
Kami pun berjalan ke arah rumah keluarga Ursa, aku masih tidak percaya kalian menyebut ini sebuah rumah sudah jelas-jelas ini adalah sebuah mansion….
… apa aku yang bodoh? Mungkin saja mansion itu diartikan sebagai rumah yang besar (?).
Sepertinya aku memang bodoh hal seperti ini saja aku debatkan dan aku pikirkan terus-menerus… hah bodohnya diriku.
Tak lama, aku berjalan aku melihat seseorang menunggu di depan pintu.
"Vima itu siapa?"
"Masa anda lupa tuan"
"Maksud kamu Vima?"
"Itu si asisten tuan."
Bilang dari tadi dong, aku bukan tidak tahu tapi tidak kelihatan dari mataku.
"Mama itu paman?!"
"Iya Lisa."
"Mama aku mau turun! Aku mau bertemu dengan paman."
"Lisa kamu baru bangun tidur loh, nanti kalau kamu jatuh gimana?"
*Lisa tampak sedih*
Hmm, aku jadi berpikir kenapa Lisa dan ayahnya seperti kurang akrab, dia bahkan jarang memanggil kata ayah kepada ayahnya dan kepada diriku atau tidak pernah? Tapi giliran bertemu dengan si asisten, dia tampak sangat senang seperti ingin berlari ke arahnya.
Pada akhirnya kami terus berjalan dan sampai di depan pintu, si asisten pun menyambut kami dengan ramah.
"Selamat malam tuan Gera dan nyonya Vima… oh ternyata nyonya Lisa sudah bangun, selamat malam nyonya Lisa."
Saat, aku ingin mengucapkan, "selamat malam ju…," Lisa seketika memotong percakapanku.
"Selamat malam juga paman!!"
"Hahaha, kamu masih sama dengan dirimu yang dulu ya nyonya Lisa, sama seperti 4 tahun yang lalu."
"Hehe iya paman!"
Hei, Lisa jangan memotong percakapan orang!.
"Baiklah kalau begitu tanpa banyak basa basi lagi silahkan masuk tuan dan nyonya sekalian."
*Asisten membukakan pintu*
Whoa!!! Apa-apaan ini ada banyak orang ras Bangsawan disini! Dan lagi mereka sedang merayakan sebuah pesta besar! Tapi apa yang mereka rayakan?.
*Si asisten menepukkan tangannya*
"Wahai para tamu dari tuan Dux sekalian, saya asisten pribadi dari tuan Dux memperkenalkan kepada kalian… cucu pertama dari tuan Dux… Gera Borealis Ursa!! Dan juga selamat atas kembalinya nyonya Vima dan Lisa!!"
Saat si asisten mengatakan itu semua orang-orang seketika bertepuk tangan dengan meriah dan melanjutkan pesta mereka.
"Vima apa maksud ini semua?"
"Mereka sedang merayakan kembalinya saya dan Lisa, dan juga kedatangan tuan, oya tuan mereka semua adalah para anggota keluarga Ursa."
"Begitukah."
Aku seketika melihat diriku sendiri.
Sial, aku merasa insecure melihat diriku seperti ini, ini bagaikan aku seekor babi yang pergi ke kandang kuda!.
"Vima sepertinya aku tidak bisa maju lebih dari ini."
"Kenapa tuan?"
"Aku merasa gelisah Vima, ketika aku melihat diriku sendiri aku seperti tak pantas untuk ini dan apalagi aku adalah seorang ras Niksmi."
*Tiba-tiba si asisten datang*
"Tidak perlu gelisah atau apapun tuan Gera, sekarang kalian berdua ikuti saja saya." Ucap asisten
"Kemana?" Ucap diriku.
"Ikuti saja."
"Baiklah."
Kami pun mengikuti si asisten entah kemana.
Sial! Setiap, aku melangkah, kaki ku terasa gemetaran apalagi mereka selalu melihat aku…… tu-tunggu aku seperti pernah merasakan tatapan seperti ini…… hey kalian jangan bercanda! Mengapa kalian menatapku dengan tatapan sinis begitu!.
*3 menit kemudian*
Fiuh akhirnya, aku keluar juga dari zona itu tapi apa-apaan dengan tatapan itu? Kenapa mereka menatapku seperti itu? Apa karena aku ras Niksmi… hah tanpa dijelaskan juga memang itu jawabannya.
Aku tidak terlalu terkejut dengan ras Bangsawan yang bersikap seperti itu karena belakangan ini aku terus memikirkan itu selain memikirkan orang tuaku.
Yang kupikirkan itu, bagaimana jika mereka melakukan penindasan kepadaku, apa yang harus aku lakukan, dan lain-lain.
Sebenarnya diriku ini masih di selimuti oleh masa lalu yang suram tapi aku menutupinya dengan berpura-pura berani saja.
Heh orang yang awalnya terlahir untuk ditindas memang akan selamanya ditindas ya.
"Baiklah, tuan dan nyonya kita sudah sampai di tujuannya."
Mm, sebuah pintu?.
"Baiklah kalau begitu, tuan saya akan pergi ke kamar saya bersama Lisa."
"Dadah kak, dadah juga paman!"
"Um, dadah." Ucap si asisten
"dadah Lisa istirahat yang nyenyak ya."
Kalau begitu… jangan bilang ini kamarku! Jika iya wah ini sangat mewah! Ternyata orang yang tertindas juga dapat hidup mewah.
"Tuan Gera…."
Aku seketika membuka pintu itu.
"Tunggu tuan!"
Whoa pasti kamarku sangat bagus, aku tak sabar berguling-guling di kamarku yang baru!.
"Aha, aku sangat mencintaimu sayangku, muach, muach, muach ummm sayangku."
Eeeee, siapa dia? Dan apa yang dia lakukan? Kenapa dia mencium-cium sebuah foto? Apakah dia seseorang yang memiliki sebuah fetish aneh? Dan kenapa dia hanya memakai ****** *****?.
"Hah sudah, saya katakan tunggu tuan."
Eeee kamu baru mengatakan itu saat aku sudah membuka pintunya loh.
*pria itu mendengar suara pintu yang terbuka*
"Siapa itu!"
"Eh, tidak ada."
Aku seketika menutup pintu dengan keras.
Apa-apaan pria tua itu!!! Sudah tua bau tanah masih memiliki fetish aneh begitu!!! Mana dia hampir bugil lagi!!!.
"Hei siapa pria tua yang memiliki fetish aneh itu?"
"Tuan…."
"Siapa yang kau panggil fetish aneh!" Ucap pria tua itu.
Uwaah dia menghampiri diriku tamatlah riwayatku.
"Maaf tuan atas ketidak sopanan cucumu ini." Ucap si asisten
Eh cucu?.
"Cucuku?."
Eek, dia kakekku!!!.
5 menit berlalu.
Hah betapa sialnya diriku melihat kakekku sendiri yang hampir bugil dan mencium sebuah foto lebih baik, aku melihat perempuan yang setengah bugil karena itu bisa mencuci mataku, daripada ini!.
Sekarang aku sedang di dalam kamarnya, hah kamu sangat lambat mengatakan kepadaku jika ini kamar kakekku dasar asisten!.
"Jadi kau…."
Sial dia pasti akan memarahiku.
"Jadi kau cucuku ya," dia mengatakan itu dari nada berat menjadi imut.
Kenapa, kakek ini? Hei dia beneran kakekku kan? Yang kupikirkan selama ini kakekku adalah seseorang yang sangat ditakuti dan tegas apalagi saat aku melihat reaksi para militer penjaga gerbang tersebut.
"Ahem, asisten apakah kau bisa keluar? Aku ingin berbicara kepada cucuku yang imut ini."
Hei, hentikan itu! Imut? Kamu kira aku perempuan!.
"Baiklah tuan."
Si asisten keluar dari kamar kakekku lalu menutup pintu.
"Jadi, cucuku bagaimana perjalananmu?"
"Eeh panggil saja aku Gera kakek, hehe."
"Kenapa? Kata cucukan imut."
Woy hentikan itu! Kamu itu sebenarnya perempuan atau gimana?! Apa kamu salah pergaulan?!.
"Terserah kakek saja, hehe."
"Wah kamu ternyata cucu yang penurut ya kakek suka itu, jadi bagaimana perjalanan kamu menuju kesini?"
"Em ada beberapa kendala kek tapi itu semua bisa diatasi kok."
"Hum pasti akibat ulah Harold kan."
"Dari mana kakek tahu?"
"Vima yang memberitahukannya kepada kakek melalui surat, dia berkata jika dia sudah pisah dengan Harold akibat suatu insiden…."
Jadi Vima sudah membuat keputusan ya.
"Kakek tidak terlalu peduli dengannya, yang penting adalah kamu selamat sampai kesini."
Apa yang dia maksud tidak terlalu peduli?.
"Apa maksud kakek, kakek tidak terlalu peduli?"
"Jangan salah sangka dulu cucuku yang kakek maksud bukan Vima tapi Harold."
"Begitukah."
"..."
"..."
"..."
"..."
Hey, katakan sesuatu dong! Jangan buat suasana menjadi canggung begini!!.
"Cucuku."
"Ah, iya kek ada apa?"
"Bolehkah aku sebagai kakekmu untuk memelukmu?"
Eh? Eeeh…… eeeeeeee!!!!! APA-APAAN YANG KAU KATAKAN DASAR KAKEK TUA BANGKA!!!!.