
Bagian 1
Sudah 1 hari berlalu saat, aku, Vima, dan Lisa berjalan kaki, sekarang kami sedang berada di tempat yang bernama Holz, aku sudah melihat beberapa orang di daerah ini, ada yang sedang berjalan kaki dan ada yang sedang menaiki kuda.
Whoa ini sangat berbeda saat di perjalanan sebelumnya, disini sangatlah ramai!. Lisa dia sedang duduk santai di kursi, sedangkan Vima dia sedang membuat sebuah surat… hm surat untuk siapa?.
"Vima apa yang sedang kamu tulis?"
"Saya sedang menulis surat tuan, untuk dikirimkan ke ayah saya."
"Memang isinya apa, Vima?"
"Hanya mengatakan kita akan sampai beberapa jam lagi tuan."
"Kamu serius Vima!"
"Iya tuan."
Wah, aku tak sabar melihat bentuk kota secara langsung.
*10 menit kemudian*
Vima sudah selesai menulis, dia langsung memberikan surat itu ke seekor burung, lalu membisikan sesuatu.
Apa yang dia bisikan kepada burung itu?.
Setelah membisikan sesuatu kepada burung itu, Vima langsung mengatakan kepadaku, "tuan ayo kita bergegas berangkat dari sini, mereka sudah menunggu kita."
"Memangnya apa yang kamu bisikan kepada burung itu, Vima?"
"Saya hanya mengatakan alamat tujuannya tuan."
"Begitukah."
"Lisa kesini biar mama gendong kamu, kita akan berangkat lagi."
"Ok mama."
"Tuan ayo kita mulai berangkat."
"Baiklah Vima."
Di perjalanan, aku berpikir kenapa di tempat tadi bisa ada banyak orang-orang berkeliaran?.
Aku pun menanyakannya kepada Vima.
"Vima kenapa ditempat tadi banyak orang-orang? Tidak seperti tempat-tempat yang kita lalui biasanya."
"Tuan karena tempat itu adalah titik pertemuan semua jalan menuju kota tuan."
"Jadi banyak jalan menuju kota Vima!"
"Anda benar tuan."
Eeee….
"Kenapa wajah anda seperti itu, tuan?"
"Sudah jelas bukan? Aku bete Vima."
"Kenapa kakak bete?"
"Ada banyak jalan menuju kota, tapi kenapa kita pilih yang sepi!"
"Tuan lupa apa yang saya ceritakan waktu malam itu?"
… Oh ya, aku mulai ingat! Kalo gak salah untuk membawaku dengan selamat kan? Pantesan lewat jalan yang benar-benar sepi.
"Hehe maafkan aku Vima, aku melupakannya."
"Tidak apa-apa tuan."
"Mama-mama, memang malam apa yang mama maksud?"
"Ada Lisa waktu kita pertama kali berjalan kaki."
"Ooo waktu itu, memang apa yang mama ceritakan?"
"Kamu penasaran?"
"Iya, iya, aku penasaran mama!"
"Nanti aja ya mama ceritain Lisa."
"Yah, iya deh kalo gitu."
"Tuan?"
"Iya Vima ada apa?"
"Apakah anda masih takut bertemu dengan keluarga Ursa yang lain?"
"Aku sudah tidak takut lagi Vima, malahan aku penasaran loh."
"Begitukah tuan?" ucap Vima dengan tersenyum.
Kami terus berjalan menuju kota, di perjalanan terkadang kami berbincang tentang hal yang terpikirkan di benak kami.
Hingga saat, ada satu kuda yang membawa gerobak penumpang lewat di samping kami.
"Oya Vima kenapa kita tidak memesan kuda saja? Lebih cepat kan?"
"Kuda yang tuan liat barusan adalah kuda milik ras Bangsawan tuan."
"Kamu seriusan Vima? Tapi kan jalan yang mereka lewati adalah jalan dari desa?"
"Tuan desa itu adalah daerah yang besar bukanlah benua, jadi di benua yang ditinggali penduduk ras Niksmi juga ditinggali oleh ras Bangsawan, tapi jarak antara ras Bangsawan dan ras Niksmi memang sangat jauh, mereka berdua dipisahkan oleh 1 hutan besar tuan."
"Jadi begitu Vima, aku baru tahu."
"Memang yang selama ini tuan pikirkan seperti apa?"
"Yang kupikirkan selama ini, desa adalah benua yang ditinggali oleh semua ras Niksmi, dan kota adalah benua yang ditinggali semua ras Bangsawan."
"Tidak salah jika anda berpikir seperti itu tuan, tapi sekarang tuan sudah tahu kan semuanya?"
"Sudah Vima terima kasih ya."
"Sama-sama tuan, oya 1 lagi yang belum saya katakan kepada tuan."
"Apa itu Vima?"
"Aku mengerti Vima, tapi apakah benua nya memiliki nama Vima?"
"Punya tuan, tapi saya lupa."
"Begitukah Vima."
Aku mencoba mencerna perkataan Vima tadi.
Desa adalah sebuah daerah besar yang terletak di benua A, dan di benua A ada ras Bangsawan yang tinggal disana.
Kota adalah sebuah daerah juga yang terdapat di benua B, dan di benua B masih banyak daerah lain.
Begitu ya, hm hm aku sudah mengerti, jadi hutan yang menjadi pembatas ras Niksmi dan ras Bangsawan adalah hutan tempat aku mencari dan menemukannya Lisa ya.
"Mama aku mau ikut berjalan juga, tidak asik jika hanya aku yang digendong."
"Iya Lisa."
*Vima pun menurunkan Lisa*
"Hihihi memang berjalan lebih menyenangkan daripada di gendong."
"Hahaha baguslah kalau kamu menyukainya Lisa."
"Iya kak Gera."
Bagian 2
6 jam berlalu.
Aku melihat sebuah gerbang besar di depanku, aku pun menanyakannya kepada Vima.
"Vima itu apa?"
"Kita sudah sudah sampai tuan."
"Seriusan!"
Sial kenapa hatiku tiba-tiba berdetak kencang.
"Iya tuan."
Kami pun berjalan menuju ke gerbang itu.
Semakin dekat, aku melihat ada banyak orang mengantri untuk masuk, dan aku melihat ada 2 orang di gerbang itu memakai pakaian… tunggu itu baju militer!.
Whoa! Sudah sangat lama aku tidak melihat pakaian yang dari duniaku sebelumnya, itu terasa nostalgia.
Kami pun ikut mengantri di situ cukup lama.
*1 jam kemudian*
"Mohon maaf anda dari keluarga apa nyonya?" Ucap salah satu penjaga tersebut.
"Saya dari keluarga Ursa." Ucap Vima.
"Bisa tunjukkan kartu anda nyonya?"
"Ini silahkan kalian lihat."
Hah, kartu? Kartu macam apa itu?.
"Baiklah anda boleh masuk ke gerbangnya nyonya, mohon maaf atas ketidaknyamanannya."
Vima pun masuk kedalam gerbang tapi saat aku mulai berjalan tiba-tiba….
"Bocah Niksmi tidak boleh masuk kesini!!"
Mereka menodongkan senjata api ke arahku, dan menyuruhku pergi.
Hei hei, kalian membuatku ketakutan apa salah diriku?.
"Mama kak Gera."
"Iya Lisa. Kalian berdua apakah kalian tidak tahu dia siapa?"
"Dia adalah bocah Niksmi, memangnya kenapa?! Hak kami untuk mengusirnya."
"Berani sekali kalian mengatakan itu! Dia adalah cucu pertama dari Dux Borealis Ursa!!"
…….
He, kenapa semuanya terdiam? memang ada apa dengan perkataan Vima?.
"Jadi dia."
"Ternyata dia orangnya."
"Benar ternyata dia ras Niskmi."
"Ih jijik."
"Tch pergi kau."
Hei kenapa kalian mengatakan diriku? Apa salahku? Aku datang kesini hanya untuk mencari ibu dan ayahku.
"Cepat biarkan dia lewat." ucap Vima.
"Baiklah!"
Mereka menjauhkan senjata mereka dari diriku dan membiarkan aku lewat.
Aku berjalan dengan menundukkan kepalaku dan mengepalkan tanganku, aku sedih mereka mengata-ngata kan diriku karena aku ras Niksmi? Tega sekali kalian.
Tak lama Vima berlari ke arahku dan menutup telingaku.
"Terima kasih Vima."
"Maafkan saya tuan, maafkan saya."
"Mm~ tidak apa-apa Vima."
"Kak Gera jangan sedih, orang yang mengejek kakak mereka adalah orang yang jahat dan pengecut!"
"Terima kasih Lisa."
Aku hampir saja menuduh semua ras Bangsawan jelek, tapi aku yakin masih ada ras Bangsawan seperti Vima dan Lisa.