New World New Body And High Dream

New World New Body And High Dream
Ibu ketiga



Aku terbangun dengan rasa sakit di perut dan pusing di kepalaku penglihatanku juga kabur.


A-akh kepalaku sangat pusing apa yang terjadi kepadaku? Dan ini dimana? Ukh perutku sangat sakit… sakit sekali. Sebenarnya ini dimana? Apakah ini kamarku? Aku tak mengingat kamarku sebersih ini.


"Tu-tuan anda sudah sadar?"


"S-s-si..." sial akibat perutku yang sangat kosong, aku jadi tidak bisa mengeluarkan suaraku.


Tidak menjelang beberapa detik penglihatanku sudah mulai normal kembali. Disitu, aku melihat Vima yang lagi membawa sebuah piring dan gelas dia tampak sangat senang saat melihat diriku… Vima mulai berjalan ke arahku meletakkan piring di meja kecil di sampingku lalu duduk dengan bersimpuh di bawah kasurku, sekali lagi aku melihat wajah Vima dia tampak sangat senang dan matanya berlinang-linang.


"T-tu-tuan!" Ucap Vima sambil memelukku.


"Vi… ma," mengapa dia masih seperti ini? Padahal, aku sudah memaki-maki dirinya tapi kenapa dia masih peduli dengan diriku? Vima diriku ini sudah pasrah dengan hidup ini, tapi kenapa kamu masih memperlakukan aku seperti ini?.


"Tuan! Tuan~ saya sangat khawatir kepada anda saya takut anda akan menghilang untuk selamanya, saya takut tuan."


Tangan Vima menyentuh pipiku.


Haaa tangan ini… sekarang aku ingat! Tangan ini adalah tangan yang sama saat aku hampir hilang kesadaran. 


"Tuan saya mohon makanlah saya sudah membawakan makanan kepada tuan, saya mohon makanlah ini!"


Aku menganggukkan kepalaku, Vima merasa sangat senang dan bahagia melihat reaksiku tadi.


Dia mengambil piring tadi dan mulai menyuapi aku… makanan ini sangatlah enak! Aku jadi sangat ketagihan memakannya.


"Apakah enak, tuan?"


Aku menganggukkan kepalaku dengan sangat cepat.


"Terima kasih tuan." Ucap Vima sambil tersenyum.


Mungkin ada sebuah alasan di balik Vima yang menghianatiku, apa sebelumnya dia ingin menjelaskannya ya, tapi akunya saja yang keras kepala saat itu?.


"Tuan apakah anda ingin minum?"


Aku menganggukkan kepalaku.


"Ini tuan."


Vima aku benar-benar sudah menganggapmu sebagai ibuku.


Bagian 2


Aku sudah selesai makan dan aku juga sudah bisa mengeluarkan suaraku.


"Baiklah tuan saya akan mengantarkan piring dan gelas ini dulu."


Aku seketika menahan tangan Vima, "tuan?" Ucap Vima sambil kebingungan.


"Kumohon kamu disini saja dulu Vima… tidak maksudku ibu."


Vima tampak sangat terkejut disitu dan air matanya mulai berlinang keluar, "iya nak." Ucap ibu sambil tersenyum dengan air mata yang keluar, ibu mulai duduk kembali dan mengelus-ngelus kepalaku.


"Ibu aku ingin bertanya kepadamu."


"Hm? Apa itu nak?"


"Mengapa ibu masih ingin menolong diriku? Padahal aku sudah memaki-maki ibu."


"Nak anggap saja itu sebagai tanda kasih sayang seorang ibu kepada anaknya."


Ternyata seperti ini Vima saat menjadi seorang ibu ya, sangat berbeda sekali.


"Ibu Lisa dimana?"


"Lisa sedang tidur."


"Hm memangnya ini jam berapa, bu?"


"Jam 9 malam."


Sudah malam ternyata.


Aku pun melihat sekitar dan bertanya kepada ibu.


"Apakah ibu yang membersihkan semua ini?"


"iya nak ibu yang membersihkan semuanya."


"Ibu tidak merasa jijik?"


"Untuk apa? Apakah seorang ibu akan jijik hanya karena muntahan anaknya saja?"


"Hahaha, maafkan aku ibu."


Ibu masih mengelus kepalaku dia mengelus dengan sangat pelan dan tenang aku merasakan banyak kasih sayang darinya hanya karena ibu mengelus kepalaku, aku melihat wajahnya seketika aku menangis dengan sangat keras.


"I-ibu, ibu, ibu!"


Ibu seketika memelukku, dengan kehangatan dari tubuhnya dan juga kasih sayang, ibu berkata kepadaku, "hei, hei, janganlah menangis nak ibu selalu ada bersamamu dimanapun kapanpun." Ucap ibu dengan suara yang sangat lembut.


"Ibu berjanji kan akan selalu bersamaku?"


"Ibu janji nak."


"Terima kasih, ibu."


Ibu terus memelukku hingga aku tidak tahu berapa lama, ibu terus memberikan kasih sayangnya kepadaku, ibu berusaha untuk menyembuhkan diriku dari rasa traumaku.


Seorang, ibu memang sangat penting dalam kehidupan anaknya bukan hanya menyusuinya saja melainkan untuk mental anak itu sendiri, merekalah yang berperan sangat penting untuk mental dan sikap anak-anak mereka dan aku sangat bersyukur dapat memiliki 3 ibu yang sangat baik selama aku hidup hingga sekarang.


"Ibu aku sangat mencintaimu."


"Ibu juga nak, ibu benar-benar sangat mencintaimu." Ucap ibu sambil mencium keningku.


"Terima kasih bu."


*10 menit kemudian*


Ibu melepaskan pelukannya.


"Nak tunggu bentar ya, ibu mau membawa piring dan gelas ini dulu ibu janji akan balik lagi."


"Iya bu."


Ibu pergi dari kamarku.


Aku jadi mengingat betapa hangat pelukannya, tidak, aku akan selalu mengingatnya! Pelukannya, ciumannya, dan juga tangannya yang mengelus kepalaku, itu seketika menenangkan diriku dan menghilangkan rasa traumaku.


Kamu benar-benar hebat ibu… sangat hebat!.


*15 menit kemudian*


Ibu menepati janjinya, dia datang ke kamarku lagi.


"Maafkan ibu karena lama nak."


"Tidak apa-apa, ibu."


"Terima kasih nak."


Ibu mulai duduk dan mengelus kepalaku lagi.


"Ibu memang saat kamu keluar kamu melihat siapa saja?"


"Ibu hanya melihat sedikit orang saja nak."


"Siapa saja itu, ibu?"


"Si asisten, para pelayan, dan keluarga borealis lainnya."


"Kakek ada dimana bu?"


"Kakek sedang di kamarnya nak."


"Begitukah."


Ada beberapa hal lagi yang ingin, aku tanyakan kepada ibu tapi aku harus menahan itu semua karena ibu seharian ini pasti sudah sangat lelah, ibu membersihkan kamarku yang sangat kotor, merawatku, dan mungkin masih banyak yang dia lakukan tanpa sepengetahuan aku.


"Ibu."


"Iya nak?"


"Ibu tahu, waktu aku kecil aku sangat suka jika tangan ibuku menempel pada pipiku terkadang aku meminta ibuku untuk menaruh tangannya di pipiku… jadi aku hanya ingin tangan ibu menyentuh pipiku."


"Kamu benar-benar anak yang lucu."


Ibu mulai menempelkan tangannya di pipiku, "seperti ini nak?" Ucap ibu, "iya seperti itu, ibu." Tangan ibu sangat lembut, aku sangat menyukainya.


"Haha, kamu benar-benar lucu nak ibu menyukainya."


"Ibu tertawa? Whoa sudah sangat lama aku tidak melihat ibu tertawa."


"Apa iya nak?"


"Iya ibu! Ketawa kamu sangat unik!"


"Unik seperti apa, nak?"


"Aku tidak tahu tapi itu sangat unik ibu."


"Terima kasih nak."


"Sama-sama bu… ibu tahu, aku sangat menyukai pipiku disentuh oleh ibu karena aku merasa terlindungi oleh semua bahaya yang menyerangku apalagi dengan tangan ibu yang hangat dan lembut ini, aku merasa sangat terlindungi."


"..."


"Ibu?"


"Kamu benar-benar bisa membuat sebuah kata-kata menjadi sangat bernilai nak, ibu senang kamu berkata seperti itu, ibu senang nak, walaupun hanya sebuah tangan tapi dapat melindungi seseorang benar-benar kata yang bijak nak."


"Hehe, terima kasih bu."


"Iya, sama-sama nak."


Ibu terus memegang pipiku terkadang ibu berkata, "pok, pok, pok," sambil menampar-nampar pipiku dengan pelan dan lembut, aku mulai merasa ngantuk dan ingin tertidur.


"Ibu aku ngantuk."


"Kamu ingin tidur nak?"


"Iya bu."


Ibu mencium keningku lagi, "tidurlah nak ibu akan menunggu disini hingga kamu tertidur." Ucap ibu.


"Terima kasih bu."


"Sama-sama nak, selamat malam."


"Selamat malam juga bu."


"Oya nak sebelum kamu tidur kamu mau mendengar nyanyian tidur ibu?"


"Mau-mau, aku mau ibu!"


"Baiklah kalau begitu, ibu akan nyanyikan lagu tidur untuk kamu nak."


Ibu mulai bernyanyi, suara nyanyian ibu memang sangat enak untuk didengar, suara nya begitu lembut itu membuat aku seketika tertidur.