?"


"Sebulan yang lalu, saya mengajak tuan untuk pergi ke kota tapi tuan selalu menolak dan menjawab, 'kita hanya perlu menunggu mereka saja' hanya itu yang tuan katakan setiap saya mengajak tuan."


Sudah ku duga tidak mungkin Vima hanya diam saja jika dia tahu bahwa kakaknya tidak pulang selama 2 tahun lebih.


Jadi selama 2 tahun ini yang menggerakkan tubuhku siapa? Tetap diriku kan? Soalnya aku tidak ingat apa-apa selain rasa senang dan hari yang berlalu, bahkan aku tidak tahu jika Lisa sudah hampir setinggi ku. Aaah tidak usah dibawa pusing aku harus ke titik masalah ini dulu, intinya aku harus mencari ayah dan ibuku terlebih dahulu.


"Maafkan aku Vima itu karena rasa egois ku, aku minta maaf kepadamu, tapi kumohon kita harus pergi ke kota, aku khawatir kepada ayah dan ibu."


"Saya tidak tahu apa yang terjadi kepada anda, tapi jika tuan baik-baik saja itu sangatlah bagus, dan kita memang harus pergi ke kota, tapi apakah tuan siap? Karena kota sangatlah berbeda dengan desa dan…."


"Dan apa?"


"Di kota ras Niksmi sangatlah ditindas di situ, tapi tidak perlu khawatir, saya akan melindungi tuan, karena itu adalah tanggung jawab saya!"


"Hahaha, Terimakasih Vima."


Kami langsung menyiapkan baju, dan juga perlengkapan kami untuk pergi ke kota, aku tidak tahu kota itu tempat seperti apa, mengerikan? Atau menyenangkan? Yang pasti dari kata-kata Vima, bagi ras Niksmi itu pasti mengerikan, tapi tidak apa-apa demi mencari ayah dan ibu, aku akan berusaha untuk tidak takut apapun!.


...****************...


Note: di bab ini kalian pasti akan kebingungan, tapi jangan khawatir itu semua akan terjelaskan seiring berjalannya cerita.


Note: Gera adalah orang yang tidak peka terhadap hal percintaan, karena di masa lalu dia belum pernah berbicara kepada perempuan, dan belum pernah mendapatkan moment romantis.