New World New Body And High Dream

New World New Body And High Dream
Kekosongan



Aku terus berjalan menuju si tua bangka itu. Dari pada kau mati oleh penyakit yang kau derita lebih bagus jika aku yang membuat dirimu mati bukan, kakek?.


"Ayo Gera maju lebih dekat lagi, zhahaha!"


"Ge…"


"Tu…"


*Gera sudah tidak memperdulikan apapun, bahkan dengan teriakan Vima dan asisten dia tetap terus berjalan!*


"Ya! Sedikit lagi Gera… kau akan mati!"


*Dux memasukkan tangan kirinya kedalam saku untuk mengambil pistolnya*


"Waktunya mati, Gera…!!! Eh?"


*tangan kiri Dux seketika mati rasa dan tidak bisa bergerak*


Tanganku!? Ayolah!. Ucap Dux dalam pikirannya.


*Dux seketika panik*


Bajingan! Mengapa penyakitku kambuh disaat seperti ini!?.


"Ada apa tua bangka? Mengapa kau panik? Heh..." Ucap Gera.


Anjing! dia semakin mendekat! Dasar penyakit bajingan!.


"... apa kau takut dengan seorang anak kecil? Padahal badanmu lebih besar dariku."


Ayolah tanganku, cepat!!.


*Dux sudah bisa menggerakkan tangannya seketika dia mengambil pistol dan mengarahkannya ke depan*


Heh… zhahaha … waktunya mati cucuku….


"Eh?"


*Dux telat, Gera sudah sampai di depannya*


"Halo, kakek."


*dengan mudahnya Gera mengambil paksa pistol yang berada di tangan Dux, lalu menodongkannya*


"Kau benar-benar sudah tua dan rapuh ya kakek, dengan gampangnya aku bisa merebut pistol ini darimu."


"Gera tunggu…"


"Heh, keluarga Ursa benar-benar sangat keras kepala, padahal aku tidak ingin menjadi pewaris tapi kau memaksanya terus, kita juga sudah membuat perjanjian tapi kau melakukan hal ini."


Dia mengatakan sesuatu yang ngawur. Ucap Dux dalam pikirannya.


"Gera?"


"Hey, kakek coba kau lihat mataku ini."


*Gera menatap mata Dux*


"Matamu?!" Ucap Dux dengan terkejut.


*Gera hanya tersenyum*


Bagian 2


Maaf, walaupun kamu tidak ingin melihatku menjadi seorang pembunuh, tapi orang seperti dia wajib untuk aku bunuh!.


Aku melihat ke arah ibu, lalu tersenyum.


Maaf….


*Gera menembak perut Dux*


"Gukh…." Ucap Dux.


*Dux terjatuh terduduk*


"Kau pernah mengatakan kepadaku, siksa mereka jangan langsung bunuh."


"Pe…"


"Tapi aku belum mempraktekkan itu sama sekali, jadi sekarang aku akan mempraktekkan itu kepada kau, kakek."


*Gera mendekatkan mulut pistol ke punggung tangan kanan Dux, lalu menembaknya*


"Aaaa! Sakit!!! Tanganku!"


*Gera melakukan hal yang sama pada tangan kanan Dux*


"Cukup Gera! Sakit!! Setega itu kamu dengan kakekmu?!"


"Dasar omong kosong."


*Gera mendekatkan mukanya ke wajah Dux lalu menatap matanya dengan tajam*


"Hey, dengarkan aku, apakah setega itu kamu membunuh adikku? Lalu membunuh orang tidak bersalah, apakah kamu tidak tega?"


"Bukankah kamu juga?!"


"Ya mana aku tahu, lagi pula kamu yang menyuruh mereka berakting bukan? Dan satu lagi… TEGA SEKALI KAU MEMBUAT IBUKU MENANGIS!!!"


*Gera seketika menembak kaki kiri Dux*


"AAAA!!! SAKIIIT SEKALIII!!! Pengawas! Tolong, aku!!!" Teriak Dux.


"Apa kau lupa dengan tempat ini, bahwa tempat ini kedap suara? Apa rasa sakit ini membuatmu menjadi pikun tiba-tiba?"


*Gera menembak kaki kanan Dux*


"GAAAA!!! CUKUP GERA, AKU TAK TAHAN DENGAN RASA SAKIT INI!!!!"


"Kau memiliki 2 jempol kaki yang sangat jelek dan buruk."


*Gera menembak jempol kanan Dux*


"GIAAAAA!!! BERHENTILAH GERA!!!KAU SANGAT KEJAM!!!!"


"Omong kosong apa lagi ini? Terus bagaimana dengan perkataanmu, jika kau telah membunuh orang dengan tidak wajar?"


*Gera mengulanginya lagi pada jempol satunya*


"GEAAAAAAAA!!!!!!"


"Hey, aku tanya padamu, disini ada berapa peluru?"


"sssh… sssh... sssh…." Dux berusaha menahan rasa sakit.


*Gera menarik rambut Dux*


"Hey, bukan 'sssh' yang ingin kudengar, aku bertanya pada kamu ada berapa amunisi disini?!"


"Se-sembilan."


"Perut, 2 tangan, 2 kaki, 2 jempol, jadi aku sudah memakai 7 peluru ya?"


Waktunya mati kakek!.


"Huk!!"


"Kau belum mati kan kakek? Masih ada satu peluru lagi disini, jangan mati dulu ya."


"Su-sudah Gera, aku sudah tidak sanggup."


*Gera memasukkan pistol itu ke mulut Dux*


"Guk, gurp... uak, guak."


"Sepertinya ini sudah cukup dalam."


*Gera mulai menarik pelatuk pistol*


"Sebelum ini berakhir, akan aku beritahu padamu satu hal."


*Gera mendekatkan wajahnya ke telinga Dux*


"Aku bukanlah asli dari dunia ini, aku bagaikan penyusup untuk dunia ini, semua teknologi di dunia ini aku sudah mengetahuinya dari dulu, bahkan sebelum aku terlahir di dunia ini, dan kau… akan mati oleh seorang penyusup!"


*Dux sangat terkejut mendengar pernyataan dari Gera*


"Hek!"


Dor!.


*Dux seketika mati*


Bagian 3


*setelah menembakkan peluru terakhir Gera melihat ke arah Vima*


Aku sudah menyelesaikannya ibu, aku sudah membunuh dalang utamanya.


Ibu…?.


*Gera berlari ke arah Vima*


"Ibu jangan sedih..., dia memang pantas untuk mati."


…….


"Nak, kamu baik-baik saja?"


"Aku baik-baik saja ibu!"


"Tapi…"


"Tapi kenapa bu?"


"Matamu nak.... Mengapa kekosongan datang kepada kamu? Padahal ibumu ini sudah berjanji akan selalu bersama kamu, Gera… tapi kenapa kekosongan tetap datang kepada kamu?"


*Vima menangis*


"Jangan menangis ibu..."


*Gera mengelap air mata Vima*


"Walaupun kekosongan ini menghampiriku, aku akan selalu tersenyum untuk kamu, ibu." Ucap Gera sambil tersenyum.


"Ibu, Lisa tadi berbicara kepadaku, dia berkata, 'jagalah mama untuknya' aku pun menjawabnya, 'sudah pasti, aku pasti akan menjaga ibu kita Lisa' bukan itu saja, aku juga sudah berjanji akan membuatmu bahagia ibu."


"Nak…"


"Ibu mari kita keluar dari rumah ini, aku tidak ingin berada disini lagi, banyak hal buruk yang terjadi oleh diriku dan ibu dirumah ini, kamu mau ibu?"


*Vima berpikir sesuatu*


Aku harus menyelamatkan anakku dari kekosongan ini, aku tidak ingin anakku yang awalnya bahagia dan periang menjadi hampa dan kosong seperti ini, jika dia ingin keluar dari rumah ini maka aku harus menurutinya!.


Ini demi anakku! Dan rumah inilah yang telah membuatnya menjadi seperti ini.


"Ibu akan ikut dengan kamu nak."


*Gera melihat asisten pergi ke arah Dux*


"Tu-tuan?"


*asisten menangis*


"Jika anda mati saya harus melakukan apa? Jangan tinggalkan saya sendiri tuan!"


*Gera berdiri*


"Kau bisa ikut dengan kami, asisten."


"Apa yang anda katakan! Saya tidak akan pernah pergi dari rumah ini! Rumah ini sudah saya anggap sebagai kandang saya sejak saya pertama kali kesini!" Bentak asisten.


"Jadi apa yang akan kau lakukan?"


"..."


…….


"Masih ada yang harus saya lakukan, ya, saya akan mengabulkan permintaan tuan Dux."


"Apa itu?"


"Mencari pewaris yang baru untuk keluarga ini!"


"Mengapa tidak kau saja yang meneruskannya?"


"...... hahaha, apa anda kira saya memiliki darah keturunan Ursa, tu… Gera?"


"Apa yang kau maksud?"


"... tidak ada… jika ingin keluar dari rumah ini, keluarlah dari sekarang dan pergi jauh-jauh dari daerah ini!! Sebelum semua orang mengetahuinya! Aku akan membantu kalian untuk terakhir kalinya! Jadi, cepatlah!"


"Ibu…"


*Gera memberikan tangannya kepada Vima*


*Vima berdiri*


"Terima kasih…, Glenn."


"Ya, Vima..."


*Vima dan Gera berjalan melewati asisten, dan menaiki tangga menuju ke atas, mereka mendorong lemari untuk keluar dari ruangan tersebut*


*setelah keluar, mereka berlari ke arah pintu keluar. Mereka pun keluar*


"Ibu apakah kamu siap menjalani kehidupan yang baru? Walaupun ini sangat berbeda dari kehidupan Ras Bangsawa pada umumnya."


"Iya nak, ibu siap." Vima tersenyum.


*Senyuman Vima membuat Gera ikut tersenyum*


Note: walaupun Gera membunuh Dux membutuhkan banyak menit, sebenarnya Gera melakukan itu hanya dalam waktu 5 menit.


Note: mengapa Vima dan asisten hanya diam saat Gera melakukan itu? Sebenarnya mereka sudah meneriaki Gera tapi Gera tidak memperdulikan itu telinganya seperti tertutup, dan mengapa asisten tidak melakukan apa-apa? Asisten saat itu sedang abu-abu/bingung, lebih membela Dux yang telah membunuh Lisa atau Gera.


Note: mengapa Dux tidak meminta pertolongan ke asisten dan malah memilih memanggil pengawas? Karena saat itu Dux juga ingin membunuh asisten, dan dia mengira bahwa saat dia bercerita jika dia adalah dalangnya, si asisten sudah tidak peduli dengannya. Dux juga ingin membunuh Vima.