
Bagian 1
"Akh!" Ucap Gera dengan kesakitan.
"Tampaknya kau memang tidak baik-baik saja bocah, apa kita sudahi saja pembicaraan ini? Kau tampak kurang istirahat!"
"Sudah aku katakan, aku baik-baik saja!"
*sang pangeran menghela napas*
"Hah, aku tanya padamu."
"Apa?"
"Dalam beberapa hari belakangan ini apakah pola makanmu terjaga?"
"Eee… sepertinya tidak…"
"Sudah kuduga."
*sang pangeran seketika menepukkan tangannya lalu memanggil pelayan*
Untuk apa dia memanggil pelayan?.
"Iya pangeran, apakah ada yang perlu saya bantu?"
"Tolong bawakan makanan untuk bocah itu."
"Tunggu-tunggu! Hei, aku baik-baik saja tidak usah repot-repot, dengan teh ini saja aku sudah kenyang."
"Teh tidak membuatmu kenyang, itu hanya menunda rasa laparmu saja!"
"Tapi…"
"Jangan egois! Kau juga harus mengkhawatirkan dirimu!"
"..."
Dia marah…, aku kira dia adalah orang yang susah marah tapi dia bisa marah hanya karena aku tidak menjaga pola makanku?.
"Baiklah, aku akan menerima makanan darimu!"
"Bagus, terkadang menurut sekali-kali itu tidaklah buruk bocah…"
"Tapi bisa tidak kamu memberikan 1 makanan lagi, tapi tidak untuk aku makan sekarang melainkan untuk aku simpan."
"Boleh, boleh saja. Pelayan ambilkan 1 makanan untuk bocah ini dan 1 makanannya lagi kau taruh dalam kotak makan!"
"Baiklah pangeran." Jawab pelayan tersebut.
*pelayan itu pergi*
"Te…"
"Jangan banyak bicara! Beristirahatlah dulu hingga makanannya datang. Sepertinya kita sudahi saja pembicaraannya sampai sini."
"Ha?! Apa yang kau katakan? Sudah aku bilang aku hanya sakit kepala saja! Mengapa sampai harus menghentikan pembicaraannya, masih banyak yang ingin aku tanyakan padamu!"
"Kau ini… sudah aku bilang jangan banyak bicara. Sejak kapan ada anak kecil yang sakit kepala separah itu?"
"Separah itu? Apalagi yang kau maksud?"
"Kau tidak sadar?"
"Mmm, tidak."
"Baiklah akan aku jelaskan.... Bocah kau tadi berteriak kencang kesakitan tahu!"
Ek, perasaan aku berbicara dalam hati.
"Dan coba kau pegang kepalamu itu."
*Gera memegang kepalanya*
Apa ini? Ini seperti sebuah cairan… tunggu, ini darah!.
"Aw!" Ucap Gera.
*sang pangeran melemparkan sebuah kain ke arah Gera*
"Itu untuk mengelap kepala dan bagian sekitarnya yang terkena darahmu!"
"Terima kasih tapi jika aku boleh tahu, memangnya apa yang terjadi sampai bisa kepalaku berdarah?"
"Kau melukai dirimu sendiri bocah. Sekali-kali potonglah kukumu itu, mungkin gara-gara kuku yang menancap di kulit kepala, itu yang membuat kepalamu berdarah."
Cih, ini semua gara-gara suara itu!.
*Gera pun membersihkan darah yang berada di bagian kepalanya*
*5 menit kemudian*
Sepertinya aku sudah mengelap semuanya.
"Em…"
Oya aku lupa, dia bilang jangan banyak berbicara.
"Letakkan saja kain itu di bawah meja." Ucap sang pangeran.
Bagian 2
Haaaaaah… aku bosan disini sangatlah hening!.
*Gera melihat sang pangeran*
Eek, Dia sedang duduk santai dengan tangannya menahan pipinya sambil melihatku dengan tajam… tolong hentikan tatapan itu, itu membuatku takut!.
*Gera seketika memindahkan pandangannya ke arah Luna*
Hm….
*Gera memikirkan sesuatu*
Iya juga ya tadi saat kepalaku sakit apa yang dilakukan oleh Luna? Apakah dia ketakutan…? Sudah jelas jika dia ketakutan! Saat bertemu dengan orang tuaku saja dia ketakutan tidak jelas, mmm, jadi Luna orangnya penakut ya?.
*Luna hanya menatap Gera*
Apa yang dia tatap dariku sampai sefokus itu? Tatapan itu seperti orang yang kagum akan sesuatu. tapi, hei Berhentilah menatapku!.
*Gera mengalihkan tatapannya ke arah jam ding dong di sampingnya*
Woah, jam yang sangat kuno dan indah! Apakah jam ini masih berfungsi? Sepertinya masih, jarum jamnya saja masih bergerak.
*Gera melihat arah jarum jam tersebut*
Sekarang sudah pukul 4 lewat ya…. Hah, waktu terus berjalan tapi yang kulakukan di dunia ini masih sangat minim, malahan semua kegiatanku di dunia ini bisa dihitung dengan jari.
Seperti menikmati pemandangan, menggambar, berpetualang, menikmati fasilitas mewah, mencari orang tuaku, membaca buku astronomi dan lain-lain, kehilangan adik, membunuh pelaku yang membunuh adikku, dan lari dari rumah.
Hanya itu yang pernah kulakukan di dunia ini, itu semua bahkan tidak sampai 10…, apa lebih? Entahlah mungkin aku telah melupakannya.
Hah! Sekarang aku sudah lega karena aku bisa memberikan ibu makanan, ibu sudah beberapa hari ini tidak makan aku jadi khawatir dengan kesehatannya.
Lalu tujuanku kedepannya… sudah jelas! Setelah aku selesai ke makam Lisa, aku harus menemukan kedua orang tuaku! Tapi dimana dan bagaimana caranya? Saat aku masih di rumah kakek tua tersebut, aku dapat mencari orang tuaku dengan bertanya ke orang-orang tapi sekarang cara itu sudah tidak akan bisa aku lakukan lagi, em, bagaimana ya…?.
*Gera sedang memikirkan bagaimana caranya untuk menemukan orang tuanya, tetapi saat dia sedang berpikir sesuatu terlintas di benaknya*
Sudah 3 tahun orang tuaku menghilang, apakah wajah mereka masih sama dengan terakhir yang aku lihat? Wajah… wajah ya… wajah… aku masih ingat dengan wajah mereka 3 tahun lalu….
!.
Aku dapat ide! Bagaimana jika aku menggambar wajah mereka dan menempelnya di tiang, tembok, atau tempat lainnya!! Ya, aku memiliki sebuah keahlian dalam menggambar! Mengapa aku tidak menggunakannya untuk mencari orang tuaku?! Dasar pemikiran yang sempit!.
*Gera teringat sesuatu*
Ah, aku lupa jika perlengkapanku tertinggal di rumah itu… bagaimana ini? Aku sudah mendapatkan ide yang cemerlang tapi ide itu terhalang karena aku tidak mempunyai perlengkapannya.
Sekarang aku benar-benar pusing, seketika mendapatkan sebuah ide dan seketika pula ide itu menjadi buntu.
Lagian orang tuaku berada dimana? Yang aku ketahui dari benua ini hanya Eridanus dan juga Tenal tapi apakah masih ada daerah lain di benua ini?.
*Gera melihat ke arah sang pangeran*
Eekh, dia masih saja melihatku dengan tatapan tajam itu! Memang apa sih yang dia pikirkan? Oh! Dia seorang pangeran kan! Apalagi dia akan menjadi seorang raja! Pasti dia tahu nama tempat yang ada di dunia ini! Dan kemungkinan dia pasti tahu dimana orang tuaku! Tapi jika dia tahu pun kenapa dia tidak mengatakannya kepadaku saat dia bercerita tentang kronologi dia yang menembak ayahku?.
*seorang pelayan datang*
"Tuan ini makanan dan minuman anda."
"Eh, ya…. Tidak usah memanggilku tuan."
"Saya harus karena anda adalah tamu tuan pangeran disini."
"Begitukah, baiklah."
"Dan ini makanan yang sudah saya letakkan di dalam kotak makanan, terdapat minuman juga disitu."
"Woah! Terima kasih!"
"Baik, sama-sama tuan. Kalau begitu saya undur pamit dari sini, pangeran saya undur pamit."
"Ya." Ucap sang pangeran
*pelayan itu pergi*
Woah, makanan ini terlihat lezat! Ada nasi, daging, dan juga sayuran!.
"Makananmu sudah datang jadi makanlah itu, bocah."
"Ya! Terima kasih telah memberikan aku makanan!"
"Sama-sama, kalau begitu aku akan pergi dari sini bersama adikku."
"Ha? Kenapa? Apakah kalian merasa jijik dengan aku makan di hadapan kalian?"
"Bukan begitu tapi rasanya tidak sopan atau kurang ajar jika kita melihat orang yang sedang menyantap makanan mereka."
"Begitukah?"
"Ya, ya sudah jangan banyak bicara lagi makanlah makananmu itu, dan kami akan pergi dari sini, kabari saja kami jika sudah selesai."
"Baiklah!"
*sang pangeran dan Luna pergi dari ruangan tersebut, lalu Gera mulai menyantap makanannya*