New World New Body And High Dream

New World New Body And High Dream
Janji jari kelingking



"Kau ingin memegangnya?"


"Ya!"


*Gera meminjamkan kalung tersebut kepada Luna*


"Ini benar-benar indah dan cantik Gera. Kalung ini terbuat dari bahan kayu ya?"


"Iya, itu terbuat dari kayu."


*Luna terus memperhatikan kalung tersebut*


"Waaah…"


*Luna mengembalikan kalung tersebut kepada Gera*


"Ini Gera."


"Hanya sebentar? Bukankah kau mengatakan kalung ini indah?"


"Memang indah, bahkan sangat indah! Tapi aku harus ingat jika kalung itu milikmu dan juga pemberian dari orang tuamu, jadi aku tidak berhak memegangnya terlalu lama."


"Mengapa? Kan aku sudah mengizinkannya."


"Walaupun begitu, aku merasa tidak enak jika memegang kalung tersebut, kalung itu adalah barang yang paling penting bagimu kan? Dan juga kalung itu sangatlah indah, aku tidak ingin mengotori keindahannya tersebut."


"Begitu ya, tapi bukankah aneh rasanya."


"Aneh apanya Gera?"


"Kalian ini adalah keluarga dengan kekuasaan tertinggi, tidak maksudku, keluargamu adalah keluarga yang memimpin dunia ini! Tapi mengapa kamu merasa tidak enak kepada seorang ras Niksmi sepertiku?"


"Umm… abangku yang mengajarkannya kepadaku, Gera."


"Abangmu?"


Hmm… iya sih, si pangeran saja orangnya seperti itu.


"Saat aku berusia 3 tahun, aku sudah sangat dekat dengannya. Abang sering sekali mengajarkanku tentang sebuah hak dan kewajiban seorang keluarga kerajaan, bukan hanya itu saja, dia bahkan pernah berkata kepadaku seperti ini, 'Luna, walaupun kita berada di sebuah puncak tapi janganlah kamu pernah menindas, membedakan, menjelekkan, bahkan menghina orang-orang yang berada di bawah kita… kita semua itu sama Luna, kita adalah manusia, tidak ada hal yang membedakan kita! Jadi jika kamu bertemu dengan seorang Bangsawan atau Niksmi bersikap biasalah… buat mereka berpikir bahwa kita ini seorang pemimpin bukan bos! Gunakanlah kharisma seorang pemimpin untuk mengatur dan memerintah masyarakat, jangan gunakan perintah layaknya perintah seorang bos!' Begitulah kata-kata abang yang sangat melekat padaku."


"Begitu ya…"


Kata-kata yang cukup berat untuk dipahami seorang anak kecil, tapi aku mengerti maksud dari perkataan tersebut….


… menggunakan sebuah kharisma seorang pemimpin untuk mengatur masyarakatnya… kata-kata yang tak asing bagiku.


Pantesan si pangeran jika dilihat-lihat sikapnya seperti bukan dari keluarga kerajaan saja…, ek, memang aku tahu sikap asli keluarga Gliese? Hah, factor kebanyakan nonton anime di dunia sebelumnya.


"Gera…"


"Iya Luna?"


"Aku juga turut berduka cita atas kematian adikmu, dan aku juga meminta maaf karena dari perkataanmu tadi malam, adikmu mati karena ulahku juga."


….


"Tidak apa-apa, Luna."


*Gera mendapatkan sebuah ide*


"Oh ya, kamu nanti mau ikut tidak?"


"Kemana?"


"Ke kuburan adikku."


"Iya, aku mau!"


"Yosh, nanti sore mungkin kita akan pergi ke kuburan adikku bersama dengan ibuku."


"Oya Gera, memang adikmu itu orangnya seperti apa?"


"Dia ya. Lisa adalah orang yang sangat riang gembira, dia juga orang yang manja kepada ibu dan aku, terkadang dia ngeselin, dia juga memiliki sebuah impian untuk menjadi seorang seniman. Oya, terkadang kami sering bertengkar berdua, terkadang juga kami berlomba untuk menunjukkan keahlian siapa yang paling hebat dalam menggambar, heh, tapi dia terus saja kalah melawan ku, tetapi dia tidak menyerah, dia terus mengasah skill menggambarnya untuk mengalahkanku."


"Adikmu adalah orang yang sangat menyenangkan ya, Gera."


"Iya kau benar, Lisa adalah adikku yang sangat menyenangkan! Jika kau tahu awal kami bertemu, sikap dia sangatlah menjengkelkan tapi seiring berjalannya waktu sikap dia terus berubah menjadi lebih baik…"


*Gera memutuskan perkataannya*


"Gera?"


"Tetapi mengapa? Mengapa takdir memisahkan aku dan Lisa dengan cara seperti itu? Tidak, aku lah yang bodoh dan payah sebagai seorang kakak, bisa-bisanya aku lebih mempercayai perkataan perempuan yang baru aku kenal beberapa bulan lalu ketimbang adikku yang sudah bertahun-tahun bersamaku…."


*Luna merasa kebingungan mendengar perkataan dari Gera*


"... Hey, Luna…"


"Iya, Gera?"


"Aku baru menyadari sesuatu…. Yang salah bukanlah dirimu, tapi aku… apakah jika aku tidak ada, apakah jika aku tidak dilahirkan maka ayah dan ibu tidak akan menghilang? Apakah Lisa akan terus hidup hingga dewasa, dan menggapai mimpinya?"


"Apa yang kamu katakan, Gera?"


Plak!.


*Luna menampar Gera*


*Gera yang menerima tamparan tersebut, menjadi sangat terkejut atas tindakan yang dilakukan oleh Luna*


"Aw…"


"Mengapa kamu bisa sampai mengatakan itu?! Kamu sangat menyayangi adikmu kan?!"


"..."


"Jika iya, mengapa kamu dengan entengnya mengatakan kata-kata itu! Apakah kamu ingin melihat adikmu sedih selamanya karena kakaknya tidak bisa melupakannya dan terus menyalahkan dirinya sendiri?! Kamu juga menyayangi ibumu kan?"


"I-iya…"


"Bagaimana perasaan ibumu mendengar perkataanmu tadi? Dia pasti akan sangat sedih!"


"..."


*Gera hanya terdiam mendengar perkataan dari Luna*


*Gera melihat ke arah pintu*


"I-ibu…"


*Gera melihat Vima sedang berdiri ingin masuk ke kamar tersebut*


Mengapa ibu ada disini? Bukankah ibu sedang membantu para pelayan?.


*Vima menghampiri Gera*


Ibu pasti akan memarahiku… sebelumnya aku juga pernah mengatakan hal ini, dan ibu… dia menangis tapi untuk kedua kalinya sepertinya dia akan marah kepadaku.


*Vima sampai di hadapan Gera*


"Nak… mengapa kamu mengatakan hal itu lagi? Bukankah kamu sudah tahu jika ibu akan sangat sedih jika kamu mengatakan hal itu? Tapi kenapa kamu mengatakannya lagi…?"


"Ma-maafkan aku…"


*Vima memeluk Gera*


"Ibu sangat sedih saat melihat dirimu pingsan tadi, dan ibu sudah senang saat mendengar kamu sudah siuman… tapi kenapa kamu membuat ibu sedih lagi, nak? Kamu tahukan jika ibumu ini takut akan kesepian? Tapi mengapa kamu tega sekali mengatakan kata-kata itu lagi?"


"..."


"Betul apa kata tuan putri, jika kamu seperti ini terus Lisa akan sangat sedih nak."


"..."


*Gera hanya terdiam beku, dia tidak tahu harus merespon seperti apa*


"Nak?"


"..."


"Jawablah perkataan ibumu, Gera!" Ucap Luna.


"... ma-maafkan aku ibu… aku tidak tahu harus mengatakan apa lagi selain kata maaf, hanya yang ada di benakku…, ibu, maafkan aku! Maafkan aku! Maafkan aku! Maafkan aku! Aku janji tidak akan mengulanginya lagi, ibu! Aku janji!"


*Gera melihat wajah Vima*


Ibu… dia tersenyum.


"Kamu janji, nak?"


"Iya, aku janji ibu!"


*Gera menunjukkan jari kelingkingnya*


"Untuk apa ini, nak?"


"Tiru saja aku, ibu."


*Vima meniru Gera. Gera pun langsung mendekatkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Vima*


"Dengan janji kelingking ini, aku berjanji bahwa aku tidak akan mengatakan perkataan bodoh itu lagi selama-lamanya! Dan aku juga akan berjanji, akan selalu membuat ibu tersenyum!"


…….


"Sudah ibu, aku sudah berjanji denganmu menggunakan jari kelingking ini."


"..."


"Ibu?"


"Maaf nak, hanya saja ibu sangat senang mendengarnya, kamu memang anak yang sangat unik, Gera."


*Gera melihat senyuman Vima*


"Hehe, aku sangat senang melihat ibu tersenyum, senyuman kamu sangat manis ibu!"